Penelitian Pendidikan

Khusus MK Penelitian Pendidikan Tugas ke-2: Penelitian Eksperimen…. Tugas ke-3: Penelitian Korelasi……Tugas ke-4: Penelitian Kausal Komparatif…Tugas ke-5: Penelitian Historis…

233 Comments »

  1. AMELIA NOFINDA (5525067455) said

    TUGAS
    Penelitian Pendidikan
    “Langkah-Langkah Penelitian Eksperimen”
    AMELIA NOFINDA
    5525067455

    PENELITIAN EKSPERIMEN BIDANG PENDIDIKAN
    Oleh : Prof. Supardi

    MEMPERSIAPKAN EKSPERIMEN
    Marilah kita mempersiapkan penelitian eksperimen secara baik. Sebelum peneliti melaksanakan treatment/perlakuan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Sebagai ilustrasi seorang guru akan mengadakan percobaan tentang keampuhan dua metode mengajar dalam bidang Matematika, Mana di antara dua macam metode yang dapat memberikan prestasi belajar lebih baik (metode pemahaman konsep atau metode pemecahan soal). Karena, ditemukan selama guru menggunakan metode pemahaman konsep prestasi belajar siswanya belum menggembirakan.
    1. Langkah awal dijumpai ada problem terhadap prestasi belajar matematika yang selama ini diajarkan melalui metode pemahaman konsep. Seorang guru matematika waktu mengikuti diklat mendapat metode baru yaitu metode pemecahan soal“ muncul pertanyaan: manakah di antara dua metode pembelajaran Matematika yang dapat menumbuhkan prestasi belajar lebih baik?.
    2. Tujuannya: Untuk mengetahui apakah metode pemecahan soal lebih baik dalam mengembangkan kecakapan matematika dibandingkan dengan pemahaman konsep (Untuk mengetahui pengaruh metode pemecahan soal terhadap prestasi belajar matematika). Guru juga dapat mengetahui sikap siswa terhadap metode pembelajaran tersebut.
    3. Langkah berikutnya, mencari dasar teori yang berkaitan dengan variabel penelitian (metode pembelajaran pemecahan soal dan pemahaman konsep, serta prestasi belajar). Diupayakan adanya kerangka pemikiran yang mengarah pada simpulan bahwa metode pemecahan soal lebih baik dalam menanamkan pemahaman matematika dibandingkan dengan metode pemahaman konsep.
    4. Selanjutnya, perlu dikemukakan hipotesisnya: “Metode pemecahan soal lebih baik dibandingkan metode pemahaman konsep dalam meningkatkan prestasi belajar matematika”. Hipotesis ini diperlukan untuk pedoman peneliti dalam merancang lebih lanjut..
    5. Langkah awal bagian metode penelitian adalah melakukan pengukuran kepada dua kelompok yang siswanya mempunyai kesamaan kemampuan /IQ dalam matematika. Dari dua kelompok yang sudah mempunyai kesamaan itu dipilih secara random untuk menentukan mana kelompok kontrol dan mana yang akan ditugaskan sebagai kelompok eksperimen.
    6. Menentukan siapa guru yang akan ditugasi untuk mengajar pada masing-masing kelopok tersebut. Bilamana telah mendapatkan guru yang memiliki kualitas yang sama, dipilih secara random untuk ditugaskan ke kelompok eksperimen/kontrol. Kalau gurunya sama/satu orang, wajib menjaga obyektivitas dalam menerapkan kedua metode tersebut.
    7. Persiapkan materi ajar dan rincian tindakan yang akan dilakukan pada metode yang telah ditetapkan untuk kedua kelompok tersebut.
    Sesudah memahami langkah-langkah tersebut, kita perlu melihat kembali hal hal mendasar yang perlu diperhatikan sebelum eksperimen dilakukan. Kalau semua komponen tersebut sudah dipersiapkan dengan baik dan lengkap barulah mencoba menyusun rancangan/desain eksperimennya.

    DAFTAR PUSTAKA

    Linquit EP, 1986, Design and Analysis of Experiments in Psychologi and Educa-

    Tion, Boston: Houghton Mifflin Company

    Federer, WT, 1974, Experiment Design,: Theory and Applications, Oford & LBH Publishing Co., New Delhi

    Kempthorne, O., 1984, The Design andAnalysis of Experiments, Wiley Eastern Private Ltd. New Delhi

    Montgomery, D C., 1976., Design and Analysis of Experiment, John Wiley & Sons, New York

    Sudjana, 1994, Desain dan Analisis Eksperimen, Penerbit Tarsito Bandung.

    Sukardi, 2004, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta

    Sutrisno Hadi, 2004, Metodologi Research,: untuk menulis laporan, skripsi thesis dan disertasi, Penerbit Andi Yogyakarta

    Sumber : http://www.ktiguru.org/

    Prof. Supardi
    (Awal 2007)

    Sumber : http://handoko.info/?page_id=7

  2. Adhitia Kusuma W ( 5525067451 ) said

    Langkah-langkah dalam penelitian eksperimen antara lain :
    1. Pemilihan dan pembatasan masalah,
    2. Pemilihan subjek dan instrumen pengukur,
    3. pemilihan desain,
    4. Pelaksanaan prosedur-prosedur,
    5. Pembuatan analisis data,
    6. Perumusan kesimpulan

    Penelitian ini dituntun setidak-tidaknya dengan satu hipotesis yang menyatakan hubungan sebab-akibat dari dua variabel.

    SUMBER : Drs. Sumanto, M.A. ” Metodologi Penelitian sosial dan Pendidikan ” , Yogyakarta : ANDI OFSET, 1990

  3. Dian Avriyanti said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend.Tata Busana Ex/S1/06

    Langkah-langkah Proses Penelitian Eksperimen Teknik Sampling:
    1. Tujuan eksperimen harus jelas misalnya secara tegas disebutkan data apa saja yang akan dihasilkan dari pelaksanaan suatu penelitian, kalau mungkin sudah ada rencana tabel (tabulation plan), sehingga usaha pengumpulan data lebih terarah.
    2. Melakukan pengecekan. Apakah data yang diperlukan sudah tersedia dalam bentuk data sekunder (publikasi) atau harus dikumpulkan sendiri sebagai data primer, langsung dari objeknya.
    3. Menentukan populasi dan memilih teknik sampling yang tepat atau efisien. Maksudnya dengan biaya yang relatif kecil akan tetapi hasil penelitian mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi.
    4. Menentukan tingkat ketelitian yang diinginkan.
    5. Menentukan alat (device) untuk memperoleh data dari elemen atau unit sampling.
    6. Membuat daftar pertanyaan. Kemudian dilakukan uji coba (trial) dan menyiapkan kerangka sampling (sampling frame)
    7. Memilih dan melatih petugas pengumpul data (data colecttor)
    8. Memilih sempel dari kerangka sampling dan mengumpulkan data di lapangan dari sampel terpilih
    9. Mengolah dan menyajikan data, termasuk pembuatan perkiraan dan tabel.
    10. Analisis data meliputi pemgujian hipotesis.
    11. Membuat laporan kasil eksperimen.

    Supranto, M.A, J. Metode Riset dan Aplikasinya dalam Pemasaran. Lembaga Penerbit FE-UI, Edisi Ke-5 (1992).

  4. Ria Maisalinia ( 5525067440 ) said

    Penelitian Eksperimen Post Facto

    Penelitian eksperimen merupakan desain yang terbaik untuk menguji pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain karena adanya manipulasi dan kontrol terhadap kondisi atau perlakuan yang diberikan pada subyek. Untuk mendapatkan hasil yang baik peneliti eksperimen perlu melakukan langkah-langlah sebagai berikut :
    1. Perumusan masalah,
    2. Setelah masalah dirumuskan, peneliti harus mampu mengidentifikasi hipotesis tandingan atau alternatif yang mungkin dapat menerangkan hubungan antar variabel independen dan dependen,
    3. Penentuan kelompok subyek yang akan dibandingkan,
    4. Pengumpulan data,
    5. Analisis data,
    6. Penafsiran hasil.

    SUMBER : Drs. Ibnu Hadjar, M.Ed. “Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif Dalam Pendidikan” , Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1996

  5. EKA APRIANA (5525067459) said

    penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subjek, dengan kata lain penelitian eksperimen bertujuan unyuk menguji ada tidaknya hubungan sebab akibat antara perlakuan yang disengaja diadakan dengan efek yang terjadi sesudahnya.

    langkah – langkah penelitian eksperimen pada
    dasarnya sama dengan strategi dan langkah langkah penelitian pada umumnya :

    1. calon peneliti mengadakan studi literatur untuk menemukan permasalahan
    2. mengadakan identifikasi dan merumuskan permasalahan
    3. merumuskan batasan istilah, pembatasan variabel, hipotesis dan dukungan teori
    4. menyusun rencana eksperimen :

    a. mengidentifikasikan semua variabel non eksperimen yang sekiranya akan menggangu hasil eksperimen dan menentukan bagaimana mengntrol variabel variabel tersebut
    b. memilih desain atau modul eksperimen
    c. memilih sampel yang representatif(wakil yang dapat dipercaya)dari subjek yang termasuk dalam populasi
    d. menggolongkan wakil subjek kedalam dua kelompok, disusul dengan penentuan kelompol eksperimen dsn kelompok pembanding
    e. memilih atau menyusun instrumen yang tepat untuk mengukur hasil pemberian perlakuan
    f. pembuat garis besar prosedur pengumpulan data dan melakukan ujicoba instrumen dan eksperimen agar apabila sampai pada pelaksanaan, baik eksperimen maupun instrumen pengukur hasil – hasil sudah betul – betul sempurna
    g. merumuskan hipotesis nol atau hipotesis statistik

    5. melaksanakan eksperimen
    6. memilih data sedemikian rupa sehingga terkumpul hanya data yang menggambarkan hasil murni dari kelompok eksperimen maupun kelompok pembanding
    7. menggunakan teknik yang tepat untuk menguji signifikansi agar dapat diketahui secara cermat bagaimana hasil dari kegiatan eksperimen.

    sumber :
    judul buku manajemen pendidikan
    pengarang : Dr Suharsimi Arikunto
    tahun terbit : 1989, jakarta

  6. HERWINI SUCI FAUZIAH said

    Eksperimen adalah percobaan. Penelitian ekperimen adalah pendekatan penelitian kuatatif yang paling penuh, dalam arti memenuhi semua persyaratan untuk menguji hubungan sebab akibat.

    Penelitian eksperimen mempunyai 2 kekhasan, yaitu :
    1. Penelitian eksperimen menguji secara langsung pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya,
    2. Menguji hipotesis hubungan sebab akibat.

    * Jenis variabel dalam eksperimen, yaitu :
    - Variabel kualitatif ( Qualitative variable ),
    - Variabel kuantitatif ( Quantitative variable ),
    - Variabel kategorial ( Categorial variable )

    Hubungan antara variabel bisa berbentuk hubungan korelasional, saling hubungan atau hubungan sebab akibat. Hubungan korelasional menunjukkan saling hubungan antara dua variabel atau lebih. Hubungan sebab akibat menunjukkan pengaruh antara sesuatu variabel terhadap variabel lainnya. Hubungan sebab akibat atau pengaruh dalam eksperimen dirancang dalam suatu desain yang disebut sebagai desain eksperimen. Variabel yang memberi pengaruh terhadap hubungan sebab akibat yaitu variabel bebas ( independent variable ), variabel perlakuan ( treatment variable ), variabel eksperimen ( experimental variable ), variabel intervensi ( intervention variable ).
    Variabel yang diukur sebagai akibat dari variabel yang memberi pengaruh tersebut sebagai variabel terikat ( dependent variable ), variabel akibat atau hasil ( outcome variable ), variabel posttes atau variabel kriteria.

    Desain eksperimen lama yang banyak digunakan adalah model desain sistematik yang dikembangkan oleh Egon Brunswick. Model desain ini dipandang bersifat semu atau kurang alamiah sehingga kurang memiliki generalisasi. Model desain eksperimen yang lebih kuat generalisasinya adalah Model Representatif yang dikembangkan oleh Richard Snow. Model Representatif merupakan suatu proses perencanaan eksperimen yang disusun dengan bertolak dari keadaan lingkungan yang sesungguhnya dan keadaan partisipan yang alamiah. Desain Eksperimen representatif memiliki beberapa asumsi, yang pertama yaitu Karakteristik lingkungan yang bersifat alamiah adalah kompleks dan saling terkait, yang kedua adalah bahwa manusia adalah pemroses informasi yang aktif, mereka tidak mereaksi kepada perlakukan eksperimen secara pasif, asumsi yang ketiga atau terakhir yaitu karena organisme manusia bersifat kompleks, maka perlakuan eksperimen akan mempengaruhi manusia khususnya pembelajar dengan cara yang sangat kompleks pula.

    Langkah – langkah pelaksanaan eksperimen representatif menurut Snow :
    1. Lakukan penelitian dalam setting pendidikan yang nyata atau dalam lingkungan yang memungkinkan dalam generalisasi,
    2. Masukkanlah beberapa variasi lingkungan kedalam desain eksperimen,
    3. Amatilah apa yang secara nyata dilakukan oleh partisipan ( siswa ) selama eksperimen berlangsung,
    4. Kajilah konteks sosial dari lingkungan dimana eksperimen akan dilakukan,
    5. Siapkan dengan baik para partisipan yang akan ikut dalam eksperimen,
    6. Adakan pengendalian perlakuan yang memungkinkan para partisipan menggunakan pendekatan yang biasa mereka lakukan dalam kegiatan mereka atau belajar.

    Macam – macam eksperimen yaitu :
    - Eksperimen Murni atau true experimental adalah pengujian variabel bebas dan variabel terikat dilakukan terhadap sampel kelompok eksperimen atau kelompok kontrol.
    - Eksperimen Kuasi adalah eksperimen yang bukan merupakan ekseperimen murni tetapi seperti murni, dan eksperimen ini juga disebut eksperimen semu.
    - Eksperimen Lemah atau Pra Eksperimen adalah eksperimen yang sepintas modelnya seperti eksperimen tetapi bukan eksperimen, karena tidak ada penyamaan karakteritis ( random ) dan tidak ada pengontrolan variabel. Model eksperimen ini hanya digunakan untuk penelitian latihan.
    - Eksperimen Subyek-Tunggal yaitu meneliti individu dalam kondisi tanpa perlakuan dan kemudian dengan perlakuan dan akibatnya terhadap variabel akibat diukur dalam kedua kondisi tersebut.

    Daftar Pustaka

    Sukmadinata, Nana Syaodih. ( 2007 ). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

    Nama : HERWINI SUCI FAUZIAH
    No. Reg. : 5525067437
    Jurusan : Pendidikan Tata Busana Ekst’ 06
    Universitas Negeri Jakarta

  7. Fitri Pratiwi ( 5525067453 ) said

    Langkah-langkah penelitian pendidikan eksperimen yaitu :
    1. Memilih masalah
    2. Studi pendahuluan
    3. Merumuskan masalah
    4. Memilih pendekatan
    5. Menentkan variabel dan sumber data
    6. mengumpulkan data
    7. Analisis data
    8. Menarik kesimpulan

    SUMBER : ” PROSEDUR PENELITIAN SUATU PENDEKATAN PRAKTEK ” , Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Rineka Cipta, Jakarta : 1996.

  8. Mochamad Asgofur (5525067450) said

    PROSEDUR / LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN :

    Garis besar :
    a. Pembuatan rancangan;
    b. Pelaksanaan penelitian;
    c. Pembuatan laporan penelitian

    Bagan arus kegiatan penelitian

    1. Memilih Masalah; memerlukan kepekaan
    2. Studi Pendahuluan; studi eksploratoris, mencari informasi;
    3. Merumuskan Masalah; jelas, dari mana harus mulai, ke mana harus pergi dan dengan apa
    4. Merumuskan anggapan dasar; sebagai tempat berpijak, (hipotesis);
    5. Memilih pendekatan; metode atau cara penelitian, jenis / tipe penelitian : sangat emenentukan variabel apa, objeknmya apa, subjeknya apa, sumber datanya di mana;
    6. Menentukan variabel dan Sumber data; Apa yang akan diteliti? Data diperoleh dari mana?
    7. Menentukan dan menyusun instrumen; apa jenis data, dari mana diperoleh? Observasi, interview, kuesioner?
    8. Mengumpulkan data; dari mana, dengan cara apa?
    9. Analisis data; memerlukan ketekunan dan pengertian terhadap data. Apa jenis data akan menentukan teknis analisisnya
    10. Menarik kesimpulan; memerlukan kejujuran, apakah hipotesis terbukti?
    11. Menyusun laporan; memerlukan penguasaan bahasa yang baik dan benar.

    Tags: penelitian, mpph, mph, daly, abdul hamid

    sumber search: http://abdulhamid.files.wordpress.com/2007/03/materi_kuliah_3_19_feb_06.doc

    Langkah-langkah penelitian

    Langkah-langkah esensial dalam suatu penelitian terdiri dari 6 tahap, yaitu :
    (1) menetapkan obyek atau pokok persoalan
    (2) membatasi obyek atau pokok persoalan
    (3) mengumpulkan data atau informasi
    (4) mengolah data dan menarik kesimpulan
    (5) merumuskan dan melaporkan hasilnya
    (6) mengemukakan implikasi-implikasi penyelidikan.

    Sumber search: Sutrisno Hadi (dalam Karti Soeharto,2000)

    http://vr-5421.blogspot.com

    Sumber search : Sutama, 2007
    http://sutama.files.wordpress.com/2007/07/metode-penelitian-pendidikan.pdf

    Sumber search: Hansiswany Kamarga, 2008
    hanckey.pbwiki.com/f/Penelitian+eksperimen+dan+RD+(6).ppt

  9. SELLY MURDIANI (5525067441) said

    Penelitian eksperimen adalah satu-satunya metode penelitian yang benar-benar dapat menguji hipotesis hubungan sebab akibat.

    Jika dilaksanakan dengan baik, penelitian eksperimen menghasilkan bukti yang paling baik mengenai hubungan sebab akibat yang dihipotesiskan.prediksi berdasarkan hasil penelitian eksperimen adalah spesifik dan membuat prediksi nilai tertentu.

    Langkah – langkah dalam penelitian eksperimen :
    1. Pemilihan dan pembatasan masalah
    2. pemilihan subjek dan instrumen pengukur
    3. pemilihan desain
    4. pelaksanaan prosedur-prosedur
    5. pembuat analisis data
    6. perumusan kesimpulan.

    Pada penelitian eksperimen, peneliti berperan aktif mulai dari sebelum penelitian benar-benar dimulai; peneliti membentuk atau memilih kelompok, menetapkan apakah yang akan terjadi pada tiap kelompok, mencoba mengontrol semua faktor lain diluar perubahan-perubahan yang telah direncanakan dan mengamati atau mengukur efek pada kelompok-kelompok diakhir penelitian.

    penelitian eksperimen biasanya melibatkan dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

    SUMBER :METODOLOGI PENELITIAN SOSIAL DAN PENDIDIKAN, Drs.Sumanto,M.A,
    Penerbit ; ANDI OFFSET yogjakarta 1990

  10. ifa kholipah (5525067454) said

    HAKEKAT DAN RUANG LINGKUP METODE PENELITIAN PENDIDIKAN

    1. Hakekat Metode Penelitian Pendidikan
    Penelitian adalah suatu penyelidikan atau suatu usaha pengujian yang dilakukan secara teliti, dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan menggunakan langkah-langkah tertentu. Fokus perhatian dalam suatu penelitian adalah masalah, masalah yang muncul dalam pikiran peneliti berdasarkan penelaahan situasi yang meragukan (a perplexing situation). Masalah adalah titik sentral dari keseluruhan penelitian. adapun ciri, karakteristik, dan langkah-langkah penelitian, diantaranya adalah:
    Ciri – ciri penelitian :
    1. Memiliki masalah, terumus jelas dan terperinci.
    2. Memiliki hipotesis, terumus jelas dan terperinci.
    3. Terencana, bertujuan dan bermetode.
    4. Empiris, berdasarkan observasi fenomena.
    5. Berlogika, berdasarkan analisis teoritis.
    6. Berakurasi dan valid, menggunakan instrumen yang tepat dan reliabel.
    7. Memiliki sumber data, primer dan sekunder.
    8. Non-etikal, bersifat objektif.
    9. Siklikal, sistematis.
    10. Berproduk: abstrak (berupa: prinsip, generalisasi, dan teoritik) atau konkret (berupa: model atau alat)
    Karakteristik penelitian :
    1. Berfungsi menjawab permasalahan tertentu.
    2. Dilakukan secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu.
    3. Melibatkan kegiatan pengumpulan, pengolahan dan penyimpulan data (fakta dan opini).
    Langkah-langkah penelitian :
    1. Identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah.
    2. Penelaahan kepustakaan.
    3. Penyusunan hipotesis.
    4. Identifikasi, klasifikasi, dan pemberian definisi operasional variable-variabel.
    5. Pemilihan atau pengembangan alat pengambil data.
    6. Penyusunan rancangan penelitian.
    7. Penentuan sample.
    8. Pengumpulan data.
    9. Pengolahan dan analisis data.
    10. Interpretasi hasil analisis.
    11. Penyusun laporan/publikasi penelitian
    Pendidikan menurut bahasa Yunani adalah pedagog, yaitu : ilmu menuntun anak. Kemudian, menurut bahasa Romawi pendidikan dilihat sebagai proses yang mengeluarkan, menuntun,mengarahkan setiap tindakan dari seorang anak yang dibawa sejak dilahirkan di dunia
    Metodologi dalam arti umum, adalah studi yang logis dan sistematis tentang prinsip-prinsip yang mengarahkan penelitian ilmiah. Dengan demikian, metodologi dimaksudkan sebagai prinsip-prinsip dasar dan bukan sebagai methods atau cara-cara untuk melakukan penelitian
    Dengan demikian, metode penelitian pendidikan dapat diartikan sebagai prinsip dasar dalam melakukan suatu penyelidiakan dalam bidang penelitian yang dilakukan secara teliti, dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan menggunakan langkah-langkah tertentu.
    Metode penelitian pendidikan perlu dikuasai oleh calon tenaga kependidikan dan mereka yang berprofesi kependidikan dalam upaya pencanderaan dan pengembangan kebijakan dan program-program pendidikan yang menjadi tugasnya.

    2.Ruang Lingkup
    Ruang lingkup penelitian pendidikan, antara lain pendidikan sebagai ilmu, interaksi pendidikan, landasan psikologis pendidikan, kurikulum, sampai latihan maupun bimbingan.
    oleh orang dewasa. Pedagogik teoritis selalu bersifat sistematis karena harus lengkap problematik dan pembahasannya. Tetapi pendidikan (atau pedagogi) diperlukan juga oleh semua orang termasuk orang dewasa dan lanjut usia. Karena itu selain cabang pedagogic teoritis sistematis juga terdapat cabang-cabang pedagogic praktis, diantaranya pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal dalam keluarga, andragogi (pendidikan orang dewasa) dan gerogogi (pendidikan orang lansia), serta pendidikan non-formal sebagai pelengkap pendidikan jenjang sekolah dan pendidikan orang dewasa.Di dalam menelaah manusia yang berinteraksi di dalam fenomena pendidikan, ilmu pendidikan khususnya pedagogic merupakan satu-satunya bidang ilmu yang menelaah interaksi itu secara utuh yang bersifat antar dan inter-pribadi. Untunglah ada ilmu lain yang melakukan telaah atas perilaku manusia sebagai individu. Begitu juga halnya atas telaah interaksi sosial, telaah perilaku kelompok dalam masyarakat, telaah nilai dan norma sebagai isi kebudayaaan, dan seterusnya. Ilmu-ilmu yang melakukan telaah demikian dijadikan berfungsi sebagai ilmu bantu bagi ilmu pendidikan. Diantara ilmu bantu yang penting bagi pedagogic dan androgogi ialah : biologi, psikologi, sosiologi, antropologi budaya, sejarah dan fenomenologi (filsafah).
    Dalam pendidikan, interaksi antara pendidik dan peserta didik merupakan hal yang penting. Inti dari interaksi pendidikan adalah interaksi formal guru-siswa dalam proses belajar mengajar yang merupakan interaksi dari berbagai komponen pendidikan: guru, siswa dan bahan ajar serta peralatan.
    Landasan psikologi dalam pendidikan diperlukan demi tercapainya tujuan pendidikan karena, dalam proses pendidikan, peserta didik tidak jarang yang mengalami stagnasi sehingga memunculkan masalah-masalah psikologis, seperti terwujud dalam perilaku yang menyimpang. Untuk menghindari berbagai masalah psikologis tersebut perlu diberikan bantuan yang bersifat pribadi melalui layanan bimbingan dan konseling.
    Berdasarkan uraian mengenai landasan bimbingan dan konseling di atas, bahwa bimbingan dan konseling tidak melulu diberikan kepada individu yang bermasalah. Dalam konteks pendidikan, seluruh peserta didik mulai dari jenjang yang paling rendah hingga pendidikan tinggi perlu mendapat bimbingan, dan konseling.
    Demi tercapainya tujuan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat materi pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada peserta didik. Definisi lain, “suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar-mengajar di bawah bimbingan dan tanggungjawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.”

    SUMBER:
    http://blog.360.yahoo.com/blog-z0yPWug4a6NVUQOj_kM-?cq=1&p=93
    http://rosda.co.id/index.php?info=resensi&resensi=51
    http://pakguruonline.pendidikan.net/pradigma_pdd_ms_depan_38.html

  11. siti hodizah 5525067452 said

    Penelitian adalah suatu usaha menemukan prinsip, kaedah dan dalil.
    Lankah – langkah Penelitian Eksperimen :
    1. Pemeriksaan dan Penyeleksian Lapangan
    2. Penetapan Pokok Masalah
    3. Sumber Masalah
    4. Bagaimana Menemukan Masalah
    5. Penilaian dan Kriteria Memilih Masalah
    6. Pendefinisian atau Perumusan Masalah
    7. Penetapan Anggapan Dasar dan Ponstulat
    8. Penyusunan Hipotesis
    9. Perumusan Tujuan Penelitian
    10.Penyusunan Teknik Pengumpulan Data
    11.Penetapan Data yang Diperlukan
    12.Mensistematisasikan Data

    Penelitian Eksperimen biasanya baik dalam bidang ilmu alamiah maupun di bidang ilmu sosial Eksperimen memecahkan masalah yang muncul pada suatu waktu dengan cara yang dapat dilakukan pada waktu itu,tanpa terpengaruh pada keadaan sebelumnya.

    Sumber :
    DR.Jahja Qadar,Alhaja.Dasar – Dasar Metodologi Penelitian.Jakarta 1983.

  12. rai(5525067458)RESPONSE said

    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2).

    Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen

    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu,
    (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
    (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
    (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:
    a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen;
    b) menentukan cara mengontrol;
    c) memilih rancangan penelitian yang tepat;
    d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian;
    e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen;
    f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan;
    g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

    (5) Melaksanakan eksperimen.
    (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah
    ditentukan.
    (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
    (9) Menginterpretasikan hasil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

    sumber:
    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional

    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    By: rai(5525067458) on March 1, 2008
    at 9:04 am

    Your comment is awaiting moderation.
    Leave a response

  13. Rustanto 5525067435 said

    Penelitian Pendidikan
    oleh:IWAN PERMANA SUWARNA

    A. Pengertian Penelitian
    Penelitian adalah suatu penyelidikan atau suatu usaha pengujian yang dilakukan secara teliti, dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan menggunakan langkah-langkah tertentu
    Langkah-langkah penelitian :
    1.Identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah.
    2.Penelaahan kepustakaan.
    3.Penyusunan hipotesis.
    4.Identifikasi, klasifikasi, dan pemberian definisi operasional variable-variabel.
    5.Pemilihan atau pengembangan alat pengambil data.
    6.Penyusunan rancangan penelitian.
    7.Penentuan sample.
    8.Pengumpulan data.
    9.Pengolahan dan analisis data.
    10.Interpretasi hasil analisis.
    11.Penyusun laporan/publikasi penelitian.

    Sumber :www.google.co.id
    http;/blog.360.yahoo.com/penelitian pendidikan.

  14. Selly murdiani ( 5525067441) said

    penelitian eksperimen adalah satu-satunya metode penelitian yang benar-benar dapat menguji hipotesis hubungan sebab akibat.

    Langkah-langkah penelitian eksperimen :
    1. pemilihan masalah
    2. tujuan penelitian
    3. mengadakan hipotesa
    4. pemilihan waktu
    5. menganalisis data
    6. pengukuran setelah eksperimen
    7. perumusan masalah

    Pada penelitian eksperimen, peneliti berperan aktif mulai dari sebelum penelitian benar-benar dimulai, peneliti membentuk atau memilih kelompok-kelompok, menetapkan apakah yang akan terjadi pada tiap kelompok, mencoba mengontrol semua faktor lain diluar perubahan-perubahan yang telah direncanakan, dan mengamati atau mengukur efek pada kelompok-kelompok diakhir penelitian.

    SUMBER : “METODOLOGI RESEARCH”, Prof. Drs. Sutrisno Hadi, M.A,
    Penerbit : ANDI OFFSET, Yogjakarta 1988

  15. irma indriani said

    irma indriani
    (5525067438)

    Terlalu berlebihan

    Saat ini sejumlah buku sejarah di tingkat SMP-SMA sederajat yang ditulis berdasarkan Kurikulum 2004 telah dilarang oleh Kejaksaan Agung dan wajib ditarik dari peredaran. Sebagai pihak yang berwenang, tentu kita dapat memaklumi tindakan Kejaksaan Agung meneliti dan menyelidiki buku-buku yang “dianggap” dapat mengganggu ketertiban umum.
    Hanya saja, kekhawatiran akan terjadinya gangguan ketertiban umum dalam konteks pembelajaran sejarah tentu dapat dikatakan berlebihan. Sebab, kenyataannya materi sejarah tentang peristiwa tahun 1965 yang diajarkan oleh guru-guru sejarah sebenarnya tetap mengacu pada Kurikulum 1994.
    Penarikan buku di toko-toko buku tentu tidak berdampak secara psikologis. Akan tetapi, penarikan buku secara tiba-tiba pada anak didik tentu akan berdampak psikologis. Anak akan bertanya, apa yang sedang terjadi pada negara ini sehingga buku sejarah yang sedang mereka pelajari saat ini harus “diambil” dari tangannya. Lalu, bagaimana dengan biaya penggantian buku yang harus mereka beli ulang? Akan- kah ditanggung oleh pemerintah?
    Kebijakan Kurikulum 2004 yang berlanjut pada penerbitan buku sejarah berdasarkan “kurikulum eksperimen” tersebut, dan pelarangannya oleh Kejaksaan Agung akan menjadi kontroversi baru dalam dunia pendidikan sejarah di Indonesia.
    Tampaknya kurikulum eksperimen inilah yang dinilai oleh sejarawan Asvi Warman Adam sebagai kebijakan pendidikan yang dapat membingungkan masyarakat, murid, dan tentu guru sejarah.
    Selain membingungkan, bisa jadi makin menjauhi usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

    (Adapted from KOMPAS, March 26, 2007)
    (Adapted from KOMPAS, March 26, 2007)

  16. rani anggraeni purwanti said

    PENELITIAN EKSPERIMEN
    February 27, 2008 · No Comments
    I. Pengertian Penelitian Eksperimen

    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2). selanjutnya akan dipaparkan karakteristik Penelitian Eksperimen, yaitu sebagai berikut

    II. Karakteristik Penelitian Eksperimen

    Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

    III. Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen

    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu, (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

    (5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.

    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah

    ditentukan. (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

    IV. Rancangan Penelitian Eksperimen

    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

    (1). Rancangan Pra-Eksperimental

    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:

    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)

    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)

    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

    (2). Rancangan Eksperimen Murni

    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:

    a). Adanya kelompok kontrol.

    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.

    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.

    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.

    a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized

    posttest only control group design)

    b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the

    randomized pretest-posttest control group design)

    c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)

    d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan

    kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)

    e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)

    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:

    a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the

    randomized posttest – only control group design, using matched subject).

    b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok

    kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),

    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter

    balanced, using matched subject) .

    d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)

    e). Rancangan faktorial (factorial design).

    DAFTAR PUSTAKA

    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional

    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Categories: Adanya kelompok kontrol · EKSPERIMEN · Variabel-veniabel penelitian · hipotesis · kondisi eksperimental · meminimalkan variansi · penelitian
    Tagged: Adanya kelompok kontrol, EKSPERIMEN, hipotesis, kondisi eksperimental, meminimalkan variansi, penelitian, Variabel-veniabel penelitian

  17. rani anggraeni purwanti ( 5525067445 ) said

    PENELITIAN EKSPERIMEN
    February 27, 2008 · No Comments
    I. Pengertian Penelitian Eksperimen

    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2). selanjutnya akan dipaparkan karakteristik Penelitian Eksperimen, yaitu sebagai berikut

    II. Karakteristik Penelitian Eksperimen

    Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

    III. Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen

    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu, (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

    (5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.

    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah

    ditentukan. (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

    IV. Rancangan Penelitian Eksperimen

    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

    (1). Rancangan Pra-Eksperimental

    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:

    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)

    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)

    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

    (2). Rancangan Eksperimen Murni

    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:

    a). Adanya kelompok kontrol.

    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.

    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.

    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.

    a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized

    posttest only control group design)

    b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the

    randomized pretest-posttest control group design)

    c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)

    d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan

    kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)

    e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)

    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:

    a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the

    randomized posttest – only control group design, using matched subject).

    b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok

    kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),

    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter

    balanced, using matched subject) .

    d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)

    e). Rancangan faktorial (factorial design).

    DAFTAR PUSTAKA

    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional

    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    Categories: Adanya kelompok kontrol · EKSPERIMEN · Variabel-veniabel penelitian · hipotesis · kondisi eksperimental · meminimalkan variansi · penelitian
    Tagged: Adanya kelompok kontrol, EKSPERIMEN, hipotesis, kondisi eksperimental, meminimalkan variansi, penelitian, Variabel-veniabel penelitian

  18. IRNA FATIMAH 5525067436 said

    METODE EKSPERIMEN

    Metode eksperimen merupakan langkah-langkah lengkap yang diambil sebelum eksperimen dilakukan, agar data yang diperlukan dapat diperoleh, sehingga analisis menjadi objektif.

    Menurut Sudjana (1980), prinsip dasar dalam desain adalah reflikasi, randomisasi dan kontrol lokal.
    - Replikasi : pengulangan eksperimen agar mendapatkan taksiran yang lebih baik.
    - Randomisasi : langkah pengacakan untuk memperkecil korelasi antar pengamatan agar memungkinkan melanjutkan langkah selanjutnya.
    - Kontrol lokal : langkah-langkah yang berbentuk penyeimbangan, pengotakanatau pemblokan unit-unit eksperimen yang diinginkan dalam desain.

    Menurut Ary ( 1994), meringkas eksperimen yang diinginkan dalam 3 karakteristik yaitu :
    - Variabel bebas adalah variabel yang dimanipulasi
    - semua variabel terikat adalah konstan
    - pengaruh pemanipulasian variabel bebas atas variabel terikat dapat diamati atau diukur.

    Penelitian ekperimen dimulai dengan membuat hipotesis kasual. yang terdiri dari variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat). langkah berikutnya adalah mengukur variabel dependen dengan pengujian awal (pre-test), diikuti kagi dengan memberikan treatment atau stimulus kedalam kelompok yang diteliti dan diakhiri dengan mengukur kembali variabel dependen setelah diberikan stimulus (post-test).

    TAHAP dalam PENELITIAN EKSPERIMEN
    1. Menentukan hipotesis kasual
    2. melakukan variabel dependen (pre-test) kemudian berikan variabel independen atau stimulus
    3. lakukan kembali variabel dependen (post-test)

    SUMBER :
    1. METODELOGI PENELITIAN untuk SKRIPSI dan TESIS BISNIS, Drs.Husein Umar, S.E., M.M., M.B.A.
    Penerbit : RAJAWALI PERS, CITRA NIAGA BUKU PERGURUAN TINGGI JAKARTA 979-421-705-0

    2. METODE PENELITIAN KUANTITATIF TEORI dan APLIKASI, Bambang Prasetyo Lina Miftahul Jannah
    Penerbit : RAJAWALI PERS, CITRA NIAGA BUKU PERGURUAN TINGGI JAKARTA 979-421-705-0

    Nama : IRNA FATIMAH
    No Reg : 5525067436
    Tata Busana eks’06

  19. Yenni Anggraini said

    LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

    Eksperimen/Percobaan

    Pengumpulan data melalui pencatatan langsung dari percobaan/pengukuran

    Sifat:

    Terdapat penggunaan alat ukur atau metode eksperimen tertentu

    Tahapan Eksperimen/Percobaan :

     Identifikasi semua variable yang relevan
     Identifikasi variable non eksperimen yang mungkin mengganggu eksperimen
     Tentukan alat ukur atau instrumentasi yang dipakai
     Tentukan rancangan dan metode eksperimen yang akan dilakukan
     Tentukan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk eksperimen
     Lakukan eksperimen/pengukuran
     Catat data hasil eksperimen/pengukuran

    Untuk mendapatkan eksperimen yang baik, perlu dilakukan eksperimen

    yang berulang-ulang.

    SUMBER : nic.unud.ac.id/~dayu/RM/KULIAH7.pdf

    Yenni Anggraini
    5525067464
    S1 Tata Busana Eks

  20. YULI ENDAH MAWATI said

    PENELITIAN EKSPERIMEN SATU METODE DALAM PTK
    February 8, 20
    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2).

    II. Karakteristik Penelitian Eksperimen
    Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

    III. Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen
    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu, (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    (5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah
    ditentukan. (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

    IV. Rancangan Penelitian Eksperimen
    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

    (1). Rancangan Pra-Eksperimental
    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:
    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)
    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

    (2). Rancangan Eksperimen Murni
    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:
    a). Adanya kelompok kontrol.
    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.
    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.
    a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized
    posttest only control group design)
    b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the
    randomized pretest-posttest control group design)
    c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)
    d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan
    kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)
    e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)
    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:
    a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the
    randomized posttest – only control group design, using matched subject).
    b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok
    kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),
    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter
    balanced, using matched subject) .
    d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)
    e). Rancangan faktorial (factorial design).

    DAFTAR PUSTAKA
    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelaja

  21. DEWI RAHAYU.P.S.(5525067457) said

    JENIS / RAGAM PENELITIAN

    - Penelitian dapat digolongkan / dibagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, antara lain berdasarkan:
    1. Tujuan;
    2. Pendekatan;
    3. Tempat;
    4. Pemakaian atau hasil / alasan yang diperoleh;
    5. Bidang ilmu yang diteliti;
    6. Taraf Penelitian;
    7. Teknik yang digunakan;
    8. Keilmiahan;
    9. Spesialisasi bidang (ilmu) garapan;
    Juga ada Pembagian secara umum:
    - Berdasarkan hasil / alasan yang diperoleh :
    1. Basic Research (Penelitian Dasar): mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan;
    2. Applied Reseach (Penelitian Terapan) : mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
    - Berdasarkan Bidang yang diteliti:
    1. Penelitian Sosial: Secara khusus meneliti bidang sosial : ekonomi, pendidikan, hukum dsb;
    2. Penelitian Eksakta<:Secara khusus meneliti bidang eksakta : Kimia, Fisika, Teknik; dsb;
    - Berdasarkan Tempat Penelitian :
    1. Field Research (Penelitian Lapangan / Kancah): langsung di lapangan;
    2. Library Research (Penelitian Kepustakaan) : Dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya;
    3. Laboratory Research (Penelitian Laboratorium) : dilaksanakan pada tempat tertentu / lab , biasanya bersifat eksperimen atau percobaan;
    - Berdasarkan Teknik yang digunakan :
    1. Survey Research (Penelitian Survei) : Tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti:
    2. Experimen Research (Penelitian Percobaan) : dilakukan perubahan (ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti;
    - Berdasarkan Keilmiahan :
    1. Penelitian Ilmiah : Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah / meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar / tinggi-rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu :
    a. Kemampuan memberikan pengertian ayng jelas tentang masalah yang diteliti:
    b. Kemampuan untuk meramalkan : sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat / waktu lain;
    Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah :
    a) Purposiveness : fokus tujuan yang jelas;
    b) Rigor : teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
    c) Testibility : prosedur pengujian hipotesis jelas
    d) Replicability : Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
    e) Objectivity : Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;
    f) Generalizability : Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
    g) Precision : Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
    h) Parsimony : Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
    2. Penelitian non ilmiah : Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah.
    - Berdasarkan Spesialisasi Bidang (ilmu) garapannya : Bisnis (Akunting, Keuangan, Manajemen, Pemasaran), Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan/PR, Periklanan), Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional), Pertanian (agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman), Teknik, Ekonomi (Mikro, Makro, Pembangunan), dll;
    - Berdasarkan dari hadirnya variabel (ubahan) : variabel adalah hal yang menjadi objek penelitian, yangd itatap, yang menunjukkan variasi baik kuantitatif maupun kualitatif. Variabel : masa lalu, sekarang, akan datang. Penelitian yangd ilakukan dengan menjelaskan / menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi) adalah penelitian deskriptif ( to describe = membeberkan / menggambarkan). Penelitian dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen.
    - Penelitian secara umum :
    o Penelitian Survei:
     Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
     Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
     Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
     Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
     Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
     Penelitian ini dapat berupa :
    a. Penelitian Exploratif (Penjajagan): Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik?
    b. Penelitian Deskriptif : Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti menegmbangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis;
    c. Penelitian Evaluasi : mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi disini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan);
    d. Penelitian Eksplanasi (Penjelasan) : menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis;
    e. Penelitian Prediksi : Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
    f. Penelitian Pengembangan Sosial : Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala: Misal : Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar, 1998-2003;
    o Grounded Research : Mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan; bertujuan mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori, mengembangkan teori; pengumpulan dan analisis data dalam waktu yang bersamaan. Dalam riset ini data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data. Ciri-cirinya : Data merupakan sumber teori dan sumber hipotesis, Teori menerangkan data setelah data diurai.

    Uraian berdasarkan data; Teori yang
    Data ——– Analisis menjadi konsep dan Hipotesis—– menerangkan
    Berdasarkan data data
    o Studi Kasus : Mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit yang menjadi subjek; tujuannya memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, sifat, karakteristik yang khas dari kasus, yang kemudian dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Hasilnya merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal. Ruang lingkupnya bisa bagian / segmen, atau keseluruhan siklus /aspek. Penelitian ini lebih ditekankan kepada pengkajian variabel yang cukup banyak pada jumlah unit yang kecil.
    o Penelitian Eksperimen : Dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap obyek penelitian serta diadakan kontrol terhadap variabel tertentu; Untuk pengujian hipotesis tertentu; dimaksudkan untuk mengetahui hubungan hubungan sebab – akibat variabel penelitian; Konsep dan varaiabelnya harus jelas, pengukuran cermat. Tujuan penelitian ini untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebab-akibat tersebut dengan cara memberikan perlakukan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menjediakan kontrol untuk perbandingan.

    No. Penggolongan Menurut Jenis/Ragam Penelitian
    1. Tujuan a.Eksplorasi;
    b. Pengembangan;
    c. Verifikasi
    2. Pendekatan a. Longitudinal;
    b. Cross-sectional;
    c. Kuantitatif;
    d. Survei;
    e. Assessment;
    f. Evaluasi;
    g. Action Research;
    h.
    3. Tempat a. Library;
    b. Laboratorium’
    c. Field
    4. Pemakaian a. Pure;
    b. Applied
    5. Bidang Ilmu a. Pendidikan ;
    b. Agama;
    c. Manajemen;
    d. Komunikasi;
    e. Administrasi;
    f. Keteknikan;
    g. Bahasa;
    h. Hukum;
    i. Sejarah;
    j. Antropologi;
    k. Sosiologi;
    l. Filsafat;
    6. Taraf Penelitian a. Deskriftif;
    b. Eksplanasi
    7. Saat terjadinya variabel a. Historis;
    b. Ekspos-Fakto;
    c. Eksperimen

    Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

    No. Penelitian Kuantitatif Penelitian Kualitatif
    1. Kejelasan Unsur :
    Tujuan, pendekatan, subjek, sampel,
    Sumber data sudah mantap, rinci sejak awal
    Subjek sampel, sumber data tidak mantap
    Dan rinci, masih fleksibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan
    2. Langkah penelitian :
    Segala sesuatu direncanakan sampai
    Matang ketika persiapan disusun
    Baru diketahui denagn mantap dan jelas setelah penelitian selesai
    3. Hipotesis (Jika memang perlu)
    a. Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian;
    b. Hipotesis menentukan hasil yang diramalkan— a priori

    Tidak menegmukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung— tentatif
    Hasil penelitian terbuka
    4. Disain :
    Dalam disain jelas langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan
    Disain penelitiannya fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya;
    5. Pengumpulan data :
    Kegiatan dalam pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan
    Kegiatan pengumpulan data selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti.
    6. Analisis data :
    Dilakukan sesudah semua data terkumpul.
    Dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data

    TUJUAN PENELITIAN :

    Secara umum ada empat tujuan utama :
    1.Tujuan Exploratif (Penemuan) : menemukan sesuatu yang baru dalam bidang tertentu;
    2. Tujuan Verifikatif (Pengujian): menguji kebenaran sesuatu dalam bidang yang telah ada;
    3. Tujuan Developmental (Pengembangan) : mengembangkan sesuatu dalam bidang yang telah ada;
    4. Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi)

    PERANAN PENELITIAN

    1. Pemecahan Masalah : meningkatkan kemampuan untuk menginterpretasikan fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks dan kait mengkait;
    2. Memberikan jawaban atas pertanyaan dalam bidang yang diajukan : meningkatkan kemampuan untuk menjelaskan atau menggambarkan fenomena-fenomena dari masalah tersebut;
    3. Mendapatkan pengetahuan / ilmu baru :

    PERSYARATAN PENELITIAN :

    1. Mengikuti konsep ilmiah;
    2. Sistematis : Pola tertentu;
    3. Terencana :

    Penelitian dikatakan baik bila :
    1. Purposiveness : Tujuan yang jelas;
    2. Exactitude : Dilakukan dengan hati-hati, cermat, teliti;
    3. Testability : Dapat diuji atau dikaji;
    4. Replicability : Dapat diulang oleh peneliti lain;
    5. Precision and Confidence : Memiliki ketepatan dan keyakinan jika dihubungkan dengan populasi atau sampel;
    6. Objectivity : Bersifat objektif;
    7. Generalization : Berlaku umum;
    8. Parismony : Hemat, tidak berlebihan;
    9. Consistency : data atau ungkapan yang digunakan harus selalu sama bagi kata atau ungkapan yang memiliki arti sama;
    10. Coherency : Terdapat hubungan yang saling menjalin antara satu bagian dengan bagian lainnya.

    PROSEDUR / LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN :

    Garis besar :
    a. Pembuatan rancangan;
    b. Pelaksanaan penelitian;
    c. Pembuatan laporan penelitian

    Bagan arus kegiatan penelitian

    1. Memilih Masalah; memerlukan kepekaan
    2. Studi Pendahuluan; studi eksploratoris, mencari informasi;
    3. Merumuskan Masalah; jelas, dari mana harus mulai, ke mana harus pergi dan dengan apa
    4. Merumuskan anggapan dasar; sebagai tempat berpijak, (hipotesis);
    5. Memilih pendekatan; metode atau cara penelitian, jenis / tipe penelitian : sangat emenentukan variabel apa, objeknmya apa, subjeknya apa, sumber datanya di mana;
    6. Menentukan variabel dan Sumber data; Apa yang akan diteliti? Data diperoleh dari mana?
    7. Menentukan dan menyusun instrumen; apa jenis data, dari mana diperoleh? Observasi, interview, kuesioner?
    8. Mengumpulkan data; dari mana, dengan cara apa?
    9. Analisis data; memerlukan ketekunan dan pengertian terhadap data. Apa jenis data akan menentukan teknis analisisnya
    10. Menarik kesimpulan; memerlukan kejujuran, apakah hipotesis terbukti?
    11. Menyusun laporan; memerlukan penguasaan bahasa yang baik dan benar.

    sumber search: http://abdulhamid.files.wordpress.com/2007/03/materi_kuliah_3_19_feb_06.doc

  22. YULI ENDAH MAWATI(5525067461) said

    PENELITIAN EKSPERIMEN SATU METODE DALAM PTK
    February 8, 20
    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2).

    II. Karakteristik Penelitian Eksperimen
    Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

    III. Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen
    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu, (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    (5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah
    ditentukan. (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

    IV. Rancangan Penelitian Eksperimen
    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

    (1). Rancangan Pra-Eksperimental
    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:
    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)
    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

    (2). Rancangan Eksperimen Murni
    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:
    a). Adanya kelompok kontrol.
    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.
    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.
    a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized
    posttest only control group design)
    b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the
    randomized pretest-posttest control group design)
    c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)
    d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan
    kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)
    e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)
    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:
    a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the
    randomized posttest – only control group design, using matched subject).
    b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok
    kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),
    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter
    balanced, using matched subject) .
    d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)
    e). Rancangan faktorial (factorial design).

    DAFTAR PUSTAKA
    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

  23. DEWI RAHAYU(5525067457) said

    JENIS / RAGAM PENELITIAN

    - Penelitian dapat digolongkan / dibagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, antara lain berdasarkan:
    1. Tujuan;
    2. Pendekatan;
    3. Tempat;
    4. Pemakaian atau hasil / alasan yang diperoleh;
    5. Bidang ilmu yang diteliti;
    6. Taraf Penelitian;
    7. Teknik yang digunakan;
    8. Keilmiahan;
    9. Spesialisasi bidang (ilmu) garapan;
    Juga ada Pembagian secara umum:
    - Berdasarkan hasil / alasan yang diperoleh :
    1. Basic Research (Penelitian Dasar): mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan;
    2. Applied Reseach (Penelitian Terapan) : mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
    - Berdasarkan Bidang yang diteliti:
    1. Penelitian Sosial: Secara khusus meneliti bidang sosial : ekonomi, pendidikan, hukum dsb;
    2. Penelitian Eksakta<:Secara khusus meneliti bidang eksakta : Kimia, Fisika, Teknik; dsb;
    - Berdasarkan Tempat Penelitian :
    1. Field Research (Penelitian Lapangan / Kancah): langsung di lapangan;
    2. Library Research (Penelitian Kepustakaan) : Dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya;
    3. Laboratory Research (Penelitian Laboratorium) : dilaksanakan pada tempat tertentu / lab , biasanya bersifat eksperimen atau percobaan;
    - Berdasarkan Teknik yang digunakan :
    1. Survey Research (Penelitian Survei) : Tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti:
    2. Experimen Research (Penelitian Percobaan) : dilakukan perubahan (ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti;
    - Berdasarkan Keilmiahan :
    1. Penelitian Ilmiah : Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah / meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar / tinggi-rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu :
    a. Kemampuan memberikan pengertian ayng jelas tentang masalah yang diteliti:
    b. Kemampuan untuk meramalkan : sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat / waktu lain;
    Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah :
    a) Purposiveness : fokus tujuan yang jelas;
    b) Rigor : teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
    c) Testibility : prosedur pengujian hipotesis jelas
    d) Replicability : Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
    e) Objectivity : Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;
    f) Generalizability : Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
    g) Precision : Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
    h) Parsimony : Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
    2. Penelitian non ilmiah : Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah.
    - Berdasarkan Spesialisasi Bidang (ilmu) garapannya : Bisnis (Akunting, Keuangan, Manajemen, Pemasaran), Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan/PR, Periklanan), Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional), Pertanian (agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman), Teknik, Ekonomi (Mikro, Makro, Pembangunan), dll;
    - Berdasarkan dari hadirnya variabel (ubahan) : variabel adalah hal yang menjadi objek penelitian, yangd itatap, yang menunjukkan variasi baik kuantitatif maupun kualitatif. Variabel : masa lalu, sekarang, akan datang. Penelitian yangd ilakukan dengan menjelaskan / menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi) adalah penelitian deskriptif ( to describe = membeberkan / menggambarkan). Penelitian dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen.
    - Penelitian secara umum :
    o Penelitian Survei:
     Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
     Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
     Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
     Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
     Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
     Penelitian ini dapat berupa :
    a. Penelitian Exploratif (Penjajagan): Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik?
    b. Penelitian Deskriptif : Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti menegmbangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis;
    c. Penelitian Evaluasi : mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi disini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan);
    d. Penelitian Eksplanasi (Penjelasan) : menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis;
    e. Penelitian Prediksi : Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
    f. Penelitian Pengembangan Sosial : Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala: Misal : Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar, 1998-2003;
    o Grounded Research : Mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan; bertujuan mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori, mengembangkan teori; pengumpulan dan analisis data dalam waktu yang bersamaan. Dalam riset ini data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data. Ciri-cirinya : Data merupakan sumber teori dan sumber hipotesis, Teori menerangkan data setelah data diurai.

    Uraian berdasarkan data; Teori yang
    Data ——– Analisis menjadi konsep dan Hipotesis—– menerangkan
    Berdasarkan data data
    o Studi Kasus : Mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit yang menjadi subjek; tujuannya memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, sifat, karakteristik yang khas dari kasus, yang kemudian dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Hasilnya merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal. Ruang lingkupnya bisa bagian / segmen, atau keseluruhan siklus /aspek. Penelitian ini lebih ditekankan kepada pengkajian variabel yang cukup banyak pada jumlah unit yang kecil.
    o Penelitian Eksperimen : Dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap obyek penelitian serta diadakan kontrol terhadap variabel tertentu; Untuk pengujian hipotesis tertentu; dimaksudkan untuk mengetahui hubungan hubungan sebab – akibat variabel penelitian; Konsep dan varaiabelnya harus jelas, pengukuran cermat. Tujuan penelitian ini untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebab-akibat tersebut dengan cara memberikan perlakukan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menjediakan kontrol untuk perbandingan.

    No. Penggolongan Menurut Jenis/Ragam Penelitian
    1. Tujuan a.Eksplorasi;
    b. Pengembangan;
    c. Verifikasi
    2. Pendekatan a. Longitudinal;
    b. Cross-sectional;
    c. Kuantitatif;
    d. Survei;
    e. Assessment;
    f. Evaluasi;
    g. Action Research;
    h.
    3. Tempat a. Library;
    b. Laboratorium’
    c. Field
    4. Pemakaian a. Pure;
    b. Applied
    5. Bidang Ilmu a. Pendidikan ;
    b. Agama;
    c. Manajemen;
    d. Komunikasi;
    e. Administrasi;
    f. Keteknikan;
    g. Bahasa;
    h. Hukum;
    i. Sejarah;
    j. Antropologi;
    k. Sosiologi;
    l. Filsafat;
    6. Taraf Penelitian a. Deskriftif;
    b. Eksplanasi
    7. Saat terjadinya variabel a. Historis;
    b. Ekspos-Fakto;
    c. Eksperimen

    Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

    No. Penelitian Kuantitatif Penelitian Kualitatif
    1. Kejelasan Unsur :
    Tujuan, pendekatan, subjek, sampel,
    Sumber data sudah mantap, rinci sejak awal
    Subjek sampel, sumber data tidak mantap
    Dan rinci, masih fleksibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan
    2. Langkah penelitian :
    Segala sesuatu direncanakan sampai
    Matang ketika persiapan disusun
    Baru diketahui denagn mantap dan jelas setelah penelitian selesai
    3. Hipotesis (Jika memang perlu)
    a. Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian;
    b. Hipotesis menentukan hasil yang diramalkan— a priori

    Tidak menegmukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung— tentatif
    Hasil penelitian terbuka
    4. Disain :
    Dalam disain jelas langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan
    Disain penelitiannya fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya;
    5. Pengumpulan data :
    Kegiatan dalam pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan
    Kegiatan pengumpulan data selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti.
    6. Analisis data :
    Dilakukan sesudah semua data terkumpul.
    Dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data

    TUJUAN PENELITIAN :

    Secara umum ada empat tujuan utama :
    1.Tujuan Exploratif (Penemuan) : menemukan sesuatu yang baru dalam bidang tertentu;
    2. Tujuan Verifikatif (Pengujian): menguji kebenaran sesuatu dalam bidang yang telah ada;
    3. Tujuan Developmental (Pengembangan) : mengembangkan sesuatu dalam bidang yang telah ada;
    4. Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi)

    PERANAN PENELITIAN

    1. Pemecahan Masalah : meningkatkan kemampuan untuk menginterpretasikan fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks dan kait mengkait;
    2. Memberikan jawaban atas pertanyaan dalam bidang yang diajukan : meningkatkan kemampuan untuk menjelaskan atau menggambarkan fenomena-fenomena dari masalah tersebut;
    3. Mendapatkan pengetahuan / ilmu baru :

    PERSYARATAN PENELITIAN :

    1. Mengikuti konsep ilmiah;
    2. Sistematis : Pola tertentu;
    3. Terencana :

    Penelitian dikatakan baik bila :
    1. Purposiveness : Tujuan yang jelas;
    2. Exactitude : Dilakukan dengan hati-hati, cermat, teliti;
    3. Testability : Dapat diuji atau dikaji;
    4. Replicability : Dapat diulang oleh peneliti lain;
    5. Precision and Confidence : Memiliki ketepatan dan keyakinan jika dihubungkan dengan populasi atau sampel;
    6. Objectivity : Bersifat objektif;
    7. Generalization : Berlaku umum;
    8. Parismony : Hemat, tidak berlebihan;
    9. Consistency : data atau ungkapan yang digunakan harus selalu sama bagi kata atau ungkapan yang memiliki arti sama;
    10. Coherency : Terdapat hubungan yang saling menjalin antara satu bagian dengan bagian lainnya.

    PROSEDUR / LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN :

    Garis besar :
    a. Pembuatan rancangan;
    b. Pelaksanaan penelitian;
    c. Pembuatan laporan penelitian

    Bagan arus kegiatan penelitian

    1. Memilih Masalah; memerlukan kepekaan
    2. Studi Pendahuluan; studi eksploratoris, mencari informasi;
    3. Merumuskan Masalah; jelas, dari mana harus mulai, ke mana harus pergi dan dengan apa
    4. Merumuskan anggapan dasar; sebagai tempat berpijak, (hipotesis);
    5. Memilih pendekatan; metode atau cara penelitian, jenis / tipe penelitian : sangat emenentukan variabel apa, objeknmya apa, subjeknya apa, sumber datanya di mana;
    6. Menentukan variabel dan Sumber data; Apa yang akan diteliti? Data diperoleh dari mana?
    7. Menentukan dan menyusun instrumen; apa jenis data, dari mana diperoleh? Observasi, interview, kuesioner?
    8. Mengumpulkan data; dari mana, dengan cara apa?
    9. Analisis data; memerlukan ketekunan dan pengertian terhadap data. Apa jenis data akan menentukan teknis analisisnya
    10. Menarik kesimpulan; memerlukan kejujuran, apakah hipotesis terbukti?
    11. Menyusun laporan; memerlukan penguasaan bahasa yang baik dan benar.

    sumber search: http://abdulhamid.files.wordpress.com/2007/03/materi_kuliah_3_19_feb_06.doc

  24. YULI ENDAH MAWATI(5525067461) said

    PENELITIAN EKSPERIMEN SATU METODE DALAM PTK
    February 8, 2008
    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2).

    II. Karakteristik Penelitian Eksperimen
    Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

    III. Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen
    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu, (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    (5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah
    ditentukan. (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

    IV. Rancangan Penelitian Eksperimen
    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

    (1). Rancangan Pra-Eksperimental
    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:
    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)
    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

    (2). Rancangan Eksperimen Murni
    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:
    a). Adanya kelompok kontrol.
    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.
    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.
    a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized
    posttest only control group design)
    b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the
    randomized pretest-posttest control group design)
    c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)
    d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan
    kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)
    e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)
    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:
    a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the
    randomized posttest – only control group design, using matched subject).
    b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok
    kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),
    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter
    balanced, using matched subject) .
    d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)
    e). Rancangan faktorial (factorial design).

    DAFTAR PUSTAKA
    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

  25. ANNISA RAHMAH ( 5525075027 ) said

    Tahapan-tahapan penelitian adalah:

    1. Identifikasi masalah
    2. Perumusan masalah
    3. Penelusuran pustaka
    4. Rancangan penelitian
    5. Pengumpulan data
    6. Pengolahan data
    7. Penyimpulan hasil

    Beberapa hal yang penting untuk diingat adalah, dalam mengkonstruksi teori sosial melalui model komputasional, kita harus sangat memperhatikan apa yang kita sebut sebagai AGEN.
    Terdapat dua kategori agen, yakni agen yang aktif dan agen yang pasif. Agen yang aktif adalah agen yang senantiasa bergerak sedemikian dengan aturan-aturan yang merepresentasikan apa yang diinginkan oleh agen dan tingkat inteligensi agen.
    Sebuah hal yang pada dasarnya baru, karena analisis sosial konvensional yang akrab dengan pemodelan statistika biasanya menganggap agen sebagai agen tanpa kecerdasan (zero-intelligent agent). Di sisi lain agen yang tidak aktif atau pasif adalah agen yang berupa sumber daya dari lingkungan di mana agen aktif berkecimpung, misalnya adalah makanan, uang, dan sebagainya, yang keberadaannya ditentukan oleh agen yang aktif.
    Pada dasarnya, mendeskripsikan agen adalah melakukan reduksi sedemikian yang dianggap oleh analis penting dan dicurigai menimbulkan faktor membrojol tertentu. Di sinilah letak proses paling penting dari analisis pemodelan berbasis agen. Kesalahan pada deskripsi ini tentu akan sangat berakibat FATAL bagi hasil analisis faktor yang muncul pasca simulasi komputasional. Dengan landasan ini pula analis harus dipersenjatai dengan pengetahuan yang cukup (pada umumnya kualitatif) terhadap fenomena yang hendak dibangun simulasi komputasionalnya.
    Dengan pengertian dan pemahaman ini harus disadari bahwa analis sosial yang menggunakan pisau analisis simulasi sosial dan masyarakat buatan tidak lantas menggunakan analisis kualitatif yang dilakukan secara konvensional. Harus diingat bahwa pemodelan berbasis agen dan masyarakat buatan tidak menggantikan tempat pendekatan sosial klasik, ia bersifat komplementer untuk mempertajam analisis sebelumnya sebagai alat ratifikasi teoretis yang telah ada.
    Secara sederhana langkah-langkah yang harus diambil oleh seorang analis sosial untuk mengkonstruksi masyarakat buatan adalah:

    Pertama, melakukan formulasi dari tujuan simulasi. Dengan kata lain kita harus merumuskan dengan seketat-ketatnya apa yang menjadi tujuan pemodelan atau simulasi. Ada beberapa tipe tujuan dari pemodela, apakah berupa mencari pengertian tentang suatu hal, optimasi, atau melakukan beberapa perubahan dari disain sistem sosial yang ada. Sebuah hal yang perlu diingat adalah bahwa tujuan harus didefinisikan sesempit mungkin, karena tujuan yang terlalu luas seringkali menimbulkan ambiguitas dari hasil simulasi.

    Kedua, Melakukan desain model. Kita harus sebaik mungkin memutuskan level dari penggunaan model tersebut. Secara mendasar agen seperti apa yang hendak dimodelkan, tipe kognitif apa yang mungkin dimiliki oleh agen, komponen stokastik apa yang bakal digunakan dalam model, bagaimana interaksi antara agen baik antara yang aktif dengan yang aktif atau yang aktif dengan yang pasif.

    Ketiga, Justifikasi dari asumsi. Model tentu tak lepas dari asumsi yang dibangun untuk interpretasi model tersebut. Harus diperiksa dengan teliti tiap asumsi yang digunakan dalam model, baik struktural maupun numerik agar secara empirik memang memenuhi syarat.

    Keempat, Pemilihan bentuk Pengukuran. Dalam membangun model tentu kita menginginkan beberapa hal yang diukur dan menjadi obyek analisis kita setelah simulasi. Secara ideal, tentu saja dimensi pengukuran dilakukan sesuai dengan tujuan dari pemodelan atau simulasi.

    Kelima, Memilih perangkat lunak untuk pemodelan dan simulasi. Hal ini dilakukan sesuai dengan kemampuan pemrograman yang memang kita kuasai. Secara umum pemrograman pemodelan berbasis agen melibatkan banyak faktor variabel dan penggunaan bahasa pemrograman berorientasi obyek (object oriented programming) memang merupakan pilihan yang baik. Namun khusus untuk simulasi sosial telah ada beberapa platform pemrograman yang siap untuk digunakan sesuai tingkat kemahiran analis.

    Keenam, Implementasi model ke dalam bahasa pemrograman yang kita pilih. Setelah kita memilih sistem pemrograman tempat kita melakukan simulasi, maka tiba saatnya kita menerjemahkan desain model ke dalam bahasa komputasi sesuai platform pemrograman yang kita pilih.

    Ketujuh, Verifikasi dan Validasi Model. Setelah model dijalankan dalam platform komputasi yang dipilih, kita harus senantiasa mengecek apakah model yang direpresentasikan secara komputasional tersebut telah benar-benar baik dan memenuhi standar yang kita tetapkan pada tahapan-tahapan terdahulu.

    Kedelapan, Desain Eksperimental. Setelah divalidasi dengan baik dan program sudah dapat berjalan dengan baik, maka model sudah dapat ditangani dengan serius untuk di dalamnya dilakukan berbagai percobaan sosial. Pertanyaan-pertanyaan seperti “bagaimana jika” tentu menjadi landasan percobaan yang menarik sembari melakukan beberapa perubahan variabel-variabel penyusun model kita.

    Kesembilan, Interpretasi dan Presentasi Hasil. Sebuah model dan simulasi masyarakat buatan adalah percuma tanpa keakuratan interpretasi. Ini justru menjadi hal yang paling penting bagi seorang sosiolog dengan masyarakat buatan.
    Dengan kesembilan langkah inilah kita melakukan berbagai percobaan sosial dengan menggunakan masyarakat buatan.

    Satu hal penting yang HARUS dicatat adalah bahwa sosiologi yang seperti ini bersandar kepada kritik dan rekonstruksi terhadap beberapa teori sosial yang sudah berkembang selama ini yakni behaviorisme, teori pertukaran, dan teori pilihan rasional di satu sisi dan di sisi lain dengan teori sosial interaksionisme simbol yang dipengaruhi oleh analisis pragmatisme sosial dalam teori sosiologi mikro.

    Kemunculan bentuk-bentuk makro dari interaksi mikro mungkin adalah sebuah faktor yang paling menarik dalam masyarakat buatan. Dalam analisis masyarakat buatan terlihat dengan jelas bagaimana fenomena dan struktur makro muncul dan bahkan mencapai kondisi ekuilibrium dan kestabilan tertentu. Dengan perkataan lain adalah masyarakat buatan adalah sebuah pena analisis yang ampuh bagi sosiolog untuk menjelajahi transisi perspektif makro dan mikro dalam fenomena dan proses sosial. Secara lebih jauh, kita akan diajak melihat bagaimana norma sosial bisa tumbuh dari agen-agen yang egois sebelumnya (model evolusioner) dan struktur sosial bisa muncul dari interaksi agen-agen sosial.

    Referensi: http://compsoc.bandungfe.net/intro/part14.html

    http://www.progriptek.ristek.go.id/webrur/proses.htm

  26. RINA ANGELINA said

    PENELITIAN EKSPERIMEN SATU METODE DALAM PTK

    Karakteristik Penelitian Eksperimen

     Mengkaji hubungan sebab akibat
     Hubungan kausal antara variabel dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
     Semua variabel dikontrol sehingga bisa di random
     Membandingkan kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol
    Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen
    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu:(1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    (5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah
    ditentukan. (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).
    DAFTAR PUSTAKA
    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

  27. RINA ANGELINA(5525067465) said

    RINA ANGELNA
    5525067465
    SI TATA BUSANA 2006

    PENELITIAN EKSPERIMEN SATU METODE DALAM PTK

    Karakteristik Penelitian Eksperimen

    Mengkaji hubungan sebab akibat
    Hubungan kausal antara variabel dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
    Semua variabel dikontrol sehingga bisa di random
    Membandingkan kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol
    Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen
    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu:(1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    (5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah
    ditentukan. (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).
    DAFTAR PUSTAKA
    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

  28. ifa said

    nama : ifa kholipah
    no.rek: 5525067454
    Pend. Tata Busana Extensi 06

    PENELITIAN EKSPERIMEN BIDANG PENDIDIKAN
    Oleh : Prof. Supardi
    A. PENDAHULUAN
    Setiap guru yang telah senior merasakan bahwa kenaikan pangkat dari IIIa ke Pembina/IVa sangat mudah, cepat dan lancar tanpa dituntut persyaratan yang dapat memberatkan guru, akibatnya sangat banyak guru yang menduduki pangkat/jabatan tersebut. Sedangkan untuk menduduki Pembina Tk.I/gol. IVb harus memunyai nilai kredit pengembangan profesi. Mengapa banyak guru Pembina/gol. IVa usulan kenaikan pangkatnya banyak yang belum berhasil? Karena karya ilmiah (KTI) yang diusulkan belum memenuhi syarat, antara lain: (a)banyak KTI yang tidak asli, jiplakan, bukan buatan sendiri, (b) KTInya berisi uraian yang terlalu umum, tidak berkaitan dengan permasalahan atau kegiatan nyata yang dilakukan guru dalam mengembangakan profesinya, (c) sistematika tulisannya tidak mengikuti sistematika karya ilmiah.
    Ada pula guru yang sepulang mengikuti Diklat, langsung mencoba metode mengajar yang baru saja diperolehnya, dan hasilnya memberikan kepuasan baik prestasi belajar, suasana belajar maupun keberanian bertanya, dan menambah percaya diri guru. Guru tersebut sudah melakukan kegiatan ilmiah, sudah melaksanakan pengembangan profesiya, namun lagi-lagi tidak ada bukti tertulis yang terdokumensi yang harus disampaikan waktu akan mengusulkan kenaikan pangkat.
    Pada waktu melihat prestasi siswanya rendah guru sudah berpikir bagaimana cara mengatasinya. Untuk itu, berdasarkan hasil diklat yang diikutinya, mereka ingin mencoba menerapkan melalui penelitian. Apakah hasil belajar siswa yang diajar dengan metode belajar yang selama ini dilakukan lebih jelek dibandingkan dengan metode baru yang diperoleh waktu diklat. Untuk mencoba guru tersebut tidak memahami jenis penelitian apa yang tepat digunakan untuk mengatasi masalah itu? Guru belum semua menguasai berbagai jenis penelitian. Jenis penelitian yang sering digunakan guru dalam mengatasi masalah pembelajaran adalah penelitian tindakan kelas, penelitian deskriptif, penelitian korelasional, dan penelitian eksperimen. Jenis pendekatan penelitian yang paling tepat untuk merealisasi kegiatan guru dalam membandingkan dua metode pembelajaran terhadap hasil belajar adalah melalui penelitian eksperimen.
    Penelitian eksperimen (Experimental Research) kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa ata menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMU atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas pada mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan tetapi juga ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.

    B. MEMPERSIAPKAN EKSPERIMEN
    Marilah kita mempersiapkan penelitian eksperimen secara baik. Sebelum peneliti melaksanakan treatment/perlakuan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Sebagai ilustrasi seorang guru akan mengadakan percobaan tentang keampuhan dua metode mengajar dalam bidang Matematika, Mana di antara dua macam metode yang dapat memberikan prestasi belajar lebih baik (metode pemahaman konsep atau metode pemecahan soal). Karena, ditemukan selama guru menggunakan metode pemahaman konsep prestasi belajar siswanya belum menggembirakan.
    1. Langkah awal dijumpai ada problem terhadap prestasi belajar .
    2. Tujuannya: Untuk mengetahui apakah metode pemecahan soal lebih baik dalam mengembangkan kecakapan .
    3. Langkah berikutnya, mencari dasar teori yang berkaitan dengan variabel penelitian .
    4. Selanjutnya, perlu dikemukakan hipotesisnya.
    5. Langkah awal bagian metode penelitian adalah melakukan pengukuran kepada dua kelompok yang siswanya mempunyai kesamaan kemampuan /IQ .
    6. Menentukan siapa guru yang akan ditugasi untuk mengajar pada masing-masing kelopok tersebut.
    7. Persiapkan materi ajar dan rincian tindakan yang akan dilakukan pada metode yang telah ditetapkan untuk kedua kelompok tersebut.
    .

    C. FAKTOR YANG PERLU DIKONTROL
    Sebelum eksperimen dilaksanakan ada berbagai faktor, variable, serta kondisi apa saja yang berkaitan dengan kegiatan eksperimen perlu diperhatikan. . Faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut :
    a) Latar belakang kebudayaan. Pelajar yang mempunyai kebudayaan yang berbeda besar kemungkinan mempunyai sifat dan kebiasaan yang berbeda pula.
    b) Dasar matematika; Sebelum eksperimen dimulai siswa masing-masing kelas/kelompok perlu diseimbangkan agar tidak terjadi salah satu kelas terdiri atas siswa yang pandai sedang lainnya terdiri atas siswa yang sedang dan kurang pandai. Sehingga adanya perbedaan hasil akhir
    c) Ruangan kelas. Ruangan kelas kedua calon kelompok eksperimen dan control itu harus dibuat sedemikian sehingga tidak ada perbedaan kebisingan, kepengapan, ventilasi, serta tata ruang lainnya.
    d) Waktu belajar: Perlu diperhatikan waktu berlangsungnya jam pelajaran, tidak diperkenankan kelompok eksperimen.
    e) Cara mengajar : Metode-metode yang akan dicobakan harus ditetapkan dan dirancang lebih dahulu serta dijalankan secara tertib dan benar.
    f) Guru/pengajar : Latar belakang pendidikan, serta pengalaman mengajar di upayakan mempunyai derajat yang seimbang. Demikian tingkat kedisiplinan maupun kemampuannya.
    g) Lain-lain : walaupun peneliti sudah berupaya mengendalikan variable non eksperimen agar tidak memengaruhi hasil eksperimen, namun sering dijumpai adanya kejadian yang sulit dikontrol dan diprediksi,.

    D. KESESATAN DALAM EKSPERIMEN
    Segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi, keadaan, faktor, perlakuan, atau tindakan yang diperkirakan dapat memengaruhi hasil eksperimen disebut variable. Dalam eksperimen selalu dibedakan adanya variable-variabel yang berkaitan secara langsung diberlakukan untuk mengetahui suatu keadaan tertentu dan diharapkan mendapatkan dampak/akibat dari eksperimen sering disebut variabel eksperimental atau treatment variable, dan variable yang tidak dengan sengaja dilakukan tetapi dapat memengaruhi hasil eksperimen disebut variabel noneksperimental. Variabel eksperimental adalah kondisi yang hendak diteliti bagaimana pengaruhnya terhadap suatu gejala. Untuk mengetahui pengaruh varibel itu, kedua kelompok , yaitu kelompok eksperimental dan kontrol dikenakan variabel eksperimen yang berbeda ( misalnya metode pemecahan soal untuk kelompok eksperimen dan metode pemahaman konsep untuk kelompok control) atau yang bervariasi.
    Dalam eksperimen dapat dijumpai adanya dua jenis kesesatan yaitu : (1) Kesesatan konstan, dan (2) Kesesatan tidak konstan .
    Kesesatan pada jenis ini ada kemungkinan untuk dapat diperhatikan atau dikendalikan pada waktu mempersiapkan eksperimen, atau menentukan pola eksperimen. Kesesatan tipe ini dapat dibedakan kedalam tiga jenis, yaitu:
    1). Kesesatan tipe S (Subyek).
    2). Kesesatan tipe G (Grup), dan
    3). Kesesatan tipe R (Replikasi).
    Untuk mendapatkn pemahaman tentang beberpa tipe kesesatan tersebut di atas berikut ini disampaikan penjelasan singkatnya.
    1) Kesesaatan Tipe S
    Ciri khusus dari kesesatan adalah adanya fluktuasi subjeks sampling pada suatu penugasan subjek ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok pembanding/kontrol pada suatu eksperimen.
    2) Kesesatan Tipe G
    Pada suatu eksperimen dapat terjadi adanya variabel-variabel luar yang mempengaruhi satu atau beberapa kelompok siswa dalam suatu kegiatan eksperimen, tetapi tidak menyangkut seluruh kelompok yang digunakan. Dalam suatu eksperimen bidang pembelajaran seorang guru yang ditugasi untuk mengajar dengan metode CTL (eksperimen), sedemikian baiknya sehingga memberikan pengaruh yang sangat sistematis terhadap prestasi belajar siswa, dan sebaliknya di kelas lain, diajar oleh guru yang kurang mempunyai motivasi mengajar, kurang menguasai bahan ajar, dan bahkan kurang disiplin.
    3) Kesesatan Tipe R
    Ada pola eksperimen yang dilakukan terhadap beberapa eksperimen yang dilakukan secara serentak dengan menggunakan sample dari bermacam-macam sub-populasi. Pada eksperimen tersebut disebut Replikasi. Berdasarkan pada istilah inilah kesesatan tipe R ini muncul.
    E. PELAKSANAAN EKSPERIMEN
    Sesudah mempersiapkan desain/rancangan eksperimen serta berusaha mengantisipasi berbagai kesesatan yang mungkin dapat mengganggu pelaksanaan dan hasil eksperimen, maka apa yang harus dilakukan agar eksperimen terssebut dapat berjalan dengan baik? Namun, sebelum ke pelaksanaannya perlu dikaji ulang, apakah materi yang akan diajarkan sudah disiapkan dengan baik? Apakah kedua kelompok eksperimen sudah dipersiapkan sesuai prosedur penelitian eksperimen? Dan, guru yang akan melaksanakan sudah dipersiapkan secara memadai dan memiliki kualitas yang seimbang.
    F. DESAIN EKSPERIMEN
    Apakah desain eksperimen itu? Desain eksperimen adalah suatu rancangan percobaan dengan setiap langkah tindakan yang terdefinisikan, sehingga informasi yang berhubungan dengan atau diperlukan untuk persoalan yang akan diteliti dapat dikumpulkan secara faktual. Dengan kata lain, desain sebuah eksperimen merupakan langka-langkah lengkap yang perlu diambil jauh sebelum eksperimen dilakukan agar data yang semestinya diperlukan dapat diperoleh sehingga akan membawa ke analisis obyektif dan kesimpulan yang berlaku dan tepat menjawab persoalan yang dibahas.
    G. LAPORAN PENELITIAN
    Kegiatan paling akhir dan sering tertunda-tunda serta menjemukan adalah menyusun laporan hasil penelitian. Agar tidak tertunda dan tetap segar untuk menyusun laporan dapat dimulai sejak peneliti melaksanakan kegiatan eksperimennya. Apa yang harus ditulis awal, penelitiannya saja baru mulai? Kalau kita memperhatikan materi yang akan ditulis pada laporan hasil penelitian itu, harus ingat pada rancangan/proposal penelitian yang sudah disusun awal. Rancangan penelitian yang sudah lengkap dan terstruktur secara sistematis, akan memberikan bahan dasar laporan yang sangat berharga dan mengurangi beban waktu penyusunan laporan. Tiga bab dari lima bab pada laporan sudah ada di rancangan/proposal penelitian, walaupun masih perlu dipertajam, disempurnakan dan dilengkapi sesuai dengan apa yang akan dilaksaknakan peneliti. Maka sambil melaksanakan eksperimen guru/peneliti dapat mengawali menyusun laporan pada bab pendahuluan, kajian teori dan pustaka, serta bab metode penelitiannya.
    H. PENUTUP
    Penelitian eksperimen merupakan jenis penelitian yang dapat dilaksanakan oleh guru disamping penelitian tindakan kelas. Kalau dilakukan dengan hati-hati dan cermat besar kemungkinan akan mendapatkan kepuasan tersendiri, baik dalam bidang akademik maupun ilmu pengetahuan yang diperoleh. Guru sering sekali memperoleh ilmu baru, mendapat metode baru yang dapat dicobakan untuk mendapatkan gambaran secara jelas perbedaan yang diakibatkan, terlebih kalau mampu mengendalikan variabel pengganggu pelaksanaan eksperimen. Untuk itu mempelajari berbagai jenis penelitian sangat penting dalam mengantarkan guru dalam meningkatkan/ mengembangkan profesinya secara nyata dalam menghayati berbagai masalah yang dihadapi kesehariannya di kelas.

    ________________________________________
    DAFTAR PUSTAKA
    Linquit EP, 1986, Design and Analysis of Experiments in Psychologi and Educa-
    Tion, Boston: Houghton Mifflin Company
    Federer, WT, 1974, Experiment Design,: Theory and Applications, Oford & LBH Publishing Co., New Delhi
    Kempthorne, O., 1984, The Design andAnalysis of Experiments, Wiley Eastern Private Ltd. New Delhi
    Montgomery, D C., 1976., Design and Analysis of Experiment, John Wiley & Sons, New York
    Sudjana, 1994, Desain dan Analisis Eksperimen, Penerbit Tarsito Bandung.
    Sukardi, 2004, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta
    Sutrisno Hadi, 2004, Metodologi Research,: untuk menulis laporan, skripsi thesis dan disertasi, Penerbit Andi Yogyakarta
    Sumber : http://www.ktiguru.org/

  29. fitri pratiwi ( 5525067453 ) said

    Definisi Penelitian Korelasi adalah suatu penelitian statistik yang dapat digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran data dua variabel yang berbeda agar dapat menentukan tingkat hubungan antara variabel-variabelnya.

    SUMBEr : Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, ” Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek “, Rineka Cipta, Jakarta : 1996

  30. Dian Avriyanti said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    Penelitian Korelasi yaitu penelitian yang bermaksud untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi atau lebih faktor lain, berdasarkan koefisien korelasinya

    Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. 2001, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta : Bumi Aksara.

  31. Ria Maisalinia said

    Ria Maisalinia
    5525067440
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    Penelitian korelasi (correlational research) bertujuan menentukan ada tidaknya hubungan kapasitas hubungan tersebut antara dua variabel ( yang dapat diukur) atau lebih.

    Penelitian Korelasi adalah penelitian yan g bertujuan mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasinya.

    Ir. I Made, M.Si. “Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi”. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET(penerbit Andi), 2006.

  32. Dian Avriyanti said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend. Tata BUsana Ex/S1/06

    Penelitian Korelasi yaitu penelitian yang bermaksud mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi atau lebih faktor lain, berdasarkan koefisien korelasinya.

    Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. 2001, Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta : Bumi Aksara.

  33. AMELIA NOFINDA said

    http://sdoriza.wordpress.com/penelitian-pendidikan/#comment-94

  34. Herwini Suci Fauziah said

    Penelitian Korelasional adalah untuk mengetahui hubungan suatu variabel dengan variabel lainnya.

    Ciri metode penelitian korelasional adalah :

    a. Penelitian macam ini cocok dilakukan bila
    variable-variabel yang di teliti rumit dan/atau
    tak dapat diteliti dengan metode eksperimental
    atau tak dapat dimanipulasikan.

    b.Studi macam ini memungkinkan pengukuran
    beberapa variable dan saling hubungannya
    secara serentak dalam keadaan realistiknya.

    c. Apa yang diperoleh adalah taraf atau
    tinggi-rendahnya saling hubungan tersebut.

    Daftar pustaka:
    Sumadi Suryabrata, B.A, Drs, M.A, Ed.S, Ph.D, Metodologi Penelitian, Raja Gravindo Persada, Yogyakarta 2003

    Nama : Herwini Suci Fauziah
    NO. Reg. : 5525067437

  35. Selly Murdiani (5525067441) said

    Selly Murdiani
    5525067441
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    Penelitian Korelasi adalah penelitian untuk membandingkan data hasil pengukuran. Penelitian semacam ini mempunyai tujuan untuk mempelajari hubungan atau asosiasi antar variabel yang diperhatikan.

    Sumber :
    I Gusti Ngurah Agung. 1992. Metode Penelitian Sosial. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

  36. Yunda Mardianti said

    Yunda Mardianti
    5525067466
    Pend.Tata Busana S1 Ekst’06

    TUGAS PENELITIAN KOLERASI

    Penelitian Kolerasi adalah penelitian yang dimaksud untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua atau beberapa variabel.

    Ciri Dari Penelitian Kolerasi:
    1. Bahwa penelitian tersebut tidak menuntut subjek penelitian yang tidak terlalu banyak.
    2. Penelitian kolerasi tidak selalu menunjuk pada hubungan sebab-akibat.
    3. Bahwa penelitian kolerasi tidak dapat di interpretasikan secara absolut.
    4. Menggunakan teknik acak agar kesalahan dapat diperkecil.
    5. Titik berat perhatian peneliti ditujukan pada variabel yang dikorelasikan.

    SUMBER:
    (Prof.Dr.Suharsimi Arikunto,2000,Manajemen Penelitian,Jakarta)

  37. Himatul Ulya said

    Nama : Himatul Ulya
    No. reg : 5525067439

    Penelitian Korelasi
    Penelitian Korelasi adalah menggambarkan secara kuantitatif asosiasi ataupun relasi satu variabel interval dengan variabel interval lainnya. Sebagai contoh kita dapat lihat relasi hipotetikal antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi.

    Korelasi diukur dengan suatu koefisien (r) yang mengindikasikan seberapa banyak relasi antar dua variabel. Daerah nilai yang mungkin adalah +1.00 sampai -1.00. Dengan +1.00 menyatakan hubungan yang sangat erat, sedangkan -1.00 menyatakan hubungan negatif yang erat.
    Berikut ini adalah panduan untuk nilai korelasi tersebut :
    + atau – 0.80 hingga 1.00 korelasi sangat tinggi
    0.60 hingga 0.79 korelasi tinggi
    0.40 hingga 0.59 korelasi moderat
    0.20 hingga 0.39 korelasi rendah
    0.01 hingga 0.19 korelasi sangat rendah
    Satu hal yang perlu diingat adalah “korelasi tidak menyatakan hubungan sebab-akibat”. Dari contoh di atas, korelasi hanya menyatakan bahwa ada relasi antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi, namun bukan “lamanya waktu belajar menyebabkan nilai ujian tinggi”.

    Sumber :
    Metode statistik yang umum di gunakan dalam penelitian
    www. uny.ac.id / akademik

  38. EKA APRIANA (5525067459) said

    Penelitian Korelasional adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua atau beberapa variabel,dengan ini penelitian tersebut tidak menuntut subjek penelitian yang tidak terlalu banyak atau penelitian korelasi adalah suatu titik berat perhatian peneliti ditujukan pada variabel yang dikorelasikan.

    sumber :
    Dr. Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, jakarta,1989

  39. Adhitia Kusuma Wardhani ( 5525067451 ) said

    Metode Penelitian korelasi

    Penelitian korelasi yaitu penelitian yang berkaitan dengan pengumpulan data untuk menentukan ada atau tidaknyahubungan antara dua variabel atau lebih dan seberapa tingkat hubungannya.disini tingkat hubungannya dinyatakan sevagai suatu koefisien korelasi.

    jika ada hubungan antara dua variabel, ini berarti bahwa nilai – nilai satu kelompok pada satu ukuran dapat diasosiasikan dengan nilai – nilai pada ukuran yang lain. meskipun ada hubungannya antara variabel – varuabel tidak berarti bahwa variabel yang satu adalah penyebab variabel yang lain.

    SUMBER Drs. Sumanto.M.A (1990)” metodologt penelitian. P.T andi Offset. Jakarta

  40. rai muti'ah(5525067458) said

    Asas Kolerasi
    Bila kita memahami pelajaran yang kita berikan berhasil dapat dipahami oleh murid perlu mata pelajaran itu diberikan dalam hubungannya dengan hal-hal pokok yang menjadi pusat perhatian anak. Oleh karena itu dalam setiap pembelajara hendaknya guru selalu berusaha menghubungkan dengan bahan pelajara yang lain sehingga merupakan suatu pertalian yang erat dan mempunyai arti bagi si murid.Dengan adanya beberapa mata pelajaran yang digabung misalnya IPS dan IPA maka mata pelajaran yang diberikan menjadi hidup dan berarti.

    Dasar Psikologis
    Dengan adanya kolerasi maka timbul asosiasidan apresiasi dalam kesadaranya sehingga membangkitkan minat murid-murid terhadap mata pelajaran yang diberikan. Pengetahuan menjadi bertambah dengan adanya hubungan dengan masalah hidup sehari-hari. Dengan demikian murid dilatih menghadapi masalah dan berusaha memecahkan serta dapat mengambil kesimpulan.

    Penerapan
    Dalam menjelaskan pelajaran hendaknya guru dengan menggunakan dan menghubungkan masalah-masalah pokok dalam kehidupan sehari-hari. Sebaiknya dalam menjelaskan pelajaran hendaknya dengan menggunakan metode unik

  41. Mochamad Asgofur 5525067450 said

    penelitian korelasi, eksperimen berbeda menyangkut hal-hal berikut:
    (1) Variabel independen (x) dan dependent (y) ditetapkan terlebih dahulu sebelum penelitian berlangsung.
    (2) Ada perlakuan eksperimen tertentu terhadap kelompok yang diteliti.
    (3) Menghasilkan angka indeks keterpengaruhan sebagai hasil atau temuan penelitian.
    (4) Hasil dan kondisi penelitian dapat direplikasi pada tempat dan waktu lain.

    Tujuan penelitian korelasional adalah untuk memahami hubungan antar sifat/karakteristik orang atau entitas lainnya.
    Contoh: rumusan masalah atau pertanyaan penelitian dalam penelitian korelasional antara lain;
    “Bagaimana hubungan antara latar belakang kultural dengan penggunaan strategi komunikasi tertentu?”
    “Bagaimana hubungan antara kompetensi sintaksis dan kompetensi sosiopragmatik?” “Bagaimana hubungan antara kecemasan dan kualitas tulisan dalam bahasa kedua?”

    Masing-masing pertanyaan penelitian di atas berkaitan dengan hubungan antara dua karakteristik atau variabel.

    Sumber: groups.yahoo.com/group/apakabar/message/52363 – 72k
    tarbiyah.uin-suka.ac.id/file_kuliah/Bab%203%20.doc

  42. Lisya Maryati 5525067444 said

    penelitian Korelasional yaitu penelitian atau penelaahan hubungan dua variabel atau lebih pada suatu situasiatau sekelompok subjek ( Soekidjo, 2002 ); yaitu untuk mencari hubungan antara
    konsep diri perawat dengan faktor keturunan dan persepsi gaji yang diterima tiap
    bulan pada perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Lumajang.

    Tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada
    suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain
    berdasarkan pada koefisien korelasi (S.Suryabrata, 1997).

    Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan secara kuantitatif denganmenggunakan kuesioner tertutup dan pendekatan kualitatif dengan teknik
    wawancara .

    Sumber: http://www.damandiri.or.id/file/loetfiadwiunairbab4.pdf

  43. Mochamad Asgofur 5525067450 said

    penelitian Korelasional yaitu penelitian atau penelaahan hubungan dua variabel atau lebih pada suatu situasiatau sekelompok subjek ( Soekidjo, 2002 ); yaitu untuk mencari hubungan antara
    konsep diri perawat dengan faktor keturunan dan persepsi gaji yang diterima tiap
    bulan pada perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Lumajang.

    Tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada
    suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain
    berdasarkan pada koefisien korelasi (S.Suryabrata, 1997).

    Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan secara kuantitatif denganmenggunakan kuesioner tertutup dan pendekatan kualitatif dengan teknik
    wawancara .

    Sumber: http://www.damandiri.or.id/file/loetfiadwiunairbab4.pdf

  44. YULI ENDAH MAWATI (5525067461) said

    PENELITIAN KORELASI

    Penelitian korelasi adalah suatu penelitian untuk mengetahui sejauh mana hubungan antar variabel yang diteliti. Penelitian jenis ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya. Hasil yang diperoleh adalah taraf atau tinggi rendahnya saling hubungan dan bukan ada atau tidak ada saling hubungan tersebut. Dalam penelitian komparatif akan dihasilkan informasi mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalan, diantaranya apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada urutan dan pola yang bagaimana, dan yang sejenis dengan itu.
    penelitian korelasi adalah penelitian kuantitatif

    Korelasi

    Metode ini menggambarkan secara kuantitatif asosiasi ataupun relasi satu variabel interval dengan variabel interval lainnya. Sebagai contoh kita dapat lihat relasi hipotetikal antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi.
    Korelasi diukur dengan suatu koefisien (r) yang mengindikasikan seberapa banyak relasi antar dua variabel. Daerah nilai yang mungkin adalah +1.00 sampai -1.00. Dengan +1.00 menyatakan hubungan yang sangat erat, sedangkan -1.00 menyatakan hubungan negatif yang erat.
    Berikut ini adalah panduan untuk nilai korelasi tersebut :
    + atau – 0.80 hingga 1.00 korelasi sangat tinggi
    0.60 hingga 0.79 korelasi tinggi
    0.40 hingga 0.59 korelasi moderat
    0.20 hingga 0.39 korelasi rendah
    0.01 hingga 0.19 korelasi sangat rendah

    Satu hal yang perlu diingat adalah “korelasi tidak menyatakan hubungan sebab-akibat”. Dari contoh di atas, korelasi hanya menyatakan bahwa ada relasi antara lamanya waktu belajar dengan nilai ujian tinggi, namun bukan “lamanya waktu belajar menyebabkan nilai ujian tinggi”.

    SUMBER :
    1 James L Bonwditch dan Anthony F Buono, A Primer on Organizational Behavior, edisi kelima, John-Wiley and Sons, Inc.,2001

    2 Julia Brannen, Memadu Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, 2000

    3.Aplikasi Statistika dalam Penelitian Kuantitatif olehTedi Heriyanto (tedi@tedi-h.com) 21 Juli 2002

  45. siti hodizah 5525067452 said

    Penelitian korelasi:
    penelitian korelasi adalah untuk mengetahui sejauh mana hubungan antar variabel yang diteliti. Penelitian jenis ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya. Hasil yang diperoleh adalah taraf atau tinggi rendahnya saling hubungan dan bukan ada atau tidak ada saling hubungan.
    SUMBER:www.google.com
    http://www.ktiguru.org/index.php/deskriptif-1-61k

    SITI HODIZAH
    5525067452

    Penelitian korelasi:
    korelasi, adalah nilai yang menunjukkan kekuatan dan arah hubungan linier antara dua peubah acak , penelitian ini menggambarkan secara kuantitatif asosiasi ataupun relasi satu variabel interval dengan variabel interval lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apakah terdapat hubungan antara beberapa variabel yaitu masa kerja, dukungan organisasi dan komitmen afektif organisasi, oleh karena itu dapat dikategorikan sebagai suatu studi korelasi ,adalah untuk memperoleh jawaban tentang ada atau tidaknya hubungan antara variabel-variabel yang diteliti.
    http://www.google.com
    id.wikipedia.org/wiki/korelasi-31k

    RUSTANTO
    5525067435

    penelitian korelasi) adalah:

    (1) menguji hipotesis dengan melakukan kontrol terhadap kondisi penelitian;
    (2) mengembangkan teori, kemudian melakukan pengujian di lapangan;
    (3) memperbaiki teori-teori serta temuan-temuan penelitian;
    (4) meneliti melalui jalan pintas; dan
    (5) memudahkan replikasi karena kondisi yang dipelajari benar-benar spesifik

    sumber:www.google.com
    massofa.wordpress.com

    BONO WATI WULANDARI
    5525075026

  46. rani anggraeni purwanti ( 55250697445 ) said

    PENELITIAN KORELASI

    LANKAH-LANGKAH POKOK
    * Definisikan masalah
    * Lakukan telaah pustaka
    * Rancangan cara pndekatannya
    * Kumpulan data
    * Analisis data dan buat persentasinya
    * Sususn laporan

    CONTOH PENELITIAN KORELASIONAL
    * Studi analisis faktor-faktor yang memepengaruhi prestasi akademik mahasiswi
    * Hubungan antara skor test masuk perguruan tinggi dengan indeks prestasi
    * Peramalan tingkat permintaan barang berdasarkan tingkat harga barang

    TUJUAN
    Untuk mengetahui hubungan ( korelasi ) antara variabel-variabel penelitian.

    CIRI-CIRI
    * Cocok digunakan jika variabel yang diteliti rumit dan tidak dapat diteliti dengan metode eksperimen ( tidak dapat dimanipulasi / dikontrol )
    * Memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya secara srentak dalam keadaan realistisnya
    * Output dari penelitian adalah taraf/ tinggi rendahnya hubungan dan bukan ada / tidaknya saling hubungan secara kasual
    * Pola hubungan sering tidak menentu dan kabur
    * Sering memasukan berbagai data tanpa pilih-pilih ( dipaksakan )
    * Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkan variabel bebas

  47. yenni anggraini (5525067464) said

    Penelitian Korelasi

    Penelitian korelasi adalah penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variable-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Sifat-sifat perbedaan kritis adalah usaha menaksir hubungan dan bukandeskripsi saja (Fok, 1969). Melalui penelitian tersebut kita dapat memastikan berapa besar yang disebabkan oleh satu variable dalam hubungannya dengan variasi yang disebabkan oleh variabel lain. Salah satu keuntungan dari penelitian korelasi adalah, dalam menyebarluaskan informasi atau menciptakan hubungan masyarakat sangat logis dan baik. Sedangkan salah satu kerugiannya adalah, penelitian ini memberikan informasi yang terbatas tentang pengaruh variabel-variabel yang diteliti.

  48. yenni anggraini (5525067464) said

    Penelitian Korelasi

    Penelitian korelasi adalah penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variable-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Sifat-sifat perbedaan kritis adalah usaha menaksir hubungan dan bukandeskripsi saja (Fok, 1969). Melalui penelitian tersebut kita dapat memastikan berapa besar yang disebabkan oleh satu variable dalam hubungannya dengan variasi yang disebabkan oleh variabel lain. Salah satu keuntungan dari penelitian korelasi adalah, dalam menyebarluaskan informasi atau menciptakan hubungan masyarakat sangat logis dan baik. Sedangkan salah satu kerugiannya adalah, penelitian ini memberikan informasi yang terbatas tentang pengaruh variabel-variabel yang diteliti.

    sumber : andieirfan.multiply.com/journal/item/9 – 45k

  49. IRNA FATIMAH 5525067436 said

    penelitian Korelasional yaitu
    penelitian atau penelaahan hubungan dua variabel atau lebih pada suatu situasi
    atau sekelompok subjek ( Soekidjo, 2002 ); yaitu untuk mencari hubungan antara
    konsep diri perawat dengan faktor keturunan dan persepsi gaji yang diterima tiap
    bulan pada perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Lumajang. Tujuan
    penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada
    suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain
    berdasarkan pada koefisien korelasi (S.Suryabrata, 1997).
    Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan secara kuantitatif dengan
    menggunakan kuesioner tertutup dan pendekatan kualitatif dengan teknik
    wawancara .

    Sumber :
    http://www.damandiri.or.id/file/loetfiadwiunairbab4.pdf

  50. rina angelina said

    RINA ANGELINA(5525067465)
    SI TATA BUSANA EKS”2006.

    PENGERTIAN REGRESI DAN KORELASI:

    -regresi dan korelasi digunakan untuk mempelajari pola dan mengukur
    hubungan statistik antara dua atau lebih variabel.
    -jika digunakan hanya dua variabel disebut regresi dan korelasi sederhana.
    -jika digunakan lebih dari dua variabel disebut regresi dan korelasi berganda.

    Sumber :
    http://www.inti.ac.id/default/stmik/Materi_Kuliah_SMT_I/

  51. PENELITIAN EKSPERIMEN

    Pengertian Penelitian Eksperimen
    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2).
    Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen
    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu,
    (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
    (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
    (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
    (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    (5) Melaksanakan eksperimen.
    (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah
    ditentukan.
    (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
    (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

    Sumber :
    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    PENGERTIAN KOLERASI

    Pengertian Korelasi adalah penelitian yang paling banyak digunakan dan telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi perkembangan pengetahuan di bidang pendidikan (Cornell, 1969).
    Dalam penelitian jenis ini, peneliti berusaha menghubungkan suatu variabel dengan variabel yang lain untuk memahami suatu fenomena dengan cara menentukan tingkat atau derajat hubungan di antara variabel-variabel tersebut.
    Penelitian Korelasi ini mempunyai beberapa kelebihan, misalnya bila dibandingkan dengan Penelitian Eksperimen. Kelebihan utamanya, di antaranya adalah kemampuannya untuk menyelidiki hubungan antara beberapa variabel secara bersama-sama (simultan). Metode Penelitian ini memungkinkan peneliti untuk menyelediki bagaimana beberapa variabel, secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, mempengaruhi variabel lain.
    Penelitian Korelasi juga mempunyai kelemahan, yang perlu diperhatikan oleh peneliti. Diantara kelemahannya, menurut Walter R. Borg dan Meredith D. Gall (1979), adalah bahwa penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat antara variabel yang saling berhubungan.

    Sumber :
    Hadjar, Ibnu.1996. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif Dalam Pendidikan.

    Anita Putri Sasanti
    5525042315
    Pend. Tata Busana Reg ’04

  52. AMELIA NOFINDA 5525067455 said

    AMELIA NOFINDA
    5525067455
    Pend.Tata Busana / S1 Non-Reg 2006

    Metode Penelitian Korelasional ( Correlational research )

    Pengertian

    Metode penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauhmana variasi-variasi pada suatu factor berkaitan dengan fariasi-fariasi pada satu atau lebih factor lain berdasarkan pada koevisien korelasi ( Suryabrata, 2003;82 )

    Menurut Nana Sudjana dan Ibrahim dalam bukunya yang berjudul “ Penelitian dan Penilaian Pendidikatakan “ mengatakan bahwa penelitian korelasi mempelajari hubungan dua variable atau lebih, yakni sejaumana variasi dalam satu variable behubungan dengan variasi dalam variable lain. Derajat hubungan variable-variabel dinyatakan dalam satu indeks yang dinamakan koefisien korelasi. Korelasi dapat menghasilkan dan menguji suatu hipotesis mengenai hubungan antara variabel atau untuk menyatakan besar kwcilnya hubungan antara dua variabel ( Nana Sudjana dan Ibrahim, 2004;76 ).

    Sumber :

    Djudju Sudjana, Prof. Ph.D, M.Ed, Dasar-Dasar Metode Penelitan Sosial dan Pendidikan, SPS, UPI, 2007.

    Nana Sudjanan, Dr dan Ibrahim.Dr, MA, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2004.

    Rochiati Wiriaatmadja, Prof, Dr, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Remaja Rosdakarya, Bandung,2005.

  53. Penelitian Korelasi
    Penelitian korelasi adalah penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variable-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Sifat-sifat perbedaan kritis adalah usaha menaksir hubungan dan bukandeskripsi saja (Fok, 1969). Melalui penelitian tersebut kita dapat memastikan berapa besar yang disebabkan oleh satu variable dalam hubungannya dengan variasi yang disebabkan oleh variabel lain. Salah satu keuntungan dari penelitian korelasional adalah, dalam menyebarluaskan informasi atau menciptakan hubungan masyarakat sangat logis dan baik. Sedangkan salah satu kerugiannya adalah, penelitian ini memberikan informasi yang terbatas tentang pengaruh variabel-variabel yang diteliti.
    Contoh penelitian dalam bidang pembelajaran seni rupa : Studi korelasi antara tes bakat dengan keberhasilan belajar mahasiswa Jurusan Seni Rupa; Studi korelasi antara pola asuh dengan kreativitas seseorang; Studi komparasi hubungan antara skor SPMB dengan IP komulatif mahasisw Jurusan Seni Rupa Angkatan 2005 dan Angkatan 2006.

    Sumber
    Arikunto, Suharsimi. 1998. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
    Ismiyanto, PC. S., M. Pd. 2003. Metode Penelitian. Bahan Ajar Tertulis Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang.
    Sevila, Consuelo G. dkk. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI Press
    Waridah, Siti Q. 1999. Sosiologi 2 Untuk Kelas 3SMU. Jakarta: Bumi Aks

    Dewi Rahayu P.S
    5525067457
    Pendk. Tata Busana (ekstensi) 2006

  54. Pengertian Penelitian korelasi

    Penelitian korelasi merupakan penelitian yang melihat kecenderungan pola dalam satu variabel berdasarkan kecenderungan pola dalam variabel yang lain. Maksudnya, ketika satu variabel memiliki kecenderungan untuk naik maka kita melihat kecenderungan dalam variabel yang lain apakah juga naik atau turun atau tidak menentu. Jika kecenderungan dalam satu variabel selalu diikuti oleh kecenderungan dalam variabel lain, kita dapat mengatakan bahwa kedua variabel ini memiliki hubungan atau korelasi.

    Ketika berbicara mengenai korelasi, biasanya orang (mahasiswa atau peneliti) akan berbicara mengenai korelasi antara dua atau lebih variabel yang memiliki skala pengukuran interval bukan kategorik. Sebenarnya pengertian korelasi juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antara dua atau lebih variabel yang memiliki skala pengukuran kategorik.

    Sumber
    .
    Howell, D.C.(1984) Statistical methods for psychology. London : Duxbury Press

    Pedhazur,E.J.(1997) Multiple regression in behavioral research. Wadsworth:Thomson Learning

    IFA KHOLIPAH
    5525067454
    SI PEND. TATA BUSANA (EKSTENSI) 2006

  55. Annisa Rahmah (5525075027) said

    PENELITIAN KORELASIONAL
    Tujuan :
    Untuk mengetahui hubungan (korelasional) antara variabel-variabel penelitian

    Ciri-ciri :
    • Cocok digunakan jika variabel yang diteliti rumit dan tidak dapat diteliti
    dengan metode eksperimen (tidak dapat dimanipulasi/dikontrol)
    • Memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya
    secara serentak dalam keadaan realistisnya
    • Output dari penelitian ini adalah taraf/tinggi rendahnya hubungan dan bukan
    ada atau tidaknya adanya saling hubungan secara kausal
    • Pola hubungan sering tidak menentu dan kabur
    • Sering memasukkan berbagai data tanpa pilih-pilih (dipaksakan)
    • Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkan
    variabel bebas

    Langkah-langkah Pokok :
    • Definisikan masalah
    • Lakukan telaah pustaka
    • Rancang cara pendekatannya
    • Kumpulkan data
    • Analisis data dan buat interpretasinya
    • Susun laporan

    Contoh Penelitian Korelasional :
    • Studi analisis faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa
    • Hubungan antara skor test masuk perguruan tinggi dengan indeks prestasi
    • Peramalan tingkat permintaan barang berdasarkan tingkat harga barang

    http://nic.unud.ac.id/~dayu/RM/kuliah3.pdf

  56. Yuli Endah Mawati 5525067461 said

    Penelitian kausal komparatif dan eksperimental.: Penelitian yang menunjukkan arah hubungan variabel bebas dengan variabel terikat disamping mengukur kekuatan hubungannya. Studi ini mempertanyakan masalah sebab akibat.
    Contoh:
    Pengaruh harga terhadap permintaan produk.
    Pengaruh keamanan politik terhadap kurs mata uang.
    Keinginan keluar kerja akibat kebijaksanaan gaji.

    Ada 2 metode analisis kausalitas.:
    1.Kausalitas satu arah.
    2.Kausalitas dua arah.
    Dalam penelitian eksperimental aktivitas atau karakteristik yang dipercaya menyebabkan perubahan yang disebut variabelbebas.sedangkan akibat dari perubahan disebut variabel terikat. Dalam studi eksperimental peneliti mengendalikan paling tidak satu variable bebas dan mengamati akibat yang terjadi kepada s atu atau lebih variabel terikat. Adanya hubungan sebab‐akbat yang jelas dari hasil penelitian kausal komparatif tidak terdapat pengendalian terhadap variabel bebas, hasil dari penelitian umumnyaa bersifat tentative.

    Perbedaan antara Penelitian Korelasional dengan Kausal Komparatif.
    • Kausal komparatif berupaya mengidentifikasi hubungan sebab akibat sedangkan Korelasional mengukur kekuatan hubungan variabel yang diamati.
    9
    ________________________________________
    • Kausal komparatif mencakup perbandingan sedangkan korelasional
    hanya mengukur korelasi.
    • Kausal komparatif umumnya mencakup 2 atau lebih kelompok
    variabel dan 1 variabel independent sedangkan korelasional 2 varible
    independent.
    variabel independent dalam kausal komparatif adalah variabel tidak bisa
    dimanipulasi ,Seharusnya tidak dimanipulasi dan tidak dimanipulasi tapi
    bisa dimanipulasi.
    Sedangkan studi Eksperiment adalah penelitian investigasi dengan
    kondisi yang terkendali dimana satu atau lebih variabel dapat
    dimanipulasiuntuk uji hipotesis.Tujuan dari penelitian ini adalah
    memungkinkan peneliti mengendalikan situasi penelitian sehingga hubugan
    kausal antar variabel dapat di evaluasi
    Langkah‐ langkah studi Eksperimental.
    Pemilihan dan perumusan masalah
    Pemilihan objek penelitian dan instrument pengukurannya.
    Pemilihan desain penelitian.
    Pelaksanaan prosedur penelitian
    Analisis data
    Perumusan kesimpulan.
    Dalam penelitian ini yang banyak digunakan adalah teknik Analisis
    Komponen Utama (PCA) dan teknik Analisis Faktorial (FA). Tujuannya
    adalah meringkas pola korelasi antar variabel, mengurangi jumlah variabel
    yang diobservasi dari jumlah yang diamati dari banyak ke yang sedikit,
    penelitian ini melibatkan 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen dan
    kelompok control. kelompok eksperimen mendapat perlakuan baru yang
    sedang diteliti sedangkan kelompok control mendapat perlakuan yang
    berbeda.
    10

    Sumber : http://209.85.173.104/search?q=cache:_swUJ7GW788J:e-course.usu.ac.id/content/manajemen/metode/textbook.pdf+*pengertian+penelitian+kausal+komparatif*&hl=id&ct=clnk&cd=31&gl=id

  57. AMELIA NOFINDA said

    AMELIA NOFINDA
    5525067455
    Pend.Tata Busana/S1
    Non-Reg 2006

    Kausal-komparatif (menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen—dilakukan denganpengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding)

    http://www.bahankuliah.wordpress.com
    http://www.urbanpoor.org

  58. siti hodizah 5525067452 said

    Penelitian Kausal-Komparatif (causal-comparative research)
    Tujuan penelitian kausal-komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.
    Penelitian kausal-komperatif bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat sebagai “dependent variable” dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan maknanya.

    http://www.kopertis4.or.id/Pages/data%202006/kelembagaan/studi_kepustakaan_DR%5B1%5D._Dewi.Doc

  59. bono wati wulandari 5525075026 said

    Penelitian Komparatif

    Penelitian komparatif, adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Di sini variabelnya masih sama dengan penelitian variable mandiri tetapi untuk sampel yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda.

    http://pascasarjana-stiami.ac.id

  60. RUSTANTO 5525067435 said

    PENELITIAN KAUSAL KOMPARATIF

    Penelitian mengenai faktor-faktor dari karakteristik individu yang dapat menggambar manusia dengan baik berdasarkan catatan atau data yang terdapat di BAAKPSI dan Jurusan; Penelitian mengenai pola-pola perilaku dan prestasi belajar seseorang berkaitang dengan perbedaan usia ketika masuk SD berdasarkan data atau catatan perilaku dan nilai hasil belajar yang bersangkutan mulai kelas satu SD hingg kelas enam SD.

    http://andieirfan.multiply.com/journal/item/9

  61. AMELIA NOFINDA said

    AMELIA NOFINDA
    5525067455
    Pend.T.Busana/ S1
    Non Reg 2006

    Kausal-komparatif (menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen—dilakukan denganpengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding)

    http://www.bahankuliah.wordpress.com
    http://www.urbanpoor.org

  62. Himatul Ulya said

    Nama : Himatul Ulya
    No.Reg : 5525067439

    Penelitian Kausal komparatif
    Penelitian kausal komparatif adalah Menyelidiki sebab akibat, tetapi tidak dengan jalan Eksperimen, penelitian ini dilakukan dengan pengamatan terhadap data dari faktor yang di duga menjadi penyebab sebagai pembanding. kausal komparatif umumnya mencakup dua atu lebih kelompok variabel dan satu variabel.

    Sumber : http://www.damandiri.or.id.

  63. fitri pratiwi ( 5525067453 ) said

    b. Penelitian Komparatif

    Penelitian komparatif, adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Di sini variabelnya masih sama dengan penelitian variable mandiri tetapi untuk sampel yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda. Contoh : adakah perbedaan keuntungan antara BUMN dengan perusahaan Swasta, adakah perbedaan nilai penjualan antara tahun 1997 dengan 1999. Tahun 1997 dan 1999 adalah waktu yang berbeda.

    6) Penelitian Kausal-Komparatif

    Penelitian untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat antara faktor tertentu yang mungkin menjadi penyebab gejala yang diselidiki.

    Misalnya : sikap santai siswa dalam kegiatan belajar mungkin disebabkan banyaknya lulusan pendidikan tertentu yang tidak mendapat lapangan kerja.

    Kekhususan

    (1) Pengumpulan data mengenai gejala yang diduga mempunyai hubungan sebab akibat itu dilakukan setelah peristiwa yang dipermasalahkan itu telah terjadi ( penelitian bersifat ex post facto ).

    (2) Suatu gejala yang diamati, diusut kembali dari suatu faktor atau beberapa faktor pada masa lampau.

    SUMBER :
    http://fadliyanur.blogspot.com/2008/02/jenis-jenis-penelitian.htm
    http://www.pascasarjana-stiami.ac.id/cetak.php?id=20

  64. IRNA FATIMAH 5525067436 said

    Penelitian Kausal-Komparatif (causal-comparative research)
    Tujuan penelitian kausal-komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.
    Penelitian kausal-komperatif bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat sebagai “dependent variable” dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan maknanya.

    sumber :
    http://www.kopertis4.or.id/pages/data%202006/kelembagaan/studi_kepustakaan_DR%5B1%5D._Dewi.doc-

  65. Ria Maisalinia said

    Ria Maisalinia (5525067440)
    Pend. Tata busana S1/Eks’06

    Penelitian kausal Komparatif
    penelitian Kausal komparatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya hubungan sebab akibat dengan cara berdasar atas pengamatan yang ada, kemudian mencari kembali faktor yang diduga menjadi penyebabnya melalui pengumpulan data dengan melakukan perbandingan di antara data-data yang terkumpul / diteliti.

    http://yayanblog.files.wordpress.com/2006/08/buku-petunjuk-penulisan-skripsi.pdf

  66. Yunda Mardianti said

    Yunda Mardianti
    5525067466
    Pend.Tata Busana S1 Ekst’06

    PENELITIAN KAUSAL-KOMPARATIF

    Penelitian kausal-komparatif: Titik berat perhatian peneliti di tujukan pada kelompok subjek penelitian, kemudian baru dilanjutkan dengan memperhatikan variabel yang di teliti yang ada pada kelompok yang di komparasikan.

    -Penelitian kausal-komparatif dapat dikategorikan sebagai penelitian deskriptif jika variabel sebab-akibat yang diteliti bukan hasil eksperimen.

    -Penelitian kausal-komparatif merupakan penelitian model PSK(pengukuran sesudah kejadian).

    -Penelitian kausal-komparatif variabel yang ada dilihat hubungan sebab-akibatnya, peneliti mengkomparasikan hubungan sejajar.

    SUMBER:
    (Prof.Dr.Suharsimi Arikunto,2000,Manajemen Penelitian,Jakarta)

  67. Herwini Suci Fauziah said

    Penelitian kasual komparatif adalah memberi gambaran dan suatu gejala, penelitian yang bersifat menerangkan sebab akibat dari suatu gejala.
    Penelitian kasual komparatif menurut Hyman, 1960 yaitu penelitian yang memeberi gambaran yang tepat dari suatu gejala dan pokok perhatiannya pada pengukuran yang cermat dari satu atau lebih variabel terikat.

    Sumber :
    Koentjaraningrat,1993,metode-metode penelitian masyarakat,Jakarta

  68. Herwini Suci Fauziah said

    Penelitian kasual komparatif adalah memberi gambaran dan suatu gejala, penelitian yang bersifat menerangkan sebab akibat dari suatu gejala.
    Penelitian kasual komparatif menurut Hyman, 1960 yaitu penelitian yang memeberi gambaran yang tepat dari suatu gejala dan pokok perhatiannya pada pengukuran yang cermat dari satu atau lebih variabel terikat.

    Sumber :
    Koentjaraningrat,1993,metode-metode penelitian masyarakat,Jakarta

    Nama : Herwini Suci Fauziah
    No. Reg : 5525067437
    Pend. Tata Busana eks’ 06

  69. Rai muti'ah (5525067458) said

    Devinisi kausal komparatif studies

    Kausal-komparatif adalah menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidakdengan jalan eksperime dilakukan dengan pengamatan terhadap data darifaktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding.
    Penelilitian ini bermaksud untuk mengungkapkan sebab terjadinya sesuatu. Dengan kata lain penelitian merupakan upaya untuk mancari bukti-bukti ilmiah tantang sebab adanaya atau terjadinya sesuatu. Hubungan antara sesuatu yang berupa variable atau gejala didalamnya, maka study ini berkembang jaga menjadi study hubungan pengaruh dan mempengaruhi yang bersifat timbal-balik (causal).

    Sumber:
    Prof.Dr. H. Handari Nawawi dan Dra. Hj. Mimi Martini; Penelitian Terapan, 1994.Gajah Mada University Press

  70. Penelitian eksperimen adalah kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh peneliti untuk mengumpulkan bukti-bukti yang ada hubunganya dengan hipotesis.
    Peneliti dengan sengaja dan secara sistematis memasukkan perubahan-perubahan itu ke dalam gejala-gejala alami dn kemudian mengamati akibat dari perubahan-perubahan itu.Hipotesis menyatakan harapan tentang hasil yang merupakan akibat dari perubahan itu.Dalam melaksanakan eksperimen ,peneliti memberikan perhatian besar kepada perubahan (manipulasi)dan pengendalian (kontrol) variabel serta kepada pengamatan dan pengukuran hasil eksperimen .dengan metode ini peneliti dapat memperoleh bukti-bukti yang menyakinkan tentang pengaruh satu variabel terhadap variabel yang lain.
    Dalam bentuk yang paling sederhana,suatu eksperimen mempunyatiga ciri:
    1.Suatu variabel bebas dimanipulasi
    2.Semua variabel lainnya,kecuali variabel bebas,dipertahankan tetap
    3.Pengaruh manipulasi variabel bebas terhadap variabel terikat diamati
    Dalam eksperimen,ada dua variabel yang perlu sekali diperhatikan yaitu:
    1.Variabel bebas:dimanipulasi atau diubah-ubah oleh peneleti
    2.Variabel terikat:variabel yang dimana akibat perubahan itu diamati ,tidak dimanipulasi oleh peneliti(dependent eksperimen)
    Ciri-ciri penelitian eksperimen
    1.Pengendalian
    2.Manipulasi
    3.Pengamatan
    Kreteria penelitian eksperimen
    -Masalah yang penting dan susah dipecahkan
    -Faktor-faktor serta variabelnya harus didevinisikan sejelas-jelasnya sehingga tidak terjadi salah paham/kesalahan dari pembaca
    -Rancangan percobaan harus sudah ditetapkan
    -Ketelitian dalam observasi sangat diperlukan
    -Metode material dan reverensi harus dijelaskan sacara jelas
    -Interpretansi harus dinyatakan dalam beda singnifikan

    sumber:
    Drs.Arief Furchan
    Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan tahun :1982
    Penerbit:”Usaha Nasional”(Surabaya Indonesia)

  71. ERNI ELISA
    5525040327
    Pend,tata busana ’04(reg)

    Penelitian eksperimen adalah kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh peneliti untuk mengumpulkan bukti-bukti yang ada hubunganya dengan hipotesis.
    Peneliti dengan sengaja dan secara sistematis memasukkan perubahan-perubahan itu ke dalam gejala-gejala alami dn kemudian mengamati akibat dari perubahan-perubahan itu.Hipotesis menyatakan harapan tentang hasil yang merupakan akibat dari perubahan itu.Dalam melaksanakan eksperimen ,peneliti memberikan perhatian besar kepada perubahan (manipulasi)dan pengendalian (kontrol) variabel serta kepada pengamatan dan pengukuran hasil eksperimen .dengan metode ini peneliti dapat memperoleh bukti-bukti yang menyakinkan tentang pengaruh satu variabel terhadap variabel yang lain.
    Dalam bentuk yang paling sederhana,suatu eksperimen mempunyatiga ciri:
    1.Suatu variabel bebas dimanipulasi
    2.Semua variabel lainnya,kecuali variabel bebas,dipertahankan tetap
    3.Pengaruh manipulasi variabel bebas terhadap variabel terikat diamati
    Dalam eksperimen,ada dua variabel yang perlu sekali diperhatikan yaitu:
    1.Variabel bebas:dimanipulasi atau diubah-ubah oleh peneleti
    2.Variabel terikat:variabel yang dimana akibat perubahan itu diamati ,tidak dimanipulasi oleh peneliti(dependent eksperimen)
    Ciri-ciri penelitian eksperimen
    1.Pengendalian
    2.Manipulasi
    3.Pengamatan
    Kreteria penelitian eksperimen
    -Masalah yang penting dan susah dipecahkan
    -Faktor-faktor serta variabelnya harus didevinisikan sejelas-jelasnya sehingga tidak terjadi salah paham/kesalahan dari pembaca
    -Rancangan percobaan harus sudah ditetapkan
    -Ketelitian dalam observasi sangat diperlukan
    -Metode material dan reverensi harus dijelaskan sacara jelas
    -Interpretansi harus dinyatakan dalam beda singnifikan

    sumber:
    Drs.Arief Furchan
    Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan tahun :1982
    Penerbit:”Usaha Nasional”(Surabaya Indonesia)

  72. ERNI ELISA
    5525040327
    Pend.tata busana ’04(reg)
    Teknik statistik untuk menetapkan hubungan antara skor dikenal sebagai teknik korelasi.Biasanya ada dua ukuran variabel bagi setiap anggota kelompok,dan peneliti menetapkan apakah ada hubungan di antara ukuran yang berpasanganini.Hubungan tersebut sacara ringkas digambarkan oleh indeks statistik yang dikenal sebagai koefisien korelasi.
    Kegunaan korelasi yang paling penting adalah untuk peramalan.Jika analisis korelasi menunjukkan adaya hubungan antara dua variabel,maka kita dapat menggunakan tentang salah satu dari keadaan salah satu dari keduanya untuk meramalkan keadaan yang lain.Sebagai contoh,setelah mengetahui bahwa kecerdasan dan hasil belajar ada hubunganya,maka kita dapat meramalkan hasil belajar yang akan kita capai oleh siswa berdasarkan hasil tes kecerdasan yang diberikan pada awal tahun sekolah.Ketepatan ramalan tersebut merupakan fungsi dari derajat hubungan antara variabel-variabel yang sedang diteliti,yaitu kekuatan korelasi antara keduanya.Semakin tinggi korelasi tersebut,secarpositif ataupun negatif,maka semakin tepat pulalah ramalan itu.

    Sumber:
    Drs.Arief Furchan
    Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan(1982)
    Penerbit:”Usaha Nasional”(Surabaya-Indonesia)

  73. ERNI ELISA
    5525040327
    Pend.tata busana ’04(reg)

    Teknik statistik untuk menetapkan hubungan antara skor dikenal sebagai teknik korelasi.Biasanya ada dua ukuran variabel bagi setiap anggota kelompok,dan peneliti menetapkan apakah ada hubungan di antara ukuran yang berpasanganini.Hubungan tersebut sacara ringkas digambarkan oleh indeks statistik yang dikenal sebagai koefisien korelasi.
    Kegunaan korelasi yang paling penting adalah untuk peramalan.Jika analisis korelasi menunjukkan adaya hubungan antara dua variabel,maka kita dapat menggunakan tentang salah satu dari keadaan salah satu dari keduanya untuk meramalkan keadaan yang lain.Sebagai contoh,setelah mengetahui bahwa kecerdasan dan hasil belajar ada hubunganya,maka kita dapat meramalkan hasil belajar yang akan kita capai oleh siswa berdasarkan hasil tes kecerdasan yang diberikan pada awal tahun sekolah.Ketepatan ramalan tersebut merupakan fungsi dari derajat hubungan antara variabel-variabel yang sedang diteliti,yaitu kekuatan korelasi antara keduanya.Semakin tinggi korelasi tersebut,secarpositif ataupun negatif,maka semakin tepat pulalah ramalan itu.

    Sumber:
    Drs.Arief Furchan
    Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan(1982)
    Penerbit:”Usaha Nasional”(Surabaya-Indonesia)

  74. YENNI ANGGRAINI said

    Penelitian kausal komparatif
    Penelitian kausal komparatif adalah juga masuk dalam kategori penelitian deskriptif, jika variabel sebab akibat yang diteliti bukan hasil eksperimen. Dalam penelitian kausal komparatif ini biasanya peneliti ingin mencoba mengetahui membedakan hubungan sebab akibat yang ada pada dua kelompok atau lebih. Dalam buku lain penelitian kausal komparatif dinamakan penelitian korelasional komparatif. Perbedaan antara kedua konsep ini sebenarnya hanya terletak pada hubungan antara variabel yang ada pada atau yang dimiliki oleh kelompok. Pada penelitian korelasional komparatif, variabel yang ada dilihat korelasinya, sedangkan penelitian kausal komparatif variabel yang ada dilihat hubungan sebab akibatnya.

    SUMBER : winwan.blogs.friendster.com/myblog/2008/02/penelitian_desk_1.html – 80k –
    YENNI ANGGRAINI
    5525067464
    S1 TATA BUSANA EKS’

  75. erna eriyana 5525067432 said

    PENGARUH PEMANFAATAN MEDIA TERHADAP PENGUASAAN TEKNIK DASAR OLAHRAGA JUDO PADA MAHASISWA PESERTA MKU. 116 UNIVERSITAS LAMPUNG

    Oleh: USMAN ADAM
    Lembaga Penelitian
    Dibuat: 2007-11-30 , dengan 1 file(s).

    Keywords: OLAHRAGA JUDO,MAHASISWA
    Subject: Yudo
    Call Number: 796.8152 Ada p c.1
    AAbstrak
    Penelitian ini adalah penelitian kausal komparatif (ex post facto) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pengajaran yang memanfaatkan media terhadap penguasaan
    teknik dasar olahraga Judo pada mahasiswa peserta MKU. 116 Universitas Lampung tahun akademik 2000/ 2001 dan 2001/ 2002.
    Penelitian ini dilaksanakan di Dojo Universitas Lampung pada tahun akademik 2000/
    2001 dan 2001/ 2002. Populasinya adalah seluruh mahasiswa peserta MKU. 116 Universitas Lampung yang memilih cabang olahraga Judo tahun akademik 2000/ 2001 dan 2001/ 2002 dan sampelnya adalah sampel total/ populasi yang berjumlah 52 orang. Pengukurannya menggunakan Tes Keterampilsn Judo dan teknik analisis datanya menggunakan Uji t (t. tes) pada taraf signifikansi 95 % atau alpha 0,05.
    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengajaran yang tidak memanfaatkan media
    memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap penguasaan teknik dasar olahraga
    Judo (Ẍ 1 = 20,000 sedangkan Ẍ .2 = 64,208), pengajaran yang memanfaatkan media juga memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap penguasaan teknik dasar olahraga Judo (Ẍ . 1 = 20,000 sedangkan Ẍ .2 = 72,821). Ternyata pengajaran yang memanfaatkan media memberikan penguasaan teknik dasar olahraga
    Judo yang lebih tinggi/ baik dari pada pengajaran yang tidak memanfaatkan media
    (Ẍ .1 = 72,821 sedangkan Ẍ .2 = 64,208).
    Sebagai kesimpulannya adalah pengajaran yang memanfaatkan media lebih efelctif dari pada pengajaran yang tidak memanfaatkan media dalam penguasaan teknik dasar olahraga Judo. Semoga hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan di dalam mengambil keputusan pada saat akan melaksanakan proses/ kegiatan belajar
    mengajar olahraga Judo.

  76. Irma Indriani (5525067438) said

    Irma Indriani
    5525067438
    S1 Pend Tata Busana

    6) Penelitian Kausal-Komparatif

    Penelitian untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat antara faktor tertentu yang mungkin menjadi penyebab gejala yang diselidiki.

    Misalnya : sikap santai siswa dalam kegiatan belajar mungkin disebabkan banyaknya lulusan pendidikan tertentu yang tidak mendapat lapangan kerja.

    Kekhususan

    (1) Pengumpulan data mengenai gejala yang diduga mempunyai hubungan sebab akibat itu dilakukan setelah peristiwa yang dipermasalahkan itu telah terjadi ( penelitian bersifat ex post facto ).

    (2) Suatu gejala yang diamati, diusut kembali dari suatu faktor atau beberapa faktor pada masa lampau.

  77. erni eriyani 5525067433 said

    KONTRADIKSI KONDISI PERMUKIMAN DAN KEHIDUPAN PEMUKIM PASCA RELOKASI DI KOTA PALU
    ITS Digital Library / 2006-12-22
    Oleh : Butudoka, Zubair
    Dibuat : 2006-12-22, dengan file

    Keyword : Relocation Livelihood, Contradiction, Resistance
    Sumber pengambilan dokumen : Theses Architectur Engineering RTA 338.951 Uka p, 2002
    Cakupan : ITS Community
    Terbatasnya lahan dan aksesibilitas masyarakat berpenghasilan rendah di kota Palu menyebabkan tumbuhnya permukiman informal yang ilegal (squatters). Dalam rangka penataan kawasan permukiman, pemerintah kota Palu menempuh kebijakan relokasi. Relokasi permukiman dari tepi pantai kelurahan Besusu Barat dan kelurahan Talise kecamatan Palu Timur ke daerah dataran tinggi kelurahan Layana Indah kecamatan Palu Utara memberikan gambaran yang kontradiktif terhadap kondisi permukiman dan kehidupan pemukimnya. Tampak bahwa pascarelokasi sebagian pemukim bersikap resisten. Fenomena kontradikasi dan resistensi tersebut mendorong keingintahuan peneliti terhadap kehidupan pemukim dan keberlanjutan permukimannya. Melalui penelitian yang bersifat kualitatif dan pendekatan fenomenologis dengan model interaksi simbolik dilakukan pembuktian hipotesa bahwa resistensi pemukim terkait dengan persiapan permukiman pascarelokasi. Untuk mendukung validitas penelitian digunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Kausal Komparatif. Analisis dilakukan dengan analitic narative dan statistika deskriptif maupun statistika inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kondisi permukiman dan kehidupan pemukim yang rendah pascarelokasi tidak memberikan dukungan optimal bagi keberlangsungan hidup mereka. Menguatnya keterikatan dengan lahan prarelokasi dibanding pascarelokasi terutama didasarkan atas pertimbangan ekonomi. Secara positif dampak yang ditimbulkan adalah perbaikan kondisi fisik bangunan dan pengembangan kawasan permukiman. Sedang dampak negatif terkait dengan hambatan mobilitas perekonomian yang mempengaruhi proses pengembangan permukiman berkelanjutan pascarelokasi. Kondisi ini kemudian mendorong terjadinya resistensi, tampak bahwa resistensi pemukim muncul jika dukungan dari livelihood assetsnya. diabaikan. Tujuan relokasi permukiman yang ideal menjadi bias dapat disebabkan oleh persiapan yang minim, baik aspek fisik maupun aspek non fisik permukiman pascarelokasi. Dengan demikian penelitian ini membuktikan, bahwa persiapan permukiman sangat signifikan terhadap munculnya resistensi pemukim dari kondisi yang kontradiktif antara prarelokasi dan pascarelokasi. Karenanya persiapan relokasi permukiman hendaknya berorientasi pada peningkatan kesejahteraan pemukim dan kualitas permukimannya, sehingga prinsip pembangunan permukiman berkelanjutan secara merata dan berkeadilan dapat diwujudkan.
    Deskripsi Alternatif :

    Terbatasnya lahan dan aksesibilitas masyarakat berpenghasilan rendah di kota Palu menyebabkan tumbuhnya permukiman informal yang ilegal (squatters). Dalam rangka penataan kawasan permukiman, pemerintah kota Palu menempuh kebijakan relokasi. Relokasi permukiman dari tepi pantai kelurahan Besusu Barat dan kelurahan Talise kecamatan Palu Timur ke daerah dataran tinggi kelurahan Layana Indah kecamatan Palu Utara memberikan gambaran yang kontradiktif terhadap kondisi permukiman dan kehidupan pemukimnya. Tampak bahwa pascarelokasi sebagian pemukim bersikap resisten. Fenomena kontradikasi dan resistensi tersebut mendorong keingintahuan peneliti terhadap kehidupan pemukim dan keberlanjutan permukimannya. Melalui penelitian yang bersifat kualitatif dan pendekatan fenomenologis dengan model interaksi simbolik dilakukan pembuktian hipotesa bahwa resistensi pemukim terkait dengan persiapan permukiman pascarelokasi. Untuk mendukung validitas penelitian digunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Kausal Komparatif. Analisis dilakukan dengan analitic narative dan statistika deskriptif maupun statistika inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kondisi permukiman dan kehidupan pemukim yang rendah pascarelokasi tidak memberikan dukungan optimal bagi keberlangsungan hidup mereka. Menguatnya keterikatan dengan lahan prarelokasi dibanding pascarelokasi terutama didasarkan atas pertimbangan ekonomi. Secara positif dampak yang ditimbulkan adalah perbaikan kondisi fisik bangunan dan pengembangan kawasan permukiman. Sedang dampak negatif terkait dengan hambatan mobilitas perekonomian yang mempengaruhi proses pengembangan permukiman berkelanjutan pascarelokasi. Kondisi ini kemudian mendorong terjadinya resistensi, tampak bahwa resistensi pemukim muncul jika dukungan dari livelihood assetsnya. diabaikan. Tujuan relokasi permukiman yang ideal menjadi bias dapat disebabkan oleh persiapan yang minim, baik aspek fisik maupun aspek non fisik permukiman pascarelokasi. Dengan demikian penelitian ini membuktikan, bahwa persiapan permukiman sangat signifikan terhadap munculnya resistensi pemukim dari kondisi yang kontradiktif antara prarelokasi dan pascarelokasi. Karenanya persiapan relokasi permukiman hendaknya berorientasi pada peningkatan kesejahteraan pemukim dan kualitas permukimannya, sehingga prinsip pembangunan permukiman berkelanjutan secara merata dan berkeadilan dapat diwujudkan.
    Copyrights : Copyright @2005 by ITS Library. This publication is protected by copyright and permission should be obtained from the ITS Library prior to any prohibited reproduction, storage in a retrievel system, or transmission in any form or by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording, or likewise. For information regarding permission(s), write to ITS Library

  78. RINA ANGELINA(5525067465) said

    RINA ANGELINA
    5525067465
    SI TATA BUSANA”EKS 2006

    Penelitian kausal komparatif

    Penelitian kausal komparatif adalah juga masuk dalam kategori penelitian deskriptif, jika variabel sebab akibat yang diteliti bukan hasil eksperimen. Dalam penelitian kausal komparatif ini biasanya peneliti ingin mencoba mengetahui membedakan hubungan sebab akibat yang ada pada dua kelompok atau lebih. Dalam buku lain penelitian kausal komparatif dinamakan penelitian korelasional komparatif. Perbedaan antara kedua konsep ini sebenarnya hanya terletak pada hubungan antara variabel yang ada pada atau yang dimiliki oleh kelompok. Pada penelitian korelasional komparatif, variabel yang ada dilihat korelasinya, sedangkan penelitian kausal komparatif variabel yang ada dilihat hubungan sebab akibatnya.

    Suryabrata (1987:27) mengemukakan penelitian kausal komparatif bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat dengan cara: berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada mencari kembali faktor yangmungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Hal ini berlainan dengan metode eksperi-mental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dengan waktu yang dikontrol.

    SUMBER:-www.BushClintonKatrinaFund.org
    -www.DirectRelief.org

  79. Dian Avriyanti (5525067456) said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    Pengaruh bakat, minat, dan kebiasaan belajar terhadap hasil belajar matematika mahasiswa : studi kausal komparatif di Jurusan Pendidikan Matematika, FPMIPA, UPI Bandung

    Hasil belajar mahasiswa dalam Statistika Matematik yang mendapat nilai kurang memuaskan masih banyak diperoleh mahasiswa. Karena itu, peneliti berusaha untuk mengurangi atau menekan nilai kurang memuaskan tersebut, dengan cara mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang akan diteliti ini termasuk kedalam faktor intern, yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar mahasiswa. Faktor intern itu, diantaranya meliputi bakat, minat, dan kebiasaan belajar. Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui besarnya pengaruh, baik langsung maupun tidak langsung, dari bakat, minat, dan kebiasaan belajar mahasiswa terhadap hasil belajarnya dalam Statistik Matematik. Penelitian dilakukan di Jurusan Pendidikan Matematika, FPMIPA, UPI Bandung terhadap para mahasiswa yang sedang mengikuti Statistik Matematik. Pengambilan sampelnya berupa satu kelas dilakukan secara acak dari tiga kelas, dengan ukuran sampelnya adalah 34. Pengumpulan data untuk variabel bakat dilakukan berdasarkan tes bakat, pengumpulan data untuk variabel minat dilakukan berdasarkan skala minat, dan pengumpulan data untuk variabel kebiasaan belajar dilakukan berdasarkan skala kebiasaan belajar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kausal komparatif, sedangkan metode analisis yang digunakan adalah Analisis Jalur. Hasil penelitian menunjukkan bakat Matematika, minat, dan kebiasaan belajar mahasiswa secara bersama-sama berpengaruh terhadap hasil belajarnya dalam Statistika Matematik, dan besar pengaruhnya adalah 39,6%. Sedangkan besar pengaruh variabel lainnya di luar ketiga variabel itu terhadap hasil belajar mahasiswa adalah 60,4%. Bakat Matematika (kemampuan berpikir abstrak), minat, dan kebiasaan belajar masing-masing tergolong kategori sedang. Selain itu, minat berpengaruh terhadap kebiasaan belajar mahasiswa dalam Statistika Matematik dengan besar pengaruh langsungnya adalah 71,3%. Sedangkan pengaruh variabel lainnya di luar minat terhadap kebiasaan belajar sebesar 28,7%. Kemudian variabel yang berpengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa dalam Statistika Matematika adalah kebiasaan belajar, dengan besar pengaruh langsungnya adalah 45,7%. Sedangkan pengaruh variabel lainnya di luar kebiasaan belajar terhadap hasil belajar sebesar 55,3%. Selanjutnya, hasil belajar mahasiswa dalam Statistika Matematika secara keseluruhan tergolong kategori sedang.

    http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-1005106-105629/

  80. Dian Avriyanti (5525067456) said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    PENELITIAN KAUSAL KOMPARATIF

    Penelitian kausal komparatif adalah juga masuk dalam kategori penelitian deskriptif, jika variabel sebab akibat yang diteliti bukan hasil eksperimen. Dalam penelitian kausal komparatif ini biasanya peneliti ingin mencoba mengetahui membedakan hubungan sebab akibat yang ada pada dua kelompok atau lebih. Dalam buku lain penelitian kausal komparatif dinamakan penelitian korelasional komparatif. Perbedaan antara kedua konsep ini sebenarnya hanya terletak pada hubungan antara variabel yang ada pada atau yang dimiliki oleh kelompok. Pada penelitian korelasional komparatif, variabel yang ada dilihat korelasinya, sedangkan penelitian kausal komparatif variabel yang ada dilihat hubungan sebab akibatnya.

    Suryabrata (1987:27) mengemukakan penelitian kausal komparatif bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat dengan cara: berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada mencari kembali faktor yangmungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Hal ini berlainan dengan metode eksperi-mental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dengan waktu yang dikontrol.

    Untuk mempermudah pemahaman kita pada konsep penelitian kausal komparatif, penulis ketengahkan beberapa contoh penelitiannya yang diambil dari penjelasan Suryabrata (1987:29) sebagai berikut:

    1. Penelitian mengenai faktor-faktor yang menjadi ciri-ciri pribadi yang gampang dan tidak gampang mendapat kecelakaan dengan mendapatkan data yang berwujud catatan-catatan yang ada perusahaan asuransi.

    2. Mencari pola tingkah laku dan prestasi belajar yang berkaitan dengan perbedaan umur pada waktu masuk sekolah, dengan cara menggunakan data deskriptif mengenai tingkah laku dan skor test prestasi belajar yang terkumpul sampai anak-anak yang bersangkutan kelas VI SD.

    3. Penelitian untuk menentukan ciri-ciri guru yang efektif dengan mempergunakan data berupa catatan menegnai sejarah pekerjaan selengkap mungkin.

    Penelitian kausal komparatif memiliki ciri pokok yang bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat (sebagai devendent variabel) dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan maknanya.

    Sebagaimana jenis penelitian lainnya, penellitian kausal komparatif memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dan kekurangan tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Suryabrata (1987:29-31) dapat diringkaskan sebagai berikut:

    1. Metode kausal komparatif adalah baik untuk berbagai keadaan jika dibandingkan dengan metode eksperimental, yang tak dapat digunakan untuk:

    a. Apabila tidak selalu mungkin untuk memilih, mengontrol, dan memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk menyelidiki hubungan sebab akibat secara langsung.

    b. Apabila pengontrolan terhadap semua variabel kecuali variabel bebas sangat tidak realistis dan dibuat-buat, yang mencegah interaksi normal dengan lain-lain variabel yang terpengaruh.

    c. Apabila kontrol di laboratorium untuk berbagai tujuan penelitian adalah tidak praktis, terlalu mahal atau dipandang dari segi etika diragukan/dipertanyakan.

    2. Studi kausal komparatif menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalkan: apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana, dan yang sejenis dengan itu.

    3. Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik, metode statistik dan rancangan dengan kontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah membuat studi kausal komparatif itu lebih dapat diper-tanggung jawabkan.

    Kekuranga-kekurangannya:

    1. Kekurangan kausal komparatif adalah tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas. Dalam batas-batas penelitian yang dapat dilakukan, penelitian harus mengambil fakta-fakta yang dijumpainya tnapa kesempatan untuk mengatur kondisi-kondisinya atau memanipulasikan variabel-variabel yang dipengaruhi fakta-fakta yang dijumpainya itu. Untuk dapat mencapai kesimpulan yang sehat, peneliti harus dapat memper-timbangkan segala alasan yang mungkin ada atau hipotesis-hipotesis saingan yang mungkin diajukan yang mungkin mempengaruhi hasil-hasil yang dicapai. Sejauh peneliti dapat dengan sukses membuat justifikasi kesimpulan terhadap

    2. Alternatif-alternatif lain itu, dia berada pada posisi yang relatif kuat.

    3. Adalah sukar untuk memperoleh kepastian bahwa faktor-faktor penyebab yang relevan tekah benar-benar tercakup dalam kelompok faktor-faktor yang diselidiki.

    4. Kenyataan bahwa faktor penyebab bukan faktor tunggal, melainkan kombinasi dan interaksi berbagai faktor dalam kondisi tertentu untuk menghasilkan efek yang disaksikan, menyebabkan persoalannya sangat kompleks.

    5. Suatu gejala mungkin tidak hanya merupakan akibat dari sebab-sebab ganda, tetapi dapat pula akibat dari suatu sebab pada kejadian tertentu dan oleh lain sebab pada kejadian lain.

    6. Apabila saling hubungan antara dua variabel telah ditemukan, mungkin sukar untuk menemukan mana yang sebab dan mana yang akibat.

    7. Kenyataan bahwa dua, atau lebih faktor saling berhubungan tidaklah mesti implikasi adanya hubungan sebab akibat. Kenyataan itu mungkin hanyalah karena faktor-faktor tersebut berkaitan dengan faktor lain yang tidak diketahui atau terobservasi.

    8. Menggolong-golongkan subyek ke dalam kategori dikotomi (misalnya golongan pandai dan golongan bodoh) untuk tujuan perbandingan, menimbulkan persoalan-persoalan, karena kategori semacam itu sifatnya kabur, bervariasi, dan tidak mantap. Seringkali penelitian semacam itu menghasilkan penemuan yang tidak berguna.

    http://winwan.blogs.friendster.com/myblog/2008/02/penelitian_desk_1.html

  81. Selly Murdiani (5525067441) said

    Selly Murdiani
    5525067441
    Pend Tata Busana eks’06

    Penelitian kausal-komparatif

    Penelitian kausal komparatifadalah penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat yang bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). peneliti mengambil satu atau lebih akibat (sebagai “dependent variables”) dan menguji data itu dengan menelusuri kembali kemasa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan maknanya.

    Keunggulan
    Studi kausal – komparatif menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalkan : apa sejalan dengan apa, edalam kondisi apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana, dan sejenis dengan itu.

    Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik, metode statistik, dan rancangan dalam mengontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah membuat studi kausal-komparatif itu lebih dapat dipertanggung jawabkan.

    Langkah-langkah penelitian ;
    1. Definisikan masalah
    2. lakukan penelaan permasalahan
    3. Rumuskan hipotesis
    4. Rumuskan asumsi – asumsi yang mendasari hipotesis serta prosedur.
    5. Rancangan cara pendekatannya
    6. Vadilisasi teknik untuk mengumpulkan data
    7. Kumpulkan dan analisis data
    8. susun laporannya.

  82. Mochamad Asgofur (5525067450) said

    Mochamad Asgofur
    5525067450
    Pend. Tata Busana Eks SI 2006

    Penelitian Komparatif

    Penelitian komparatif, adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Di sini variabelnya masih sama dengan penelitian variable mandiri tetapi untuk sampel yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda. Contoh : adakah perbedaan keuntungan antara BUMN dengan perusahaan Swasta, adakah perbedaan nilai penjualan antara tahun 1997 dengan 1999. Tahun 1997 dan 1999 adalah waktu yang berbeda.

    Permasalahan komparatif adalah suatu permasalaaahan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan satu variable atau lebih pada dua atau lebih sample yang berbeda, Contoh rumusan masalahnya :

    1) Adakah perbedaan produktivitas kerja antara Pegawai Negeri, BUMN dan Swasta? (satu variabel pada 3 sampel).
    2) Adakah kesamaan cara promosi antara perusahaan A dan B?
    3) Adakah perbedaan, kemampuan dan disiplin kerja antara pegawai Swasta Nasional, dan perusahaan asing (dua variabel, pada dua sample).
    4) Adakah perbedaan kenyamanan naik Kereta Api dan Bus menurut berbagai kelompok masyarakat.
    5) Adakah perbedaan daya tahan berdiri pelayan toko yang berasal dari kota dan desa, gunung (satu variabel pada 3 sampel)
    6) Adakah perbedaan jumlah penjualan antara mobil sedan dan niaga?
    7) Adakah perbedaan kualitas manajemen antara Bank Swasta dan Bank Pemerintah.
    Penelitian Kausal Komparatif dan Eksperimental.
    studi kausal komparatif juga menunjukan arah hubungan variabel bebas dengan variabel terikat, namun pada kausal komparatif dipertanyakan sebab-akibat. Analisis kausalitas dibedakan menjadi:

    1. kausalitas satu arah
    X→Y artinya X menyebabkan Y
    Y→X artinya Ymenyebabkan X
    2. kausalitas dua arah
    Y↔X artinya ada hubungan simultan antara Y dan X karena Y menyebabkan X dan X menyebabkan Y.

    Penelitian kausal–komparatif dan eksperimental merupakan dua macam penelitian yang berbeda. Namum keduanya memiliki persamaan yaitu untuk melihat hubungan sebab-akibat, juga meliputi perbandingan antargrup.
    Perbedaan utama keduanya adalah dalam penelitian eksperimental, pernyataan “sebab” dikendalikan sedangkan dalam penelitian kausal komparatif tidak.

  83. Mochamad Asgofur (5525067450) said

    Mochamad Asgofur
    5525067450
    Pend. Tata Busana Eks SI 2006

    Penelitian Komparatif

    Penelitian komparatif, adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Di sini variabelnya masih sama dengan penelitian variable mandiri tetapi untuk sampel yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda. Contoh : adakah perbedaan keuntungan antara BUMN dengan perusahaan Swasta, adakah perbedaan nilai penjualan antara tahun 1997 dengan 1999. Tahun 1997 dan 1999 adalah waktu yang berbeda.

    Permasalahan komparatif adalah suatu permasalaaahan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan satu variable atau lebih pada dua atau lebih sample yang berbeda, Contoh rumusan masalahnya :

    1) Adakah perbedaan produktivitas kerja antara Pegawai Negeri, BUMN dan Swasta? (satu variabel pada 3 sampel).
    2) Adakah kesamaan cara promosi antara perusahaan A dan B?
    3) Adakah perbedaan, kemampuan dan disiplin kerja antara pegawai Swasta Nasional, dan perusahaan asing (dua variabel, pada dua sample).
    4) Adakah perbedaan kenyamanan naik Kereta Api dan Bus menurut berbagai kelompok masyarakat.
    5) Adakah perbedaan daya tahan berdiri pelayan toko yang berasal dari kota dan desa, gunung (satu variabel pada 3 sampel)
    6) Adakah perbedaan jumlah penjualan antara mobil sedan dan niaga?
    7) Adakah perbedaan kualitas manajemen antara Bank Swasta dan Bank Pemerintah.
    Penelitian Kausal Komparatif dan Eksperimental.
    studi kausal komparatif juga menunjukan arah hubungan variabel bebas dengan variabel terikat, namun pada kausal komparatif dipertanyakan sebab-akibat. Analisis kausalitas dibedakan menjadi:

    1. kausalitas satu arah
    X→Y artinya X menyebabkan Y
    Y→X artinya Ymenyebabkan X
    2. kausalitas dua arah
    Y↔X artinya ada hubungan simultan antara Y dan X karena Y menyebabkan X dan X menyebabkan Y.

    Penelitian kausal–komparatif dan eksperimental merupakan dua macam penelitian yang berbeda. Namum keduanya memiliki persamaan yaitu untuk melihat hubungan sebab-akibat, juga meliputi perbandingan antargrup.
    Perbedaan utama keduanya adalah dalam penelitian eksperimental, pernyataan “sebab” dikendalikan sedangkan dalam penelitian kausal komparatif tidak.

    Sumber : http://www.pascasarjana-stiami.ac.id/cetak.php?id=20

  84. Lisya Maryati 5525067444 said

    Lisya Maryati
    5525067444
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    Penelitian digunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Kausal Komparatif. Analisis dilakukan dengan analitic narative dan statistika deskriptif maupun statistika inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kondisi permukiman dan kehidupan pemukim yang rendah pascarelokasi tidak memberikan dukungan optimal bagi keberlangsungan hidup mereka. Menguatnya keterikatan dengan lahan prarelokasi dibanding pascarelokasi terutama didasarkan atas pertimbangan ekonomi. Secara positif dampak yang ditimbulkan adalah perbaikan kondisi fisik bangunan dan pengembangan kawasan permukiman. Sedang dampak negatif terkait dengan hambatan mobilitas perekonomian yang mempengaruhi proses pengembangan permukiman berkelanjutan pascarelokasi. Kondisi ini kemudian mendorong terjadinya resistensi, tampak bahwa resistensi pemukim muncul jika dukungan dari livelihood assetsnya. diabaikan. Tujuan relokasi permukiman yang ideal menjadi bias dapat disebabkan oleh persiapan yang minim, baik aspek fisik maupun aspek non fisik permukiman pascarelokasi.

    http://digilib.its.ac.id/detil.php?id=138

  85. EKA APRIANA (5525067459) said

    Penelitian kausal_ komparatif

    tujuan kausal_ komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan sebab akibat dengan cara berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang adaserta mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.

    langkah – langkah pokok dalam kausal komperatif :
    1. definisikan masalah
    2. lakukan penelaahan kepustakaan
    3. rumuskan hipotesis _ hipotesis
    4. rumuskan asumsi – asumsi yang mendasari hipotesis _ hipotesis itu serta prosedur – prosedur yang akan digunakan
    5. rancangkan cara pendekatannya
    6. validasikan teknik untuk mengumpulkan data, dan interpretasikan hasilnya dalam cara yang jelas dan cermat
    7. kumpulkan dan analisis data
    8. susun laporannya

    keunggulan kausal komparatif :
    - studi kausal komparatif menghasilkan informasi yang sangat brguna mengenai sifat – sifat gejala yang dipersoalkan.

    kelemahan kausal komparatif :
    - sukar untuk memperoleh kepastian bahwa faktor – faktor penyebab yang relevan telah benar – benar tercakup dalam kelompok faktor – faktor yang sedang diteliti.

    sumber :
    Judul :” Metodologi Penelitian Pendidikan “,
    Pengarang :DR. Endry Boeriswati, M.PD.

  86. Annisa Rahmah 5525075027 said

    Penelitian Kausal-Komparatif

    Penelitian untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat antara faktor tertentu yang mungkin menjadi penyebab gejala yang diselidiki.
    Misalnya : sikap santai siswa dalam kegiatan belajar mungkin disebabkan banyaknya lulusan pendidikan tertentu yang tidak mendapat lapangan kerja.
    Kekhususan

    (1) Pengumpulan data mengenai gejala yang diduga mempunyai hubungan sebab akibat itu dilakukan setelah peristiwa yang dipermasalahkan itu telah terjadi ( penelitian bersifat ex post facto ).
    (2) Suatu gejala yang diamati, diusut kembali dari suatu faktor atau beberapa faktor pada masa lampau

    sumber :
    http://fadliyanur.blogspot.com/2008/02/jenis-jenis-penelitian.html

  87. Annisa Rahmah 5525075027 said

    Penelitian kausal komparatif

    Penelitian kausal komparatif adalah juga masuk dalam kategori penelitian deskriptif, jika variabel sebab akibat yang diteliti bukan hasil eksperimen. Dalam penelitian kausal komparatif ini biasanya peneliti ingin mencoba mengetahui membedakan hubungan sebab akibat yang ada pada dua kelompok atau lebih. Dalam buku lain penelitian kausal komparatif dinamakan penelitian korelasional komparatif. Perbedaan antara kedua konsep ini sebenarnya hanya terletak pada hubungan antara variabel yang ada pada atau yang dimiliki oleh kelompok. Pada penelitian korelasional komparatif, variabel yang ada dilihat korelasinya, sedangkan penelitian kausal komparatif variabel yang ada dilihat hubungan sebab akibatnya.
    Suryabrata (1987:27) mengemukakan penelitian kausal komparatif bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat dengan cara: berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada mencari kembali faktor yangmungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Hal ini berlainan dengan metode eksperi-mental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dengan waktu yang dikontrol.
    Untuk mempermudah pemahaman kita pada konsep penelitian kausal komparatif, penulis ketengahkan beberapa contoh penelitiannya yang diambil dari penjelasan Suryabrata (1987:29) sebagai berikut:
    1. Penelitian mengenai faktor-faktor yang menjadi ciri-ciri pribadi yang gampang dan tidak gampang mendapat kecelakaan dengan mendapatkan data yang berwujud catatan-catatan yang ada perusahaan asuransi.
    2. Mencari pola tingkah laku dan prestasi belajar yang berkaitan dengan perbedaan umur pada waktu masuk sekolah, dengan cara menggunakan data deskriptif mengenai tingkah laku dan skor test prestasi belajar yang terkumpul sampai anak-anak yang bersangkutan kelas VI SD.
    3. Penelitian untuk menentukan ciri-ciri guru yang efektif dengan mempergunakan data berupa catatan menegnai sejarah pekerjaan selengkap mungkin.
    Penelitian kausal komparatif memiliki ciri pokok yang bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat (sebagai devendent variabel) dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan maknanya.
    Sebagaimana jenis penelitian lainnya, penellitian kausal komparatif memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dan kekurangan tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Suryabrata (1987:29-31) dapat diringkaskan sebagai berikut:
    1. Metode kausal komparatif adalah baik untuk berbagai keadaan jika dibandingkan dengan metode eksperimental, yang tak dapat digunakan untuk:
    a. Apabila tidak selalu mungkin untuk memilih, mengontrol, dan memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk menyelidiki hubungan sebab akibat secara langsung.
    b. Apabila pengontrolan terhadap semua variabel kecuali variabel bebas sangat tidak realistis dan dibuat-buat, yang mencegah interaksi normal dengan lain-lain variabel yang terpengaruh.
    c. Apabila kontrol di laboratorium untuk berbagai tujuan penelitian adalah tidak praktis, terlalu mahal atau dipandang dari segi etika diragukan/dipertanyakan.
    2. Studi kausal komparatif menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalkan: apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana, dan yang sejenis dengan itu.
    3. Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik, metode statistik dan rancangan dengan kontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah membuat studi kausal komparatif itu lebih dapat diper-tanggung jawabkan.
    Kekurangan-kekurangannya:
    1. Kekurangan kausal komparatif adalah tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas. Dalam batas-batas penelitian yang dapat dilakukan, penelitian harus mengambil fakta-fakta yang dijumpainya tnapa kesempatan untuk mengatur kondisi-kondisinya atau memanipulasikan variabel-variabel yang dipengaruhi fakta-fakta yang dijumpainya itu. Untuk dapat mencapai kesimpulan yang sehat, peneliti harus dapat memper-timbangkan segala alasan yang mungkin ada atau hipotesis-hipotesis saingan yang mungkin diajukan yang mungkin mempengaruhi hasil-hasil yang dicapai. Sejauh peneliti dapat dengan sukses membuat justifikasi kesimpulan terhadap
    2. Alternatif-alternatif lain itu, dia berada pada posisi yang relatif kuat.
    3. Adalah sukar untuk memperoleh kepastian bahwa faktor-faktor penyebab yang relevan tekah benar-benar tercakup dalam kelompok faktor-faktor yang diselidiki.
    4. Kenyataan bahwa faktor penyebab bukan faktor tunggal, melainkan kombinasi dan interaksi berbagai faktor dalam kondisi tertentu untuk menghasilkan efek yang disaksikan, menyebabkan persoalannya sangat kompleks.
    5. Suatu gejala mungkin tidak hanya merupakan akibat dari sebab-sebab ganda, tetapi dapat pula akibat dari suatu sebab pada kejadian tertentu dan oleh lain sebab pada kejadian lain.
    6. Apabila saling hubungan antara dua variabel telah ditemukan, mungkin sukar untuk menemukan mana yang sebab dan mana yang akibat.
    7. Kenyataan bahwa dua, atau lebih faktor saling berhubungan tidaklah mesti implikasi adanya hubungan sebab akibat. Kenyataan itu mungkin hanyalah karena faktor-faktor tersebut berkaitan dengan faktor lain yang tidak diketahui atau terobservasi.
    8. Menggolong-golongkan subyek ke dalam kategori dikotomi (misalnya golongan pandai dan golongan bodoh) untuk tujuan perbandingan, menimbulkan persoalan-persoalan, karena kategori semacam itu sifatnya kabur, bervariasi, dan tidak mantap. Seringkali penelitian semacam itu menghasilkan penemuan yang tidak berguna.

    sumber:
    http://winwan.blogs.friendster.com/myblog/2008/02/penelitian_desk_1.html

  88. Annisa Rahmah 5525075027 said

    Penelitian Kausal Komparatif

    Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya hubungan sebab akibat dengan cara berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada, kemudian mencari kembali faktor yang diduga sebagai penyebabnya, melalui pengumpulan data dengan melakukan perbandingan diantara data-data yang terkumpul/diteliti

    sumber:

    bambang sunggono s.h., m.s., Metodologi Penelitian Hukum, Pt Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997

  89. Adhitia Kusuma W ( 5525067451 ) said

    metoda kasual komperatif

    penelitian kasual kompratif adalah penelitian pada mana peneliti berusaha untuk menentukan penyebab atau alasan dari perbedaan yang ada pada tingkah laku atau suatu kelompok atau individual ( kasual komperatif dalam bahasa latin ” ex post facto ” artinya after the pact).
    pendekatan kasual komperatif melibatkan pendekatan pendahuluaan pada suatu akibat dan mencari alternatif penyebabnya.penelitian kasual komperatif berusaha untuk mengidentifikasikan sebab akibat, penilitian kasual komperatif tidak dimanifilasi perbedaan itu memang sudah ada.
    hibungan sebab akibat yang terjadi pada penelitian kasual komperatif sifatnya lemah : boleh dianggap merupakan hubungan yang sifatnya sementara, lain halnya dengan penelitian eksperimen.

    melakukan penelitian kasual komperatif

    1. desain dan prosedur
    desain pokok penelitian kasual komperatif mencakup pemilihan dua kelompok yang berbeda : yaitu kelompok variabel bebas dan pembanding atau kelompok variabel yang tidak bebas.

    2. prosedur pengontrolan

    3. maching
    masalah pokok pada macthing adalah bahwa ada dua subjek yang tidak bisa dirubah yang tidak mempunyai kecocokan dan oleh karena itu harus dihilangkan oleh penyelidikan.

    4. perbandingan kelompok – kelompok homogen

    5. analisis konverians
    analisis komperians mengatur nialia pada suatu variabel yang tidak bebas pada perbedaan awal terhadap variabel – variabel akhir.

    6. analisis data dan interprestasi
    analisis data pada penelitian ini mencakupbermacam – macam statiska deskriftif infrensial. statiska deskriptif yang paling banyak digunakan oleh man.yang menunjukan rata – rata perbuatan dan deviasi standaryang menunjukan bagaimana penyebaran sekelompok nilai yaitu aoakah nialai relatif dekat atau sama dengan orang lain.
    statiska infrensial digunaka untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan antara mean – mean dari dua kelompok.

  90. Ifa said

    PENELITIAN KAUSAL KOMPARATIF

    • Penelitian Kausal-Komparatif (causal-comparative research)
    Tujuan penelitian kausal-komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.

    • Penelitian komparatif, adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Di sini variabelnya masih sama dengan penelitian variable mandiri tetapi untuk sampel yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda.
    • Penelitian Kausal komparatif
    Penelitian kausal komparatif adalah Menyelidiki sebab akibat, tetapi tidak dengan jalan Eksperimen, penelitian ini dilakukan dengan pengamatan terhadap data dari faktor yang di duga menjadi penyebab sebagai pembanding. kausal komparatif umumnya mencakup dua atu lebih kelompok variabel dan satu variabel.
    Sumber :
    http://www.kopertis4.or.id/Pages/data%202006/kelembagaan/studi_kepustakaan_DR%5B1%5D._Dewi.Doc
    http://pascasarjana-stiami.ac.id
    http://www.damandiri.or.id.

  91. Penelitian Komparatif

    Penelitian komparatif, adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Di sini variabelnya masih sama dengan penelitian variable mandiri tetapi untuk sampel yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda. Contoh : adakah perbedaan keuntungan antara BUMN dengan perusahaan Swasta, adakah perbedaan nilai penjualan antara tahun 1997 dengan 1999. Tahun 1997 dan 1999 adalah waktu yang berbeda.

    penelitian komparatif adalah penelitian yang melihat ada tidaknya perbedaan variabel-varibel tertentu melalui pembandingan antara satu keadaan dengan keadaan yang lain.
    Misalnya ingin diketahui adakah perbedaan hasil belajar akibat berbedanya metode yang dipakai dalam proses pembelajaran.

    Sumber
    Surabaya: Insan Cendekia.
    Suriasumantri, Jujun S. (1984). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan
    Suriasumantri, Jujun S. (ed) (1981). Ilmu dalam Prespektif. Jakarta: Gramedia.

    Dewi Rahayu P.S
    5525067457
    SI Tata Busana Ekstensi 2006

  92. Yunda Mardianti said

    Yunda Mardianti
    5525067466
    Pend.Tata Busana Ekst’06

    A.TAHAPAN PENELITIAN SEJARAH
    Pertama yang harus dilakukan adalah menentukan topik penelitian dengan tujuan agar dalam melakaukan pencarian sumber-sumber sejarah dpat terarah dan tepat sasaran.Pemilihan topik penelitian dapatdidasarakan pada unsur-unsur berikut ini:
    1.Bernilai
    Peristiwa sejarah yang diungkap tersebut harus bersifat unik, kekal, abadi.
    2.Keaslian (Orisinalitas)
    Peristiwa sejarah yang diungkap hendaknya berupa upaya pembuktian baru atau ada pandangan baru akibat munculnya teori dan metode baru
    3.Praktis dan Efesien
    Peristiwa sejarah yang diungkap terjangkau dalam mencari sumbernya dan mempunyai hubungan yang erat dengan peristiwa itu.
    4.Kesatuan
    Unsur-unsur yang dijadikan bahan penelitian itu mempunyai satu kesatuan ide.

    B.LANGKAH-LANGKAH DALAM PENELITIAN SEJARAH
    Setelah menentukan topik penelitian selanjutnya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
    1.HEURISTIK (Pengumpulan Data)
    Heuristik merupakan langkah awal dalam penelitian sejarah untuk berburu dan mengumpulkan berbagi sumber data yang terkait dengan masalah yang sedeang diteliti.misalnya dengan melacak sumber sejarah tersebut dengan meneliti berbagai dokumen, mengunjungi situs sejarah, mewawancarai para saksi sejarah.
    2.KRITIK (VERIFIKASI)
    Kritik merupakan kemampuan menilai sumber-sumber sejarah yang telah dicari (ditemukan). Kritik sumber sejarah meliputi kritik ekstern dan kritik intern.
    a.Kritik Ekstern
    kritik ekstern di dalam penelitian ilmu sejarah umumnya menyangkut keaslan atau keautentikan bahan yang digunakan dalam pembuatan sumber sejarah, seperti prasasti, dokumen, dan naskah.Bentuk penelitian yang dapat dilakukan sejarawan, misalnyatentang waktu pembuatan dokumen itu (hari dan tanggal) atau penelitian tentang bahan (materi) pembuatan dokumen itu sndiri.Sejarawan dapat juga melakukan kritik ekstern dengan menyelidiki tinta untuk penulisan dokumen guna menemukan usia dokumen. Sejarawan dapat pula melakukan kritik ekstern dengan mengidentifikasikan tulisan tangan, tanda tangan, materai, atau jenis hurufnya.
    b.Kritik Intern
    Kritik Intern merupakan penilaian keakuratan atau keautentikan terhadap materi sumber sejarah itu sendiri. Di dalam proses analisis terhadap suatu dokumen, sejarawan harus selalu memikirkan unsur-unsur yang relevan di dalam dokumen itu sendiri secara menyeluruh. Unsur dalam dokumen dianggap relevan apabila unsur tersebut paling dekat dengan apa yang telah terjadi, sejauh dapat diketahui berdasarkan suatu penyelidikan kritis terhadap sumber-sumber terbaik yang ada.
    3.INTERPRETASI (penafsiran)
    Interfretasi adalah menafsirkan fakata sejarah dan merangkai fakta tersebut hingga menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Dari berbagi fakta yang ada kemudian perlu disusun agar mempunyai bentuk dan struktur. Fakta yang ada ditafsirkan sehingga ditemukan struktur logisnya berdasarkan fakta yang ada, untuk menghindari suatu penafsiran yang semena-mena akibat pemikiran yang sempit. Bagi sejarawan akademis, interfretasi yang bersifat deskriptif sajabelum cukup. Dalam perkembangan terakhir, sejarawan masih dituntut untuk mencari landasan penafsiran yang digunkan.
    4.HISTORIOGRAFY (Penulisan Sejarah)
    Historiogray adalah oses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber yang telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Setelah melakukan penafsiran terhadap data-data yang ada, sejarawan harus sadar bahwa tulisan itu bukan hanya sekedar untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk dibavca orang lain. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisan nya. Sejarawan harus menyadari dan berusaha agar orang lain dapat mengerti pokok-pokok pemikiran yang diajukan.

    Sumber:http://hapbiker.wordpress.com

  93. Herwini Suci Fauziah said

    penelitian histori, yaitu penelitian yang meneliti peristiwa – peristiwa yang telah berlalu.Ciri khas penelitian historis yaitu periode waktu: kegiatan, peristiwa, karakteristik, nilai-nilai, kemajuan dan kemunduran, dilihat dan dikaji dalam konteks waktu. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.

    Sumber :

    Sukmadinata, Nana Syaodih. ( 2007 ). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

    http://indiwan.blogspot.com/2007/09/jenis-jenis-penelitian.html

    Nama : Herwini Suci Fauziah
    No. Reg : 5525067437
    Pend. Tata Busana eks’ 06

  94. HIMATUL ULYA said

    Nama : Himatul Ulya
    5525067439

    PENELITIAN SEJARAH

    “Sejarah adalah ilmu yang mempelajari kehidupan manusia masa lampau, bukan berarti hanya melihat ke belakang
    . Tujuan dari penggunaan metode penelitian sejarah adalah untuk memperoleh hasil penelitian berupa rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif hingga tingkat yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Metode sejarah itu terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.
    Bahkan Kuntowijoyo menyebutkan bahwa penelitian sejarah mempunyai lima tahapan yaitu topik, pengumpulan sumber, verifikasi (kritik sejarah atau keabsahan sumber, interpretasi (analisis dan sintesis) dan penulisan (Kuntowijoyo, 1995: 89).
    Tahapan penelitian diawali dengan pencarian data dan pengumpulan sumber atau dikenal dengan istilah heuristik (Kosim, 1988: 32). Heuristik adalah suatu tekhnik yang membantu kita untuk mencari jejak-jejak sejarah (Reiner, 1997: 113). Heuristik juga merupakan sebuah tahapan atau kegiatan untuk merumuskan atau menghimpun sumber, data dan informasi mengenai masalah yang diangkat, baik tertulis maupun tidak tertulis (dokumen dan artefak) yang disesuaikan dengan jenis sejarah yang akan ditulis (Kuntowijiyo, 1995: 94). Tahapan berikutnya adalah kritik atau tahapan verifikasi, yaitu tahapan atau kegiatan meneliti dan menyeleksi sumber, informasi, jejak secara kritis. Setiap sumber memiliki dua aspek yaitu ekstern dan intern, karena itu kritik pun terbagi menjadi dua yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik intern merupakan proses penyeleksian data dengan menyelidiki kredibilitas sumber atau kebiasaan yang dipercayai, sedangkan kritik ekstern menyelidiki otentisitas sumber atau keaslian sumber (Kuntowijoyo, 1995: 99).
    Tahapan selanjutnya adalah dengan melakukan interpretasi (penafsiran) terhadap data tersebut. Tahapan ini sering disebut sebagai sumber subyektifitas, karena menurut Kuntowijoyo (1995: 100) pendapat tersebut sebagian benar dan sebagian lagi salah. Interpretasi sebagai sumber subyektifitas dikatakan benar, karena tanpa penafsiran sejarawan, data tidak bisa berbicara. Sejarawan yang jujur, akan mencantumkan data dan keterangan dari mana data itu diperoleh. Orang lain dapat melihat kembali dan menafsirkan ulang. Itulah sebabnya, subyektifitas penulis sejarah diakui, tetapi untuk dihindari. Interpretasi mengandung maksud sebagai penafsiran terhadap data yang terkumpul setelah dilakukan penyeleksian atau pengujian sumber (kritik sumber).
    Tahap keempat adalah tahap historiografi. Historiografi atau tulisan sejarah atau kisah sejarah merupakan rekaman tentang semua yang telah terjadi yang berada alam kerajaan kesadaran manusia (Barnes dalam Herlina-Lubis, 2000: 9).

    SUMBER :blog. unpad.ac.id.

  95. rai muti'ah (5525067458) said

    METODE PENELITIAN SEJARAH
    1. Memilih topik penulisan yang tepat/sesuai
    2. Mencari dan memilih bukti-bukti sejarah yang sesuai dengan topik
    3. Membuat berbagai catatan penting (teknik membuat catatan)
    4. Kritik sumber : mengevaluasi secara kritis semua bukti yang ada
    5. Menyusun hasil-hasil penelitian dalam suatu sistematika tertentu yang telah
    disiapkan sebelumnya
    6. Menyajikan dalam suatu cara yang dapat menarik perhatian dan
    mengkomunikasikan kepada para pembaca

  96. Annisa Rahmah (5525075027) said

    Penelitian Historis

    Penelitian ditujukan kepada rekonstruksi masa lampau sistematis dan objektif memahami peristiwa-peristiwa masa lampau itu.
    Data yang dikumpulkan pada penelitian ini sukar dikendalikan. Maka tingkat kepastian pemecahan permasalahan dengan metode ini adalah paling rendah. Data yang dikumpulkan biasanya hasil pengamatan orang lain seperti surat-surat arsip atau dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini jika ditujukan kepada kehidupan pribadi seseorang, maka penelitian disebut penelitian biografis.

    Sumber:
    http://fadliyanur.blogspot.com/2008/02/jenis-jenis-penelitian.html

  97. yenni anggraini 5525067464 said

    Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.
    Sumber : http://www.isekolah.org/file/h_1090893369.doc -

  98. Siti Hodizah (5525067452) said

    Penelitian Sejarah ( History )

    Sejarah adalah ilmu pengetahuan dengan umumnya yang berhubungan dengan cerita,sebagai hasil penfsiran kejadian-kejadian dalam masyarakat manusia pada waktu yang telah lampau atau tanda-tanda yang lain. (Muhammad Yamin)
    History (Inggris) adalah sesuatu yang telah terjadi,yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa tertentu yang disusun dalam hubungan yang kronologis .
    1.Metode khas sejarawan untuk merekonstruksi secara kritis, analitis,
    imajinatif masa lampau manusia berdasarkan data, peninggalan, bukti tulisan, rekaman
    2. Pernyataan, pendapat + pandangan

    Kata HISTORY yang dipadankan dengan SEJARAH memiliki 4 pengertian :
    1.Sesuatu peristiwa, suatu kejadian, sesuatu yang telah berlalu
    2.Riwayat dari peristiwa / kejadian yang telah berlalu
    3.Semua pengetahuan tentang masa lalu (khususnya tentang masyarakat tertentu)
    4.Ilmu yang berusaha menentukan dan mewariskan pengetahuan

    SITI HODIZAH
    5525067452
    Pend.Tata Busana (Ekstensi)06

    Sumber :www.google.com
    Hanckey pbwiki.com

  99. RUSTANTO said

    Penelitian History adalah :
    Sebagai suatu studi keilmuan tentang segala sesuatu yang telah dialami manusia di waktu lampau dan yang telah meninggalkan jejak-jejaknya di waktu sekarang, di mana tekanan perhatian terutama diletakkan pada aspek peristiwanya sendiri, dalam hal ini terutama yang bersifat khusus dan segi-segi urutan perkembangannya, yang kemudian disusun dalam suatu cerita sejarah.
    Sebagai suatu studi yang berusaha untuk mendapatkan pengertian tentang segala sesuatu yang telah dialami (diucapkan, dipikirkan, dan
    dilaksanakan) oleh manusia di masa lampau yang bukti-buktinya masih bisa ditelusuri/diketemukan masa sekarang.

    FUNGSI DAN KEGUNAAN SEJARAH
    SEJARAH ITU MEMBANGKITKAN IMAJINASI
    MEMPERLUAS WAWASAN INTELEKTUAL
    MEMPERDALAM SIMPATI
    MEMBANTU MENGENDALIKAN KHAYALAN YANG SEBENARNYA DALAM MIMPI
    WAHANA IDEAL UNTUK MENDIDIK MANUSIA AGAR BERPIKIR SECARA BEBAS
    MENGAJARKAN KEPADA MASYARAKAT CARA BERPIKIR
    MENINGKATKAN KREATIVITAS

    RUSTANTO
    5525067435
    Pend.Tata Busana (ekstensi) 06
    Sumber : http://www.google.com
    Pengantar ilmu sejarah .ppt

  100. YULI ENDAH MAWATI (5525067461) said

    Penelitian historical comparative
    Menjelaskan aspek-aspek kehidupan sosial yang terjadi di masa lalu atau yang terjadi pada kebudayaan yang berbeda.Penelitian historis bertujuan untuk merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi dan memverifikasikan, serta mensistematiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat, dihubungkan dengan fakta yang ada pada masa sekarang dan proyeksi masa depan.

    Sumber:
    analisisdata.com/main/filestore2/download/23/Metodologi%20Penelitian.pdf

  101. rina ANGELINA said

    RINA ANGELINA
    5525067465
    SI “EKSTENSI”2006

    Penelitian Historis

    Penelitian ditujukan kepada rekonstruksi masa lampau sistematis dan objektif memahami peristiwa-peristiwa masa lampau itu.

    Data yang dikumpulkan pada penelitian ini sukar dikendalikan. Maka tingkat kepastian pemecahan permasalahan dengan metode ini adalah paling rendah. Data yang dikumpulkan biasanya hasil pengamatan orang lain seperti surat-surat arsip atau dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini jika ditujukan kepada kehidupan pribadi seseorang, maka penelitian disebut penelitian biografis.

  102. RINA ANGELINA said

    RINA ANGELINA
    5525067465
    SI TATA BUSANA EKSTENSI”2006

    Penelitian Historis

    Penelitian historis adalah penelitian ditujukan kepada rekonstruksi masa lampau sistematis dan objektif memahami peristiwa-peristiwa masa lampau itu.

    Data yang dikumpulkan pada penelitian ini sukar dikendalikan. Maka tingkat kepastian pemecahan permasalahan dengan metode ini adalah paling rendah. Data yang dikumpulkan biasanya hasil pengamatan orang lain seperti surat-surat arsip atau dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini jika ditujukan kepada kehidupan pribadi seseorang, maka penelitian disebut penelitian biografis.

    Sumber : -Drs. S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hal. 7.
    -Dr. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, 1993

  103. Penelitian Sejarah

    Penelitian sejarah berkenaan dengan analisis yang logis terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung dimasa lalu. Jadi penelitian tidak mungkin lagi mengamati kejadian yang akan diteliti. Walaupun demikian sumber datanya bisa primer, yaitu orang yang terlibat langsung dalam kejadian itu, atau sumber-sumber dokumentasi yang berkenaan dengan kejadian itu.

    Tujuan penelitian sejarah menurut Isaac (1981) adalah untuk merekonstruksi kejadian-kejadian masa lampau secara sistematis dan obyektif, melelui pengumpulan, evaluasi verifikasi, dan sintesa data diperoleh, sehingga dapat ditetapkan fakta-fakta untuk membuat suatu kesimpulan. Namun demikian kesimpulan yang diperoleh sifatnya masih hipotesis.

    Penelitian sejarah terutama dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tentang : kapan kejadian itu berlangsung, siapa pelaku-pelakunya, dan bagaimana prosesnya. Contoh: penelitian untuk mengetahui perkembangan bisnis di Indonesia antara tahun 1600 s/d 1945.

    Sumber :
    Program Magister Ilmu Administrasi STIAMI : http://pascasarjana-stiami.ac.id
    Versi Online : http://pascasarjana-stiami.ac.id/?pilih=news&aksi=lihat&id=20

    DEWI RAHAYU PUSPITA SARI
    5525067457
    S1 TATA BUSANA EKSTENSI”2006

  104. ifa kholipah (5525067454) said

    Metode Penelitian Historis (historical research)

    1. Pengertian

    Metode Penelitian historis adalah usaha untuk mempelajari dan menggali fakta-fakta dan menyusun kesimpulan mengenai peristiwa-peristiwa masa lampau. Dalam penelitian ini peneliti dituntut untuk menemukan fakta, menilai dan menafsirkan fakta yang diperolehnya secara sistematik obyektif untuk memahami masa lampau. Temuan masa lampau tersebut dapat dijadikan bahan untuk masa sekarang dan meramalkan peristiwa yang akan datang .

    Dalam bidang pendidikan, penelitian histories disamping digunakan dalam penelitin sejarah dan purbakala, biasa juga untuk meneliti perkembangan sistim pendidikan, kurikulum, penilaian dari periode ke periode sebagai bahan untuk menilai keadaan yang berlaku sekarang, bahkan sebagai bahan untuk masa mendatang (Nana Sudjana dan Ibrahim, 2004;81 )

    Menurut Sumadi Suryabrata, dalam bukunya “metodologi penelitian”, mengatakan bahwa metode penelitis histories bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan serta mengsintesiskan bukti-bukti untuk menegakan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat (Suryabrata, 2003; 73 ).

    Menurut Djudju Sudjana, dalam diktat “ dasar-dasar metode penelitian sosial dan pendidikan “ mengatakan bahwa metode penelitian histories adalah untuk merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, melalui kegiatan pengumpulan, evaluasi, verifikasi dan sintesis dari bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.

    Contoh, studi mengenai praktek “bawon” di daerah pedesaan di Jawa Tengah, yang bermaksud memahami dasar-dasarnya diwaktu yang lampau serta relevansinya untuk masa kini; studi ini dimaksutkan untuk mengetes hipotesis bahwa nilai-nilai social tertentu serta rasa splidaritas memainkan peranan penting dalam berbagai kegiatan ekonomi pedesaan.

    Ciri-ciri
    a. Penelitian historis lebih tergantung pada data yang diopsevasi oleh penelitian sendiri.
    b. Berlainan dengan anggapan yang popular, penelitin histories harus tertib-ketat, sistematis dan tuntas; seringkali penelitin yang dikatakan sebagai suatu penelitian histories hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliable dan berat sebelah.
    c. Penelitian histories tergantung pada dua data, yaitu data primer dan data sekunder.
    d. Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik, yaitu kritik eksternal dan kritik internal.
    e. Walaupun penelitian histories mirip dengan penelitian kepustakaan yang mendahului namun lebih tuntas mencari informasi yang lebih luas. Penelitian histories juga menggali informasi-informasi yang lebih tua dari pada yang umum dituntut dalam penelaan kepustakaan.

    sumber :
    1. Djudju Sudjana, Prof. Ph.D, M.Ed, Dasar-Dasar Metode Penelitan Sosial dan Pendidikan, SPS, UPI, 2007.

    2. Nana Sudjanan, Dr dan Ibrahim.Dr, MA, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2004.

    3. Rochiati Wiriaatmadja, Prof, Dr, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Remaja Rosdakarya, Bandung,2005.

    4. Sumadi Suryabrata, B.A, Drs, M.A, Ed.S, Ph.D, Metodologi Penelitian, Raja Gravindo Persada, Yogyakarta, 2003. BAB III

    nama: Ifa kholipah
    No rek : 5525067454
    pend. tata busana extensi 06

  105. IRNA FATIMAH 5525067436 said

    PENELITIAN HISTORIS
    menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.

    PENELITIAN HISTORIS
    Kata sejarah atau historis adalah gambaran secara kritis seluruh kebenaran kejadian atau fakta masa lampau. Berarti penelitian sejarah (historis) adalah penelitian yang berusaha merekonstruksi kejadian masa lalu dengan syarat sistematis, objektif dan akurat.
    Contoh : penelitian historis dalam pendidikan kesenirupaan : pelaksanaan pendidikan Program Khusus Diploma Pendidikan Guru Kerajinan dan pengangkatannya; pengembangan kurikulum SMA yang mengintegrasikan pendidikan ketrampilan vokasional atau uji coba kurikulum SMA.

  106. IRNA FATIMAH 552507436 said

    Penelitian Historis
    Kata sejarah atau historis adalah gambaran secara kritis seluruh kebenaran kejadian atau fakta masa lampau. Berarti penelitian sejarah (historis) adalah penelitian yang berusaha merekonstruksi kejadian masa lalu dengan syarat sistematis, objektif dan akurat.
    Contoh : penelitian historis dalam pendidikan kesenirupaan : pelaksanaan pendidikan Program Khusus Diploma Pendidikan Guru Kerajinan dan pengangkatannya; pengembangan kurikulum SMA yang mengintegrasikan pendidikan ketrampilan vokasional atau uji coba kurikulum SMA.

    PENELITIAN HISTORIS
    Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.

    Sumber :
    - http://www.isekolah.org/file/h_1090893369.doc
    - andieirfan.multifly.com/journal/item/9 – 46k

    IRNA FATIMAH 5525067436
    SI Tata busana ext’ 06

  107. fitri pratiwi (5525067453) said

    Penelitian historis ;
    menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.

    sumber :http://www.google.co.id/search?q=penelitian+historis&hl=id&start=0&sa=N

  108. Ria Maisalinia (5525067440) said

    Penelitian historis

    Dalam penelitian ini pokok pembicaraan dipusatkan secara eksklusif terhadap kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa di masa lampau, berbeda dengan semua metodologi penelitian yang lain.

    Apa sebenarnya penelitian historis ini ?

    Penelitian ini memfokuskan pada keadaan masa yang telah lalu. Aspek-aspek masa silam tersebut dikaji, meneliti kembali peninggalan masa lalu seperti dokumen-dokumen, barang-barang peninggalan sejarah, mewawancarai para pelaku sejarah yang masih hidup. Lalu dibuatlah analisa kesimpulan, dengan cara mengkontruksi kembali seteliti mungkin apa sebenarnya yang terjadi pada waktu itu. Dilanjutkan dengan mengklarifikasi mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Tapi berhubung informasi yang dikumpulkan tidak lengkap maka tidak bisa menjabarkan kejadian yang sebenarnya.

    Acuan dari penelitian historis

    Para peneliti pendidikan melakukan pengkajian historis karena ada beberapa alasan :

    a) Supaya kita waspada kepada kejadian yang telah terjadi di masa lalu, dan membuat pelajaran dari keberhasilan dan kegagalan di masa lalu.

    b) Mempelajari apa-apa yang telah diperbuat di masa lalu, lalu kita lihat apakah hal tersebut bisa diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi pada saat ini.

    c) Membantu memprediksi. Kalau pendekatan yang telah dicobakan sebelumnya, meskipun waktu berbeda tapi dapat mengilhami para pembuat keputusan supaya bisa berhasil.

    d) Dapat menguji hypotesa yang menyangkut suatu hubungan.

    e) Untuk memahami kegiatan-kegiatan dan kebijaksanaan pendidikan sekarang ini. segala sesuatu baik itu praktek, pengajaran, kegiatan di laboratorium dan sebagainya bukan hal yang baru, tapi hasil dari penemuan dari masa yang lampau.

    Pertanyaan-pertanyaan apa yang berusaha dijawab melalui penelitian historis ini ?

    a) Bagaimana para pelajar di amerika utara dididik selama perang saudara ?

    b) Bagaimana jenis pengajaran yang diberikan di kelas tertentu, seratus tahun yang

    c) Lalu ?

    d) Dsb

    Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian historis

    a) Pembatasan masalah yang hendak diselidiki

    b) Penempatan sumber-sumber informasi sejarah yang relevan

    c) Penyimpulan dan peng-evaluasian

    d) Penyajian dan penafsiran dalam kaitannya dengan titik permasalahan yang menjadi Objek study

    sumber : http://blog.360.yahoo.com/blog-z0yPWug4a6NVUQOj_kM-?cq=1&p=106

  109. selly murdiani (5525067441) said

    PENELITIAN HISTORIS

    Adalah penelitian yang bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverikasikan, serta mensitetiskan bukti – bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.seringkali penelitian yang demikian itu berkaitan dengan hipotesis tertentu.

    langkah – langkah :
    1. definisi masalah, mengajukan pertanyaan – pertanyaan berikut kepada diri sendiri
    2. rumuskan tujua penelitian dan jika mungkin rumuskan hipotesis yang akan memberi arah dan fokus bagi kegiatan penelitian itu.
    3. kumpulkan data, dengan selalu mengingat perbedaan antara sumber primer dan sumber sekunder.
    4. evaluasi data yang diperoleh dengan melakukan kritik eksternal dan kritik internal.
    5. tuliskan laporan.

    SUMBER ;
    Sumadi suryabrata, Metodologi penelitian, Jakarta, PT RajaGrafindo persada, 2002

  110. Dian Avriyanti (5525067456) said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    Penelitian Historis

    Metode historis adalah proses menguji dan menganalisis kesaksian sejarah guna menemukan data yang otentik dan dapat dipercaya, serta usaha mensintesiskan fakta-fakta itu menjadi sebuah kisah sejarah. Tahap-tahap penelitian dari metode historis ini adalah heuristik atau pencarian sumber sejarah, kritik intern dan ekstem, interpretasa atau penafsiran dan historiografi atau penulisan.

    Kata sejarah atau historis adalah gambaran secara kritis seluruh kebenaran kejadian atau fakta masa lampau. Berarti penelitian sejarah (historis) adalah penelitian yang berusaha merekonstruksi kejadian masa lalu dengan syarat sistematis, objektif dan akurat.

    Contoh penelitian historis dalam pendidikan kesenirupaan : pelaksanaan pendidikan Program Khusus Diploma Pendidikan Guru Kerajinan dan pengangkatannya; pengembangan kurikulum SMA yang mengintegrasikan pendidikan ketrampilan vokasional atau uji coba kurikulum SMA.

    http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-0529106-110201/
    http://andieirfan.multiply.com/journal/item/9

  111. Adhitia Kusuma W ( 5525067451) said

    PENELITIAN HISTORIS ( SEJARAH )

    penilitin historis atau sejarahadalah pengumpilan data sistematis dan evaluasi yang objektif dari data – data yang berkaitan dengan kejadian – kejadian di masa lampau untuk menguji hipotesis sehubungan dengan sebab akibat atau kecenderungan kejadia – kejadian tersebut yang dapat membantu menerangkan kejadian masa kini dan mengantisifasi kejadian masa yang akan datang.

    langkah yang perlu dilakukan dalam penelitian historis ( sejarah ) pada pokoknya sama dengan penelitian yang lainnya yaitu :
    1. mendefinisikan masalah.
    2. perumusan hipotesis ( pertanyaan yang harus dijawab ).
    3. pengumpulan data secara sistematis .
    4. evaluasi data secara objektif.
    5. komfirmasi
    6. diskonfirmasi dari hipotesis.

    sumber :
    drs. sumanto,M.A. (1990 ) ” metodologo penelitian sosial dan pendidikan “.Andi Offset : Jakarta

  112. Dian Avriyanti (5525067456) said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    Penelitian Historis

    Metode historis adalah proses menguji dan menganalisis kesaksian sejarah guna menemukan data yang otentik dan dapat dipercaya, serta usaha mensintesiskan fakta-fakta itu menjadi sebuah kisah sejarah. Tahap-tahap penelitian dari metode historis ini adalah heuristik atau pencarian sumber sejarah, kritik intern dan ekstem, interpretasa atau penafsiran dan historiografi atau penulisan.

    Kata sejarah atau historis adalah gambaran secara kritis seluruh kebenaran kejadian atau fakta masa lampau. Berarti penelitian sejarah (historis) adalah penelitian yang berusaha merekonstruksi kejadian masa lalu dengan syarat sistematis, objektif dan akurat.

    Contoh penelitian historis dalam pendidikan kesenirupaan : pelaksanaan pendidikan Program Khusus Diploma Pendidikan Guru Kerajinan dan pengangkatannya; pengembangan kurikulum SMA yang mengintegrasikan pendidikan ketrampilan vokasional atau uji coba kurikulum SMA.

    Sumber :
    http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-0529106-110201/
    http://andieirfan.multiply.com/journal/item/9

  113. EKA APRIANA (5525067459) said

    PENELITIAN HISTORIS

    Tujuan Penelitian Historis adalah untuk membuat rekontruksi masa lampau secara sistemis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan serta mensintesiskan bukti – bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat. sering kali penelitian yang demikian itu berkaitan dengan hipotesis – hipotesis tertentu.

    Beberapa ciri – ciri penelitian Historis :
    1. Penelitian historis lebih tergantung pada data yang diobsevasi orang lain dari pada yang diobsevasi oleh peneliti sendiri.
    2. penelitian historis tergantung kepada dua macam data, yakni data primer dan data skunder.
    3. untuk menentukan bobot data biasanya dilakukan kritik, yaitu kritik eksternal dan internal
    4. berlainan dengan anggapan yang populer, penelitian historis seharusnya lebih ketat, sistemis, dan tuntas

    SUMBER :
    Endry Boeriswati, Metodologi Penelitian Pendidikan.

  114. Mochamad Asgofur (5525067450) said

    Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.

    Sumber: http://www.isekolah.org/file/h_1090893369.doc

  115. Lisya Maryati (5525067444) said

    1) Penelitian Historis
    Penelitian ditujukan kepada rekonstruksi masa lampau sistematis dan objektif memahami peristiwa-peristiwa masa lampau itu.
    Data yang dikumpulkan pada penelitian ini sukar dikendalikan. Maka tingkat kepastian pemecahan permasalahan dengan metode ini adalah paling rendah. Data yang dikumpulkan biasanya hasil pengamatan orang lain seperti surat-surat arsip atau dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini jika ditujukan kepada kehidupan pribadi seseorang, maka penelitian disebut penelitian biografis.
    Sumber: http://fadliyanur.blogspot.com/2008/02/jenis-jenis-penelitian.html

  116. AMELIA NOFINDA (5525067455) said

    AMELIA NOFINDA
    5525067455
    Pend.Tata Busana /S1
    Non-Reg 2006

    Metode Penelitian Historis (historical research)

    Pengertian

    Metode Penelitian historis adalah usaha untuk mempelajari dan menggali fakta-fakta dan menyusun kesimpulan mengenai peristiwa-peristiwa masa lampau. Dalam penelitian ini peneliti dituntut untuk menemukan fakta, menilai dan menafsirkan fakta yang diperolehnya secara sistematik obyektif untuk memahami masa lampau. Temuan masa lampau tersebut dapat dijadikan bahan untuk masa sekarang dan meramalkan peristiwa yang akan datang .

    Dalam bidang pendidikan, penelitian histories disamping digunakan dalam penelitin sejarah dan purbakala, biasa juga untuk meneliti perkembangan sistim pendidikan, kurikulum, penilaian dari periode ke periode sebagai bahan untuk menilai keadaan yang berlaku sekarang, bahkan sebagai bahan untuk masa mendatang (Nana Sudjana dan Ibrahim, 2004;81 )

    Menurut Sumadi Suryabrata, dalam bukunya “metodologi penelitian”, mengatakan bahwa metode penelitis histories bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan serta mengsintesiskan bukti-bukti untuk menegakan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat (Suryabrata, 2003; 73 ).

    Menurut Djudju Sudjana, dalam diktat “ dasar-dasar metode penelitian sosial dan pendidikan “ mengatakan bahwa metode penelitian histories adalah untuk merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, melalui kegiatan pengumpulan, evaluasi, verifikasi dan sintesis dari bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.

    Sumber :

    1. Djudju Sudjana, Prof. Ph.D, M.Ed, Dasar-Dasar Metode Penelitan Sosial dan Pendidikan, SPS, UPI, 2007.

    2. Nana Sudjanan, Dr dan Ibrahim.Dr, MA, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2004.

    3. Rochiati Wiriaatmadja, Prof, Dr, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Remaja Rosdakarya, Bandung,2005.

    4. Sumadi Suryabrata, B.A, Drs, M.A, Ed.S, Ph.D, Metodologi Penelitian, Raja Gravindo Persada, Yogyakarta, 2003.

  117. Rani anggraeni.p ( 5525067445 ) said

    penelitian korelasi merupakan teknik analisis yang melihat kecenderungan pola dalam satu variabel berdasarkan kecenderungan pola dalam variabel yang lain. Maksudnya, ketika satu variabel memiliki kecenderungan untuk naik maka kita melihat kecenderungan dalam variabel yang lain apakah juga naik atau turun atau tidak menentu. Jika kecenderungan dalam satu variabel selalu diikuti oleh kecenderungan dalam variabel lain, kita dapat mengatakan bahwa kedua variabel ini memiliki hubungan atau korelasi.

  118. Rani anggraeni.p ( 5525067445 ) said

    penelitian historis adalah prosedur pemecahan maslah dengan menggunakan data masa lalu atau peninggalan-peninggalan baik untuk memahami kejadian atau suatu keadaan yang berlangsung pada masa lalu. terlepas dari keadaan masa sekarang maupun untuk memahami kejadian atau keadaan masa sekarang dalam hubungannya dengan kejadian atau keadaan masa lalu selanjutnya kerap kali juga hasilnya dapat dipergunakan untuk meramalkan kejadian atau keadaan masa yang akan datang. dengan kata lain metode historis dapat dilakukan dengan 2 cara sebagai berikut :
    1. untuk menggambarkan gejala-gejala yang terjadi pada masa lalu sebagai suatu rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri terbatas dalam waktu tertentu dimasa lalu.
    2. menggambarkan gejala-gejala masa lalu sebagai sebab suatu keadaan atau kejadian pada masa sekarang sebagai akibat pada masa lalu itu dipergunakan sebagai informasi untuk memperjelas kejadiaan atau keadaan masa sekarang sebagai rangkaian yang tida terputus atau saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
    oleh : Zulnaidi : Metode penelitian, 2007
    USU Repository, 2007

  119. Irma Indriani (5525067438) said

    IRMA INDRIANI
    5525067438
    S1.PEND.TATA BUSANA EKSTENSI’2006

    MEMIMPIKAN SUMBAR SEBAGAI SENTRA PENDIDIKAN INDONESIA DAN DUNIA

    Dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan menghasilkan ‘multiplier
    effect’ di sektor lain, meningkatkan kemampuan menciptakan lapangan
    kerja, memiliki kemampuan pengelolaan wilayah, sehingga bisa memimpin
    dan tidak sekedar menjadi pelayan atau pegawai orang lain.

    Walaupun tidak secara perhitungan statistik tetapi tampaknya
    orang-orang minang di rantau telah banyak melakukan prestasi-prestasi
    dan banyak berpendiikan tinggi, sehingga dengan adanya misi menjadikan
    sumbar sebagai sentra pendidikan akan banyak menarik perhatian para
    perantau.

    Sebagai sentra pendidikan maka sumbar bisa menjadi wisata pendidikan dan
    ruhani, berbeda dengan bentuk wisata lainnya maka para pendatang
    (turis) akan datang dengan rasa hormat, karena mengunjungi masyarakat
    yang berbudaya dan berpendidikan tinggi.

    Menjadikan sumbar sebagai pusat kajian-kajian keislaman nusantara, hal
    ini dimungkinkan karena secara historis telah banyak ulama-ulama yang
    lahir di tanah minang.

  120. Rani anggraeni.p ( 5525067445 ) said

    Tujuan penelitian kausal-komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.
    Penelitian kausal-komperatif bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat sebagai “dependent variable” dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan maknanya.
    Oleh :
    Dr. Hj. Dewi L. Badriah, M.Kes.

  121. Rani anggraeni.p ( 5525067445 ) said

    Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.

  122. Marliana Fatonah said

    Nama : Marliana Fatonah
    No.reg : 5525042305
    Tata Busana S1 Reguler 2004

    Penelitian Eksperimen

    Menurut Yatim Riyanto (1996: 28-40), penelitian eksperimen merupakan penelitian yang sistematis, logis, dan teliti di dalam melakukan kontrol terhadap kondisi. Dalam melakukan eksperimen peneliti memanipulasikan suatu stimulan, traetment atau kondisi-kondisi eksperimental, kemudian mengobservasi pengaruh yang diakibatkan oleh adanya perlakuan atau manipulasi tersebut.
    Dalam penelitian eksperimen, kontrol yang cermat terdapat kemungkinan masuknya pengaruh faktor lain sangat diperlukan, agar mendapatkan faktor-faktor yang benar-benar dari faktor-faktor yang dimanipulasi tadi :
    Penelitian eksperimen bertujuan :
    1. Menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian;
    2. Memprediksi kejadian atau peristiwa di dalam latar eksperimen;
    3. Menarik generalisai hubungan antar variabel.

    Penelitian Eksperimen ada dua yaitu :
    1. Penelitian Eksperimental Sungguhan ( true-Experimental research)
    Langkah-langkah pokok :
    1. melakukan survei kepustakaan yang relevan bagi masalah yang akan di garap.
    2. Identifikasi dan definisikan masalah.
    3. rumuskan hiotesis, berdasarkan atas penelaahan kepustakaan.
    4. definisikan pengetian-pengertian dasar dan variabel-variabel utama.
    5. susun rencana eksperimen :
    a. identifikasi bermacam-macam variabel yang relevan.
    b. Identifikasi variabel-variabel non-eksperimental yang mungkin mencemarkan eksperimenta, dan tentukan bagaimana caranya mengontrol variabel-variabel tersebut.
    c. tentukan rancangan eksperimennya.
    d. Pilih subjek yang representatif bagi populasi tertentu, tentukan siapa-siapa yang masuk kelompok eksp[erimen.
    e. Terapkan perlakuan
    f. Pilih atau susun alat untuk mengukur hasil eksperimen dan validasikan alat tersebut.
    g. Rancangkan prosedur pengumpulan data, dan jika mungkin lakukan pilot atau trial run test untuk menyempurnakan alat pengukur atau rancangan-rancangan eksperimennya.
    h. Rumuskan hipotesis molnya.

    6. laksanakan eksperimen.
    7. aturlah data kasar itu dalam cara yang mempermudah analisis selanjutnya; tempatkan dalam rancangan yang memungkinkan memperhitungkan efek yang diperkirakan akan ada.
    8. terapkan tes signifikan untuk menentukan taraf signifikansi hasilnya.
    9. buatlah inter pretasi mengenai hasil testing itu, berikan diskusi seperlunya, dan tulislah laporannya.

    2. Penelitian Eksperimental Semu ( quasi-Experimental research)
    Langkah-langkah pokok :
    Langkah-langkah pokok dalam melaksanakan Penelitian Eksperimental Semu adalah sama dengan langkah-langkah dalam melakukan penelitian eksperimen sungguhan , dengan pengakuan secara teliti terhadap masing-masing keterbatasan dalam hal validitas internal dan eksternal.

    Daftar Pustaka :
    Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
    Suryabrata, Sumadi. 2006. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

  123. Marliana Fatonah said

    Nama : Marliana Fatonah
    No.reg : 5525042305
    Tata Busana S1 Reguler 2004

    Penelitian Kausal Komparatif

    Penelitian kausal komparatif merupakan penelitian yang di arahkan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat berdasarkan pengamatan terhadap akibat yang terjadi dan mencari faktor yang menjadi penyebab melalui data yang di kumpulkan
    Dalam penelitian ini pendekatan dasarnya adalah memulai dengan adanya perbedaan dua kelompok, kemudian mencari faktor yang mungkin menjadi penyebab atau akibat dari perbedaan tersebut. Dalam hal ini ada dua unsur membandingkan antara dua atau lebih variabel (Fraenkel dan Wallen, 1990: 326 dan Yatim Riyanto, 1996 : 27)
    Penelitian kausal komparatif merupakan jenis penelitian expost facto, yaitu bahwa penelitian tersebut di lakukan setelah perbedaan-perbedaan dalam variabel bebas itu terjadi karena perkembangan kejadian itu secara alami(Donald Ary, dkk. Dalam Arief Furchan, 1982 : 382 dan Yatim Riyanto, 1996:27). Semua kejadian yang dipersoalkan sudah berlangsung lewat, sehingga tidak memungkinkan untuk dilkukan treatment sebagaimana dalam penelitian eksperimen. Kerlinger (dalam Donald Ary dan Yatim Riyanto, 1996) memberikan batasan tentang penelitian expost facto, yakni penyelidikan empiris yang sistematis dimana ilmuan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena perwujudan variabel tersebut telah terjadi, atau karena variabel tersebutpada dasarnya memang tidak dapat dimanupulasi. Kesimpulan tentang hubungan di antara variabel-variabel itu dilakukan tanpa intervensi langsung, berdasarkan perbedaan yang mengiringi variabel bebas dan variabel terikat itu.
    Jadi, ciri pokok dari penelitian kausal komparatif adalah bahwa penelitian komparatif merupakan penelitian expost facto, di mana peneliti dalam membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat dari variabelnya tidak dapat melakukan treatment. Penelitian ini cenderung mengandalkan data kuantitatif.
    Contoh :
    Penelitian untuk mencari perbedaan prestasi belajar di bidang studi IPA siswa SD yang berada di daerah perkotaan dan perdesaan.

    Langkah-langkah Pokok
    1. Definisi masalah
    2. Lakukan penelaahan kepustakaan.
    3. Rumuskan hipotesis-hipotesis
    4. Rumuskan asumsi-asumsi yang mendasari hipotesis-hipotesis itu serta prosedur-prosedur yang akan digunakan.
    5. Rancang cara pendekatannya:
    a. Pilihlah subjek-subjek yang akan digunakan serta sumber-sumber yang relevan;
    b. Pilihlah atau susunlah teknik yang akan digunakan untuk mengumpulkan data;
    c. Tentukan kategori-kategori untuk mengklasifikasikan data yang jelas, sesuai dengan tujuan studi, dan dapat menunjukkan kesamaan atau saling hubungan.

    6. validasikan teknik untuk mengumpulkan data itu, dan interpretasikan hasilnya dalam cara yang jelas dan cermat.
    7. kumpulkan dan analisis data
    8. Susun laporannya.

    Daftar Pustaka :
    Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
    Suryabrata, Sumadi. 2006. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

  124. Marliana Fatonah said

    Nama : Marliana Fatonah
    No.reg : 5525042305
    Tata Busana S1 Reguler 2004

    Penelitian History/ Penelitian Sejarah
    Penelitian sejarah berbeda dengan penelitian lain. Menurut Yatim Riyanto (1996:22), penelitian ini merupakan Expost facto research yang dinaungi oleh penelitian kualitatif. Dalam penelitian sejarah tidak terdapat manupulasi atau kontrol terhadap variabel, sebagaimana dalam penelitian eksperimen.

    Penelitian sejarah adalah penelitian yang secara eksklusif memfokuskan kepada masa lalu. Penelitian ini mencoba merekonstruksikan apa yang terjadi pada masa yang lalu selengkap dan seakurat mungkin, dan biasanya menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Dalam mencari data dilakukan secara sistematis agar mampu menggambarkan, menjelaskan dan memahami, kegiatan atau peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu (Jack R. Fraenkel & Norman E. Wallen, 1990 :411 dalam Yatim Riyanto 1996 : 22).

    Berkaitan dengan penelitian sejarah tersebut , John W. Best (1977 ) dalam Riyanto (1966 : 22) menyatakan bahwa sejarah merupakan ”rekaman” prestasi manusia. Bukan semata-mata daftar rentetan pristiwa secara kronologis, melainkan gambaran mengenai berbagai hubungan yang benar-benar manunggal antara manusia, peristiwa, waktu dan tempat. Objek observasi sejarah tidak dapat dipandang secara terpisah atau terpotong-potong. Tidak ada orang yang dapat dijadikan subjek penelitian sejarah tanpa diperhitungkan juga interaksinya dengan gagasan, gerakan atau intuisi yang hidup di zamannya.

    Sementara Donald Ary dkk. (1980) dalam Yatim Riyanto (1996 : 22) jutga menyatakan bahwa penelitian historis adalah usaha untuk menetapkan fakta dan mencapai simpulan mengenai hal-hal yang telah lalu, yang dilakukan secara sistematis dan objektif oleh ahli sejarah dalam mencari, mengevaluasi, dan menafsirkan bukti-bukti untuk mempelajari masalah baru tersebut.

    Berdasarkan pandangan yang disampaikan oleh para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian penelitian sejarah mengandung beberapa unsur pokok yaitu :
    1. adanya proses pengkajian peristiwa atau kejadian masa lalu (berorientasi pada masa lalu);
    2. usaha dilakukan secara sistematis dan objektif;
    3. merupakan serentetan gambaran masa lalu yang integratif antara manusia;
    4. dilakukan secara interaktif dengan, gagasan, gerakan, dan intuisi yang hidup pada zamannya (tidak dapat dilakukan secara parsial).

    Tujuan
    Adapun tujuan penelitian sejarah adalah untuk memahami masa lalu, dan mencoba memahami masa kini atas dasar peristiwa atau perkembangan dimasa lampau (John W. Best, 1977 dalam Yatim Riyanto 1996 : 23)

    Sedangkan Donald Ary (1980)n dalam yatim Riyanto (1966:23) menyatakan bahwa penelitian historis untuk memperkaya pengetahuan peneliti tentang bagaimana dan mengapa suatu kejadian masa lalu dapat terjadi serta proses bagaimana masa lalu itu menjadi masa kini. Pada akhirnya, diharapkan meningkatnya kepahaman tentang kejadian masa kini serta diperolehnya dasar yang lebih rasional untuk melakukan pilihan-pilihan dimasa kini.

    Daftar Pustaka :
    Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

  125. Marliana Fatonah said

    Nama : Marliana Fatonah
    No.reg : 5525042305
    Tata Busana S1 Reguler 2004

    Penelitian Korelasional (correlational Research)

    Penelitian korelasional adalah penelitian yang akan melihat hubungan antara variabel atau beberapa variabel dengan variabel lain. Variabel yang digunakan untuk memprediksi disebut variabel prediktor, sedangkan variabel yang diprediksi disebut variabel kriterium atau variabel kriteria.

    Istilah lain dari variabel prediktor ialah variabel independen (bebas), dan variabel Kriterium atau kriteria biasanya dapat disebut variabel dependen (terikat).

    Tujuan

    Tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi.

    Karakteristik penelitian korelasional antara lain :
    • Menghubungkan 2 variabel
    • Besarnya ubungan di dasarkan pada koefisien
    korelasi
    • Dalam melihat hubungan tidak dilakukan
    manipulasi sebagai mana dalam penelitian
    eksperimenal
    • Datanya bersifat kuantitaif

    Penelitian korelasional mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain adalah sebagai berikut :
    • Hasilnya Cuma mengidentifikasikan apa
    sejalan dengan apa, tidak mesti menunjukkan
    saling hubungan yang bersifat kausal.

    • Jika dibandingkan dengan penelitian
    eksperimental, penelitian korelasional itu
    kurang tertib-ketat, karena kurang melakukan
    kontrol terhadap variabel-variabel bebas.

    • Pola saling hubungan itu sering tak menentu
    dan kabur.

    • Sering merangsang penggunaannya sebagai
    semacam short-gun approach, yaitu
    memasukkan berbagai data tanpa pilih-pilih
    dan menggunakan setiap interpretasi yang
    berguna atau bermakna.

    Contoh penelian korelasional sebagai berikut :
    • Studi untuk mengetahui hubungan antara skor
    tes SPMB dengan prestasi belajar mahasiswa
    di perguruan tinggi.

    • Studi untuk memprediksi keberhasilan belajar
    mahasiswa berdasarkan skor motivasi belajar

    Langkah-langkah pokok penelitian korelasional :
    • Definisi masalah
    • Lakukan penelaahan kepustakaan.
    • Rancangkan cara pendekatannya :
    a. Identifikasikan variabel-variabel yang
    relevan
    b. Tentukan subjeknya yang sebaik-baiknya
    c. Pilih atau susun alat pengukur yang cocok
    d. Pilih metode korelasional yang cocok
    untuk masalah yang sedang di garap.

    • Kumpulkan data
    • Analisa data yang telah terkumpul dan buat
    interpretasinya.
    • Tuliskan laporan.

    Daftar Pustaka :
    Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

    Suryabrata, Sumadi. 2006. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

  126. Risa Rubiyanti said

    Risa Rubiyanti
    5525042301
    Penelitian pendidikan

    Penelitian Korelasi

    Penelitian korelasi adalah penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variable-variabel yang berbeda dalam suatu populasi.
    Sifat perbedaan yang utama adalah usaha untuk menaksir hubungan dan bukan sekadar deskripsi( Fox,1991). Disini peneliti dapat mengetahui berapa besar kontribusi variable-variabel bebas terhadap variable terikatnya serta besarnya arah hubungan yang terjadi.

    Sumber :
    Umar, Husain. 2005. Metode penelitian untuk skripsi dan tesis bisnis. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

    Penelitian Kausal-Komparatif (Ex-Post Facto)

    Menurut Gay (1976), penelitian ini berjalan dengan cara menentukan akibat lalu menemukan sebab. Menurut Kerlinger (1976), penelitian ini merupakan pencarian empirik yang sistematik dimana peneliti tidak dapat mengontrol variable bebasnya, karena peristiwa telah terjadi atau karena sifatnya tidak dapat dimanipulasi.

    Sumber :
    Umar, Husain. 2005. Metode penelitian untuk skripsi dan tesis bisnis. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

    Penelitian Sejarah

    Kecenderungan metode ini bertumpu pada kegiatan mengevaluasi suatu objek seperti peristiwa atau tokoh masa lampau dipandang dari sudut standar dan kebudayaan dewasa ini, dengan mengingat kebudayaan dan standar yang ada sekarang, maka peneliti sejarah dihadapkan kepada masalah perspektif sejarah.

    Sumber :
    Umar, Husain. 2005. Metode penelitian untuk skripsi dan tesis bisnis. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

  127. Risa Rubiyanti said

    Karakteristik Penelitian Eksperimen

    Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

    Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen

    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu,
    (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
    (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
    (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
    (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:
    a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen;
    b) menentukan cara mengontrol;
    c) memilih rancangan penelitian yang tepat;
    d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian;
    e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan;
    g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

    (5) Melaksanakan eksperimen.
    (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.

    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
    (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

    DAFTAR PUSTAKA

    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional

    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

    sumber :
    http://ardhana12.wordpress.com/2008/02/08/penelitian-eksperimen-satu-metode-dalam-ptk/

    08 April 2008 diambil jam 11.29 WIB.

  128. Herwini Suci Fauziah said

    Penelitian survai : digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil.
    3 karakteristik utama dalam penelitian survai, yaitu :
    1. Informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskrisikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu,
    2. Informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan tertulis maupun lisan dari suatu populasi,
    3.Informasi diperoleh dari sampel, bukan ari populasi.
    langkah-langkah survai menurut Rea dan Parker, yaitu :
    1. Identification of thefocus of the study and method of research,
    2. The reseach schedule and budget,
    3. Estabilishment of an information base,
    4. The sampling frame,
    5. Determination of sample size and sample selection,
    6. Design ofthe survey instrument,
    7. Pretest of survey instrument,
    8. Selection and training of interviewers,
    9. Implementation of the survey,
    10. Codification of the completed questionnaires and computerized data
    entry,
    11. Data analysis and the final report.

    Daftar Pustaka

    Sukmadinata, Nana Syaodih. ( 2007 ). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

    Nama : HERWINI SUCI FAUZIAH
    No. Reg. : 5525067437
    Jurusan : Pendidikan Tata Busana Ekst’ 06
    Universitas Negeri Jakarta

  129. Rai muti'ah (5525067458) said

    Penelitian survei merupakan upaya pengumpulan informasi dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu. Metode ini bertitik tolak pada konsep, hipotesis, dan teori yang sudah mapan sehingga tidak akan memunculkan teori yang baru. Penelitian survei memiliki sifat verifikasi atau pengecekan terhadap teori yang sudah ada (Mantra, 2001).
    Penelitian survei merupakan perangkat penelitian yang murah dan cepat sehingga informasi yang dibutuhkan dapat dihasilkan secara akurat dan tepat waktu

    Penelitian Survei:
    • Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
    • Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
    • Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
    • Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
    • Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan

    Sumber: http://www.google.com “penelitian survey”

    Nama : Rai Muti’ah
    No. Reg. : 5525067458
    Jurusan : Pendidikan Tata Busana Ekst’ 06
    Universitas Negeri Jakarta

  130. erna eriyana 5525067432 busana S1 ekstensi 2006 said

    Penelitian Historis
    Penelitian historis
    Dalam penelitian ini pokok pembicaraan dipusatkan secara eksklusif terhadap kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa di masa lampau, berbeda dengan semua metodologi penelitian yang lain.
    Apa sebenarnya penelitian historis ini ?
    Penelitian ini memfokuskan pada keadaan masa yang telah lalu. Aspek-aspek masa silam tersebut dikaji, meneliti kembali peninggalan masa lalu seperti dokumen-dokumen, barang-barang peninggalan sejarah, mewawancarai para pelaku sejarah yang masih hidup. Lalu dibuatlah analisa kesimpulan, dengan cara mengkontruksi kembali seteliti mungkin apa sebenarnya yang terjadi pada waktu itu. Dilanjutkan dengan mengklarifikasi mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Tapi berhubung informasi yang dikumpulkan tidak lengkap maka tidak bisa menjabarkan kejadian yang sebenarnya.
    Acuan dari penelitian historis
    Para peneliti pendidikan melakukan pengkajian historis karena ada beberapa alasan :
    a) Supaya kita waspada kepada kejadian yang telah terjadi di masa lalu, dan membuat pelajaran dari keberhasilan dan kegagalan di masa lalu.
    b) Mempelajari apa-apa yang telah diperbuat di masa lalu, lalu kita lihat apakah hal tersebut bisa diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi pada saat ini.
    c) Membantu memprediksi. Kalau pendekatan yang telah dicobakan sebelumnya, meskipun waktu berbeda tapi dapat mengilhami para pembuat keputusan supaya bisa berhasil.
    d) Dapat menguji hypotesa yang menyangkut suatu hubungan.
    e) Untuk memahami kegiatan-kegiatan dan kebijaksanaan pendidikan sekarang ini. segala sesuatu baik itu praktek, pengajaran, kegiatan di laboratorium dan sebagainya bukan hal yang baru, tapi hasil dari penemuan dari masa yang lampau.
    Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian historis
    a) Pembatasan masalah yang hendak diselidiki
    b) Penempatan sumber-sumber informasi sejarah yang relevan
    c) Penyimpulan dan peng-evaluasian
    d) Penyajian dan penafsiran dalam kaitannya dengan titik permasalahan yang menjadi Objek study

  131. erni eriyani 5525067433 busana S1 ekstensi 2006 said

    penelitian historis

    Metode Penelitian:
    Metode penelitian menggunakan “Metode Penelitian Historis”. Tujuan penelitian historis adalah melakukan rekonstruksi fenomena masa lalu secara sistematis, obyektif dan akurat untuk menjelaskan fenomena masa sekarang atau meramalkan fenomena masa yang akan datang.
    Sumber data dalam penelitian ini bersifat data sekunder, yaitu data laporan penjualan dari periode tahun 1997 hingga 2006.
    Teknik analisis/pengolahan data menggunakan perhitungan Regresi (forecasting) dengan metode trend semi average dan metode least square.

    Tujuan Penelitian:
    Untuk mengetahui tingkat penjualan produk Speedy PT Telkom, Tbk pada tahun mendatang.

    Kesimpulan:
    Dari hasil penelitian, ternyata ada kecendrungan pola penjualan pada produk Speedy PT Telkom, Jakarta Selatan.
    Wujud kecendrungan dinyatakan oleh persamaan Y = a + b X.
    Di mana a = 18353 (dengan metode trend semi average)
    23978.5 (dengan metode least square)

    b = 2250.2 (dengan metode trend semi average)
    1256.56 (dengan metode least square)
    Dengan demikian, penjualan di tahun-tahun mendatang bisa diramal dengan rumus di atas dengan menerapkannya pada tahun X.

  132. Yunda Mardianti said

    penelitian survey adalah kelogisan. Penelitian survei dilaksanakan dengan menggunakan prosedur berpikir logis, dalam arti rasional. Cara kerja yang tidak rasional tidak dapat dipakai dalam metode penelitian survei. Secara lebih spesifik, penelitian survei menggunakan cara berpikir deduktif dan induktif.

    penelitian survei dapat digunakan untuk maksud (1) penjajagan (eksploratif), (2) deskriptif, (3) penjelasan (explanatory atau confirmatory), yakni untuk menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesis, (4) evaluasi, (5) prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan datang, (6) penelitian operasional, dan (7) pengembangan indikator-indikator sosial.

    Dalam penelitian survei hal yang paling utama dilakukan oleh peneliti adalah menguraikan dan memperjelas masalah. Untuk itu, sang peneliti harus memiliki pertanyaan yang khas atau spesifik untuk kemudian dibahas dari berbagai sisi. Dari masalah yang spesifik tersebut, sang peneliti menentukan variabel-variabelnya. Variabel memiliki kedudukan sangat sentral dalam panelitian.
    Dalam penelitian survei, variabel dapat terdiri atas hal-hal yang bersifat sosiologis dan yang bersifat psikologis.

    sumber:http://puncrit.blogspot.com/2007/09/penelitian-survei.html

  133. Himatul ulya said

    Himatul ulya ( 5525067439 )

    A. Definisi penelitian Survey
    Penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu kelompok populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang utama. Salah satu kegunaan penelitian survei adalah untuk maksud deskriptif, yaitu untuk pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu atau yang diteliti (Singarimbun dan Effendi,1995:4).

    Tujuan penelitian survey adalah untuk memahami (meneliti?) tentang karakteristik dari seluruh kelompok yang hendak diteliti atau populasi dengan meneliti sebagian (subset) dari kelompok populasi tersebut yang selanjutnya disebut dengan sampel..
    Untuk Penelitian Survei:
    a. Memperoleh fakta dari gejala yang ada;
    b. Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
    c. Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
    d. Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel.

    Sumber : http://www.library.usu.ac.id.

  134. erni eriyani 5525067433 busana S1 ekstensi 2006 said

    Penelitian survei

    Penelitian ini merupakan penelitian survei, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu kelompok populasi dan meng-gunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang utama. Salah satu kegunaan penelitian survei adalah untuk maksud deskriptif, yaitu untuk pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu atau yang diteliti (Singarimbun dan Effendi,1995:4).
    Selain itu, dengan menggunakan pendekatan penelitian tersebut di atas juga dilakukan studi (pembelajaran) dan observasi serta pengamatan langsung ke lokasi penelitian yang sedang terjadi pada saat penelitian dilakukan. Studi yang dilakukan berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang terkait dengan Implementasi Kebijakan Netralitas PNS diidentifikasi terlebih dahulu (awal/prasurvei) sebagaimana yang telah dikemukakan pada Bab Pendahuluan. Melalui pendekatan penelitian ini, diharapkan dapat mengungkap dan memonitor pelaksanaan Implementasi Kebijakan Netralitas pada masing-masing lokasi penelitian sesuai dengan objek yang diteliti.

  135. erna eriyana 5525067432 busana S1 ekstensi 2006 said

    Penelitian Survei

    Penelitian survei merupakan upaya pengumpulan informasi dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu. Metode ini bertitik tolak pada konsep, hipotesis, dan teori yang sudah mapan sehingga tidak akan memunculkan teori yang baru. Penelitian survei memiliki sifat verifikasi atau pengecekan terhadap teori yang sudah ada (Mantra, 2001). Dalam perjalanannya, survei biasa digunakan untuk mengevaluasi berbagai program kesehatan (Depkes, 1998) maupun menginvestigasi berbagai status kesehatan dan penyakit yang actual di masyarakat (Frerichs & Shaheen, 2001).
    Penelitian survei merupakan perangkat penelitian yang murah dan cepat sehingga informasi yang dibutuhkan dapat dihasilkan secara akurat dan tepat waktu. Bentuk kuesionernya pun sederhana dan relatif mudah sehingga tidak memerlukan pelatihan secara khusus (Stone, 1993). Selain murah dan cepat, keunggulan lainnya adalah penelitian survei dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi secara sistematis mengenai berbagai hal, misalnya: insidensi penyakit, identifikasi faktor-faktor etiologi penyakit, investigasi kualitas hidup manusia dan perilaku masyarakat (Eaden, Mayberry & Mayberry, 1999).

  136. maharani kurniasih 5525067460 busana S1 ekstensi 2006 said

    Penelitian survei

    Metode Penelitian:
    Jenis penelitian adalah mengacu kepada metode ”Penelitian survei”. Penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data pokok.
    Variabel kualitas pelayanan yang diteliti yaitu Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance dan Empathy.
    Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang responden dengan menggunakan teknik pemilihan sampel secara acak (random).
    Dilakukan Uji coba instrumen terlebih dahulu sebelum penyebaran kuesioner untuk mengetahui tingkat validitas dan realibilitas dari masing-masing pertanyaan yang ada dalam kuesioner.
    Sedangkan pengukuran harapan nasabah dan pelaksanaan atas unsur-unsur kualitas pelayanan dilakukan dengan menggunakan skala Likert dengan 5 alternatif jawaban.

    Tujuan Penelitian:
    Untuk mengetahui dan mengevaluasi analisis kualitas pelayanan terhadap tingkat kepuasan nasabah pada PT Bank Central Asia Tbk Cabang Pembantu Citra Raya di Tangerang.

    Kesimpulan:
    Secara umum dapat disimpulkan bahwa dimensi responsiveness merupakan dimensi yang pelaksanaannya paling jauh dari harapan nasabah. Kedua adalah dimensi empathy, selanjutnya reliability, dan terakhir adalah dimensi assurance

  137. Dian Avriyanti (5525067456) said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    PENELITIAN SURVEY

    Penelitian survei merupakan upaya pengumpulan informasi dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu. Metode ini bertitik tolak pada konsep, hipotesis, dan teori yang sudah mapan sehingga tidak akan memunculkan teori yang baru. Penelitian survei memiliki sifat verifikasi atau pengecekan terhadap teori yang sudah ada (Mantra, 2001). Dalam perjalanannya, survei biasa digunakan untuk mengevaluasi berbagai program kesehatan (Depkes, 1998) maupun menginvestigasi berbagai status kesehatan dan penyakit yang actual di masyarakat (Frerichs & Shaheen, 2001).

    Penelitian survey, tentunya berbeda dengan penelitian penelitian kasus dalam hal langkah-langkah utamanya. Dalam penelitian kasus, peneliti mengamati dari dekat suatu kasus, seperti pembelajar (siswa), ruang kelas atau sebuah program. Karena penelitian kasus biasanya menyediakan informasi yang mendalam, maka kita perlu meneliti banyak hal tentang kasus-kasus tertentu, namun kita tidak banyak belajar tentang bagaimana kasus-kasus tersebut mirip satu sama lainnya. Di lain pihak, dalam penelitian survey, seorang peneliti mengamati banyak kasus, tetapi secara umum tidak meneliti tiap kasus secara mendalam. Agaknya perlu ditegaskan di sini, bahwa maksud dari penelitian survey adalah untuk meneliti satu atau beberapa variabel dari sejumlah kesatuan atau entitas yang lebih besar.

    Dalam bab ini kami akan membahas tentang karakter dasar dan penerapan penelitian survey. Kemudian kami akan mendiskusikan beberapa langkah kunci dalam merancang atau mendesain penelitian survey. Akhirnya, kami akan mengajukan serangkaian kriteria yang dipakai untuk mencermati penelitian survey dan menerapkannya pada satu contoh hasil penelitian survey.

    Penelitian survei merupakan perangkat penelitian yang murah dan cepat sehingga informasi yang dibutuhkan dapat dihasilkan secara akurat dan tepat waktu. Bentuk kuesionernya pun sederhana dan relatif mudah sehingga tidak memerlukan pelatihan secara khusus (Stone, 1993). Selain murah dan cepat, keunggulan lainnya adalah penelitian survei dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi secara sistematis mengenai berbagai hal

    Apakah Penelitian Survey Itu?

    Tujuan penelitian survey adalah untuk memahami (meneliti?) tentang karakteristik dari seluruh kelompok yang hendak diteliti atau populasi dengan meneliti sebagian (subset) dari kelompok populasi tersebut yang selanjutnya disebut dengan sampel. Banyak pembaca yang sudah familiar dengan hasil penelitan survey di bidang politik, walaupun yang disurvey hanya sedikit jumlahnya. Karena akan tidak mungkin untuk mensurvey seluruh populasi di negeri kami (AS), maka para pengumpul pendapat umum (pollsters) memilih sampel kecil yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mewakili atau merepresentasikan populasi secara keseluruhan.Hasil dari survey terhadap sampel tersebut kemudian digeneralisasikan atau diberlakukan kepada populasi. Penelitian survey biasanya didefinisikan sebagai sebuah penelitian atau penelitian tentang kelompok besar melalui penelitian langsung dari subset (sampel) dari kelompok tersebut.1

  138. Dian Avriyanti (5525067456) said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    PENELITIAN SURVEY

    Penelitian survei merupakan upaya pengumpulan informasi dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu. Metode ini bertitik tolak pada konsep, hipotesis, dan teori yang sudah mapan sehingga tidak akan memunculkan teori yang baru. Penelitian survei memiliki sifat verifikasi atau pengecekan terhadap teori yang sudah ada (Mantra, 2001). Dalam perjalanannya, survei biasa digunakan untuk mengevaluasi berbagai program kesehatan (Depkes, 199 8) maupun menginvestigasi berbagai status kesehatan dan penyakit yang actual di masyarakat (Frerichs & Shaheen, 2001).

    Penelitian survey, tentunya berbeda dengan penelitian penelitian kasus dalam hal langkah-langkah utamanya. Dalam penelitian kasus, peneliti mengamati dari dekat suatu kasus, seperti pembelajar (siswa), ruang kelas atau sebuah program. Karena penelitian kasus biasanya menyediakan informasi yang mendalam, maka kita perlu meneliti banyak hal tentang kasus-kasus tertentu, namun kita tidak banyak belajar tentang bagaimana kasus-kasus tersebut mirip satu sama lainnya. Di lain pihak, dalam penelitian survey, seorang peneliti mengamati banyak kasus, tetapi secara umum tidak meneliti tiap kasus secara mendalam. Agaknya perlu ditegaskan di sini, bahwa maksud dari penelitian survey adalah untuk meneliti satu atau beberapa variabel dari sejumlah kesatuan atau entitas yang lebih besar.

    Dalam bab ini kami akan membahas tentang karakter dasar dan penerapan penelitian survey. Kemudian kami akan mendiskusikan beberapa langkah kunci dalam merancang atau mendesain penelitian survey. Akhirnya, kami akan mengajukan serangkaian kriteria yang dipakai untuk mencermati penelitian survey dan menerapkannya pada satu contoh hasil penelitian survey.

    Penelitian survei merupakan perangkat penelitian yang murah dan cepat sehingga informasi yang dibutuhkan dapat dihasilkan secara akurat dan tepat waktu. Bentuk kuesionernya pun sederhana dan relatif mudah sehingga tidak memerlukan pelatihan secara khusus (Stone, 1993). Selain murah dan cepat, keunggulan lainnya adalah penelitian survei dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi secara sistematis mengenai berbagai hal

    Apakah Penelitian Survey Itu?

    Tujuan penelitian survey adalah untuk memahami (meneliti?) tentang karakteristik dari seluruh kelompok yang hendak diteliti atau populasi dengan meneliti sebagian (subset) dari kelompok populasi tersebut yang selanjutnya disebut dengan sampel. Banyak pembaca yang sudah familiar dengan hasil penelitan survey di bidang politik, walaupun yang disurvey hanya sedikit jumlahnya. Karena akan tidak mungkin untuk mensurvey seluruh populasi di negeri kami (AS), maka para pengumpul pendapat umum (pollsters) memilih sampel kecil yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mewakili atau merepresentasikan populasi secara keseluruhan.Hasil dari survey terhadap sampel tersebut kemudian digeneralisasikan atau diberlakukan kepada populasi. Penelitian survey biasanya didefinisikan sebagai sebuah penelitian atau penelitian tentang kelompok besar melalui penelitian langsung dari subset (sampel) dari kelompok tersebut.

    http://tarbiyah.uin-suka.ac.id/file_kuliah/Bab%205.doc.
    http://bondanriset.blogspot.com/2006/10/memperkenalkan-metode-survei-cepat.html

  139. Irma Indriani (5525067438) said

    irma indriani (5525067438)
    S1.pend.tata busana 2006

    o Penelitian Survei:
     Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
     Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
     Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
     Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
     Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
     Penelitian ini dapat berupa :
    a. Penelitian Exploratif (Penjajagan): Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik?
    b. Penelitian Deskriptif : Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti menegmbangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis;
    c. Penelitian Evaluasi : mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi disini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan);
    d. Penelitian Eksplanasi (Penjelasan) : menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis;
    e. Penelitian Prediksi : Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
    f. Penelitian Pengembangan Sosial : Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala: Misal : Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar, 1998-2003;
    o Grounded Research : Mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan; bertujuan mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori, mengembangkan teori; pengumpulan dan analisis data dalam waktu yang bersamaan. Dalam riset ini data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data. Ciri-cirinya : Data merupakan sumber teori dan sumber hipotesis, Teori menerangkan data setelah data diurai.

    Uraian berdasarkan data; Teori yang
    Data ——– Analisis menjadi konsep dan Hipotesis—– menerangkan
    Berdasarkan data data
    o Studi Kasus : Mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit yang menjadi subjek; tujuannya memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, sifat, karakteristik yang khas dari kasus, yang kemudian dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Hasilnya merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal. Ruang lingkupnya bisa bagian / segmen, atau keseluruhan siklus /aspek. Penelitian ini lebih ditekankan kepada pengkajian variabel yang cukup banyak pada jumlah unit yang kecil.
    o Penelitian Eksperimen : Dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap obyek penelitian serta diadakan kontrol terhadap variabel tertentu; Untuk pengujian hipotesis tertentu; dimaksudkan untuk mengetahui hubungan hubungan sebab – akibat variabel penelitian; Konsep dan varaiabelnya harus jelas, pengukuran cermat. Tujuan penelitian ini untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebab-akibat tersebut dengan cara memberikan perlakukan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menjediakan kontrol untuk perbandingan.

    No. Penggolongan Menurut Jenis/Ragam Penelitian
    1. Tujuan a.Eksplorasi;
    b. Pengembangan;
    c. Verifikasi
    2. Pendekatan a. Longitudinal;
    b. Cross-sectional;
    c. Kuantitatif;
    d. Survei;
    e. Assessment;
    f. Evaluasi;
    g. Action Research;h.
    3. Tempat a. Library;
    b. Laboratorium’
    c. Field
    4. Pemakaian a. Pure;
    b. Applied
    5. Bidang Ilmu a. Pendidikan ;
    b. Agama;
    c. Manajemen;
    d. Komunikasi;
    e. Administrasi;
    f. Keteknikan;
    g. Bahasa;
    h. Hukum;
    i. Sejarah;
    j. Antropologi;
    k. Sosiologi;
    l. Filsafat;
    6. Taraf Penelitian a. Deskriftif;
    b. Eksplanasi
    7. Saat terjadinya variabel a. Historis;
    b. Ekspos-Fakto;
    c. Eksperimen

    (Eaden, Mayberry & Mayberry, 1999)

  140. Irma Indriani (5525067438) said

    irma indriani (552506743 8)
    S1.pend.tata busana 2006

    o Penelitian Survei:
     Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
     Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
     Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
     Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
     Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
     Penelitian ini dapat berupa :
    a. Penelitian Exploratif (Penjajagan): Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik?
    b. Penelitian Deskriptif : Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti menegmbangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis;
    c. Penelitian Evaluasi : mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi disini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan);
    d. Penelitian Eksplanasi (Penjelasan) : menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis;
    e. Penelitian Prediksi : Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
    f. Penelitian Pengembangan Sosial : Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala: Misal : Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar, 1998-2003;
    o Grounded Research : Mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan; bertujuan mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori, mengembangkan teori; pengumpulan dan analisis data dalam waktu yang bersamaan. Dalam riset ini data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data. Ciri-cirinya : Data merupakan sumber teori dan sumber hipotesis, Teori menerangkan data setelah data diurai.

    Uraian berdasarkan data; Teori yang
    Data ——– Analisis menjadi konsep dan Hipotesis—– menerangkan
    Berdasarkan data data
    o Studi Kasus : Mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit yang menjadi subjek; tujuannya memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, sifat, karakteristik yang khas dari kasus, yang kemudian dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Hasilnya merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal. Ruang lingkupnya bisa bagian / segmen, atau keseluruhan siklus /aspek. Penelitian ini lebih ditekankan kepada pengkajian variabel yang cukup banyak pada jumlah unit yang kecil.
    o Penelitian Eksperimen : Dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap obyek penelitian serta diadakan kontrol terhadap variabel tertentu; Untuk pengujian hipotesis tertentu; dimaksudkan untuk mengetahui hubungan hubungan sebab – akibat variabel penelitian; Konsep dan varaiabelnya harus jelas, pengukuran cermat. Tujuan penelitian ini untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebab-akibat tersebut dengan cara memberikan perlakukan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menjediakan kontrol untuk perbandingan.

    No. Penggolongan Menurut Jenis/Ragam Penelitian
    1. Tujuan a.Eksplorasi;
    b. Pengembangan;
    c. Verifikasi
    2. Pendekatan a. Longitudinal;
    b. Cross-sectional;
    c. Kuantitatif;
    d. Survei;
    e. Assessment;
    f. Evaluasi;
    g. Action Research;h.
    3. Tempat a. Library;
    b. Laboratorium’
    c. Field
    4. Pemakaian a. Pure;
    b. Applied
    5. Bidang Ilmu a. Pendidikan ;
    b. Agama;
    c. Manajemen;
    d. Komunikasi;
    e. Administrasi;
    f. Keteknikan;
    g. Bahasa;
    h. Hukum;
    i. Sejarah;
    j. Antropologi;
    k. Sosiologi;
    l. Filsafat;
    6. Taraf Penelitian a. Deskriftif;
    b. Eksplanasi
    7. Saat terjadinya variabel a. Historis;
    b. Ekspos-Fakto;
    c. Eksperimen

    Eaden, Mayberry & Mayberry, 1999)

  141. SITI HODIZAH 5525067452 said

    Survey Research (Penelitian Survei) : Tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti:

    o Penelitian Survei:
     Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
     Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
     Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
     Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
     Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
     Penelitian ini dapat berupa :

    Tujuan penelitian survey adalah untuk memahami (meneliti?) tentang karakteristik dari seluruh kelompok yang hendak diteliti atau populasi dengan meneliti sebagian (subset) dari kelompok populasi tersebut yang selanjutnya disebut dengan sampel. Banyak pembaca yang sudah familiar dengan hasil penelitan survey di bidang politik, walaupun yang disurvey hanya sedikit jumlahnya. Karena akan tidak mungkin untuk mensurvey seluruh populasi di negeri kami (AS), maka para pengumpul pendapat umum (pollsters) memilih sampel kecil yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mewakili atau merepresentasikan populasi secara keseluruhan.Hasil dari survey terhadap sampel tersebut kemudian digeneralisasikan atau diberlakukan kepada populasi. Penelitian survey biasanya didefinisikan sebagai sebuah penelitian atau penelitian tentang kelompok besar melalui penelitian langsung dari subset (sampel) dari kelompok tersebut.

    NAMA : RUSTANTO
    NO.REG :5525067435
    Pendk. Tata Busana Ekstensi 06

    Sumber : abdulhamid.files.wordpress.com/2007/03/materi_kuliah_3_19_feb_06.doc

    Penelitian survey, tentunya berbeda dengan penelitian penelitian kasus dalam hal langkah-langkah utamanya. Dalam penelitian kasus, peneliti mengamati dari dekat suatu kasus, seperti pembelajar (siswa), ruang kelas atau sebuah program. Karena penelitian kasus biasanya menyediakan informasi yang mendalam, maka kita perlu meneliti banyak hal tentang kasus-kasus tertentu, namun kita tidak banyak belajar tentang bagaimana kasus-kasus tersebut mirip satu sama lainnya. Di lain pihak, dalam penelitian survey, seorang peneliti mengamati banyak kasus, tetapi secara umum tidak meneliti tiap kasus secara mendalam. Agaknya perlu ditegaskan di sini, bahwa maksud dari penelitian survey adalah untuk meneliti satu atau beberapa variabel dari sejumlah kesatuan atau entitas yang lebih besar.

    Metode survey telah digunakan oleh peneliti bahasa kedua, pendidikan bilingual, dan peneliti bahasa asing untuk meneliti berbagai macam isu/permasalahan/topik dalam pembelajaran bahasa. Hal ini mencakup antara lain konteks perubahan demografis (kependudukan), setting institusional dimana profesional bahasa kedua berperan, kebijakan yang mempengaruhi pembelajaran dan pengajaran, administrasi program, persiapan guru, sikap guru dan professor (dosen) terhadap variasi bahasa, praktek berbahasa di ruang kelas, norma bahasa sasaran serta penggunaan dan perkembangan bahasa siswa. Dalam bagian ini, kami akan melihat temuan dari berbagai penelitian survey untuk mendapatkan ilustrasi tentang berbagai jenis permasalahan yang telah ditentukan.

    SITI HODIZAH
    5525067452
    Pendk. Tata Busana ekstensi 06
    Sumber : tarbiyah.uin-suka.ac.id/file_kuliah/Bab%205.doc

  142. AMELIA NOFINDA (5525067455) said

    AMELIA NOFINDA
    5525067455
    Pend.Tata Busana/S1 Non-Reg
    2006

    PENELITIAN SURVEI

    Digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil.

    3 karakteristik utama dalam penelitian survai, yaitu :

    1. Informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskrisikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu,
    2. Informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan tertulis maupun lisan dari suatu populasi,
    3.Informasi diperoleh dari sampel, bukan ari populasi.

    Langkah-langkah survai menurut Rea dan Parker, yaitu :
    1. Identification of thefocus of the study and method of research,
    2. The reseach schedule and budget,
    3. Estabilishment of an information base,
    4. The sampling frame,
    5. Determination of sample size and sample selection,
    6. Design ofthe survey instrument,
    7. Pretest of survey instrument,
    8. Selection and training of interviewers,
    9. Implementation of the survey,
    10. Codification of the completed questionnaires and computerized data
    entry,
    11. Data analysis and the final report.

    Sumber :

    Sukmadinata, Nana Syaodih. ( 2007 ). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

  143. RINA ANGELINA said

    RINA ANGELINA
    5525067465
    SI”EKS TATA BUSANA 2006

    PENELITIAN SURVEI:
    Pembahasan mengenai penelitian survei dapat mencakup kajian yang luas. Kajian-kajian tersebut meliputi: pengertian, karakteristik, sejarah, penggunaan, keunggulan dan kelemahan, rancangan penelitian, metodologi, survei dengan angket, survei dengan wawancara, survei jenis lain, analisis data, dan pelaporan hasil penelitian.Hal yang sangat penting dalam penelitian survei adalah data empirik atau data lapangan. Data-data tersebut sangat dibutuhkan dalam setiap variabel yang diteliti, untuk selanjutnya dikaji dan diambil kesimpulan. Meski dalam berbagai literatur belum kami temukan secara eksplisit adanya keterkaitan sejarah antara penelitian survei dengan tradisi filsafat positivisme, dapat diketahui bahwa penelitian survei seperti di atas sangat dekat dengan paradigma berpikir positivistik.Penggunaan Penelitian Survei
    Ada dua macam survei, yaitu: survei untuk memperoleh data dasar, guna memperoleh gambaran umum, yang bermanfaat untuk membuat perencanaan dan kebijakan publik; dan survei yang digunakan untuk mengungkap pendapat, sikap dan harapan publik. Yang pertama sering kita kenal sebagai sensus, seperti sensus penduduk, sensus sosek, dan lainnya. Yang kedua sering dipakai untuk memprediksi suara pemilih dalam pemilihan presiden, gubernur, anggota kongres, dan senat di Amerika Serikat, juga di sejumlah negara demokrasi. Yang pertama mengungkap fakta, yang kedua mengungkap efek suka tak suka

    sumber :Ikhsanudin, M. Hamka, Rahma Apen,

  144. YULI ENDAH MAWATI(55250674610 said

    Penelitian Survei:
     Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
     Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
     Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
     Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
     Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
     Penelitian ini dapat berupa :
    a. Penelitian Exploratif (Penjajagan): Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik?
    b. Penelitian Deskriptif : Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti menegmbangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis;
    c. Penelitian Evaluasi : mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi disini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan);
    d. Penelitian Eksplanasi (Penjelasan) : menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis;
    e. Penelitian Prediksi : Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
    f. Penelitian Pengembangan Sosial : Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala: Misal : Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar, 1998-2003;
    Sumber : http://www.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/

  145. Penelitian survei

    Peneliti mengajukan pertanyaan tertulis, baik yang telah tersusun dalam kuisioner
    maupun dalam wawancara.
    Sumber : Metodologi penelitian oleh Zainal Fanani, SE., Ak. M.SA
    Sumber Data : Sekaran (2003)
    Metodologi Penelitian
    Halaman 11 dari 11

    penelitian survey adalah untuk memahami (meneliti?) tentang karakteristik dari seluruh kelompok yang hendak diteliti atau populasi dengan meneliti sebagian (subset) dari kelompok populasi tersebut yang selanjutnya disebut dengan sampel. Banyak pembaca yang sudah familiar dengan hasil penelitan survey di bidang politik, walaupun yang disurvey hanya sedikit jumlahnya. Karena akan tidak mungkin untuk mensurvey seluruh populasi di negeri kami (AS), maka para pengumpul pendapat umum (pollsters) memilih sampel kecil yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mewakili atau merepresentasikan populasi secara keseluruhan.Hasil dari survey terhadap sampel tersebut kemudian digeneralisasikan atau diberlakukan kepada populasi. Penelitian survey biasanya didefinisikan sebagai sebuah penelitian atau penelitian tentang kelompok besar melalui penelitian langsung dari subset (sampel) dari kelompok tersebut.1

  146. LISYA MARYATI 5525067444 said

    o PENELITIAN SURVEI :

    Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
    Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb.
    Melakukan evaluasi serta perbandingan terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
    Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
    Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
    Penelitian ini dapat berupa :
    Penelitian Exploratif (Penjajagan). Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik.
    Penelitian Deskriptif. Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti mengembangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis.
    Penelitian Evaluasi. Mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi di sini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan).
    Penelitian Eksplanasi (Penjelasan). Menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis.
    Penelitian Prediksi. Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
    Penelitian Pengembangan Sosial. Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala: Misal: Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar, 1998-2003;

  147. LISYA MARYATI 5525067444 said

    o PENELITIAN SURVEI :

    Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
    Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb.
    Melakukan evaluasi serta perbandingan terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
    Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
    Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
    Penelitian ini dapat berupa :
    Penelitian Exploratif (Penjajagan). Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik.
    Penelitian Deskriptif. Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti mengembangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis.
    Penelitian Evaluasi. Mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi di sini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan).
    Penelitian Eksplanasi (Penjelasan). Menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis.
    Penelitian Prediksi. Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
    Penelitian Pengembangan Sosial. Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala: Misal: Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar, 1998-2003;

    sumber :http://www.infoskripsi.com/

  148. LISYA MARYATI 5525067444 said

    PROSEDUR / LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN EKSPERIMEN :

    # Garis besar :

    Pembuatan rancangan;
    Pelaksanaan penelitian;
    Pembuatan laporan penelitian
    Bagan arus kegiatan penelitian

    # Memilih Masalah; memerlukan kepekaan
    # Studi Pendahuluan; studi eksploratoris, mencari informasi;
    # Merumuskan Masalah; jelas, dari mana harus mulai, ke mana harus pergi dan dengan apa
    # Merumuskan anggapan dasar; sebagai tempat berpijak, (hipotesis);
    # Memilih pendekatan; metode atau cara penelitian, jenis / tipe penelitian : sangat menentukan variabel apa, objeknya apa, subjeknya apa, sumber datanya di mana;
    # Menentukan variabel dan Sumber data; Apa yang akan diteliti? Data diperoleh dari mana?
    # Menentukan dan menyusun instrumen; apa jenis data, dari mana diperoleh? Observasi, interview, kuesioner?
    # Mengumpulkan data; dari mana, dengan cara apa?
    # Analisis data; memerlukan ketekunan dan pengertian terhadap data. Apa jenis data akan menentukan teknis analisisnya
    # Menarik kesimpulan; memerlukan kejujuran, apakah hipotesis terbukti?
    # Menyusun laporan; memerlukan penguasaan bahasa yang baik dan benar.

    Sumber: (abdulhamid.files.wordpress.com)

  149. IRNA FATIMAH said

    Penelitian survei adalah proses yang dapat dimulai dari manapun tergantung dari keahlian dan kemampuan peneliti. Yang jelas dia mulai dari adanya minat untuk memahami suatu fenomena social. Setelah itu, imaginasi, kreativitas dan kerja keras penelitilah yang lebih menentukan baik tidaknya hasil penelitian.

    Oleh Wallace, penelitian survai digambarkan sebagai suatu proses untuk mentransformasikan lima komponen informasi ilmiah dengan menggunakan enam kontrol metodologis.komponen-komponen informasi ilmiah tersebut adalah:
    1. Teori
    2. Hipotesa
    3. Observasi
    4. Generalisasi empiris
    5. Penerimaan atau penolakan hipotesa.

    Penerapan Penelitian Survey

    Metode survey telah digunakan oleh peneliti bahasa kedua, pendidikan bilingual, dan peneliti bahasa asing untuk meneliti berbagai macam isu/permasalahan/topik dalam pembelajaran bahasa. Hal ini mencakup antara lain konteks perubahan demografis (kependudukan), setting institusional dimana profesional bahasa kedua berperan, kebijakan yang mempengaruhi pembelajaran dan pengajaran, administrasi program, persiapan guru, sikap guru dan professor (dosen) terhadap variasi bahasa, praktek berbahasa di ruang kelas, norma bahasa sasaran serta penggunaan dan perkembangan bahasa siswa. Dalam bagian ini, kami akan melihat temuan dari berbagai penelitian survey untuk mendapatkan ilustrasi tentang berbagai jenis permasalahan yang telah ditentukan.

    Konteks Demografis
    Penelitian survey dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi demografis tentang pembelajar bahasa. Sebagai contoh, banyak survey telah dilakukan untuk memperkirakan jumlah orang di AS yang mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa tambahan dan yang memerlukan bermacam-macam bahasa dan atau program literacy (Kaskowitz, Binkley, & Johnson, 1981; Waggoner, 1988). Hasil dari survey-survey semacam itu seringkali kontroversial karena dapat mempengaruhi pengambilan keputusan atau kebijakan. Hasil survey sering digunakan oleh organisasi-organisasi profesional untuk melobi program bahasa dan oleh pembuat kebijakan untuk menetapkan dan menjustifikasi kebijakan-kebijakan programnya.

    Sumber : * http://library.usu.ac.id/download/ft/industri-ukurta3.pdf
    * bab%205(1)

    Irna Fatimah 5525067436
    S1 Tata busana exs’06
    Universitas Negeri Jakarta

  150. LISYA MARYATI 5525067444 said

    Penelitian Survei:

    Survei merupakan studi yang bersifat kuantitatif yang digunakan untuk meneliti gejala suatu kelompok atau perilaku individu. Pada umumnya survei menggunakan kuesioner sebagai alat pengambil data. Survei menganut aturan pendekatan kuantitatif, yaitu semakin sample besar, semakin hasilnya mencerminkan populasi.

  151. rani anggraini said

    Penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu kelompok populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang utama. Salah satu kegunaan penelitian survei adalah untuk maksud deskriptif, yaitu untuk pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu atau yang diteliti

    Survey Research (Penelitian Survei) : Tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti:

    o Penelitian Survei:
     Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
     Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
     Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
     Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
     Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;

    Sumber : – tarbiyah.uinn-suka.ac.id/file_kuliah/bab%205.doc
    http://usu.ac.id

  152. LISYA MARYATI 5525067444 said

    S1.TATA BUSANA EKSTENSI 2O06
    UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

    PENELITIAN KUALITATIF

    Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.

    SUMBER :http://www.isekolah.org/file/h_1090893369.doc

    PENELITIAN KUALITATIF

    Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.

    Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan.

    # Format Proposal Penelitian Kulitatif :

    1. Konteks Penelitian atau Latar Belakang

    Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian, untuk maksud apa peelitian ini dilakukan, dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. (Lihat juga membuat pendahuluan skripsi )

    2. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah

    Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Apabila digunakan istilah rumusan masalah, fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan.

    Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas, sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik, induktif, dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan.

    3. Tujuan Penelitian

    Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan.

    4. Landasan Teori

    Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.

    5. Kegunaan Penelitian

    Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dengan kata lain, uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.

    6. Metode Penelitian

    Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.

    a. Pendekatan dan Jenis Penelitian

    Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. Selain itu juga dikemukakan orientasi teoretik, yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik). Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, ekologis, partisipatoris, penelitian tindakan, atau penelitian kelas.

    b. Kehadiran Peneliti

    Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau pengamat penuh. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan.

    c. Lokasi Penelitian

    Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas, misalnya letak geografis, bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi), struktur organisasi, program, dan suasana sehari-hari. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan, keunikan, dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Dengan pemilihan lokasi ini, peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti, peneliti pernah bekerja di situ, atau peneliti telah mengenal orang-orang kunci.

    d. Sumber Data

    Pada bagian ini dilaporkan jenis data, sumber data, da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan, bagaimana karakteristiknya, siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian, bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu, dan dengan cara bagaimana data dijaring, sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling).

    Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin, bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi, subjek, informan, dan waktu.

    e. Prosedur Pengumpulan Data

    Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi, sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman, format ringkasan rekaman data, dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.

    f. Analisis Data

    Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika. (lihat analisis )

    g. Pengecekan Keabsahan Temuan

    Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) .

    h. Tahap-tahap Penelitian

    Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan.

    7. Daftar Rujukan

    Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan.

    # Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi:

    1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik,
    2. tahun penerbitan
    3. judul, termasuk subjudul
    4. kota tempat penerbitan, dan
    5. nama penerbit

    SUMBER : http://www.infoskripsi.com/Resource/Proposal-Penelitian-Kualitatif-Skripsi.html

  153. Rai Muti'ah (5525067458) said

    Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)
    adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.
    Dari aspek filosofi, penelitian kualitatif dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
    a. Penelitian kualitatif dalam paradigma kuantitatif (positivisme)
    Penelitian kualitatif jenis pertama ini menggunakan paradigma positivisme. Kriteria kebenaran menggunakan ukuran frekwensi tinggi. Data yang terkumpul bersifat kuantitatif kemudian dibuat kategorisasi baik dalam bentuk tabel, diagram maupun grafik.
    b. Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa
    Penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa (dan sastra) menggunakan paradigma post positisme. Penelitian kualitatif jenis kedua ini berusaha mencari makna, baik makna di balik kata, kalimat maupun karya sastra.
    c. Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi
    Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi berusaha memahami arti (mencari makna) dari peristiwa dan kaitan-kaitannya dengan orang-orang biasa dalam situasi tertentu (Moleong. 2001: 9). Dengan kata lain penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi adalah penelitian yang berusaha mengungkap makna terhadap fenomena perilaku kehidupan manusia, baik manusia dalam kapasitas sebagai individu, kelompok maupun masyarakat luas.

    Penelitian tindakan kelas (PTK)
    adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri
    dengan jalan merancang, melaksanakan, dan
    merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif
    dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru
    sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. PTK
    memiliki karakteristik sebagai berikut.
    1. Masalah berawal dari guru
    2. Tujuannya memperbaiki pembelajaran
    3. Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap
    mengikuti kaidah-kaidah penelitian
    4. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran
    5. Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.

  154. nuri aprilia (5525067463) said

    Penelitian tindakan kelas
    Submitted by taufikspdmsi on Mon, 12/31/2007 – 15:47.
    media pembelajaran metode pembelajaran model-model pembelajaran evaluasi pengembangan kelas media ict media komputer pembelajaran efektif pembelajaran paikem pengelolaan kelas pembuatan soal tujuan pembelajaran

    Login or register to post comments

    Penelitian Kualitatif
    Berdasarkan data yang dikumpulkan ataupun analisisnya penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian kualitatif ataupun penelitian kuantitatif. Celakanya selama masa kuliah, kita seringkali diajarkan bahwa penelitian kuantitatif itu lebih “baik” daripada penelitian kualitatif. Dan kita pun dengan naifnya menganggap demikian, karena biasanya penelitian kuantitatif menggunakan alat-alat matematika dan statistika yang rumit-rumit, sehingga terkesan canggih. Apakah memang demikian kenyataannya ?

    Julia Brannen dalam bukunya “Memadu Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif” menyatakan bahwa metode kuantitatif dan kualitatif itu ada manfaatnya masing-masing. Jika kita tidak tahu tentang obyek yang akan kita teliti, ada baiknya kita terlebih dulu melakukan penelitian kualitatif, agar kita dapat “feel the object”. Secara ringkas, jika kita ingin mengetahui secara mendalam tentang suatu obyek penelitian, gunakanlah metode kualitatif, jika tidak dapat digunakan metode kuantitatif. Yang paling baik tentu saja, bila kita dapat menggabungkan kedua metode tersebut, agar dapat diperoleh keunggulan masing-masing metode.

    Metode penelitian kualitatif biasanya dilakukan dengan cara :

    Wawancara
    Observasi
    Etnografi

    Sumber:http//hedy.com

  155. Dian Avriyanti (5525067456) said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend.Tata Busana Ex/S1/06

    Penelitian kualitatif

    (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.

    Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

    merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.

    Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.

    PTK memeliki sejumlah karakteristik sebagai berikut :

    Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian.

    Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan “sekali tembak” selesai pelaksanaannya.

    Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.

    Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula.

    Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti.

    Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.

    Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.

    Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.

    Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.

    Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

    Tujuan PTK sebagai berikut :

    Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.

    Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.

    Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu.

    Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.

    Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.

    Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.

    Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.

    Manfaat PTK

    Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.

    Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung professionalisme dan karir guru.

    Mampu mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.

    Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.

    Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan , kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswa pun dapat meningkatkan.

    Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.

    Prosedur Pelaksanaan PTK

    1. Menyusun proposal PTK. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok, yaitu; (1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai metode atau cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya, (4) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun persfektif, konsep, dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK, (8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK.

    2. Melasanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi. baik pelaksanaan tindakan, pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beiringan, bahkan bersamaan. Semua hal yang berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.

    3. Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan, pelaksnaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulan dan rumusan saran.

    4. Menulis laporan PTK, yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil-hasil PTK. Paparan hasil PTK ini disatukan dengan deskripsi masalah, rumusan masalah, tujuan, dan kajian konsep atau teoritis. Inilah laporan PTK.

    http://www.isekolah.org/file/h_1090893369.doc.
    http://pakguruonline.pendidikan.net/action_research.html

  156. rani anggraeni.p (5525067445) said

    Penelitian tindakan kelas (PTK)

    adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiridengan jalan merancang,melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatifdengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. PTKmemiliki karakteristik sebagai berikut. 1. Masalah berawal dari guru2. Tujuannya memperbaiki pembelajaran 3. Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian4. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran5. Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.Mengapa guru dianggap paling tepat untukmelakukan PTK ?1. Guru mempunyai otonomi untuk menilai kinerjanya2. Temuan penelitian tradisional sering sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran3. Guru merupakan orang yang paling akrab dengan kelasnya4. Interaksi guru-siswa berlangsung secara unik5. Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatifyang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan PTK di kelasnya.
    ——————————————————————————–
    Page 2
    32Apa manfaat PTK bagi guru?1. Membantu guru memperbaiki mutupembelajaran2.Meningkatkan profesionalitas guru3.Meningkatkan rasa percaya diri guru4.Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilannyaPTK sebagai salah satu metode penelitian terdapat beberapa keterbatasan, antara lain:1.Validitasnya yang masih sering disangsikan2.Tidak mungkin melakukan generalisasi karena sampelsangat terbatas3.Peran guru yang bertindak sebagai pengajar dan sekaliguspeneliti sering membuat sangat repot.PTK dimulai dengan adanya masalah yang dirasakan sendirioleh guru dalam pembelajaran. Masalah tersebut dapat berupamasalah yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru atau hal-hal lainyang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan perilakubelajar siswa. Langkah menemukan masalah dilanjutkan denganmenganalisis dan merumuskan masalah, kemudianmerencanakan PTK dalam bentuk tindakan perbaikan, meng-amati, dan melakukan refleksi. Keempat langkah utama dalam PTK yaitu merencanakan, melakukan tindakan perbaikan, mengamati, dan refleksimerupakan satu siklus dan dalam PTK siklus selalu berulang. Setelah satu siklus selesai, barangkali guru akan menemukan masalah baru atau masalah lama yang belumtuntas dipecahkan, dilanjutkan ke siklus kedua dengan langkah yang sama seperti pada siklus pertama. Dengan demikian, berdasarkan hasil tindakan atau pengalaman pada siklus pertama guru akan kembali mengikuti langkah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi pada siklus kedua. Keempat langkah dalam setiap siklus dapat digambarkan sebagai berikut. R1GAMBAR SIKLUS PTKKeterangan:M = MerencanakanL = MelaksanakanR = RefleksiR2R3M1M2M3L1L2L3
    ——————————————————————————–
    Page 3
    54Tahap perencanaan PTK terdiri atas mengidentifikasimasalah, menganalisis dan merumuskan masalah, serta merencanakan perbaikan. a. Mengidentifikasi dan menetapkan masalahSelama mengajar kemungkinan guru menemukan berbagai masalah, baik masalah yang bersifat pengelolaan kelas, maupun yang bersifat instruksional. Meskipun banyak masalah, ada kalanya guru tidak sadar kalau dia mempunyai masalah. Atau masalah yang dirasakan guru kemungkinan masih kabur sehingga guru perlu merenung atau melakukan refleksi agar masalah tersebut menjadi semakin jelas. Oleh karena itu,supervisor perlu mendorong guru menemukan masalah atau dapat juga guru memulaidengan suatugagasan untukmelakukan perbaikan kemudianmencoba memfokuskan gagasan tersebut. Untuk melakukan halini, guru dapat merenungkan kembali apa yang telah dilakukan. Jika guru rajin membuat catatan pada akhirsetiap pembelajaran yang dikelola-nya, maka ia akan dengan mudah menemukan masalah yang dicarinya. Atau agar mampu merasakan dan mengungkapkan adanya masalah, maka seorang guru dituntut jujur pada diri sendiri dan melihat pembelajaran yang dikelolanya sebagai bagian penting dari dunianya. Setelahmengetahui permasalahan, selanjutnya melakukan analisis dan merumuskan masalah agar dapat dilakukan tindakan. Contoh permasalahan yang dihadapi oleh Pak Anton, yaitu rendahnya motivasi sebagian besar siswa untuk menjawab pertanyaan atau siswa sering tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.b. Menganalisis dan merumuskan masalahSebenarnya secara tidak sadar guru telah melakukan PTK, yakni ketika guru melakukan evaluasi, menganalisishasil evaluasi, dan tindak lanjutnya. Jika masalah sudah ditetapkan, maka masalah ini perlu dianalisis dan dirumuskan. Tujuannya adalah agarpaham akan hakikat masalah yang dihadapi, terutama apa yang menyebabkan terjadinya masalah tersebut. Untuk mengetahuipenyebabnya, masalah ini harusdianalisis, dengan mengacu kepada teori dan pengalaman yang relevan. Misalnya, untuk menganalisis penyebab permasalahan yang dihadapi oleh Pak Anton, guru dapat mengacu kepada teori keterampilan bertanya, dan mencaripenyebabnya dengan mengajukan pertanyaan sebagaiberikut.1) Apakah rumusan pertanyaan yang dibuat guru cukup jelas dan singkat ?2) Apakah guru memberikan waktu untuk berpikirsebelum meminta siswa menjawab ?Jika setelah dianalisis, kedua pertanyaan di atas dijawab dengan ya, tentu harus dicari penyebab lainnya, misal : apakah penjelasan guru cukup jelas bagi siswa, apakah bahasa yang digunakan guru mudah dipahami, dan apakah ketika menjelaskan guru memberikan contoh-contoh.Jika umpamanya kedua pertanyaan di atas dijawab tidak, maka kita sudah dapat jawaban sementara, yaitu penyebab Bagaimana Merencanakan PTK?
    ——————————————————————————–
    Page 4
    76penyebab pertanyaan Pak Anton yang tidak terjawab adalah:a. Pertanyaan Pak Anton terlampau panjang dan tidakjelasb. Pak Anton tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir danc. Pak Anton sering mengajukan pertanyaan dengan menunjuk kepada siswa tertentu.Apabila dikaji secara cermat ternyata ketiga penyebab tersebut berkaitan dengan pembelajaran, dalam hal iniketerampilan dasar mengajar, yaitu keterampilan bertanya. Oleh karena itu, tindakan perbaikan yang harus dilakukan guru adalah meningkatkan keterampilan bertanya. Tindakan perbaikan ini kita cantumkan dalam rencana pembelajaran yang kita gunakan dalam mengajar. Satu hal yang sangat perlu kita perhatikan adalah bahwa PTK dilakukan dalampembelajaran biasa, tidak ada kelas khusus untukmelakukan PTK karena pada hakikatnya PTK dilakukan oleh guru sendiri di kelasnya sendiri.siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru adalah karena pertanyaan yang diajukan guru tidak jelas dan sering panjang dan berbelit-belit, serta guru tidakmemberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir. Jika ini yang dianggap sebagai penyebab, maka guru dapat merencanakan tindakan perbaikan, yaitu dengan menyusun pertanyaan tersebut secara cermat, serta berusaha memberikan waktu untuk berpikir sebelummeminta siswa menjawab pertanyaan.c. Merencanakan tindakan perbaikanBerdasarkan rumusan masalah (juga mencakup penyebab timbulnya masalah), guru mencoba mencaricara untuk memperbaiki atau mengatasi masalah tersebut. Dengan perkataan lain, dalam langkah ini, guru merancang tindakan perbaikan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk merancang suatu tindakan perbaikan, guru dapat : (1) mengacu kepada teori yang relevan, (2) bertanya kepada ahliterkait, dan (3) berkonsultasi dengan supervisor. Ahliterkait mungkin ahli pembelajaran, mungkin pula ahlibidang studi atau pembelajaran bidang studi. Rencana tindakan perbaikan dituangkan dalam rencana pembelajaran. Mari kita ambil kasus Pak Anton, yaitu masalah pertanyan guru yang tidak terjawab oleh siswa. Hasil analisismenunjukkan bahwa pertanyaan yang disusun guru terlampau panjang dan kurang jelas. Di samping itu, guru sering langsung meminta jawaban setelah mengajukan pertanyaan, dan kadang-kadang langsung mengarahkan pertanyaan ini pada siswa tertentu, sehigga siswa yang lain tidak memperhatikan pertanyaan tersebut. Akibatnya, hampir selalu pertanyaan tidak terjawab dan Pak Anton sering harus menjawab pertanyaannya sendiri atau melupakan pertanyaan tersebut. Dari hasil analisis tersebut,
    ——————————————————————————–
    Page 5
    98a. Siklus I1) Tindakan IDengan melihat kasus Pak Anton, tindakan I adalah implementasi serangkaian kegiatan pembelajaran sepertiyang telah direncanakan untuk mengatasi masalah. Karena penyebab pertanyaan Pak Anton yang sering tidak terjawab sudah diketahui, maka tindakan yang harus dilakukannya adalah :w Membuat pertanyaan secara jelas dan tidak terlampau panjang.w Pertanyaan ditujukan kepada seluruh siswaw Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir dulu sebelum menjawab. Dalam tahap pelaksanaan tindakan, guru berperan sebagai pengajar dan pengumpul data, baik melaluipengamatan langsung, maupun melalui telaah dokumen, bahkan juga melalui wawancara dengan siswa setelah pembelajaran selesai. Guru juga dapat meminta bantuan kolega guru lainnya untuk melakukan pengamatan selama guru melakukan tindakan perbaikan. Selama proses belajarakan dilakukan observasi menyangkut aktivitas siswa dalammengikuti kegiatan pembelajaran. Antara lain, bagaimana kualitasjawaban siswa dan apakah motivasi siswa menjawab pertanyaan guru meningkat?. Apakah hasil belajar siswa meningkat? 2) Refleksi IData yang dikumpulkan selama tindakan berlangsung kemudian dianalisis. Berdasarkan hasil analisis ini guru melakukan refleksi, yaitu guru mencoba merenungkan atau mengingat dan menghubung-hubungkan kejadian dalaminteraksi kelas, mengapa itu terjadi, dan bagaimana hasilnya. Hasil refleksiakan membuat guru menyadari tingkat keberhasilan dan kegagalan yang dicapainya dalam tindakan perbaikan. Hasil refleksi ini merupakan masukan bagi guru dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan perbaikan berikutnya. Refleksi I dapat dilakukan oleh guru bersama siswa bertujuan untuk mengkaji dan menganalisispelaksanaan tindakan pada siklus I dengan jalan mengidentifikasi baik kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh maupun kekurangan-kekurangan atau hambatan-hambatan yang masih dihadapi. Kemudian, setelah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak hasil refleksitersebut digunakan untuk memperbaiki rencana tindakan pada siklus II. b. Siklus II1) Perencanaan Refleksi yang dilakukan pada akhirsiklus I bertujuan untuk meng-identifikasi baik kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh maupun kekurangan-kekurangan atau hambatan-hambatan yang masih dihadapi. Hasil refleksi ini kemudian digunakan untukmemperbaiki rencana tindakan pada siklus II. Bagaimana Melaksanakan PTK?
    ——————————————————————————–
    Page 6
    1110PENELITIAN TINDAKAN KELASPenyusun : Rustam, MundilartoIlustrasi : Agus Kurniawan (SMOOTH CREATIVE)Layout: Budi Hartanto (SMOOTH CREATIVE)Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikandan Ketenagaan Perguruan TinggiDirektorat Jenderal Pendidikan TinggiDepartemen Pendidikan NasionalDilarang keras menduplikasi atau memperbanyak dengan caraapapun tanpa seizin dari Departemen Pendidikan Nasionalcopyright © 2004 2) Tindakan II Tindakan II berupa implementasi serangkaian kegiatan pembelajaran yang telah direvisi untuk mengatasi masalah pada siklus I yang belum tuntas. Selama prosesbelajar pada siklus kedua ini juga akan dilakukanobservasi menyangkut aktivitas siswa dalam mengikutikegiatan pembelajaran.3) Refleksi IIRefleksi II juga dilakukan oleh guru bersama siswa bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pelaksanaan tindakan pada siklus II dengan jalan mengidentifikasi baikkemajuan-kemajuan yang telah diperoleh maupun kekurangan-kekurangan atau hambatan-hambatan yang masih dihadapi. Berdasarkan hasil refleksi tersebut dapat disimpulkan berhasil tidaknya keseluruhan tindakan implementasipembelajaran di dalam kelas terhadap peningkatan hasilbelajar siswa. Apabila pada siklus II tujuan PTK sudah dapat tercapai, maka tidak perlu dilanjutkan siklus berikutnya. Tetapi apabila tujuan belum tercapai, maka perlu dilanjutkan siklus berikutnya. Kemudian, setelah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak hasil refleksi tersebut digunakan untuk memperbaiki rencana tindakan pada siklus III.Guru dapat membuat jurnal atau catatan seluruh kegiatan PTK yang telah dilakukannya. Catatan tersebut dapat digunakan untuk menyusun suatu karya ilmiah yang dapat disebarluaskan menjadi suatu inovasi, dan dapat dimanfaat-kan oleh guru-guru lainnya dalammelaksanakan PTK.

    Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miler (1986: 9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya. Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata dan perhitungan statistik lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas.
    Di pihak lain kualitas menunjuk pada segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah tersebut. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Pemahaman yang demikian tidak selamanya benar, karena dalam perkembangannya ada juga penelitian kualitatif yang memerlukan bantuan angka-angka seperti untuk mendeskripsikan suatu fenomena maupun gejala yang diteliti.
    Dalam perkembangan lebih lanjut ada sejumlah nama yang digunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif (Noeng Muhadjir. 2000: 17) seperti : interpretif grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik, yang kesemuanya itu tercakup dalam klasifikasi metodologi penelitian postpositivisme phenomenologik interpretif.
    Berdasarkan beragam istilah maupun makna kualitatif, dalam dunia penelitian istilah penelitian kualitatif setidak-tidaknya memiliki dua makna, yakni makna dari aspek filosofi penelitian dan makna dari aspek desain penelitian.

    http://www.um-pwr.ac.id/publikasi/13/analisis-kualitatif-dalam-penelitian-sosial

  157. Amelia Nofinda (5525067455) said

    AMELIA NOFINDA
    5525067455
    Pend.Tata Busana S1
    Non-Reg
    2006

    PENELITIAN KUALITATIF

    Menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain.
    Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengalaman para peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan. Bogdan dan Taylor (1992: 21-22) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati.
    Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, dan atau organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perpektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis tersebut kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya abstrak tentang kenyataan-kenyataan (Hadjar, 1996 dalam Basrowi dan Sukidin, 2002: 2).
    Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.

    Sumber :
    http://www.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/

    PENELITIAN TINDAKAN / ACTION RESEARCH

    Action research adalah nama yang diberikan kepada suatu aliran dalam penelitian pendidikan. Untuk membedakannya dengan action research dalam bidang lain para peneliti pendidikan sering menggunakan istilah “classroom action research” atau :classroom research”. Action research bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah melalui penerapan langsung di kelas atau tempat kerja (Isaac, 1994:27). Dalam penelitian pendidikan action research tidak hanya terbatas pada ruang kelas saja, melainkan dimana saja guru berkerja atau mengajar . Di samping dalam bidang pendidikan , action research juga sering digunakan dalam bidang-bidang lain.
    Action research digunakan untuk menemukan pemecahan masalah yang dihadapi sesorang dalam tugasnya sehari-hari dimana pun tempatnya, di kelas, di kantor, di rumah sakit, dan seterusnya. Para peneliti action research tidak berasumsi bahwa hasil penelitiannya akan menghasilkan teori yang dapat digunakan secara umum (digeneralisasi). Action research hanya terbatas pada kepentingan penelitinya sendiri, dengan tujuan agar penelitinya dapat melaksanakan tugasnya sehari-hari dengan lebih baik.
    Dilihat dari ruang lingkup, tujuan, metode, dan prakteknya, action research dapat dianggap sebagai penelitian ilmiah micro. Action research adalah penelitian yang bersifat partisipatif dan kolaboratif. Maksudya, penelitiannya dilakukan sendiri oleh peneliti, dan diamati bersama dengan rekan-rekannya. Action research berbeda dengan studi kasus karena tujuan dan sifat kasusnya yang tidak unik seperti pada studi kasus, action research tidak digunakan untuk menguji teori. Namun kedua macam penelitian ini mempunyai kesamaan, yaitu bajwa peneliti tidak berharap hasil penelitiannya akan dapat digeneralisasi atau berlaku secara umum.
    Action research mendorong para guru agar memikirkan apa yang mereka lakukan sehari-hari dalam menjalankan tugasnya, membuat para guru kritis terhadap apa yang mereka lakukan tanpa tergantung pada teori-teori yang muluk-muluk yang bersifat universal yang ditemukan oleh para pakar penelitian yang sering kali tidak cocok dengan situasi dan kondisi kelas. Keterlibatan peneliti action research dalam penelitiannya sendiri itulah yang membuat dirinya menjadi pakar peneliti untuk kelasnya dan keperluan sehari-harinya dan tidak membuat ia tergantung pada para pakar peneliti yang tidak tahu mengenai masalah-masalah kelasnya sehari-hari.
    Dalam bidang pendidikan, action research dianggap sebagai alternatif dari penelitian tradisional (penelitian yang biasa dilakukan). Modal utama peneliti action research adalah pengalamannya dalam bidang yang digeluti dan pengetahuan yang ia miliki. Sebenarnya action research dapat juga dilakukan dalam skala besar karena seperti dikatakan di atas, action research dilakukan bersama rekan-rekan seprofesi, sehingga mereka dapat berbagai pengalaman untuk kepentingan mereka misng-masing. Action research merupakan metode yang handal untuk menjembatani teori dan praktek (dalam pndidikan ), karena dengan action research para guru dianjurkan menemukan dan mengembangkan teorinya sendiri dari perakteknya sendiri.
    Penelitian tindakan merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan metode kerja yang paling efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas lembaga dapat meningkat. Penelitian melibatkan peneliti dan karyawan untuk mengkaji bersama-sama tentang kelemahan dan kebaikan prosedur kerja, metode kerja, dan alat-alat kerja yang digunakan selama ini dan selanjutnya mendapatkan metode kerja yang digunakan selama ini dan selanjutnya mendapatkan metode kerja baru yang dipandang paling efisien. Metode kerja baru tersebut selanjutnya dicobakan, dievaluasi secara terus menerus dalam pelaksanaannya, sehingga sampai ditemukan metode yang paling efisien untuk dilaksanakan. Contoh : penelitian untuk memperbaiki prosedur dan metode kerja dalam pembuatan suatu jenis makanan yang diproduksi masal.
    Jadi dapat dinyatakan disini bahwa, penelitian tindakan adalah suatu proses yang dilalui oleh perorangan atau kelompok yang menghendaki perubahan dalam situasi tertentu untuk menguji prosedur yang diperkirakan akan menghasilkan perubahan tersebut dan kemudian, setelah sampai pada tahap kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, melaksanakan prosedur ini. Tujuan utama penelitian ini adalah mengubah (1) situasi, (2) perilaku, (3) organisasi termasuk struktur mekanisme kerja, iklim kerja dan pranata.

    Sumber :

    http://www.ktiguru.org/index.php/
    http://www.nakertrans.go.id/
    http://silabus.upi.edu/
    http://www.fica.org/persecution
    http://Site.Sponsorsconspectus-reload.tripod.com
    http://handoz.blogspot.com/2007/09/beberapa-instrumen-penelitian.html

  158. BONO WATI WULANDARI 5525075026 said

    PENELITIAN TINDAKAN KELAS

    Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK.

    Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintropeksi, bercermin, merefleksi atau mengevalusi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai seorang guru/pengajar diharapkan cukup professional untuk selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran; keterampilan, pengetahuan hubungan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didik untuk menjadi dewasa.

    SUMBER:http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/21/penelitian-tindakan-kelas-part-ii/

    PENELITIAN KUALITATIF

    Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jaitu berawal pada data dan bermuarapada kesimpulan ( Bungin, 2001: 18 ). Sasaran atau obyek penelitian dibatasi agar datayang diambil dapat digali sebanyak mungkin serta agar penelitian ini tidak dimungkinkanadanya pelebaran obyek penelitian, oleh karena itu, maka kredibilitas dari peneliti sendirimenentukan kualitas dari penelitian ini

    Penelitian ini juga menginterpretasikan atau menterjemahkan dengan bahasa penelititentang hasil penelitian yang diperoleh dari informan dilapangan sebagai wacana untukmendapat penjelasan tentang kondisi yang ada .Dalam penelitian ini juga menggunakan jenis penelitian diskriptif, jaitu jenis penelitianyang hanya menggambarkan, meringkas berbagai kondisi dan situasi yang ada, Penulismencoba menjabarkan kondisi konkrit dari obyek penelitian dan menghubungkanvariabel û variabel dan selanjutnya akan dihasilkan diskripsi tentang obyek penelitian

    SUMBER:http://209.85.175.104/search?q=cache:2OwIoX_pxNoJ:www.damandiri.or.id/file/yuliaistanahunairbab4.pdf+penelitian+kualitatif&hl=en&ct=clnk&cd=7

  159. LISYA MARYATI 5525067444 said

    IMPLEMENTASI PENELITIAN TINDAKAN KELAS
    Oleh: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono

    Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (dosen dan guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Diimplementasikan dengan benar berarti sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan.
    Makalah ini membahas bagaimana implementasi penelitian tindakan kelas untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang mencakup diagnosis dan penetapan masalah yang ingin diselesaikan, bentuk dan skenario tindakan, pengembangan instrumen untuk mengukur kebehasilan tindakan, serta prosedur analisis dan interpretasi data penelitian.

    A. Diagnosis dan Penetapan Masalah
    Masalah PTK yang merupakan penelitian kolaborasi antara dosen dan guru di sekolah hendaknya berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Oleh karena itu, diagnosis masalah hendaknya tidak dilakukan oleh dosen lalu ”ditawarkan” kepada guru untuk dipecahkan tetapi sebaiknya dilakukan bersama-sama oleh dosen dan guru. Pada kenyataannya dosen dapat mengajak guru untuk berkolaborasi melakukan PTK dan menanyakan masalah-masalah apa yang dihadapi guru yang mungkin dapat diteliti melalui PTK. Guru yang telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama dan kemudian membahas masalah tersebut dengan dosen.
    Lain halnya dengan guru yang belum berpengalaman dalam PTK. Guru tersebut mungkin belum dapat secara langsung mengemukakan permasalahan yang mungkin dapat diteliti bersama dosen. Dalam hal ini dosen perlu meminta izin kepada guru untuk hadir di kelas dan mengamati guru mengajar. Setelah pembelajaran berakhir dosen dapat terlebih dahulu menanyakan kepada guru masalah apa yang dirasakan guru pada saat pembelajaran sebelum mengusulkan salah satu permasalahan yang dipikirkan dosen. Dosen baru-boleh mengajukan permasalahan bila guru tidak dapat mendeteksi adanya masalah di kelasnya.

    B. Bentuk dan Skenario Tindakan
    Gagas pendapat mengenai tindakan apa saja yang dapat memecahkan masalah yang dihadapi akan menghasilkan banyak alternatif tindakan yang dapat dipilih.
    Dosen dan guru perlu membahas bentuk dan macam tindakan (atau tindakan-tindakan) apa yang kira-kira paling dikehendaki untuk dicoba dan dilaksanakan dalam kelas. Bentuk dan macam tindakan ini kemudian dimasukkan dalam judul usulan penelitian yang akan disusun bersama oleh dosen dan guru.
    Tindakan yang dipilih dapat disebutkan sebagai suatu nama tindakan (misalnya penugasan siswa membaca materi pelajaran 10 menit sebelum pembelajaran) atau dalam bentuk penggunaan salah satu bentuk media pembelajaran (misalnya penggunaan peta konsep, penggunaan lingkungan sekitar sekolah, penggunaan sungai, dan seterusnya), atau dapat pula dalam bentuk suatu strategi pembelajaran (misalnya strategi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw atau STAD atau TGT atau GI, strategi pembelajaran berbasis masalah dan seterusnya). Contoh tindakan untuk rumusan masalah di atas: problem posing .

    C. Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan
    Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) haruslah sejalan dengan prosedur dan langkah PTK. Instrumen untuk mengukur keberhasilan tindakan dapat dipahami dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi hal yang diamati.
    1. Dari sisi proses
    Dari sisi proses (bagan alirnya), instrumen dalam PTK harus dapat menjangkau masalah yang berkaitan dengan input (kondisi awal), proses (saat berlangsung), dan output (hasil).
    a. Instrumen untuk input
    Instrumen untuk input dapat dikembangkan dari hal-hal yang menjadi akar masalah beserta pendukungnya. Misalnya: akar masalah adalah bekal awal/prestasi tertentu dari peserta didik yang dianggap kurang. Dalam hal ini tes bekal awal dapat menjadi instrumen yang tepat. Di samping itu, mungkin diperlukan pula instrumen pendukung yang mengarah pada pemberdayaan tindakan yang akan dilakukan, misalnya: format peta kelas dalam kondisi awal, buku teks dalam kondisi awal, dst.
    b. Instrumen untuk proses
    Instrumen yang digunakan pada saat proses berlangsung berkaitan erat dengan tindakan yang dipilih untuk dilakukan. Dalam tahap ini banyak format yang dapat digunakan. Akan tetapi, format yang digunakan hendaknya yang sesuai dengan tindakan yang dipilih.
    c. Instrumen untuk output
    Adapun instrumen untuk output berkaitan erat dengan evaluasi pencapaian hasil berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Misalnya: nilai 75 ditetapkan sebagai ambang batas peningkatan (pada saat dilaksanakan tes bekal awal, nilai peserta didik berkisar pada angka 50), maka pencapaian hasil yang belum sampai pada angka 75 perlu untuk dilakukan tindakan lagi (ada siklus berikutnya).

    2. Dari sisi Hal yang Diamati
    Selain dari sisi proses (bagan alir), instrumen dapat pula dipahami dari sisi hal yang diamati. Dari sisi hal yang diamati, instrumen dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengamati guru (observing teachers), instrumen untuk mengamati kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengamati perilaku siswa (observing students) (Reed dan Bergermann,1992).

    a. Pengamatan terhadap Guru (Observing Teachers)
    Pengamatan merupakan alat yang terbukti efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya, tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Salah satu bentuk instrumen pengamatan adalah catatan anekdotal (anecdotal record).
    Catatan anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Catatan anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal tidak mempersyaratkan pengamat memperoleh latihan secara khusus. Suatu catatan anekdotal yang baik setidaknya memiliki empat ciri, yaitu:
    1) pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi peristiwa yang terjadi di kelas,
    2) tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas,
    3) hasil pengamatan dicatat lengkap dan hati-hati, dan
    4) pengamatan harus dilakukan secara objektif.

    Beberapa model catatan anekdotal yang diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) dan dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
    a) Catatan Anekdotal Peristiwa dalam Pembelajaran (Anecdotal Record for Observing Instructional Events),
    b) Catatan Anecdotal Interaksi Guru-Siswa (Anecdotal Teacher-Student Interaction Form),
    c) Catatan Anekdotal Pola Pengelompokan Belajar (Anecdotal Record Form for Grouping Patterns),
    d) Pengamatan Terstruktur (Structured Observation),
    e) Lembar Pengamatan Model Manajemen Kelas (Checklist for Management Model),
    f) Lembar Pengamatan Keterampilan Bertanya (Checklist for Examining Questions),
    g) Catatan Anekdotal Aktivitas Pembelajaran (Anecdotal Record of Pre-, Whilst-, and Post-Teaching Activities) ,
    h) Catatan Anekdotal Membantu Siswa Berpartisipasi (Checklist for Routine Involving Students), dsb.

    b. Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classrooms)
    Catatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Di samping itu, pengamatan itu dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.
    Beberapa model catatan anekdotal kelas yang diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) dan dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
    a) Format Anekdotal Organisasi Kelas (Form for Anecdotal Record of Classroom Organization),
    b) Format Peta Kelas (Form for a Classroom Map),
    c) Observasi Kelas Terstruktur (Structured Observation of Classrooms),
    d) Format Skala Pengkodean Lingkungan Sosial Kelas (Form for Coding Scale of Classroom Social Environment),
    e) Lembar Cek Wawancara Personalia Sekolah (Checklist for School Personnel Interviews),
    f) Lembar Cek Kompetensi (Checklist of Competencies), dsb.

    c. Pengamatan terhadap Siswa (Observing Students).
    Pengamatan terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau berkelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.
    Beberapa model pengamatan terhadap perilaku siswa diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
    a) Tes Diagnostik (Diagnostic Test) ,
    b) Catatan Anekdotal Perilaku Siswa (Anecdotal Record for Observing Students),
    b) Format Bayangan (Shadowing Form),
    c) Kartu Profil Siswa (Profile Card of Students),
    d) Carta Deskripsi Profil Siswa (Descriptive Profile Chart),
    e) Sistem Koding Partisipasi Siswa (Coding System to Observe Student Participation in Lessons),
    f) Inventori Kalimat tak Lengkap (Incomplete Sentence Inventory),
    g) Pedoman Wawancara untuk Refleksi (Interview Guide for Reflection),
    h) Sosiogram, dsb

    D. Prosedur Analisis dan Interpretasi Data Penelitian

    Dalam PTK, perhatian lebih kepada kasus daripada sampel. Hal ini berimplikasi bahwa metodologi yang dipakai lebih dapat diterapkan terhadap pemahaman situasi problematik daripada atas dasar prediksi di dalam parameter.

    1. Analisis Data Penelitian.
    Tahap-tahap analisis data penelitian meliputi:
    a. validasi hipotesis dengan menggunakan teknik yang sesuai (saturasi, triangulasi, atau jika memang perlu uji statistik);
    b. interpretasi dengan acuan teori, menumbuhkan praktik, atau pendapat guru;
    c. tindakan untuk perbaikan lebih lanjut yang juga dimonitor dengan teknik penelitian kelas.
    Analisis dilakukan dengan menggunakan hasil pengumpulan informasi yang telah dilakukan dalam tahap pengumpulan data. Misalnya, dengan memutar kembali hasil rekaman proses pembelajaran dengan video tape recorder guru mengamati kegiatan mengajarnya dan membahas masalah-masalah yang menjadi perhatian penelitian bersama dengan dosen. Pada proses analisis dibahas apa yang diharapkan terjadi, apa yang kemudian terjadi, mengapa terjadi tidak seperti yang diharapkan, apa penyebabnya atau ternyata sudah terjadi seperti yang diharapkan, dan apakah perlu dilakukan tindaklanjut
    2. Validasi hipotesis
    Validasi hipotesis adalah diterima atau ditolaknya suatu hipotesis.
    Jika di dalam desain penelitian tindakan kelas diajukan hipotesis tindakan yang merupakan keyakinan terhadap tindakan yang akan dilakukan, maka perlu dilakukan validasi. Validasi ini dimaksudkan untuk menguji atau memberikan bukti secara empirik apakah pernyataan keyakinan yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan itu benar. Validasi hipotesis tindakan dengan menggunakan tehnik yang sesuai yaitu: saturasi, triangulasi dan jika perlu dengan uji statistik tetapi bukan generalisasi atas hasil PTK. Saturasi, apakah tidak ditemukan lagi data tambahan. Triangulasi, mempertentangkan persepsi seseorang pelaku dalam situasi tertentu dengan aktor-aktor lain dalam situasi itu, jadi data atau informasi yang telah diperoleh divalidasi dengan melakukan cek, recek, dan cek silang dengan pihak terkait untuk memperoleh kesimpulan yang objektif.

    3. Interpretasi Data Penelitian
    Interpretasi berarti mengartikan hasil penelitian berdasarkan pemahaman yang dimiliki peneliti. Hal ini dilakukan dengan acuan teori, dibandingkan dengan pengalaman, praktik, atau penilaian dan pendapat guru. Hipotesis tindakan yang telah divalidasi dicocokkan dengan mengacu pada kriteria, norma, dan nilai yang telah diterima oleh guru dan siswa yang dikenai tindakan.

    4. Penyusunan Laporan Penelitian
    Di Bab Hasil dan Pembahasan Penelitian dalam Laporan PTK pada umumnya peneliti terlebih dulu menyajikan paparan data yang mendeskripsikan secara ringkas apa saja yang dilakukan peneliti sejak pengamatan awal (sebelum penelitian) yaitu kondisi awal guru dan siswa diikuti refleksi awal yang merupakan dasar perencanaan tindakan siklus I, dilanjutkan dengan paparan mengenai pelaksanaan tindakan, hasil observasi kegiatan guru, observasi situasi dan kondisi kelas dan hasil observasi kegiatan siswa. Paparan data itu kemudian diringkas dalam bentuk temuan penelitian yang berisi pokok-pokok hasil observasi dan evaluasi yang disarikan dari paparan data.
    Berikutnya berdasarkan temuan data dilakukan refleksi hasil tindakan siklus 1 yang dijadikan dasar untuk merencanakan tindakan untuk siklus ke 2. Di sini dapat dibandingkan hasil siklus 1 dengan indikator keberhasilan tindakan siklus 1 yang telah ditetapkan berdasarkan refleksi awal.
    Paparan data siklus dua juga lengkap mulai perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi. Ringkasan paparan data dicantumkan dalam bentuk temuan penelitian. Temuan ini menjadi dasar refleksi tindakan siklus ke 2, termasuk apakah perlu dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan untuk siklus ke 3. Peneliti dapat membandingkan hasil siklus 2 ini dengan indikator keberhasilan tindakan siklus 2 yang telah ditetapkan berdasarkan hasil refleksi tindakan siklus ke 1.
    Jadi prosedur analisis dan interpretasi data penelitian dilaksanakan secara deskriptif kualitatif dengan meringkas data (reduksi data), saturasi dan triangulasi.

    E. Penutup
    PTK merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan keprofesionalan guru maupun dosen. Dalam pelaksanaannya dosen dan guru perlu melakukan segala langkah penelitian ini secara bersama-sama (kolaboratif) dari awal hingga akhir. Ciri khas penelitian ini ialah adanya masalah pembelajaran dan tindakan untuk memecahkan masalah ini. Penelitian tindakan sebenarnya dapat dilakukan oleh guru atau dosen sendiri-sendiri atau seperti dalam pelatihan ini, guru dan dosen dapat saling berkolaborasi. Tahapan penelitian dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi refleksi yang dapat diulang sebagai siklus. Refleksi merupakan pemaknaan dari hasil tindakan yang dilakukan dalam rangka memecahkan masalah. Disarankan guru dan dosen dapat secara kolaboratif melakukan tindakan kelas ini untuk peningkatan keprofesionalannya.
    Proposal usulan penelitian tindakan kelas perlu dibuat sebagai pedoman (tuntunan) dalam melaksanakan penelitian. Dalam penyusunan usulan yang sesungguhnya guru peneliti harus berusaha memenuhi ketentuan, kriteria atau standar yang ditetapkan oleh sponsor atau lembaga pemberi dana. Saran lainnya ialah banyak membaca laporan penelitian, artikel dan sumber-sumber mengenai penelitian tindakan kelas.
    Di hadapan para bapak ibu dosen yang hadir dalam pelatihan kali ini saya sampaikan harapan masa depan saya mengenai PTK ini yaitu agar makin banyak guru maupun dosen sains seluruh Indonesia yang melaksanakan PTK.
    Keinginan lainnya adalah agar dalam pelaksanaan PTK itu dosen dan guru tidak hanya sekedar melaksanakan, tapi juga mengkomunikasikan hasilnya kepada rekan-rekan guru dan dosen lain melalui media komunikasi (majalah) yang sudah ada sekarang. Saya pikir kita juga sudah punya organisasi profesi sehingga pertemuan periodik antar guru dan dosen untuk pengembangan profesi dapat direncanakan dan dilaksanakan secara lebih terjadwal. Melalui pertemuan ilmiah dan majalah ilmiah itu antara para guru dan dosen bidang studi diharapkan dapat terjadi saling tukar informasi, pengalaman, dan pemikiran untuk peningkatan keprofesionalan guru dan dosen.
    Akhir kata, saya ingatkan kembali bahwa profesi guru dan dosen adalah profesi yang memerlukan pengembangan terus-menerus, karenanya setiap guru dan dosen harus selalu siap, mau, dan mampu untuk membelajarkan dirinya sepanjang hayat agar dapat lebih mampu membelajarkan anak didiknya. PTK merupakan salah satu sarana belajar sepanjang hayat yang penting yang perlu dikuasai oleh setiap guru dan dosen yang mau mengembangkan keprofesionalannya.

    SUMBER :http://www.ekofeum.or.id/artikel.php?cid=26

  160. TRI KUSUMAWARDANI 5525067442 said

    PENELITIAN KUALITATIF

    Dasar tersebut dalam menganalisa fenomena dan masalah politik dan pemerintahan intelektual kepada mahasiswa untuk dapat menggunakan konsep dan teori kualitatif untuk ilmu politik dan pemerintahan, serta memberikan kemampuan variasi paradigma, konsep dan teori dasar dalam lingkup metode penelitian ,pengetahuan dan pemahaman komprehensif terhadap serangkaian prinsip wajib pada program studi Ilmu Pemerintahan yang dimaksudkan untuk memberikan kuliah Metode Penelitian Kualitatif (SPF 302) merupakan mata kuliah Mata

    Kualitatif ini juga memberikan masalah sosial dan politik. Di samping itu, mata kuliah Metode Penelitian dan mendalam salah satu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif ini akan membahas lebih detail Metode Penelitian Sosial terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karena yang akan mengambil mata kuliah ini harus sudah mengambil mata kuliah Mahasiswa frame Penelitian. bagi mata kuliah Perencanaan

    Tujuan pembelajaran

    Dalam kegiatan penelitian di bidang politik dan pemerintahan penelitian kualitatif, serta menggunakan prinsip-prinsip metode ini masalah-masalah yang ada dalam masyarakat dengan menggunakan metode kualitatif. Sekaligus pula membawa mahasiswa untuk dapat menganalisis dan prosedur penelitian dalam ilmu politik yang menggunakan metode penelitian memahami berbagai jenis metode penelitian kualitatif, prinsip-prinsip Kualitatif ini untuk memfasilitasi mahasiswa agar mengerti dan Ilmu Pemerintahan, maka tujuan pembelajaran mata kuliah Metode Penelitian dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh mahasiswa dan lulusan Jurusan Sesuai

    Metode

    Berbagai metode yang akan digunakan selama proses pembelajaran Ada Pertama adalah metode lecturing .mahasiswa tentang apa dan bagaimana metode analisa kualitatif dimana dosen akan menjelaskan kepada Keduadesain riset masing-masing jenis. Ketiga adalah untuk mendiskusikan berbagai jenis metode analisa kualitatif, termasuk melalui metode tutorial, yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa , ,evidence-based learning .exercise maupun penelitian lapangan serta keempat, penugasan-penugasan baik berupa writing and anylizing ,contoh skripsi/thesis yang menggunakan ragam metode penelitian kualitatif dimana mahasiswa akan diajak untuk bersama-sama mendiskusikan beberapa

    SUMBER :http://209.85.175.104/search?q=cache:1NXhq4d3JWYJ:elisa.ugm.ac.id/files/PSantoso_Isipol/6lsSyqnt/rancangan%2520silabus%2520MPK.rtf+penelitian+kualitatif&hl=en&ct=clnk&cd=186

    PENELITIAN TINDAKAN KELAS

    Penelitian tindakan kelas dewasa ini merupakan penelitian yang paling ngetren dikalangan praktisi, terutama digunakanuntuk pemecahan permasalahan dan mutu diberbagai bidang. Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatanpembelajaran penelitian tindakan kelas merupakan penelitian terapan, yang bermafaat bagi guru untuk meningkatkanproses dan hasil belajar di kelas. Permasalahan aktual yang ditemukan guru di kelasnya, melalui kegiatan ini dapatdipecahkan. Dilihat dari segi keuntungannya penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang ideal untuk dilakukanguru. Selain sebagai penelitian terapan, juga sekaligus merupakan penelitian yang dapat dilaksanakan di kelasnya,sehingga guru tidak lagi perlu meninggalkan kelasnya. Dengan demikian guru dapat berperan ganda yaitu sebagaipraktisi, juga sekaligus sebagai peneliti pendidikan. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh guru melalui penelitianini, antara lain:

    1. Guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran, dan guru reflektif dan kritis terhadapkegiatan di kelasnya.
    2. Guru dapat meningkatan kinerjanya lebih profesional, karena akan selalu melakukan inovasiyang dilandasi dari hasil penelitian.
    3. Guru dapat memperbaiki tahapan-tahapan pembelajaran, melalui kajian aktualyang muncul di kelasnya.
    4. Guru tidak terganggu tugasnya, dalam melakukan penelitian. Penelitian terintegrasi denganpembelajaran yang dilakukan dikelasnya.
    5. Guru menjadi kreatif karena dituntut untuk melakukan inovasi.

    Penerapanpenelitian tindakan kelas oleh guru mempunyai makna yang sangat tinggi. Oleh sebab itu perlu dilakukanpengembangan wawasan dan implementasi model penelitian ini, sehingga memungkinkan membudaya pada komunitas guru.

    Pengertian Penelitian Tindakan Kelas Sebelum membahas tentangproposal penelitian tindakan, terlebih dahulu perlu kita samakan persepsi tentang konsepsi penelitian tindakan kelas.Penelitian tindakan kelas merupakan hasil adaptasi dari penelitian tindakan yang awalnya muncul pada dunia industri.Adaptasi menjadi penelitian tindakan kelas pertama kali dikenalkan oleh ahli psikologis sosial Amerika Kurt Lewin padatahun 1946. Gagasan Lewin ini yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robbin McTarggart, John Elliot, Dave Ebbutt dll. Ada beberapa definisi tentang penelitian tindakan : Elliot (1982) , menyatakanbahwa penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya.

    SUMBER :http://209.85.175.104/search?q=cache:wB4XTkaGEzUJ:lpmpjogja.diknas.go.id/index2.php%3Foption%3Dcom_content%26do_pdf%3D1%26id%3D221+penelitian+tindakan+kelas&hl=en&ct=clnk&cd=66

  161. RUSTANTO 5525067435 said

    PENELITIAN TINDAKAN KELAS

    Penelitian tindakan kelas merupakan hasil adaptasi dari penelitian tindakan yang awalnya muncul pada dunia industri. Adaptasi menjadi penelitian tindakan kelas pertama kali dikenalkan oleh ahli psikologis sosial Amerika Kurt Lewin pada tahun 1946. Gagasan Lewin ini yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robbin Mc Targgart, John Elliot, Dave Ebbutt dll. Ada beberapa definisi tentang penelitian tindakan : Elliot (1982) , menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya —– telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengaruh —– menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional. Cogen dan Manion (1980), menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah intervensi sekala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut.Kemmis dan Targart (1988), menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian reflektif diri kolektif, yang dilakukan oleh pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik itu, dan terhadap situasi tempat dilakukannya praktik-praktik tersebut.Dari ketiga kutipan definisi di atas dapat diartikan bahwa : 1) hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, 2) penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang permasalahannya perlu dipecahkan, dan hasilnya diterapkan/ dipraktikkan.Menurut Siswojo Hardjodipuro, yang dimaksud oleh Carr dan Kemmis, penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh partisipan (guru, siswa, kepala sekolah dll) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran . Hardjodipuro lebih lanjut menyatakan bakwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut, dan agar mau untuk mengubahnya. PTK bukan hanya sekedar mengajar, melainkan mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar dan menggunakan kesadaran dirinya untuk siap adanya perubahan dan perbaikan pada proses pembelajarannya. PTK mendorong guru bertindak dan berfikir kritis dalam melaksakanan tugasnya secara profesional. 2. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas Ada sedikit yang membedakan penelitian tindakan dengan penelitian lainnya. PTK merupakan penelitian terapan, dimana hasilnya digunakan untuk diterapkan sebagai pengalaman praktis. Ada yang menyebutkan bahwa PTK mempunySasaran dan Obyek PTKMeliputi komponen-komponen dari sebuah kelas 1. Siswa 2. Guru3. Materi Pelajaran 4. Unsur peralatan atau sarana pendidikan 5. Unsur hasil pembelajaran 6. Unsur Lingkungan 7. Unsur Pengelolaan Siswa Permasalahan tentang siswa.
    re-searchengines.com/0306hidayat2.html – 23k

    PENELITIAN KUALITATIF

    kualitatif adalah informasi atau data yang dikumpulkan tidak berwujud angka-angka, analisisnya dengan prinsip logika. Istilah penelitian kualitatif awalnya juga berasal dari sebauh pengamatan kuantitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran pada tingkat tertentu dengan ciri tertentu pula. Secar garis besar kualitatif sifat realitas general, holistik, hasil konstruksi dari pemahaman, hubungan peneliti dengan yang diteliti interaksi, tidak dapat dipisahkan, kemungkinan generalisasikan transferabilitas (hanya mungkin dalam ikatan ruang dan waktu tetentu), peranan nilai terikat nilai.

    Penelitian kualitatif dipandang penting untuk melihat kondisi yang tidak mungkin dijangkau dengan rumus-rumus kuantitatif. Penelitian ini menitikberatkan keutuhan sebuah fenomena, bukan secar persial. Dalam kaitannya ini unsur pengamatan sangat menentukan keberhasilan penelitian. Terlebih bagi pengamatan berpartisispasi jelas amat penting bagi terlaksanakannya penelitian.

    Penelitian kualitatif ini juga melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan, penelitian kualitatif juga peneliti sendiri atu dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama, dalam hal ini pengumpulan data utama di lapangan peneliti memperan serta dalam kegiatan kemasyarakatan. Penelitian kualitatif menggunakn metode kualitatif digunakan karena beberapa pertimbangan, yaitu menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah dipandang berhadapan dengan kenyataan peneliti, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Penelitian kualitatif menggunakan analisis data secara induktif.penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusun teori substansi yang berasaldari data, dikumpulkan berupa fakta-fakta gambar dan bukan angka-angka, Lebih mementingkan segi “proses” daripada “hasil”, menghendaki ditetapkannya batas dalam penelitiannya atas dasar fokus yang timbul sebagai masalah-masalah dalam penelitian. Penelitian kualitatif juga menyusun desain yang secara terus-menerus disesuaikan dengan kenyatan lapangan, menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sebagai sumber data.

    Penelitian dengan tindakan suatu proses yang dilalui oleh perorangan atau kelompok yang menghendaki perubahan dalam situasi tetemtu, denagn merancang, melaksanakan dan merefleksikan tindakan secara kolaborasi dan partisipatif, yang diharapkan akan dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Penelitian tindakan dapat terdiri dari beberapa tahapan, dengan tujuan utama mengubah situasi, perilaku, atau organisasi termasuk struktur, mekanisme kerja dan iklim kerja.

    http://www.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/15112007191924_erie_penelitian_pak_tris_2.doc

  162. SITI HODIZAH 5525067452 said

    PENELITIAN TINDAKAN KELAS

    Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiridengan jalan merancang,melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatifdengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. PTKmemiliki karakteristik sebagai berikut. 1. Masalah berawal dari guru2. Tujuannya memperbaiki pembelajaran 3. Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian4. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran5. Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.Mengapa guru dianggap paling tepat untukmelakukan PTK ?1. Guru mempunyai otonomi untuk menilai kinerjanya2. Temuan penelitian tradisional sering sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran3. Guru merupakan orang yang paling akrab dengan kelasnya4. Interaksi guru-siswa berlangsung secara unik5. Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatifyang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan PTK di kelasnya.
    sumber:http://klinikpembelajaran.com/booklet/penelitian_

    PENELITIAN KUALITATIF

    Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alami (sebagai lawannya adalah eksperimen) di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), data yang dihasilkan bersifat deskriptif, dan analisis data dilakukan secara induktData kualitatif adalah data yang bebentuk kata, kalimat, skema dan gambar
    Data kualitatif yang diangkakan misalnya terdapat dalam skala pengukuran.
    Contoh : Suatu pernyataan pertanyaan yang memerlukan alternatif jawaban, sangat setuju, setuju, tidak setuju diberi angka 4, tidak setuju 2, dan sangat tidak setuju
    Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. if Hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Metode ini akan disajikan pada buku tersendiri.
    sumber:.http://adab.uin-suka.ac.id/file_kuliah/kuliah%20VI.ppt.

    SITI HODIZAH
    5525067452
    TATA BUSANA EKSTENSI 06

  163. LISYA MARYATI 5525067444 said

    S1.TATABUSANA.EKSTENSI.2006
    UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

    PENELITIAN KUALITATIF

    Metode kualitatif didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati (Bogdan & Taylor, 1975:5)

    Sedang David Williams (1995) penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah dengan menggunkan metode alamiah dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah.

    Prof.Dr. Lexy J. Moleong menyimpulkan penelitian kualitatif adalah “penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.” (2006:6)

    Ciri-ciri penelitian kualitatif

    1. Memiliki latar alamiah.
    2. Manusia sebagai alat/instrumen
    3. menggunkan metode kualitatif (pengamatan, interview atau penelaahan dokumen)
    4. Analisa data secara induktif
    5. Teori dari dasar (grounded theory)
    6. Bersifat deskriptif
    7. Lebih mementingkan proses daripada hasil
    8. Adanya batas yang ditentukan oleh fokus
    9. adanya kriteria khusus untuk keabsahan data
    10. Desain bersifat sementara
    11. Hasil penelitian dirundingkan dan disepkati bersama

    SUMBER : http://skripsimahasiswa.blogspot.com/search/label/Langkah%20penelitian

  164. Yenni Anggraini said

    Yenni Anggraini
    5525067464
    s! tata busana Eks’
    PENGERTIAN PENELITIAN KUALITATIF
    Menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain. Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengalaman para peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan.
    Bogdan dan Taylor (1992: 21-22) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yng menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasil kan uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, dan atau organisasi tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perpektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis tersebut kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya abstrak tentang kenyataan-kenyataan (Hadjar, 1996 dalam Basrowi dan Sukidin, 2002: 2)

    Sumber :
    http://www.bkn.go.id/sample/BabIIIEVA.html – 43k -

    PENELITIAN TINDAKAN KELAS

    Penelitian tindakan kelas atau lebih ngetrend disebut classroom action research merupakan kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan merefleksi hasil tindakannya (Hopkins 1993).

    Penelitian tindakan adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, tetapi dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri (Kemmis dan Mc Tanggart 1988).

    Karakteristik PTK meliputi: (1) dirancang untuk mengatasi permasalahan nyata, (2) diterapkan secara kontekstual, (3) terarah pada peningkatan kinerja guru di kelas, (4) bersifat fleksibel, (5) data diperoleh langsung dari pengamatan atas perilaku dan refleksi, (6) bersifat situasional dan spesifik (Natawidjaya 1997).

    Tujuan PTK:

    a. untuk menanggulangi masalah atau kesulitan dalam bidang pendidikan dan pengajaran
    b. untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja
    c. untuk melaksanakan program pelatihan dan jabatan guru
    d. untuk memasukkan unsur-unsur pembaruan dalam sistem pembelajaran.
    e. untuk meningkatkan interaksi pembelajaran
    f. untuk perbaikan suasana keseluruhan stakeholders pendidikan (Natawidjaya 1997)
    Sumber :
    re-searchengines.com/1207trimo1.html – 17k -

  165. Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.
    Sumber : http://www.isekolah.org/file/h_1090893369.doc
    Kejelasan Unsur :
    Subjek sampel, sumber data tidak mantap
    Dan rinci, masih fleksibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan

    Langkah penelitian :
    Baru diketahui denagn mantap dan jelas setelah penelitian selesai.

    Hipotesis (Jika memang perlu)
    Tidak menegmukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung— tentatif
    Hasil penelitian terbuka.

    Disain :
    Disain penelitiannya fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya.

    Pengumpulan data :
    Kegiatan pengumpulan data selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti.

    Analisis data :
    Dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data.

    Sumber:
    http://abdulhamid.files.wordpress.com/2007/03/materi_kuliah_3_19_feb_06.doc.

    Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah
    penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri
    dengan
    jalan
    merancang,
    melaksanakan,
    dan
    merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif
    dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru
    sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. PTK
    memiliki karakteristik sebagai berikut.
    1. Masalah berawal dari guru
    2. Tujuannya memperbaiki pembelajaran
    3. Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap
    mengikuti kaidah-kaidah penelitian
    4. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran
    5. Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.

    Sumber :
    http://klinikpembelajaran.com/booklet/penelitian_tindakan_kls.pdf.

    Penelitian tindakan banyak diterapkan dalam dunia kedokteran dalam menangani pasien. Jenis penelitian tindakan ini juga banyak dimanfaatkan dalam dunia sosial dan keamanan. Penelitian ini tergolong jenis penelitian praktis .Penelitian tindakan merupakan suatu bentuk penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu (misalnya guru, dan atau kepala sekolah) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran serta keabsahan dari (praktik-praktik social atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka mengenai praktik-praktik tersebut, dan (c) situasi kelembagaan tempat praktik-praktik itu dilaksanakan. Penelitian tindakan ini bertujuan untuk menanggulangi masalah atau kesulitan dalam pendidikan dan pengajaran, melaksanakan program pelatihan, memberikan pedoman bagi guru, untuk perbaikan suasana sistem keseluruhan sekolah, dan juga memasukkan unsur-unsur pembaharuan dalam sistem pendidikan dan pengajaran

    Sumber :

    Tindakan Kelas sebagai Alternatif Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA)1 oleh I Nyoman Merdhana IKIP Singaraja

  166. Yunda Mardianti (Tata Busana S1/Ekst'06) said

    penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain.

    Metode ini sangat cocok untuk digunakan pada penelitian dimana data yang dapat diidentifikasi dengan mudah.
    Beberapa hal lain dari metode kuantitatif diantaranya :
    1. Peranan identifikasi dan spesifikasi variabel sangat penting;
    2. Penelitian ini berdasarkan pada absraksi variabel dari konteksnya
    3. Sangat menekankan pentingnya reliability dan replicability data;
    4. Kurang memperhatikan validity;
    5. Sangat erat hubungannya dengan metode penelitian Survey, Sensus dan sebagainya;
    6. Kondisi data hanya menunjukkan keadaan atau situasi pada suatu waktu priode tertentu atau beberapa waktu (longitudinal);
    7. Cenderung menggunakan pendekatan diduktif (umum ke khusus);
    8. Sangat cocok untuk pertanyaan yang diawali, apa, dimana, siapa dan kapan dan tidak cocok untuk pertanyaan mengapa dan bagaimana;
    9. Hasil analisis jika dikumpulkan dalam survey, sensus, secara statistik dapat digeneralisasi.

    Metode ini sangat cocok digunakan untuk menjawab pertanyaan apa, dimana dan kenapa atau bagaimana.
    Beberapa hal lain dari metode kualitatif diantaranya:
    1. Data tidak dapat diidentifikasi dengan mudah;
    2. Data tidak dapat di kuantifikasikan;
    3. Menekankan pentingnya validity, kurang memperhatikan reliability;
    4. Erat kaitannya dengan studi kasus
    5. Hipotesa interpretasi data digunakan untuk membantu proses sebab akibat.
    6. Pendekatan yang dipakai bersifat induktif (dari yang khusus ke umum )
    7. Hasil penelitian secara ilmiah dapat digenderalisasi (tidak dapat di gendralisasikan) dengan repliability penemuan dari beberapa studi.
    8. Analisa data deskriftif untuk melihat proses dan secara langsung.
    9. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti partisipasi observasi, wawancara berstruktur dan tidak berstruktur serta focus group.

  167. Irna Fatimah said

    PENELITIAN KUALITATIF

    Data kualitatif yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung. (Amirin 2000).
    Penelitian kualitatif pada dasarnya merupakan suatu proses penyelidikan, yang mirip dengan pekerjaan detektif (Miles, 1992). Dari sebuah penyelidikan akan dihimpun data-data utama dan sekaligus data tambahannya. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Sedangkan data tertulis, foto, dan statistik adalah data tambahan (Moleong, 2007:157).
    Dalam penelitian kualitatif terdapat beberapa teknik dalam mengumpulkan data, seperti yang dikemukakan Sevilla, dkk (1993) bahwa dalam pengumpulan data penelitian dalam pendidikan dapat meliputi hal-hal sebagai berikut.
    1.Pengamatan
    2.Pertanyaan
    3.angket atau kuesioner
    4.studi dokumenter

    Metode penelitian kualitatif biasanya dilakukan dengan cara :
    Wawancara
    Observasi
    Etnografi

    Sumber : Ardhana12.wordpress.com/2008/02/08/teknik-pengimpulan-data-kualitatif

    PENELITIAN TINDAKKAN KELAS

    Ada beberapa langkah yang hendaknya diikuti dalam melakukan penelitian tindakan (lihat misalnya Cohen dan Manion, 1908; Taba dan Noel, 1982; Winter, 1989). Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi dan merumuskan masalah; (2) menganalisis masalah; (3) merumuskan hipotesis tindakan; (4) membuat rencana tindakan dan pemantauannya; (5) melaksanakan tindakan dan mengamatinya; (6) mengolah dan menafsirkan data; dan (7) melaporkan.

    Secara alami, langkah-langkah itu biasanya tidak terjadi dalam alur yang lurus. Apabila terjadi perubahan masalah pada waktu dilakukan analisis masalah, maka diperlukan identifikasi masalah yang baru. Data diperlukan untuk memfokuskan masalahnya dengan mengidentifikasi faktor penyebab, dalam menentukan hipotesis tindakan, dalam evaluasi dsb.

    1. Identifikasi dan Perumusan Masalah
    Seperti telah disinggung di muka, PTK Anda dilakukan untuk mengubah perilaku Anda sendiri, perilaku sejawat dan murid-murid Anda, atau mengubah kerangka kerja, proses pembelajaran, yang pada gilirannya menghasilkan perubahan pada perilaku Anda dan sejawat serta murid-murid Anda. Singkatnya, PTK Anda lakukan untuk meningkatkan praktik pembelajaran Anda. Contoh-contoh bidang garapan PTK:
    - metode mengajar, mungkin mengganti metode tradisional dengan metode penemuan;
    - strategi belajar, menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran daripada satu gaya belajar mengajar;
    - prosedur evaluasi, misalnya meningkatkan metode dalam penilaian kontinyu/otentik;
    - penanaman atau perubahan sikap dan nilai, mungkin mendorong timbulnya sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan;
    - pengembangan profesional guru misalnya meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan metode mengajar yang baru, menambah kemampuan analisis, atau meningkatkan kesadaran diri;
    - pengelolaan dan kontrol, pengenalan bertahap pada teknik modifikasi perilaku; dan
    - administrasi, menambah efisiensi aspek tertentu dari administrasi sekolah (Cohen dan Manion, 1980: 181).

    a. Identifikasi masalah
    Seperti dalam jenis penelitian lain, langkah pertama dalam penelitian tindakan adalah mengidentifikasi masalah. Langkah ini merupakan langkah yang menentukan. Masalah yang akan diteliti harus dirasakan dan diidentifikasi oleh peneliti sendiri bersama kolaborator meskipun dapat dengan bantuan seorang fasilitator supaya mereka betul-betul terlibat dalam proses penelitiannya. Masalahnya dapat berupa kekurangan yang dirasakan dalam pengetahuan, keterampilan, sikap, etos kerja, kelancaran komunikasi, kreativitas, dsb. Pada dasarnya, masalahnya berupa kesenjangan antara kenyataan dan keadaan yang diinginkan.

    Masalahnya hendaknya bersifat tematik seperti telah disebutkan di atas dan dapat diidentifikasi dengan pertolongan tabel dua arah model Aristoteles. Misalnya dalam bidang pendidikan, ada empat sel lajur dan kolom, sehubungan dengan anggapan bahwa ada empat komponen pokok yang ada di dalamnya (Schab, 1969) yaitu: guru, siswa, bidang studi, dan lingkungan. Semua komponen tersebut berinteraksi dalam proses belajar-mengajar, dan oleh karena itu dalam usaha memahami komponen tertentu peneliti perlu memikirkan bubungan di antara komponen-komponen tersebut.

    Berikut adalah beberapa kriteria dalam penentuan masalah: (a) Masalah harus penting bagi orang yang mengusulkannya dan sekaligus signifikan dilihat dari segi pengembangan lembaga atau program; (b) Masalahnya hendaknya dalam jangkauan penanganan. Jangan sampai memilih masalah yang memerlukan komitmen terlalu besar dari pihak para penelitinya dan waktunya terlalu lama; (c) Pernyataan masalahnya harus mengungkapkan beberapa dimensi fundamental mengenai penyebab dan faktor, sehingga pemecahannya dapat dilakukan berdasarkan hal-hal fundamental ini daripada berdasarkan fenomena dangkal.

    Berikut ini beberapa contoh masalah yang diidentifikasi sebagai fokus penelitian tindakan: (1) rendahnya kemampuan mengajukan pertanyaan kritis di kalangan mahasiswa; (2) rendahnya ketaatan staf pada perintah atasan; (3) rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Inggris; (4) rendahnya kualitas pengelolaan interaksi guru-siswa-siswa; (5) rendahnya kualitas pembelajaran bahasa Inggris ditinjau dari tujuan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dalam bahasa tersebut; dan (6) rendahnya kemandirian belajar siswa di suatu sekolah menengah atas.

    2. Analisis Masalah

    Analisis masalah perlu dilakukan untuk mengetahui demensi-dimensi masalah yang mungkin ada untuk mengidentifikasikan aspek-aspek pentingnya dan untuk memberikan penekanan yang memadai.

    Analisis masalah melibatkan beberapa jenis kegiatan, bergantung pada kesulitan yang ditunjukkan dalam pertanyaan masalahnya; analisis sebab dan akibat tentang kesulitan yang dihadapi, pemeriksaan asumsi yang dibuat kajian terhadap data penelitian yang tersedia, atau mengamankan data pendahuluan untuk mengklarifikasi persoalan atau untuk mengubah perspektif orang-orang yang terlibat dalam penelitian tentang masalahnya. Kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan melalui diskusi di antara para peserta penelitian dan fasilitatornya, juga kajian pustaka yang gayut.

    Sumber : http://www.ktiguru.org/index.php/ptk-3

    IRNA FATIMAH 5525067436
    S1 TATA BUSANA exs’06
    Universitas Negeri Jakarta

  168. Ria Maisalinia (5525067440) said

    Penelitian kualitatif

    Penelitian kulitatif itu lebih luas, karena tidak bisa diukur hanya dengan angka… tapi krn dalam statistik semua data hrs bentuk angka maka data kualitatif umumnya dikuantifikasikan. Misalnya kualitas mesin mobil, sangat bagus diberi angka 5, bagus 4,……,sangat jelek 1, dst.

    SUMBER:http://id.answers.yahoo.com/question/index;_ylt=AjJ3xN_CVlltgb6pD6PK6jwBRwx.;_ylv=3?qid=20080411051530AAGzca9&show=1#yan-answers

    Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)

    A. PENGERTIAN

    Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama.

    Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimliki peneliti.

    B.MASALAH CAR

    Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada saat menentukan masalah CAR.

    1. Banyaknya Masalah yang Dihadapi Guru

    Setiap hari guru mengahadapi banyak masalah, seakan-akan masalah itu tidak ada putus-putusnya. Oleh karena itu guru yang tidak dapat menemukan masalah untuk CAR sungguh ironis. Merenunglah barang sejenak, atau ngobrollah dengan teman sejawat, Anda akan segera menemukan kembali seribu satu masalah yang telah merepotkan Anda selama ini.

    2. Tiga Kelompok Masalah Pembelajaran

    Masalah pembelajaran dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu (a) pengorganisasian materi pelajaran, (b) penyampaian materi pelajaran, dan (c) pengelolaan kelas. Jika Anda berfikir bahwa pembahasan suatu topik dari segi sejarah dan geografi secara bersama-sama akan lebih bermakna bagi siswa daripada pembahasan secara sendiri-sendiri, Anda sedang berhadapan dengan masalah pengorganisasian materi. Jika Anda suka dengan masalah metode dan media, sebenarnya Anda sedang berhadapan dengan masalah penyampaian materi. Apabila Anda menginginkan kerja kelompok antar siswa berjalan dengan lebih efektif, Anda berhadapan dengan masalah pengelolaan kelas. Jangan terikat pada satu kategori saja; kategori lain mungkin mempunyai masalah yang lebih penting.

    3. Masalah yang Berada di Bawah Kendali Guru

    Jika Anda yakin bahwa ketiadaan buku yang menyebabkan siswa sukar membaca kembali materi pelajaran dan mengerjakan PR di rumah, Anda tidak perlu melakukan CAR untuk meningkatkan kebiasaan belajar siswa di rumah. Dengan dibelikan buku masalah itu akan terpecahkan, dan itu di luar kemampuan Anda. Dengan perkataan lain yakinkan bahwa masalah yang akan Anda pecahkan cukup layak (feasible), berada di dalam wilayah pembelajaran, yang Anda kuasai. Contoh lain masalah yang berada di luar kemampuan Anda adalah: Kebisingan kelas karena sekolah berada di dekat jalan raya.

    4. Masalah yang Terlalu Besar

    Nilai UAN yang tetap rendah dari tahun ke tahun merupakan masalah yang terlalu besar untuk dipercahkan melalui CAR, apalagi untuk CAR individual yang cakupannya hanya kelas. Faktor yang mempengaruhi Nilai UAN sangat kompleks mencakup seluruh sistem pendidikan. Pilihlah masalah yang sekiranya mampu untuk Anda pecahkan.

    5. Masalah yang Terlalu Kecil

    Masalah yang terlalu kecil baik dari segi pengaruhnya terhadap pembelajaran secara keseluruhan maupun jumlah siswa yang terlibat sebaiknya dipertimbangkan kembali, terutama jika penelitian itu dibiayai oleh pihak lain. Sangat lambatnya dua orang siswa dalam mengikuti pelajaran Anda misalnya, termasuk masalah kecil karena hanya menyangkut dua orang siswa; sementara masih banyak masalah lain yang menyangkut kepentingan sebagian besar siswa.

    6. Masalah yang Cukup Besar dan Strategis

    Kesulitan siswa memahami bacaan secara cepat merupakan contoh dari masalah yang cukup besar dan strategis karena diperlukan bagi sebagian besar mata pelajaran. Semua siswa memerlukan keterampilan itu, dan dampaknya terhadap proses belajar siswa cukup besar. Sukarnya siswa berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran, dan ketidaktahuan siswa tentang meta belajar (belajar bagaimana belajar) merupakan contoh lain dari masalah yang cukup besar dan strategis. Dengan demikian pemecahan masalah akan memberi manfaat yang besar dan jelas.

    7. Masalah yang Anda Senangi

    Akhirnya Anda harus merasa memiliki dan senang terhadap masalah yang Anda teliti. Hal itu diindikasikan dengan rasa penasaran Anda terhadap masalah itu dan keinginan Anda untuk segera tahu hasil-hasil setiap perlakukan yang diberikan.

    8. Masalah yang Riil dan Problematik

    Jangan mencari-cari masalah hanya karena Anda ingin mempunyai masalah yang berbeda dengan orang lain. Pilihlah masalah yang riil, ada dalam pekerjaan Anda sehari-hari dan memang problematik (memerlukan pemecahan, dan jika ditunda dampak negatifnya cukup besar).

    9. Perlunya Kolaborasi

    Tidak ada yang lebih menakutkan daripada kesendirian. Dalam collaborative action reseach Anda perlu bertukar fikiran dengan guru mitra dari mata pelajaran sejenis atau guru lain yang lebih senior dalam menentukan masalah.

    SUMBER:http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/21/penelitian-tindakan-kelas/

  169. IFA KHOLIPAH said

    PENELITIAN SURVEI Penelitian survai : digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil.
    Penelitian survei merupakan upaya pengumpulan informasi dari sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu. Metode ini bertitik tolak pada konsep, hipotesis, dan teori yang sudah mapan sehingga tidak akan memunculkan teori yang baru.
    Penelitian survei merupakan perangkat penelitian yang murah dan cepat sehingga informasi yang dibutuhkan dapat dihasilkan secara akurat dan tepat waktu
    Penelitian Survei:
    • Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
    • Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb;
    • Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
    • Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
    • Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan
    Tujuan penelitian survey adalah untuk memahami (meneliti?) tentang karakteristik dari seluruh kelompok yang hendak diteliti atau populasi dengan meneliti sebagian (subset) dari kelompok populasi tersebut yang selanjutnya disebut dengan sampel. Banyak pembaca yang sudah familiar dengan hasil penelitan survey di bidang politik, walaupun yang disurvey hanya sedikit jumlahnya. Karena akan tidak mungkin untuk mensurvey seluruh populasi di negeri kami (AS), maka para pengumpul pendapat umum (pollsters) memilih sampel kecil yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mewakili atau merepresentasikan populasi secara keseluruhan.Hasil dari survey terhadap sampel tersebut kemudian digeneralisasikan atau diberlakukan kepada populasi. Penelitian survey biasanya didefinisikan sebagai sebuah penelitian atau penelitian tentang kelompok besar melalui penelitian langsung dari subset (sampel) dari kelompok tersebut.
    3 karakteristik utama dalam penelitian survai, yaitu :
    1. Informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskrisikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu,
    2. Informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan tertulis maupun lisan dari suatu populasi,
    3.Informasi diperoleh dari sampel, bukan ari populasi.

    SUMBER:
    http://www.google.com “penelitian survey”
    Sukmadinata, Nana Syaodih. ( 2007 ). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

    Nama :ifa kholipah
    no.rek :5525067454
    Pen.Tata Busana Extensi 06
    UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

  170. Mochamad Asgofur said

    Mochamad Asgofur
    5552067450
    Pend. Tata Busana Eks SI 2006

    penelitian survey adalah untuk meneliti satu atau beberapa variabel dari sejumlah kesatuan atau entitas yang lebih besar.

    Tujuan penelitian survey adalah untuk memahami (meneliti?) tentang karakteristik dari seluruh kelompok yang hendak diteliti atau populasi dengan meneliti sebagian (subset) dari kelompok populasi tersebut yang selanjutnya disebut dengan sampel.

    Sumber :
    http://www.ktiguru.org/index.php/
    http://www.nakertrans.go.id/

  171. RINA ANGELINA said

    RINA ANGELINA
    5525067465
    SI’TATABUSANA’EKS 2006

    ”PENELITIAN KUALITATIF”
    Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.
    Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan.

    ”PENELITIAN TINDAKAN KELAS”
    Penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang
    ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian
    tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi
    pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ‘penelitian
    tindakan kelas’ atau PTK.
    Oleh : Prof. Dr. Suwarsih Madya

    sumber:- Oleh : Prof. Dr. Suwarsih Madya

    dsupria…@gmail.com

  172. selly murdiani (5525067441) said

    Selly Murdiani
    55250674441
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    PENELITIAN TINDAKAN KELAS

    Judul: PENELITIAN TINDAKAN KELAS
    Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENELITIAN / RESEARCH.
    Nama & E-mail (Penulis): Trimo, S.Pd.,M.Pd.
    Saya Kepala Sekolah di Kabupaten Kendal
    Topik: PTK
    Tanggal: 22 Desember 2007

    PENELITIAN TINDAKAN KELAS
    (Sebuah Refleksi Pembangkitan Profesionalisme Guru)

    A. Prolog

    Berbagai disain pendidikan dan pelatihan seolah menjadi idola oleh sebuah lembaga pendidikan, yang bermuara pada perlunya guru mengembangkan profesi. Bahkan, kesan “pemaksaan” guru untuk meneliti pun menjadi sebuah fenomena yang layak untuk ditindakkritisi. Apalagi opini publik telanjur memberi cap yang memerahkan telinga stakeholders pendidikan lantaran belum ada kontribusi yang signifikan antara harapan dan kenyataan dari sebuah kerja yang bernama diklat.

    Sebenarnya guru harus bangga manakala mengemban tugas yang terkait dengan diklat. Namun, beberapa diskusi terbatas yang sering saya lontarkan kepada teman-teman guru seakan tidak begitu peduli terhadap masa depan dari diklat yang diikuti. Mereka nyaris tidak terbebani dari “ilmu teoretis” yang sebenarnya secara conditio sine qua non perlu disebarluaskan kepada rekan sejawat, serta memelopori penerapannya. Itulah potret kita, guru masa depan bangsa.

    Tulisan sederhana ini merupakan refleksi perlunya guru belajar memahami hakikat pengembangan profesi, khususnya penelitian tindakan kelas yang mensyaratkan guru untuk mendisain pembelajaran bermakna.

    B. Content

    1. Konsep Dasar Pengembangan Profesi

    Sekadar membangkitkan kecerdasan anda, pengembangan profesi adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan keterampilan untuk peningkatan mutu baik bagi proses belajar-mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya maupun dalam rangka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan

    Setidaknya ada 5 (lima) macam kegiatan pengembangan profesi yang dapat anda lakukan, yakni: (1) melaksanakan kegiatan karya ilmiah di bidang pendidikan; (2) menemukan teknologi tepat guna di bidang pendidikan; (3) membuat alat pelajaran/peraga atau alat bimbingan; (4) menciptakan karya seni; dan (5) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.

    Kegiatan karya ilmiah di bidang pendidikan terdiri atas 7 (tujuh) hal yakni: (1) karya ilmiah hasil penelitian; (2) makalah berisi ulasan ilmiah; (3) tulisan ilmiah popular di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa; (4) prasaran yang berupa tinjauan, ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah; (5) buku pelajaran atau modul; (6) diktat pelajaran; dan (7) karya penerjemahan buku pelajaran yang bermanfaat bagi pendidikan.

    2. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

    Penelitian tindakan kelas atau lebih ngetrend disebut classroom action research merupakan kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh sekelompok masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan merefleksi hasil tindakannya (Hopkins 1993).

    Penelitian tindakan adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, tetapi dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri (Kemmis dan Mc Tanggart 1988).

    Karakteristik PTK meliputi: (1) dirancang untuk mengatasi permasalahan nyata, (2) diterapkan secara kontekstual, (3) terarah pada peningkatan kinerja guru di kelas, (4) bersifat fleksibel, (5) data diperoleh langsung dari pengamatan atas perilaku dan refleksi, (6) bersifat situasional dan spesifik (Natawidjaya 1997).

    Tujuan PTK:

    a. untuk menanggulangi masalah atau kesulitan dalam bidang pendidikan dan pengajaran
    b. untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja
    c. untuk melaksanakan program pelatihan dan jabatan guru
    d. untuk memasukkan unsur-unsur pembaruan dalam sistem pembelajaran.
    e. untuk meningkatkan interaksi pembelajaran
    f. untuk perbaikan suasana keseluruhan stakeholders pendidikan (Natawidjaya 1997)

    Manfaat PTK:

    a. Secara teoretis (1) membantu guru mengembangkan ilmu pengetahuan, (2) menerapkan teori-teori pembelajaran bermakna.
    b. Secara praktis: (1) guru dapat melakukan inovasi pembelajaran, (2) guru dapat meningkatkan kemampuan reflektifnya dan mampu memecahkan permasalahan pembelajaran, (3) guru terlatih mengembangkan kurikulum, (4) tercapai peningkatkan profesionalisme guru.

    Mengacu pengertian di atas dapat dimaknai bahwa PTK merupakan penelitian yang bersifat reflektif. Permasalahan riil yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran merupakan kata kunci untuk melakukan PTK, kemudian dicarikan alternatif pemecahannya,dan ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan nyata (action) yang dilakukan guru (dan bersama pihak lain).

    3. Pengajuan Proposal PTK

    Menyusun proposal PTK, identik dengan menyusun Rencana Pembelajaran saat guru menjelaskan materi. Proposal perlu disusun sebelumnya untuk mendeskripsikan serangkaian proses dari penelitian yang akan dilakukan. Setidaknya bagian-bagian proposal PTK meliputi:

    a. Judul Penelitian

    Judul penelitian hendaknya menyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan. Formulasinya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK.

    Contoh:
    Pemberian Tugas Tambahan untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Pokok Bahasan Soal Cerita pada Siswa kelas VI SDN 2 Blorok Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2006/2007

    b. Latar Belakang Masalah

    Ada dua hal yang perlu ditelaah dalam latar belakang masalah, yakni: kondisi ideal dan realitas dilapangan. Dimulai mengupas hal-hal yang bersifat ideal, lantas muncul permasalahan. Yang perlu diingat: munculnya permasalahan perlu didukung dengan data, pengamatan, teori, dan bila perlu penelitian terdahulu.

    c. Permasalahan

    Sebelum merumuskan permasalahan, seorang peneliti perlu mengidentifikasi permasalahan. Pada dasarnya masalah berpangkal pada sesuatu yang ideal. Masalah akan muncul jika kita menyadari adanya kesenjangan di lingkungan kita. Priyono (2000) mengatakan bahwa merupakan kesalahan besar menerapkan suatu intervensi tanpa diketahui terlebih dahulu akar permasalahan. Ditambahkan Arikunto (1991) bahwa permasalahan dalam penelitian dibedakan atas tiga yakni deskriptif, komparatif, dan korelatif.

    Contoh:
    1) Bagaimana penerapan pemberian tugas tambahan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika pokok bahasan soal cerita?”

    2) Apakah pemberian tugas tambahan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pokok bahasan soal cerita?

    d. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    Pada dasarnya tujuan penelitian merupakan suatu rumusan yang isi pokoknya adalah target yang akan dicapai dalam suatu penelitian. Tujuan penelitian perlu diselaraskan dengan permasalahan.

    Manfaat penelitian dibedakan dua hal, yakni teoretis dan praktis. Manfaat teoretis berkaitan dengan penerapan teori sedangkan praktis berkaitan dengan orang, badan, organisasi, dan lembaga.

    e. Landasan Teoretis

    Ada empat hal yang perlu diungkap dalam landasan teoretis, yakni kajian pustaka, kajian teori, kerangka berpikir, dan hipotesis tindakan.

    Kajian pustaka memuat konsep yang bersangkutan dengan masalah yang hendak diteliti dan menelaah hasil-hasil penelitian terdahulu.

    Kajian teori memuat teori-teori yang mendukung persoalan yang dibahas. Dalam konteks ini, peneliti perlu cerdas dalam menyusun teori-teori yang digunakan. Yang perlu diingat: dalam penyusunan teori-teori, peneliti harus cerdas dalam mengolah bahasa sehingga tidak terkesan comot sana-comot sini tanpa memberikan apresiasi terhadap yang dikutip.

    Kerangka berpikir merupakan argumentasi teoretik terhadap permasalahan yang dibahas. Dalam kerangka berpikir terdapat ulasan singkat mengenai asumsi bahwa melalui tindakan tertentu dapat meningkatkan sesuatu, selaras permasalahan penelitian.

    Hipotesis tindakan merupakan simpulan dari landasan teoretis dan kerangka berpikir.

    Contoh:
    Melalui pemberian tugas tambahan, prestasi belajar Matematika siswa kelas VI SDN 1 Magelung tahun pelajaran 2005/2006 dapat meningkat

    f. Metode Penelitian

    Metode penelitian adalah cara yang ditempuh untuk memecahkan permasalahan penelitian. Dalam metode penelitian dibahas: (1) setting penelitian dan karakteristrik subjek penelitian, (2) variable yang diteliti, (3) rencana tindakan, (4) data dan cara pengumpulannya, (5) indikator keberhasilan.

    Dalam setting penelitian dan karakteristrik subjek penelitian diungkapkan kelas berapa penelitian dilakukan dan bagaimana karakteristik kelas tersebut, seperti jumlah siswa, komposisi siswa menurut jenis kelamin, latar belakang sosial ekonomi, kategori kelas, dan sejenisnya.

    Variabel penelitian merupakan gejala yang diamati dan menjadi titik incar/fokus untuk menjawab permasalahan.

    Ada beberapa model rencana PTK, yakni model Kurt Lewin, Kemmis & Mc Taggart, John Elliot, dan Hopkins (Nurhalim 2000). Dari beberapa model tersebut, model Kurt Lewin merupakan model yang paling sederhana, yang mencakupi:

    1) Perencanaan (planning), yakni persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan PTK, seperti: penyusunan scenario pembelajaran, pembuatan media,

    2) Tindakan (acting), yaitu diskripsi tindakan yang akan dilakukan, scenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan, dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.

    3) Observasi (observing), yaitu kegiatan mengamati dampak atas tindakan yang dilakukan. Kegiatan ini dapatdilakukan dengan cara pengamatan, wawancara, kuesiober atau cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.

    4) Refleksi (reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh atas data yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan yang telah dirancang. Berdasarkan langkah ini akan dapat diketahui perubahan yang terjadi dan dilakukan telaah mengapa, bagaimana, dan sejauhmana tindakan yang ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi masalah secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan dalam bentuk replanning dapat dilakukan.

    Penelitian Kualitatif

    Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.

    re-searchengines.com/1207trimo1.html – 17k
    http://www.isekolah.org/file/h_1090893369.doc.

  173. selly murdiani (5525067441) said

    Selly Murdiani
    5525067441
    Pend.Tata Busana Ex/S1/06

    PENELITIAN SURVEY

    Bagaimana sikap para siswa siswa Cina terhadap pembelajaran bahasa Inggris? Bahasa asing apakah yang diajarkan di sekolah dasar dan menengah di Amerika Serikat? Bagaimana siswa ESL (English as a Second Language) tingkat lanjut memperbaiki tindak ujaran yang penting secara sosial? Bagaimana ciri-ciri dasar pengajaran melek-huruf (literacy instruction) yang diprogramkan bagi orang-orang dewasa? Itulah beberapa contoh dari macam-macam pertanyaan yang bisa dieksplorasi oleh peneliti dengan menggunakan metode penelitian survey.

    Penelitian survey, tentunya berbeda dengan penelitian penelitian kasus dalam hal langkah-langkah utamanya. Dalam penelitian kasus, peneliti mengamati dari dekat suatu kasus, seperti pembelajar (siswa), ruang kelas atau sebuah program. Karena penelitian kasus biasanya menyediakan informasi yang mendalam, maka kita perlu meneliti banyak hal tentang kasus-kasus tertentu, namun kita tidak banyak belajar tentang bagaimana kasus-kasus tersebut mirip satu sama lainnya. Di lain pihak, dalam penelitian survey, seorang peneliti mengamati banyak kasus, tetapi secara umum tidak meneliti tiap kasus secara mendalam. Agaknya perlu ditegaskan di sini, bahwa maksud dari penelitian survey adalah untuk meneliti satu atau beberapa variabel dari sejumlah kesatuan atau entitas yang lebih besar.

    Dalam bab ini kami akan membahas tentang karakter dasar dan penerapan penelitian survey. Kemudian kami akan mendiskusikan beberapa langkah kunci dalam merancang atau mendesain penelitian survey. Akhirnya, kami akan mengajukan serangkaian kriteria yang dipakai untuk mencermati penelitian survey dan menerapkannya pada satu contoh hasil penelitian survey.
    Apakah Penelitian Survey Itu?

    Tujuan penelitian survey adalah untuk memahami (meneliti?) tentang karakteristik dari seluruh kelompok yang hendak diteliti atau populasi dengan meneliti sebagian (subset) dari kelompok populasi tersebut yang selanjutnya disebut dengan sampel. Banyak pembaca yang sudah familiar dengan hasil penelitan survey di bidang politik, walaupun yang disurvey hanya sedikit jumlahnya. Karena akan tidak mungkin untuk mensurvey seluruh populasi di negeri kami (AS), maka para pengumpul pendapat umum (pollsters) memilih sampel kecil yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mewakili atau merepresentasikan populasi secara keseluruhan.Hasil dari survey terhadap sampel tersebut kemudian digeneralisasikan atau diberlakukan kepada populasi. Penelitian survey biasanya didefinisikan sebagai sebuah penelitian atau penelitian tentang kelompok besar melalui penelitian langsung dari subset (sampel) dari kelompok tersebut.1
    Penerapan Penelitian Survey

    Metode survey telah digunakan oleh peneliti bahasa kedua, pendidikan bilingual, dan peneliti bahasa asing untuk meneliti berbagai macam isu/permasalahan/topik dalam pembelajaran bahasa. Hal ini mencakup antara lain konteks perubahan demografis (kependudukan), setting institusional dimana profesional bahasa kedua berperan, kebijakan yang mempengaruhi pembelajaran dan pengajaran, administrasi program, persiapan guru, sikap guru dan professor (dosen) terhadap variasi bahasa, praktek berbahasa di ruang kelas, norma bahasa sasaran serta penggunaan dan perkembangan bahasa siswa. Dalam bagian ini, kami akan melihat temuan dari berbagai penelitian survey untuk mendapatkan ilustrasi tentang berbagai jenis permasalahan yang telah ditentukan.

    http://tarbiyah.uin-suka.ac.id/file_kuliah/Bab%205.doc

  174. Dian Avriyanti (5525067456) said

    Dian Avriyanti
    5525067456
    Pend. Tata Busana Ex/S1/06

    PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH): SALAH SATU BENTUK KARYA TULIS ILMIAH UNTUK PENGEMBANGAN PROFESI GURU

    pendahuluan

    Kegiatan Pengembangan Profesi Guru adalah kegiatan Guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan ketrampilan untuk peningkatan mutu baik bagi proses belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya, maupun dalam rangka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan. Terdapat lima macam kegiatan Guru yang termasuk kegiatan Pengembangan Profesi:

    1.Membuat Karya Tulis Ilmiah di bidang pendidikan
    2.Menemukan Teknologi Tepat Guna
    3.Membuat alat peraga atau alat bimbingan
    4.Menciptakan karya seni
    5.Mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum

    Macam karya tulis/karya ilmiah yang dapat dibuat Guru:

    1.Karya tulis ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survai, dan atau evaluasi di bidang pendidikan.
    2.Karya tulis atau makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan.
    3.Tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa.
    4.Prasaran yang berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah.
    5.Buku pelajaran atau modul.
    6.Diktat pelajaran
    7.Karya penerjemahan buku pelajaran/karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan.

    Karya tulis ilmiah yang berupa laporan hasil penelitian, harus memenuhi kriteria APIK :, Maksudnya adalah

    A : Asli: karya asli penyusun, bukan plagiat, jiplakan atau disusun dengan tidak jujur.

    P : Perlu: permasalahan memang perlu, mempunyai manfaat, tidak mengada-ada.

    I : Ilmiah: penelitian dilakukan sesuai kaidah kebenaran ilmiah.

    K : Konsisten: sesuai dengan bidang keilmuan Guru.

    Apa Penelitian Tindakan Kelas?

    Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau disebut juga dengan Classroom Action Research (CAR) adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Fokus PTK adalah pada siswa atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas. Hasil dari PTK ini dapat ditulis sebagai karya tulis ilmiah.

    Apa Tujuan PTK?

    Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di kelas dan meningkatkan kegiatan nyata Guru dalam pengembangan profesionalnya. Secara rinci, tujuan PTK antara lain:

    1. *Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
    *Membantu Guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran.
    *Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
    *Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.

    Mengapa PTK?

    *Merupakan pendekatan bagi pemecahan masalah yang bukan sekedar trial and error.
    *Menggarap masalah-masalah faktual yang dihadapi Guru dalam pembelajaran.
    o Guru tidak perlu meninggalkan tugas utamanya
    o Guru sebagai peneliti
    * Mengembangkan iklim akademik dan profesionalisme Guru, khususnya jika dilakukan secara kolaboratif dengan peneliti dari PT.
    * Dapat segera dilaksanakan pada saat muncul kebutuhan.
    * Dilaksanakan dengan tujuan perbaikan
    *Murah biayanya.
    o Disain lentur/fleksibel
    o Analisis data seketika
    o Manfaat jelas & langsung

    Masalah Apa yang Dapat Dikaji melalui PTK?

    * Berasal dari kondisi nyata di lapangan.
    *Benar-benar mendesak untuk dilaksanakan.
    *Menunjukkan harapan (berpotensi) untuk dapat diselesaikan
    * Penyelesaiannya merupakan perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran
    *Cakupan masalah untuk PTK cukup luas, diantaranya:
    *Masalah belajar siswa di sekolah seperti permasalahan belajar di kelas, kesalahan pembelajaran, miskonsepsi, mis-strategi, dan peningkatan hasil belajar siswa.
    *Pengembangan profesionalisme Guru dalam peningkatan mutu perancangan, pelaksanaan dan evaluasi program pengajaran.
    *Pengelolaan dan pengendalian, misalnya pengenalan teknik modifikasi perilaku, teknik memotivasi, dan teknik pengembangan potensi diri.
    *Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi metode pembelajaran, atau interaksi di dalam kelas, partisipasi orangtua dalam proses belajar siswa.
    *Penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai, misalnya pengembangan pola berpikir ilmiah dalam diri siswa.
    *Pengembangan pribadi siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya (termasuk dalam tema ini antara lain: peningkatan kemandirian dan tanggungjawab peserta didik, peningkatan keefektifan hubungan antara pendidik- siswa dan orangtua dalam PBM, peningkatan konsep diri peserta didik).
    *Alat bantu, media dan sumber belajar. Termasuk dalam tema ini, antara lain masalah penggunaan media, perpustakan, sumber belajar di dalam/di luar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat.
    *Sistem asesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen asesmen berbasis kompetensi).
    *Masalah kurikulum, misalnya implementasi kurikulum,interaksi guru-siswa, siswa-materi ajar, siswa-lingkungan belajar, urutan penyajian materi pokok.

    Apa Luaran PTK?

    1. *Peningkatan atau perbaikan terhadap kinerja belajar siswa di sekolah.
    *Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas.
    *Peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu, dan sumber belajar lainnya.
    *Peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.
    *Peningkatan atau perbaikan terhadap masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
    *Peningkatan atau perbaikan kualitas penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah.

    PENYUSUNAN USULAN/PROPOSAL PTK

    Pada umumnya usulan PTK terdiri dari:

    1.Judul PTK
    2.Bab Pendahuluan
    3.Bab Kajian/Tinjauan Pustaka
    4.Bab Metode Penelitian
    5.Penjelasan mengenai kegiatan pendukung (misalnya: jadwal penelitian, sarana pendukung pembelajaran dalam setiap kegiatan penelitian, kelayakan pembiayaan).

    Penelitian kualitatif

    (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.

    http://www.isekolah.org/file/h_1090893369.doc.
    http://ardhana12.wordpress.com/2008/01/25/belajar-penelitian-tindakan-kelas-yuuuk/

  175. Yunda Mardianti 5525067466 said

    Penelitian Tindakan Kelas

    Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (dosen dan guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Diimplementasikan dengan benar berarti sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan.

    PTK yang dikaitkan dengan pengelolaan kelas dapat dilakukan dalam rangka: 1) meningkatkan kegiatan belajar-mengajar, 2) meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar, 3) menerapkan pendekatan belajar-mengajar inovatif, dan 4) mengikutsertakan pihak ketiga dalam proses belajar-mengajar. PTK yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar dapat dilakukan dalam rangka: 1) menerapkan berbagai metode mengajar, 2) mengembangkan kurikulum, 3) meningkatkan peranan siswa dalam belajar, dan 4) memperbaiki metode evaluasi. PTK yang dikaitkan dengan pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar dapat dilakukan dalam rangka pengembangan pemanfaatan 1) model atau peraga, 2) sumber-sumber lingkungan, dan 3) peralatan tertentu. PTK sebagai wahana peningkatan personal dan profesional dapat dilakukan dalam rangka 1) meningkatkan hubungan antara siswa, guru, dan orang tua, 2) meningkatkan “konsep diri” siswa dalam belajar, 3) meningkatkan sifat dan kepribadian siswa, serta 4) meningkatkan kompetensi guru secara profesional. Jadi, masalah penelitian yang dipilih hendaknya memenuhi kriteria “dapat diteliti”, “ditindaki”, dan “ditindaklanjuti”.

    Dari sisi hal yang diamati, instrumen dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengamati guru (observing teachers), instrumen untuk mengamati kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengamati perilaku siswa (observing students).

    Sumber:http://www.ekofeum.or.id

  176. HIMATUL ULYA said

    PENGERTIAN PENELITIAN KUALITATIF DAN TINDAKAN KELAS

    1. Pengertian Penelitian Kualitatif
    Menurut Strauss dan Corbin (1997: 11-13), yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan 2. Pengertian Tindakan Kelas
    Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) adalah suatu bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru yang hasilnya dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan keahlian mengajar peningkatan profesionalisme guru, pengembangan sekolah, pengembangan kurikulum dan lain – lain ( Mc. Niff ; 1992 : 1 dalam Djuweni, 2005 : 2 ). Jenis penelitian ini merupakan penelitian praktis yang dilakukan dikelas dan bertujuan untuk menemukan strategi pembelajaran yang tepat untukmemperbaiki praktik pembelajaran yang ada.
    2. Karakteristik PTK
    Penelitian tindakan kelas mempunyai ciri yang nampak jelas yaitu:
    a. Situasional artinya sesuai dengan diagnosa masalah dalam konteks tertentu yang diangkat dari praktik pembelajaran sehari-hari yang dirasakan oleh guru dan siswa.
    b. Bersifat self evaluatif yaitu dalam memodifikasi kegiatan praktis dilakukan sendiri secara kontinu dan dievaluasi hingga mencapai perbaikan yang nyata.
    c. Kolaboratif artinya dalam pelaksanaan tindakan kelas guru dapat bekerja sama secara partisipatif dengan guru lain, kepala sekolah, peneliti ahli ataupun siswa sehingga perspektif terhadap obyek dan hasil penelitian objektif.
    d. Penelitian tindakan kelas memanfaatkan data hasil pengamatan dan perilaku empiris yang bukan sekedar kesan impresionistik subjektif.
    3. Manfaat PTK
    Ditinjau dari segi akademik penelitian tindakan kelas bermanfaat untuk membantu guru menghasilkan pengetahuan yang valid dan relevan dengan kondisi kelas mereka untuk memperbaiki proses pembelajaran jangka pendek ( Raka Joni, 1995 dalam Djuweni, 2005 : 4 )
    a. Pelaksanaan inovasi pembelajaran dari bawah ( bottom up)
    b. Pengembangan kurikulum ditingkat kelas dan sekolah
    c. Meningkatkan profesionalisme guru yaitu melalui pengkajian dan pengembangan secara sistematik dan berkelanjutan.
    4. Menurut model Kemis dan Mc. Taggart, pelaksanaan penelitian tindakan mencakup empat langkah :
    a. Merumuskan masalah dan merencanakan tindakan.
    b. Melaksanakan tindakan dan melaksanakan monitoring.
    c. Refleksi hasil pengamatan.
    d. Perubahan / revisi perencanaan untuk kegiatan selanjutnya.
    Mc. Kernan menyebutkan tujuh langkah dalam PTK
    a. Analisis situasi atau mengenal medan
    b. Perumusan dan klasifikasi masalah
    c. Hipotesis tindakan
    d. Perencanaan tindakan dan monitoring
    e. Implementasi tindakan dan monitoring
    f. Evaluasi hasil tindakan
    g. Refleksi dan pengambilan keputusan untuk pengembangan selanjutnya.
    5. Identifikasi dan Merumuskan Masalah

    Sumber : http://www.bkn.go.id/sample/BabIIIEVA.

  177. IRMA INDRIANI (5525067438) said

    IRMA INDRIANI (5525067438)
    S1.PEND.TATA BUSANA’06 EXTENSI

    Teori dalam penelitian kualitatif

    Januari 16, 2008 · Disimpan dalam Metode Riset Komunikasi · Tagged intermezzo

    Masih banyak yang salah kaprah. Metode penelitian yang digunakan adalah Kualitatif, namun pusing memikirkan teori sebelum memulai penelitian.

    Padahal, penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori, tidak untuk menguji teori atau mengukuhkan teori yang ada. Jadi buat apa bertanya: penelitian ini memakai teori apa ya?

    Penelitian kualitatif berangkat dari lapangan dan akhirnya (bisa) menghasilkan teori. Di sinilah uniknya penelitian kualitatif. Peneliti tidak dibebani oleh teori. Bahkan, pada metode grand-theory kualitatif, peneliti langsung terjun ke lapangan sambil merancang penelitiannya. Dari sana baru didesain penelitian, sambil mengumpulkan informasi dan hasil pengamatan untuk menghasilkan suatu teori baru atas fenomena di lapangan. Namun, bukan berarti bahwa peneliti “cupu” abis. Setidaknya, peneliti juga harus punya wawasan untuk dapat menginterpretasi dan menganalisis fenomena di lapangan. Salah satunya adalah mengetahui teori yang relevan. Salah satu ya, bukan satu-satunya. Yang lain apa? Yang lain adalah pendapat-pendapat, komentar-komentar, kutipan-kutipan pembicaraan, ulasan artikel, jurnal, hasil penelitian yang relevan, bahkan ‘curhat’ yang ada di blog sekalipun jika memang relevan.

    Jadi, apa fungsi teori dalam penelitian kualitatif?

    Berbeda dengan teori pada penelitian kuantitatif yang menjadi dasar penelitian untuk diuji, maka pada penelitian kualitatif, teori berfungsi sebagai inspirasi dan perbandingan. Mungkin Anda terinspirasi dari suatu teori yang kemudian menjadi kerangka berpikir Anda dalam meng-capture suatu fenomena? Atau ketika Anda menjelaskan dan membahas suatu fenomena, Anda teringat pada suatu teori yang berkaitan dengan fenomena tersebut, maka ungkapkanlah. Teori akan memperkuat penjelasan Anda. Dan memberi warna yang lebih tajam bagi analisis Anda. Namun, teori bukan satu-satunya alat analisis ataupun perbandingan dan bahkan inspirasi Anda. Karena inspirasi bisa datang dari mana saja. Dari sebuah artikel ringan di sebuah majalah ‘ecek-ecek’, dari sebuah ungkapan ngawur di pinggir jalan, dari mana saja. Sepanjang itu membentuk cara berpikir Anda dalam memandang suatu fenomena, maka itu bisa menjadi inspirasi bagi Anda. Jadi, dalam penelitian kualitatif, teori bukan satu-satunya kacamata yang bisa digunakan untuk ‘melihat’. Ada banyak kacamata lain. Karena itu, mengumpulkan segala macam informasi yang relevan serta dari segala macam sumber adalah penting. Karena seperti diulaskan tadi, selain menjadi inspirasi, segala informasi dan rujukan tersebut juga dapat menjadi bahan perbandingan Anda pada pembahasan hasil penelitian.

    Saya memberi contoh misalnya sebuah cerita.

    Ketika sedang menunggu bus yang lewat, tiba-tiba Resa dikejutkan oleh seorang laki-laki parlente dengan dandanan unik. Laki-laki itu bertanya dengan gaya sok wibawa, namun tak mampu menyembunyikan ‘jari ngetril’-nya. Ini mengingatkan Resa pada sosok ‘Pemburu’ dalam film Quickie Express saat mencoba mendekati tokoh Jojo yang diperankan oleh Tora Sudiro. Yang membedakan hanya potongan tubuh sosok di hadapannya tampak lebih tinggi dan kurus. Begitu pula mobil yang ditepikan di depan halte tampak lebih mengilap dibandingkan milik om ‘pemburu’ dalam film tersebut.

    Nah, ungkapan “sosok ‘Pemburu’ dalam film Quickie Express saat mencoba mendekati tokoh Jojo yang diperankan oleh Tora Sudiro” adalah sama fungsinya dengan teori yang menjadi bahan perbandingan dalam pembahasan penelitian kualitatif.

    Sedangkan ungkapan “Yang membedakan hanya potongan tubuh sosok di hadapannya tampak lebih tinggi dan kurus. Begitu pula mobil yang ditepikan di depan halte tampak lebih mengilap dibandingkan milik om ‘pemburu’ dalam film tersebut” adalah hasil perbandingan dan analisisnya.

    Jadi jelas, teori dalam penelitian kualitatif hanya sebagai bahan perbandingan dan inspirasi, bukan sebagai dasar penelitian untuk diuji keberlakuannya pada fenomena atau masalah yang diteliti. Jadi, kenapa harus repot-repot memikirkan teori apa yang hendak digunakan sebelum penelitian?

    B. APAKAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) ITU?
    Pertanyaan di atas tentu akan menggelitik kita. Betapa tidak, bila kita bicara tentang penelitian, anggapan orang mengatakan penelitian itu pekerjaan seorang ilmuwan. Kalau sudah bicara tentang ilmuwan, maka gambaran yang terbersit dalam kacamata kita adalah pastilah sukar, rumit alias susah binti sulit. Benarkah demikian ? Mengapa sebagian guru merasa penelitian itu sulit? Apakah penelitian itu memerlukan dana yang besar sehingga harus menunggu bantuan?
    Selama ini, menulis karya ilmiah merupakan momok bagi para guru. Kurangnya budaya membaca menyebabkan guru kurang dapat menulis dengan baik. Padahal, menulis itu dimulai dari banyak membaca. Kalau sudah banyak membaca, tentunya guru akan tertarik untuk meneliti. Penelitian dimulai dari adanya masalah. Masalah dapat dipecahkan bila kita melakukan penelitian. Penelitian dapat dilakukan bila adanya upaya dari guru untuk memperbaiki kualitas pembelajarannya di sekolah.
    Sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Masalah PTK harus berawal dari guru itu sendiri yang berkeinginan memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajarannya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

  178. IRMA INDRIANI (5525067438) said

    IRMA INDRIANI (552506743 8)
    S1.PEND.TATA BUSANA’06 EXTENSI

    Teori dalam penelitian kualitatif

    Januari 16, 2008 · Disimpan dalam Metode Riset Komunikasi · Tagged intermezzo

    Masih banyak yang salah kaprah. Metode penelitian yang digunakan adalah Kualitatif, namun pusing memikirkan teori sebelum memulai penelitian.

    Padahal, penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori, tidak untuk menguji teori atau mengukuhkan teori yang ada. Jadi buat apa bertanya: penelitian ini memakai teori apa ya?

    Penelitian kualitatif berangkat dari lapangan dan akhirnya (bisa) menghasilkan teori. Di sinilah uniknya penelitian kualitatif. Peneliti tidak dibebani oleh teori. Bahkan, pada metode grand-theory kualitatif, peneliti langsung terjun ke lapangan sambil merancang penelitiannya. Dari sana baru didesain penelitian, sambil mengumpulkan informasi dan hasil pengamatan untuk menghasilkan suatu teori baru atas fenomena di lapangan. Namun, bukan berarti bahwa peneliti “cupu” abis. Setidaknya, peneliti juga harus punya wawasan untuk dapat menginterpretasi dan menganalisis fenomena di lapangan. Salah satunya adalah mengetahui teori yang relevan. Salah satu ya, bukan satu-satunya. Yang lain apa? Yang lain adalah pendapat-pendapat, komentar-komentar, kutipan-kutipan pembicaraan, ulasan artikel, jurnal, hasil penelitian yang relevan, bahkan ‘curhat’ yang ada di blog sekalipun jika memang relevan.

    Jadi, apa fungsi teori dalam penelitian kualitatif?

    Berbeda dengan teori pada penelitian kuantitatif yang menjadi dasar penelitian untuk diuji, maka pada penelitian kualitatif, teori berfungsi sebagai inspirasi dan perbandingan. Mungkin Anda terinspirasi dari suatu teori yang kemudian menjadi kerangka berpikir Anda dalam meng-capture suatu fenomena? Atau ketika Anda menjelaskan dan membahas suatu fenomena, Anda teringat pada suatu teori yang berkaitan dengan fenomena tersebut, maka ungkapkanlah. Teori akan memperkuat penjelasan Anda. Dan memberi warna yang lebih tajam bagi analisis Anda. Namun, teori bukan satu-satunya alat analisis ataupun perbandingan dan bahkan inspirasi Anda. Karena inspirasi bisa datang dari mana saja. Dari sebuah artikel ringan di sebuah majalah ‘ecek-ecek’, dari sebuah ungkapan ngawur di pinggir jalan, dari mana saja. Sepanjang itu membentuk cara berpikir Anda dalam memandang suatu fenomena, maka itu bisa menjadi inspirasi bagi Anda. Jadi, dalam penelitian kualitatif, teori bukan satu-satunya kacamata yang bisa digunakan untuk ‘melihat’. Ada banyak kacamata lain. Karena itu, mengumpulkan segala macam informasi yang relevan serta dari segala macam sumber adalah penting. Karena seperti diulaskan tadi, selain menjadi inspirasi, segala informasi dan rujukan tersebut juga dapat menjadi bahan perbandingan Anda pada pembahasan hasil penelitian.

    Saya memberi contoh misalnya sebuah cerita.

    Ketika sedang menunggu bus yang lewat, tiba-tiba Resa dikejutkan oleh seorang laki-laki parlente dengan dandanan unik. Laki-laki itu bertanya dengan gaya sok wibawa, namun tak mampu menyembunyikan ‘jari ngetril’-nya. Ini mengingatkan Resa pada sosok ‘Pemburu’ dalam film Quickie Express saat mencoba mendekati tokoh Jojo yang diperankan oleh Tora Sudiro. Yang membedakan hanya potongan tubuh sosok di hadapannya tampak lebih tinggi dan kurus. Begitu pula mobil yang ditepikan di depan halte tampak lebih mengilap dibandingkan milik om ‘pemburu’ dalam film tersebut.

    Nah, ungkapan “sosok ‘Pemburu’ dalam film Quickie Express saat mencoba mendekati tokoh Jojo yang diperankan oleh Tora Sudiro” adalah sama fungsinya dengan teori yang menjadi bahan perbandingan dalam pembahasan penelitian kualitatif.

    Sedangkan ungkapan “Yang membedakan hanya potongan tubuh sosok di hadapannya tampak lebih tinggi dan kurus. Begitu pula mobil yang ditepikan di depan halte tampak lebih mengilap dibandingkan milik om ‘pemburu’ dalam film tersebut” adalah hasil perbandingan dan analisisnya.

    Jadi jelas, teori dalam penelitian kualitatif hanya sebagai bahan perbandingan dan inspirasi, bukan sebagai dasar penelitian untuk diuji keberlakuannya pada fenomena atau masalah yang diteliti. Jadi, kenapa harus repot-repot memikirkan teori apa yang hendak digunakan sebelum penelitian?

    B. APAKAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) ITU?
    Pertanyaan di atas tentu akan menggelitik kita. Betapa tidak, bila kita bicara tentang penelitian, anggapan orang mengatakan penelitian itu pekerjaan seorang ilmuwan. Kalau sudah bicara tentang ilmuwan, maka gambaran yang terbersit dalam kacamata kita adalah pastilah sukar, rumit alias susah binti sulit. Benarkah demikian ? Mengapa sebagian guru merasa penelitian itu sulit? Apakah penelitian itu memerlukan dana yang besar sehingga harus menunggu bantuan?
    Selama ini, menulis karya ilmiah merupakan momok bagi para guru. Kurangnya budaya membaca menyebabkan guru kurang dapat menulis dengan baik. Padahal, menulis itu dimulai dari banyak membaca. Kalau sudah banyak membaca, tentunya guru akan tertarik untuk meneliti. Penelitian dimulai dari adanya masalah. Masalah dapat dipecahkan bila kita melakukan penelitian. Penelitian dapat dilakukan bila adanya upaya dari guru untuk memperbaiki kualitas pembelajarannya di sekolah.
    Sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Masalah PTK harus berawal dari guru itu sendiri yang berkeinginan memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajarannya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

    Sumber : http://www.bkn.go.id/sample/BabIIIEVA

  179. fitri pratiwi ( 5525067453 ) said

    Penelitian Tindakan kelas

    Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk perbaikan kinerja atau penampilan pada suatu bidang atau kegiatan tertentu yang sedang dan atau akan berlangsung. Apabila diimplementasikan dalam dunia pendidikan atau penelitian kelas, maka diharapkan adanya upaya perbaikan praktik-praktik pembelajaran dan atau pendidikan. Perbaikan praktik pembelajaran atau pendidikan, artinya harus mencakupi perbaikan-perbaikan keseluruhan unsure pembelajaran secara simultan.

    sumber : http://andieirfan.multiply.com/journal/item/9/PAPARAN_PENELITIAN_PENDIDIKAN

  180. Lisya Maryati 5525067444 said

    ARTIKEL ILMIAH INDONESIA :
    REFLEKSI PENELITIAN DI INDONESIA

    Pada negara-negara yang telah mengalami kemajuan Iptek, paper ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional merupakan salah satu ukuran penting untuk mengukur kualitas penelitian. Di beberapa negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika, jumlah dan kualitas paper ilmiah yang dipublaksikan tersebut bahkan dijadikan salah satu ukuran untuk menentukan berapa besar dana penelitian yang akan diberikan pada laboratorium tersebut. Paper ilmiah dianggap cukup mewakili penilaian kualitas penelitian, mengingat paper tersebut akan diuji oleh para peneliti yang berkompeten di bidangnya sebelum dinyatakan layak untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah tersebut.

    Majalah ternama ilmu pengetahuan Nature terbitan 21 Juli 2005 memuat sebuah artikel menarik tentang perkembangan penelitian yang sangat pesat dari negara-negara di Asia. Data tersebut melaporkan pesatnya pertumbuhan publikasi ilmiah yang ditunjukkan oleh negara di Asia Pasific pada tahun 2004 yang mencapai 25% dari total paper ilmiah yang terbit di seluruh dunia. Jumlah ini jauh meningkat dari tahun 1990 yang hanya sebesar 16%. Meskipun jumlah tersebut masih dibawah Eropa yang mempublikasikan paper sebanyak 38% dan Amerika Serikat sebesar 33% dari total paper ilmiah di dunia, pertumbuhan yang pesat dari negara-negara di Asia pasific merupakan “ancaman” baru bagi Eropa dan Amerika.

    Analisis dari National Science Foundation (NSF), sebuah lembaga ilmu pengetahuan bergengsi milik pemerintah Amerika, menyatakan bahwa jumlah peper ilmiah yang dihasilkan oleh Amerika cenderung tetap dari tahun ke tahun dalam dekade terakhir ini, sedangkan negara-negara lain mengalami peningkatan. NSF menyatakan bahwa Cina, Korea Selatan, Singapore, dan Taiwan memiliki pertumbuhan yang paling tinggi dianatara negara-negara Asia lainnya, di samping Jepang yang memang sudah sejak lama memiliki tradisi kuat mempublikasikan paper ilmiah. NSF mencatat pertumbuhan publikasi hasil riset di Cina antara tahun 1998 sampai 2001 mencapai lima kali, Singapura dan Taiwan enam kali, dan Korea Selatan bahkan mencapai 14 kali. Sementara itu Amerika Serikat hanya mencapai 1.1 kalinya dan eropa 1.6, sementara total pertumbuhan di dunia sebesar 1.4 kali.

    Kondisi pertumbuhan penelitian yang pesat ini membuat “kekhawatiran” di kalangan peneliti di Eropa bahwa kiblat ilmu pengetahuan akan berpindah ke benua Asia. Komisi Uni Eropa bahkan menyatakan sangat mungkin bagi Eropa untuk gagal memenuhi tujuan-tujuan pengembangan risetnya dengan pertumbuhan seperti ini. Van Bubnoff dalam artikel di majalah Nature bahkan menyatakan jika pertumbuhan riset di negara-negara Asia tetap seperti ini, dalam enam sampai tujuh tahun ke depan diyakini posisi Amerika di tempat kedua akan mampu digeser oleh Asia dalam jumlah publikasi paper ilmiah. Meskipun secara umum kualitas paper ilmiah Asia masih mungkin berada di bawah negara Eropa dan Amerika, kondisi pertumbuhan seperti ini dianggap mampu merangsang dan menciptakan kondisi kondusif bagi peneliti di negara-negara Asia Pasific untuk makin meningkatkan kualitas paper ilmiahnya. Dan bukannya tidak mungkin sedikit demi sedikit kualitas paper ilmiah dari negara Asia pun akan bisa mengungguli hasil riset dari Eropa dan Amerika.

    Bagaimana dengan Indonesia ?

    Di tengah kebangkitan negara Asia yang lainnya, yang disebut oleh Nature sebagai paper tigers atau macannya paper ilmiah, prestasi paper ilmiah di Indonesia bisa dikatakan masih memprihatinkan. Sebuah lembaga ilmiah Thomson Scientific yang brbasis di Philadelphia Amerika secara berkala mengeluarkan data paper ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal internasional. Dari data tersebut didapatkan bahwa jumlah paper ilmiah yang berhasil di publikasikan selama tahun 2004 oleh peneliti di Indonesia (yang berafiliasi dengan lembaga penelitian atau universitas di Indonesia) berjumlah 522 paper ilmiah. Jumlah ini hanya sekitar 1/3 dari paper ilmiah yang hasilkan oleh negara tetangga Malayisa yang berjumlah 1438.

    Di antara negara ASEAN Indonesia menduduki peringkat keempat di bawah Singapore dengan 5781 paper, Thailand yang memiliki 2397 paper dan Malaysia. Sementara jika dibandingkan negara-negara maju di Asia jumlah paper Indonesia jelas sangat tertinggal di mana Jepang memiliki 83484 paper, Cina 57740 paper, Korea 24477 paper, dan India 23336 paper. Jumlah dari Indonesia juga hampir sama dengan paper ilmiah dari Vietnam yang memiliki 453 paper selama tahun 2004 tersebut.

    Jika kita lihat dari pertumbuhan jumlah paper antara tahun 1990 dan 2004, Indonesia yang pertumbuhan paper ilmiahnya 2.67 ternyata memiliki pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan negara ASEAN lainnya seperti Singapura (7), Thailand (4.81), Malaysia (3.89) Singapura (7) dan bahkan Vietnam (3.84). Negara kita hanya menang jika dibandingkan Philipina dan Brunei yang memang sangat sedikit jumlah paper ilmiahnya, yaitu dibawah 50 paper.

    Kondisi di atas setidaknya bisa merefleksikan bagaimana kondisi penelitian di Indonesia jika dibandingkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan di dunia. Adalah realitas bahwa negara kita masih sangat lemah dari sisi pengembangan IPTEK bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara di tetangga. Ada beberapa hal yang menurut penulis perlu dikembangkan dalam kaitannya dengan dunia penelitian di Indonesia, antara lain:

    - Pertama, menghidupkan pertemuan ilmiah. Di negara maju seperti Jepang, pertemuan ilmiah yang diselenggarakan oleh komunitas ilmiah merupakan hal yang sangat lumrah bahkan bagi mahasiswa S1 dan S2 sekalipun. Selain dapat merangsang semangat meneliti, pertemuan ilmiah oleh komunitas ilmu tertentu akan dapat membantu mahasiswa dan peneliti mengetahui perkembangan terbaru dari riset di bidangnya. Selain itu pertemuan ilmiah yang juga menjadi ajang yang sangat penting untuk terbangunnya kerja sama antar laboratorium.

    - Kedua, mendorong terjadinya sinergi antar laboratorium. Adalah hal yang kita ketahui bersama bahwa pendanaan merupakan kendala terbesar bagi kemajuan riset di Indonesia. Dengan adanya keterbatasan tersebut, selayaknya dilakukan kerjasama dari dua atau bahkan beberapa laboratorium untuk mengatasi keterbatasan yang ada. Kerja sama antar laboratoirum juga akan mampu menekan penelitian yang berulang yang sebenrnya telah dilakukan oleh salah satu laboratorium.

    - Ketiga, mengembangkan jurnal-jurnal ilmiah di tanah air. Saat ini sebenarnya sudah ada beberapa jurnal ilmiah yang dikelola oleh komunitas ilmiah. Meskipun begitu praktis gaungnya tidak terlalu hidup kecuali sebatas pengurus komunitas ilmiahnya, disamping masalah pendanaan yang tidak jarang membuat sebuah jurnal ilmiah kemudian mati suri. Padahal keberadaan sebuah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala merupakan parameter keberadaan riset pada bidang tersebut. Jurnal ilmiah ini juga bisa menjadi wahana saling bertukar informasi yang efektif pada sebuah bidang ilmu pengetahuan.

    Menghidupkan jurnal ilmiah akan menjadi satu jalan penting untuk kebangkitan IPTEK di Indonesia. Berbagai cara sebenarnya bisa dilakukan untuk mewujudkan hal ini mulai dari dimasukkannya poin penilaian secara khusus bagi peneliti yang mampu mempublikasikan paper di jurnal ilmiah, menjadikan syarat publikasi di jurnal untuk mendapatkan grant ataupun setelah grant penelitian selesai, syarat kelulusan studi S2 dan S3. Pengeloaan jurnal ilmiah secara elektronik melalui internet juga perlu dilakukan untuk mengatasi kendala biaya penerbitan. Di beberapa negara maju syarat seperti di atas ditetapkan kepada mahasiswa selain untuk menambah wawasan mahasiswa tersebut akan bidang yang ditelitinya, juga untuk mengetahui sejauh mana penilaian terhadap hasil penelitiannya dari peneliti lain melalui referee (penguji) dari jurnal ilmiah tersebut.

    - Keempat, membuat prioritas penelitian. Meskipun dalam rencana strategis IPTEKNAS sudah diletakkan beberapa prioritas pokok Iptek yang akan dikembangkan di Indonesia, tetapi tetap saja arah penelitian yang berkembang baik di universitas maupun di lembaga penelitian belum mampu menciptakan sebuah trade mark tersendiri apa yang menjadi kompetensi bangsa Indonesia. Berbeda dengan Singapura yang meskipun sudah maju dari sisi penelitian, Singapura tetap memiliki prioritas di bidang Bioteknologi, demikian juga dengan Kuba atapun India yang juga fokus pada Bioteknologi selain IT nya.

    Masing-masing peneliti di lembaga penelitian di Indonesia kebanyakan hanya bekerja sendiri tanpa adanya sinergi untuk memfokuskan pada satu bidang yang diteliti. Sehingga wajar kalau kita kesulitan ketika meraba ada di mana kompetensi dari sebuah lembaga riset atau sebuah departemen di universitas misalnya. Kondisi ini bisa jadi disebabkan disebabkan karena masih lemahnya arahan pemerintah tentang fokus penelitian. Pemerinah juga masih terkesan memilih dana penelitian bisa tersebar merata ke banyak kelompok peneliti meskipun akhirnya dana yang relatif kecil tersebut tidak cukup produktif untuk menghasilkan sebuah penelitian yang berkualitas.

    Demikianlah beberapa hal yang diharapkan dapat mendorong kemajuan penelitian di Indonesia. Di samping hal-hal di atas, tugas besar untuk memberikan penghargaan bagi para peneliti juga tetap menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk membangkitkan gairah meneliti.

    Brian Yuliarto, Alumni Teknik Fisika ITB, Doktor di The University of Tokyo, dan Sekretaris ISTECS Chapter Japan. Email: me@brianyuliarto.com

    SUMBER :http://rihaproject.blogs.friendster.com/my_blog/2007/05/artikel_ilmiah_.html

  181. IRNA FATIMAH 5525057436 said

    Arsip untukArtikel Ilmiah
    Pengenalan Internet

    INTERNET: Pengertian dan Sejarah

    Apakah Internet itu?

    Istilah INTERNET berasal dari bahasa Latin inter, yang berarti “antara”. Secara kata per kata INTERNET berarti jaringan antara atau penghubung. Memang itulah fungsinya, INTERNET menghubungkan berbagai jaringan yang tidak saling bergantung pada satu sama lain sedemikian rupa, sehingga mereka dapat berkomunikasi. Sistem apa yang digunakan pada masing-masing jaringan tidak menjadi masalah, apakah sistem DOS atau UNIX.
    Sementara jaringan lokal biasanya terdiri atas komputer sejenis (misalnya DOS atau UNIX), INTERNET mengatasi perbedaan berbagai sistem operasi dengan menggunakan “bahasa” yang sama oleh semua jaringan dalam pengiriman data. Pada dasarnya inilah yang menyebabkan besarnya dimensi INTERNET.
    Dengan demikian, definisi INTERNET ialah “jaringannya jaringan”, dengan menciptakan kemungkinan komunikasi antar jaringan di seluruh dunia tanpa bergantung kepada jenis komputernya.

    Kesimpulan:

    * Definisi INTERNET : Internet merupakan hubungan antar berbagai jenis komputer dan jaringan di dunia yang berbeda sistem operasi maupun aplikasinya di mana hubungan tersebut memanfaatkan kemajuan media komunikasi (telepon dan satelit) yang menggunakan protokol standar dalam berkomunikasi yaitu protokol TCP/IP.

    * Fungsi : Internet merupakan media komunikasi dan informasi modern.

    Sejarah Terbentuknya Internet?
    Banyak hal di INTERNET hanya dapat dimengerti dengan mengetahui latar-belakang perkembangannya.

    ARPANet
    Pada tahun 1969 ARPA (Advanced Research Project Agency), sebuah bagian dalam kementerian Pertahana Amerika Serikat memulai sebuah proyek, yang di satu sisi menciptakan jalur komunikasi yang tak dapat dihancurkan dan disisi lain memudahkan kerjasama antar badan riset diseluruh negeri, seperti juga industri senjata. Maka terbentuklah ARPANet.
    Bila pada awalnya komputer sejenis yang melakukan pertukaran data, bertambahnya komputer dengan berbagai sistem operasi lain menuntut solusi baru komunikasi yang tak terbatas antar semua badan yang tergabung dalam jaringan.

    Internetting Project
    Untuk itu dibuat Internetting Project, yang mengembangkan lebih lanjut hasil yang telah dicapai dalam ARPANet, agar media komunikasi baru ini juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai sistem komputer yang tergabung. Kemudian vendor-vendor komputer meramaikan lalu lintas jaringa tersebut untuk berbagai kebutuhan sehingga terciptalah INTERNET.

    Sumber : http://www.gawir.wordpress.com/category/artikel-ilmiah/-13k-

    Definisi Penelitian Ilmiah
    Definisi Penelitian ilmiah skripsi, tesis, disertasi dan penelitian
    Suatu usaha untuk mengumpulkan, mencatat dan menganalisa sesuatu masalah.
    suatu penyelidikan secara sistematis, atau dengan giat dan berdasarkan ilmu pengetahuan mengenai sifat-sifat daripada kejadian atau keadaan-keadaan dengan maksud untuk akan menetapkan faktor-faktor pokok atau akan menemukan paham-paham baru dalam mengembangkan metode-metode baru.
    penyedilidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan utnuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati serta sistematis.
    usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan usaha mana dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah.
    pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.

    Dari kelima definisi di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

    1. Merupakan usaha untuk memperoleh fakta-fakta atau mengembangkan prinsip-prinsip (menemukan/mengembangkan/ menguji kebenaran).
    2. Dengan cara/kegiatan mengumpulkan, mencatat dan menganalisa data (informasi/keterangan)
    3. Dikerjakan dengan sabar, hati-hati, sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah.

    Sedangkan sifat atau ciri dari penelitian itu sendiri: (1) pasif, hanya ingin memperoleh gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan, (2) aktif, ingin memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesa.

    Posisi penelitian sendiri pada umumnya adalah menghubungkan: (1) Keinginan manusia, (2) permasalahan yang timbul, (3) ilmu pengetahuan, dan (4) metode ilmiah.

    Irna Fatimah 5525067436
    Tatabusana eks’06

    Sumber : http://www.infoskripsi.com/resource/Definisi-Penelitian-Ilmiah.html-36k-

  182. fitri pratiwi 5525067453 said

    Teknis Menulis Artikel
    kristin’s picture
    Sel, 30/10/2007 – 15:28 — kristin
    Topic Artikel: Renungan dan Artikel
    Keywords Artikel: artikel ilmiah teologis, penulisan artikel

    Penulis : Harianto G.P.

    Artikel mempunyai dua arti: (1) barang, benda, pasal dalam undang-
    undang dasar atau anggaran dasar; (2) karangan, tulisan yang ada dalam
    surat kabar, majalah, dan sebagainya. Tetapi, kita akan lebih jelas
    lagi dengan penguraian Webster`s Dictionary yang mengartikan bahwa
    artikel adalah a literary compositon in a journal (suatu komposisi atau
    susunan tulisan dalam sebuah jurnal atau penerbitan atau media massa).

    Namun, pada kesempatan ini yang dibahas adalah artikel ilmiah
    populer teologis, bukan artikel ilmiah sekuler. Sedangkan artikel
    nonilmiah teologis akan dibahas pada lain waktu.

    A. Lahan Kerja Artikel Ilmiah Populer Teologis
    Artikel ilmiah populer teologis memang belum begitu populer
    dibandingkan dengan di negara-negara Barat, tetapi di Indonesia sudah
    merebak sejak tahun 1949 dengan terbitnya majalah Katholik Praha
    (1949-1986), menyusul majalah Katholik Basis (1951-kini), baru majalah
    Kristen Protestan Ragi Buana (1963-1972), Sitaresmi, majalah Katholik
    Hidup (1971-kini), majalah anak-anak AMI (1987-kini), Bahana
    (1989-kini). Tampil, Narwastu, Kita (1993-kini), Tiang Api (1995-kini),
    Lentera (1997-kini), Eva (1997-kini), Karismata (1997- kini), ada juga
    majalah Harmoni (1998).

    Di atas adalah majalah yang diterbitkan oleh yayasan, bukan gereja.
    Lalu, majalah yang diterbitkan di bawah gereja (sinode) adalah: Suara
    Baptis (1967-kini), Gema Anugerah (1980-kini), Kairos (1992- 1997),
    Gema Pemulihan (1995-kini), REM (1997-kini), Sahabat Gembala, Kalam
    Hidup, dan masih banyak lagi. Sedangkan jurnal yang terbit adalah:
    Pelita Zaman (1974-kini), Forum Biblika (1992-kini), Gema (Duta
    wacana), Pengarah (Tiranus), Stulas (STTB), Veritas (SAAT), juga Geneva
    (STT IAA).

    Bukan hanya berada di majalah, tetapi kini juga merebak buku
    renungan yang cukup berbobot seperti: Penuntun Harian (1995-kini),
    Santapan Harian, Segarlah Jiwamu, Rajawali, dan banyak lagi. Bukan
    hanya yang tercatat di atas, tetapi masih banyak lagi yang luput dari
    pengamatan di atas. Karena belum termasuk buletin-buletin di
    gereja-gereja, bahkan warta jemaat. Semuanya itu membutuhkan
    artikel-artikel ilmiah populer teologis.

    Juga, bila seseorang hendak merencanakan membuat sebuah buku, bisa
    saja berasal dari kumpulan artikel yang sudah ia tulis, bahkan dari
    kumpulan artikel yang sudah ia publikasikan. Sekarang banyak sekali
    buku yang terdiri dari kumpulan artikel yang sudah dipublikasikan. Jadi
    memang benar, bahkan artikel sangat banyak lahannya. Kalau begitu
    mengapa kita mesti ragu dan takut kalau-kalau artikel yang kita buat,
    tidak bisa dipublikasikan? Atau, artikel yang kita buat tidak
    bermanfaat sama sekali? Jangan ragu!

    B. Perangkat yang Dibutuhkan
    Arswendo mengatakan bahwa menulis itu gampang. Juga, banyak orang
    mengatakan bahwa menulis itu gampang. Siapakah yang mengatakan
    demikian? Kalau saja hanya sekadar menulis, memang gampang sekali:
    tinggal punya ide, lalu comot footnote dari buku ini itu atau dari
    artikel ini itu, lalu diberi kesimpulan, dan jadilah sebuah artikel.
    Kata Arswendo, “Itu kan hanya untuk memberi motivasi kepada manusia
    agar mau menjadi penulis. Tetapi, kenyataannya bukan begitu! Menulis
    yang standar dan berbobot itu cukup susah. Standar dan berbobot,
    artinya bisa dipublikasikan di media massa; baik media massa Kristen
    maupun bukan Kristen.”

    Untuk artikel yang standar dan berbobot, banyak perangkat yang kita butuhkan sebagai berikut:

    1. Perangkat Dasar
    # Penguasaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
    # Penguasaan editing.
    # Penguasaan komputer meski hanya program WS atau Word.
    # Penguasaan dasar biblika yang harus ditopang dengan sedikit
    bisa menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, dan sedikit
    memparsing bahasa Ibrani dan Yunani. Lalu diperdalam dengan eksegeses
    PL atau eksegeses PB tergantung kebutuhan.

    2. Perangkat Peningkat
    # Mampu mengembangkan ide-ide yang sedang menjadi persoalan aktual di tengah masyarakat.
    # Mampu menerjemahkan nilai-nilai firman Allah ke dalam bahasa yang sangat populer dan halus.
    # Mampu menganalisis sebuah artikel yang bisa dimuat di media
    massa satu dengan yang lain. Di sini perlu terjadi dialog antara
    redaktur artikel di media massa tersebut dan seorang penulis.
    # Banyak membaca dan mencari referensi untuk artikel yang
    sedang ditulisnya. Tentu saja bahan yang dicari dan dibaca berkaitan
    dengan temanya.
    # Mengadakan penelitian baik penelitian singkat maupun secara
    detail terhadap masalah yang sedang ditulisnya, sehingga bobot
    akademisnya tampak jelas.

    sumber : http://www.in-christ.net/teknis_menulis_artikel

  183. YULI ENDAH MAWATI said

    Menulis Artikel Ilmiah Populer
    Posted on May 20, 2007 by jurnalistikuinsgd
    I. PROLOG
    * Menulis itu ibarat naik sepeda. Tidak ada teori dan teknik khusus yang bisa menjadikan seseorang mahir naik sepeda kecuali latihan dan “kebiasaan”.
    * Menulis juga ibarat berenang. Sesering apa pun Anda membaca buku-buku atau menyimak ceramah tentang teknik berenang, Anda tidak akan bisa menjadi perenang jika tidak “nyebur” langsung di kolam renang dan berlatih.
    * Writing is a prosess — Kerja intelektual yang membutuhkan keahlian khusus (writing technique), latihan, kejelian, daya nalar, wawasan, referensi, etika, waktu, dan… kesabaran.
    * Communication is the Goal. The reason for putting words on paper in the first place is to communicate, to convey ideas, information, or impressions from your mind to the minds of your readers.
    * Clarity is the Keynote of Good Writing. The goal of communication is clarity. What you have written has not be misunderstood.
    II. KARAKTERISTIK
    1. Opini subjektif penulis disertai fakta-data dan teori pendukung tentang suatu masalah atau peristiwa.
    2. Bahasan dan bahasa ilmiah (tunggal makna, tidak remang nalar, ataupun mendua) yang digunakan sesuai dengan dengan “selera pop” –gaya bahasa media massa (bahasa jurnalistik = komunikatif, to the point, sederhana, singkat, jelas, dan efektif/hemat kata/economy of words).
    3. Sarana komunikasi antara ilmuwan dan masyarakat (orang awam).
    4. Bukan hasil penelitian lengkap. Prinsip utama: mencari sudut pandang yang unik dan cerdas, serta menggugah rasa ingin tahu pembaca.
    5. Menerjemahkan ilmu yang njelimet ke dalam bahasa yang dimengerti secara umum.
    6. Mudah dicerna karena berkaitan erat dengan kejadian sehari-hari.
    7. Memperkenalkan ilmu atau temuan baru serta mengaitkan dengan kebutuhan masyarakat.
    III. STRUKTUR TULISAN
    1. Head – judul.
    2. By Line – nama penulis.
    3. Intro – pendahuluan (lead).
    4. Bridging – penghubung intro dengan isi tulisan, berupa identifikasi masalah atau peryanyaan.
    5. Body – isi tulisan atau uraian yang biasanya terdiri atas sub-subjudul,
    6. Ending – penutup; biasanya berupa kesimpulan, ajakan berbuat sesuatu, atau pertanyaan tanpa jawaban
    IV. WRITING PROCESS – TAHAPAN MENULIS
    1. Perencanaan — Observasi, mencermati kejadian (dimensi dinamis) secara langsung ataupun via media massa, eksplorasi, membuat pertanyaan (mengapa, apa sebenarnya), melakukan interview dengan ahli atau ngobrol dengan teman, dan membaca referensi.
    2. Memilih Topik — Kriteria: aktual, faktual, penting, menarik, dan mengandung hal baru; What are you going to write? Probably the most difficult part of the writing process is planning what to say: finding central idea, narrowing your topic, and finding a point.
    3. Outlining — Menyusun garis besar tulisan: pendahuluan, uraian/analisis, solusi atau alternatif pemecahan masalah.
    4. Free Writing – Composing First Draft — Menyusun naskah kasar (rough draft) – menuangkan dalam tulisan semua gagasan dan data yang ada dalam pikiran saat itu, tanpa “melirik” dulu outline dan referensi, sesuai dengan ide utama yang hendak disampaikan.
    5. Menyusun Pendahuluan – Intro — Bisa memaparkan secara singkat kejadian atau isu aktual; mengutip pernyataan seorang pejabat/tokoh yang menarik untuk dikaji lebih dalam esensi dan implikasinya; Intro (leading, pembukaan, pendahuluan) harus merangsang motivasi pembaca. Leading memuat informasi singkat apa isi tulisan, tapi bukan rangkuman yang mengurai semuanya. Setelah membaca leading seharusnya masih tersisa sejumlah pertanyaan yang memotivasi pembaca mengetahui jawabannya dalam tubuh tulisan.
    6. Menyusun Tubuh Tulisan – Body — Setelah pendahuluan, dapat langsung menukik pada inti masalah sekaligus analisis masalahnya, termasuk paparan fakta-data, teori; Lazimnya ibagi dalam beberapa subjudul –bukan numerasi dan pembagian bab sebagaimana layaknya karya ilmiah lengkap seperti laporan hasil penelitian, skripsi, tesis, atau disertasi; Biasanya berpola “Induksi-Deduksi” –dimulai dari informasi atau fakta-fakta khusus untuk menentukan kesimpulan yang berlaku umum/teori/kebijakan.
    7. Editing — Menyusun ulang tulisan disesuaikan dengan outline; Koreksi substansi dan redaksi (kata, istilah, kalimat) semua bagian tulisan, termasuk data dan sumber rujukan.
    Sumber:
    http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2007/05/20/menulis-artikel-ilmiah-populer/

  184. Rai Muti'ah (5525067458) said

    # Menulis Artikel

    Ada sejumlah pengertian mengenai artikel. Berikut beberapa di antaranya.

    Artikel merupakan karya tulis lengkap, misal laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66).

    Artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).

    Artikel merupakan:

    1. karya tulis atau karangan;
    2. karangan nonfiksi;
    3. karangan yang tak tentu panjangnya;
    4. karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur;
    5. sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya;
    6. wujud karangan berupa berita atau “karkhas” (Pranata 2002: 120).

    Sunber:
    http://pelitaku.sabda.org/menulis_artikel_ilmiah_populer

  185. Yenni anggraini (5525067464) said

    Menulis Artikel Ilmiah Populer
    Submitted by team e-penulis on Sen, 19/11/2007 – 12:12pm.
    Disusun oleh: R.S. Kurnia
    1.MENULIS ARTIKEL
    1.Menulis dan Mengarang
    Ada suatu pandangan tradisional yang menyebutkan bahwa menulis dan mengarang adalah dua kegiatan yang berbeda, meski sama-sama berkenaan dengan aspek kebahasaan. Kegiatan menulis sering diasosiasikan dengan ilmu yang sifatnya faktual, sedangkan kegiatan mengarang selalu diasosiasikan dengan karya sastra yang fiksional (Kamandobat 2007). Dengan kata lain, kegiatan menulis mutlak membutuhkan studi ilmiah, sedangkan kegiatan mengarang tidak.
    Pandangan tersebut tentu tidak benar. Kita tentu ingat novel “Da Vinci Code” yang menggemparkan. Lalu kita juga mungkin masih ingat “The Origin of Species” karya Charles Darwin. Keduanya berasal dari ranah yang berbeda, namun masing-masing disajikan dengan bahasa yang terkesan ilmiah dan literer.
    Akan tetapi, ada satu hal yang membedakan keduanya. Hal tersebut ialah dalam hal penekanannya. Meskipun sebuah karya tulis disajikan dengan bahasa literer, bila penekanannya menjurus ke bidang keilmuan — termasuk ilmu sastra — kita bisa mengelompokkannya ke dalam kegiatan menulis. Demikian sebaliknya, kegiatan menghasilkan karya tulis yang lebih bernuansa fiktif, meski terkesan faktual, bisa disebut sebagai kegiatan mengarang.
    2.Menulis Artikel
    Ada sejumlah pengertian mengenai artikel. Berikut beberapa di antaranya.
    Artikel merupakan karya tulis lengkap, misal laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66).
    Artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).
    Artikel merupakan:
    a.karya tulis atau karangan;
    b.karangan nonfiksi;
    c.karangan yang tak tentu panjangnya;
    d.karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur;
    e.sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya;
    f.wujud karangan berupa berita atau “karkhas” (Pranata 2002: 120).
    2.MENULIS SECARA ILMIAH POPULER
    Pada dasarnya, ada beberapa jenis model penulisan artikel. Model-model tersebut bisa dikelompokkan kepada tingkat kerumitannya. Model yang paling mudah ialah model penulisan populer. Tulisan populer biasanya tulisan ringan yang tidak “njelimet” dan bersifat hiburan. Termasuklah di dalamnya gosip. Selain itu, bahasa yang digunakan juga cenderung bebas (perhatikan, misalnya, bahasa yang digunakan di majalah GetFresh!). Model yang paling sulit ialah penulisan ilmiah. Model ini mensyaratkan objektivitas dan kedalaman pembahasan, dukungan informasi yang relevan, dan biasa diharapkan menjelaskan “mengapa” atau “bagaimana” suatu perkara itu terjadi, tanpa pandang bulu dan eksak (Soeseno 1982: 2). Dari aspek bahasa, tentu saja tulisan ilmiah mensyaratkan bahasa yang baku.
    Meski demikian, ada satu model penulisan yang berada di tengah-tengahnya. Model tersebut dikenal dengan penulisan ilmiah populer dan merupakan perpaduan penulisan populer dan ilmiah. Istilah ini mengacu pada tulisan yang bersifat ilmiah, namun disajikan dengan cara penuturan yang mudah dimengerti (Soeseno 1982: 1; Eneste 2005: 171). Model inilah yang digunakan dalam publikasi Yayasan Lembaga SABDA pada umumnya.
    3.JENIS-JENIS ARTIKEL
    Ada beberapa jenis artikel berdasarkan dari siapa yang menulis dan fungsi atau kepentingannya (Tartono 2005: 85-86). Berdasarkan penulisnya, ada artikel redaksi dan artikel umum. Artikel redaksi ialah tulisan yang digarap oleh redaksi di bawah tema tertentu yang menjadi isi penerbitan. Sedangkan artikel umum merupakan tulisan yang ditulis oleh umum (bukan redaksi).
    Sedangkan dari segi fungsi atau kepentingannya, ada artikel khusus dan artikel sponsor. Artikel khusus adalah nama lain dari artikel redaksi. Sedangkan artikel sponsor ialah artikel yang membahas atau memperkenalkan sesuatu.
    4.MULAI MENULIS ARTIKEL
    1.Menguji Gagasan
    Prinsip paling dasar dari melakukan kegiatan menulis ialah menentukan atau memastikan topik atau gagasan apa yang hendak dibahas. Ketika sudah menentukan gagasan tersebut, kita bisa melakukan sejumlah pengujian. Pengujian ini terdiri dari lima tahap sebagai berikut (Georgina dalam Pranata 2002: 124; band. Nadeak 1989: 44).
    a.Apakah gagasan itu penting bagi sejumlah besar orang?
    b.Dapatkah gagasan ini disempitkan sehingga memunyai fokus yang tajam?
    c.Apakah gagasan itu terikat waktu?
    d.Apakah gagasan itu segar dan memiliki pendekatan yang unik?
    e.Apakah gagasan Anda akan lolos dari saringan penerbit?
    2.Pola Penggarapan Artikel
    Ketika hendak menghadirkan artikel, kita tidak hanya diperhadapkan pada satu kemungkinan. Soeseno (1982: 16-17) memaparkan setidaknya lima pola yang bisa kita gunakan untuk menyajikan artikel tersebut. Berikut kelima pola yang dimaksudkan.
    a.Pola pemecahan topik
    Pola ini memecah topik yang masih berada dalam lingkup pembicaraan yang ditemakan menjadi subtopik atau bagian-bagian yang lebih kecil dan sempit kemudian menganalisa masing-masing.
    b.Pola masalah dan pemecahannya
    Pola ini lebih dahulu mengemukakan masalah (bisa lebih dari satu) yang masih berada dalam lingkup pokok bahasan yang ditemakan dengan jelas. Kemudian menganalisa pemecahan masalah yang dikemukakan oleh para ahli di bidang keilmuan yang bersangkutan.
    c.Pola kronologi
    Pola ini menggarap topik menurut urut-urutan peristiwa yang terjadi.
    d.Pola pendapat dan alasan pemikiran
    Pola ini baru dipakai bila penulis yang bersangkutan hendak mengemukakan pendapatnya sendiri tentang topik yang digarapnya, lalu menunjukkan alasan pemikiran yang mendorong ke arah pernyataan pendapat itu.
    e.Pola pembandingan
    Pola ini membandingkan dua aspek atau lebih dari suatu topik dan menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Inilah pola dasar yang paling sering dipakai untuk menyusun tulisan.
    Kelima pola penggarapan artikel di atas dapat dikombinasikan satu dengan yang lain sejauh dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah tulisan yang kaya.
    3.Menulis Bagian Pendahuluan
    Untuk bagian pendahuluan, setidaknya ada tujuh macam bentuk pendahuluan yang bisa digunakan (Soeseno 1982: 42). Salah satu dari ketujuh bentuk pendahuluan berikut ini dapat kita jadikan alternatif untuk mengawali penulisan artikel kita.
    a.Ringkasan
    Pendahuluan berbentuk ringkasan ini nyata-nyata mengemukakan pokok isi tulisan secara garis besar.
    b.Pernyataan yang menonjol
    Terkadang disebut juga sebagai “pendahuluan kejutan”, diikuti kalimat kekaguman untuk membuat pembaca terpesona.
    c.Pelukisan
    Pendahuluan yang melukiskan suatu fakta, kejadian, atau hal untuk menggugah pembaca karena mengajak mereka membayangkan bersama penulis apa-apa yang hendak disajikan dalam artikel itu nantinya.
    d.Anekdot
    Pembukaan jenis ini sering menawan karena memberi selingan kepada nonfiksi, seolah-olah menjadi fiksi.
    e.Pertanyaan
    Pendahuluan ini merangsang keingintahuan sehingga dianggap sebagai pendahuluan yang bagus.
    f.Kutipan orang lain
    Pendahuluan berupa kutipan seseorang dapat langsung menyentuh rasa pembaca, sekaligus membawanya ke pokok bahasan yang akan dikemukakan dalam artikel nanti.
    g.Amanat langsung
    Pendahuluan berbentuk amanat langsung kepada pembaca sudah tentu akan lebih akrab karena seolah-olah tertuju kepada perorangan.
    Meskipun merupakan pendahuluan, bagian ini tidaklah mutlak ditulis pertama kali. Mengingat tugasnya untuk memancing minat dan mengarahkan pembaca ke arah pembahasan, sering kali menulis bagian pendahuluan ini menjadi lebih sulit daipada menulis judul atau tubuh tulisan. Oleh karena itu, Soeseno (1982: 43) menyarankan agar menuliskan bagian lain terlebih dahulu.
    4.Menulis Bagian Pembahasan atau Tubuh Utama
    Bagian ini disarankan dipecah-pecah menjadi beberapa bagian. Masing-masing dibatasi dengan subjudul-subjudul. Selain memberi kesempatan agar pembaca beristirahat sejenak, subjudul itu juga bertugas sebagai penyegar, pemberi semangat baca yang baru (Soeseno 1982: 46). Oleh karena itu, ada baiknya subjudul tidak ditulis secara kaku.
    Pada bagian ini, kita bisa membahas topik secara lebih mendalam. Uraikan persoalan yang perlu dibahas, bandingkan dengan persoalan lain bila diperlukan.
    5.Menutup Artikel
    Kerangka besar terakhir dalam suatu karya tulis ialah penutup. Bagian ini biasanya memuat simpulan dari isi tulisan secara keseluruhan, bisa juga berupa saran, imbauan, ajakan, dan sebagainya (Tartono 2005: 88).
    Ketika hendak mengakhiri tulisan, kita tidak mesti terang-terangan menuliskan subjudul berupa “Penutup” atau “Simpulan”. Penutupan artikel bisa kita lakukan dengan menggunakan gaya berpamitan (Soeseno 1982: 48). Gaya pamit itu bisa ditandai dengan pemarkah seperti “demikian”, “jadi”, “maka”, “akhirnya”, dan bisa pula berupa pertanyaan yang menggugah pembaca.
    6.Pemeriksaan Isi Artikel
    Ketika selesai menulis artikel, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan ialah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Untuk meyakinkan bahwa tulisan yang kita hasilkan memang baik, kita harus rajin memeriksa tulisan kita. Untuk memudahkan pengoreksian artikel, beberapa pertanyaan berikut perlu kita jawab (Pranata 2002: 129-130).
    Untuk pembukaan, misalnya, apakah kalimat pembuka bisa menarik pembaca? Dapatkah pembaca mulai mengerti ide yang kita tuangkan? Jika tulisan kita serius, adakah kata-kata yang sembrono? Apakah pembukaan kita menyediakan cukup banyak informasi?
    Untuk isi atau tubuh, apakah kalimat pendukung sudah benar-benar mendukung pembukaan? Apakah masing-masing kalimat berhubungan dengan ide pokok? Apakah ada urutan logis antarparagraf?
    Untuk simpulan, apakah disajikan dengan cukup kuat? Apakah mencakup semua ide tulisan? Bagaimana reaksi kita terhadap kata-kata dalam simpulan tersebut? Sudah cukup yakinkah kita bahwa pembaca pun akan memiliki reaksi seperti kita?
    Jika kita menjawab “tidak” untuk tiap pertanyaan tersebut, berarti kita perlu merevisi artikel itu dengan menambah, mengganti, menyisipi, dan menulis ulang bagian yang salah.
    5.ASPEK BAHASA DALAM ARTIKEL
    Melihat target pembacanya yang adalah khalayak umum, kita perlu mencermati bahasa yang kita gunakan dalam menulis artikel ilmiah populer ini. Meskipun bersifat ilmiah (karena memakai metode ilmiah), bukan berarti tulisan yang kita hasilkan ditujukan untuk kalangan akademisi. Sebaliknya, artikel ilmiah populer ditujukan kepada para pembaca umum.
    Mengingat kondisi tersebut, kita perlu membedakan antara kosakata ilmiah dan kosakata populer. Kata-kata populer merupakan kata-kata yang selalu akan dipakai dalam komunikasi sehari-hari, baik antara mereka yang berada di lapisan atas maupun di lapisan bawah, demikian sebaliknya. Sedangkan kata-kata yang biasa dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, diskusi-diskusi khusus disebut kata-kata ilmiah (Keraf 2004: 105-106).

    Sumber :pelitaku.sabda.org/menulis_artikel_ilmiah_populer – 33k -

  186. erna eriyana 5525067432 s1 busana ekstensi 2006 said

    PENELITIAN TINDAKAN KELAS
    Oleh : Prof. Dr. Suwarsih Madya
    Bagian III
    Langkah-Langkah Penelitian Tindakan
    Ada beberapa langkah yang hendaknya diikuti dalam melakukan penelitian tindakan (lihat misalnya Cohen dan Manion, 1908; Taba dan Noel, 1982; Winter, 1989). Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi dan merumuskan masalah; (2) menganalisis masalah; (3) merumuskan hipotesis tindakan; (4) membuat rencana tindakan dan pemantauannya; (5) melaksanakan tindakan dan mengamatinya; (6) mengolah dan menafsirkan data; dan (7) melaporkan.
    Secara alami, langkah-langkah itu biasanya tidak terjadi dalam alur yang lurus. Apabila terjadi perubahan masalah pada waktu dilakukan analisis masalah, maka diperlukan identifikasi masalah yang baru. Data diperlukan untuk memfokuskan masalahnya dengan mengidentifikasi faktor penyebab, dalam menentukan hipotesis tindakan, dalam evaluasi dsb.
    1. Identifikasi dan Perumusan Masalah
    Seperti telah disinggung di muka, PTK Anda dilakukan untuk mengubah perilaku Anda sendiri, perilaku sejawat dan murid-murid Anda, atau mengubah kerangka kerja, proses pembelajaran, yang pada gilirannya menghasilkan perubahan pada perilaku Anda dan sejawat serta murid-murid Anda. Singkatnya, PTK Anda lakukan untuk meningkatkan praktik pembelajaran Anda. Contoh-contoh bidang garapan PTK:
    1) metode mengajar, mungkin mengganti metode tradisional dengan metode penemuan;
    2) strategi belajar, menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran daripada satu gaya belajar mengajar;
    3) prosedur evaluasi, misalnya meningkatkan metode dalam penilaian kontinyu/otentik;
    4) penanaman atau perubahan sikap dan nilai, mungkin mendorong timbulnya sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan;
    5) pengembangan profesional guru misalnya meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan metode mengajar yang baru, menambah kemampuan analisis, atau meningkatkan kesadaran diri;
    6) pengelolaan dan kontrol, pengenalan bertahap pada teknik modifikasi perilaku; dan
    7) administrasi, menambah efisiensi aspek tertentu dari administrasi sekolah (Cohen dan Manion, 1980: 181).
    http://www.ktiguru.org/index.php/ptk-3

  187. erni eriyani 5525067433 s1 busana ekstensi 2006 said

    JENIS dan MODEL PTK
    Menurut Richart Winter ada enam karekteristik PTK, yaitu (1) kritik reflektif, (2) kritik dialektis, (3) kolaboratif, (4) resiko, (5) susunan jamak, dan (6) internalisasi teori dan praktek (Winter, 1996). Untuk lebih jelasnya, berikut ini dikemukakan secara singkat karakteristik PTK tersebut.
    1. Kritik Refeksi; salah satu langkah di dalam penelitian kualitatif pada umumnya, dan khususnya PTK ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan suatu aksi. Hanya saja, di dalam PTK yang dimaksud dengan refleksi ialah suatu upaya evaluasi atau penilaian, dan refleksi ini perlu adanya upaya kritik sehingga dimungkinkan pada taraf evaluasi terhadap perubahan-perubahan.
    2. Kritik Dialektis; dengan adanyan kritik dialektif diharapkan penelitian bersedia melakukan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemeriksaan terhadap: (a) konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan satu unit walaupun dapat dipisahkan secara jelas, dan, (b) Struktur kontradiksi internal, -maksudnya di balik unit yang jelas, yang memungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit tersebut bersifat stabil.
    3. Kolaboratif; di dalam PTK diperlukan hadirnya suatu kerja sama dengan pihak-pihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data atau data sumber. Mengapa demikian? Oleh karena pada hakikatnya kedudukan peneliti dalam PTK merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi dia juga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses dapat berlangsung.Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator. Selanjutnya, sudut pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dari berbagai pihak. Namun demikian memperoleh berbagai pandangan dari pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang memiliki ,kewenangan dan tanggung jawab untuk menentukan apakah sudut pandang dari kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, sdapat dikatakan bahwa fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu di dalam PTK ini, bukan sebagai yang begitu menentukan terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.
    4. Resiko; dengan adanya ciri resiko diharapkan dan dituntut agar peneliti berani mengambil resiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada diantaranya (a) melesetnya hipotesis dan (b) adanya tuntutan untuk melakukan suatu transformasi. Selanjutnya, melalui keterlibatan dalam proses penelitian, aksi peneliti kemungkinan akan mengalami perubahan pandangan karena ia menyaksikan sendiri adanya diskusi atau pertentangan dari para kalaborator dan selanjutnya menyebabkan pandangannya berubah.
    5. Susunan Jamak; pada umumnya penelitian kuantitatif atau tradisional berstruktur tunggal karena ditentukan oleh suara tunggal, penelitinya. Akan tetapi, PTK memiliki struktur jamak karena jelas penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipasi atau kolaboratif. Susunan jamak ini berkaitan dengan pandangan bahwa fenomena yang diteliti harus mencakup semua komponen pokok supaya bersifat komprehensif. Suatu contoh, seandainya yang diteliti adalah situasi dan kondisi proses belajar-mengajar, situasinya harus meliputi paling tidak guru, siswa, tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran, interaksi belajar-mengajar, lulusan atau hasil yang dicapai, dan sebagainya.
    6. Internalisasi Teori dan Praktik; Menurut pandangan para ahli PTK bahwa antara teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berlainan. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling bergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung tranformasi. Pendapat ini berbeda dengan pandangan para ahli penelitian konvesional yang beranggapan bahwa teori dan praktik merupakan dua hal yang terpisah. Keberadaan teori diperuntukkan praktik, begitu pula sebaliknya sehingga keduanya dapat digunakan dan dikembangkan bersama.
    http://www.akhmadsudrajat.wordpress.com

  188. erni eriyani 5525067433 s1 busana ekstensi 2006 said

    JENIS-JENIS ARTIKEL
    Ada beberapa jenis artikel berdasarkan dari siapa yang menulis dan fungsi atau kepentingannya (Tartono 2005: 85-86). Berdasarkan penulisnya, ada artikel redaksi dan artikel umum. Artikel redaksi ialah tulisan yang digarap oleh redaksi di bawah tema tertentu yang menjadi isi penerbitan. Sedangkan artikel umum merupakan tulisan yang ditulis oleh umum (bukan redaksi).
    Sedangkan dari segi fungsi atau kepentingannya, ada artikel khusus dan artikel sponsor. Artikel khusus adalah nama lain dari artikel redaksi. Sedangkan artikel sponsor ialah artikel yang membahas atau memperkenalkan sesuatu.
    1. Pola Penggarapan Artikel
    Ketika hendak menghadirkan artikel, kita tidak hanya diperhadapkan pada satu kemungkinan. Soeseno (1982: 16-17) memaparkan setidaknya lima pola yang bisa kita gunakan untuk menyajikan artikel tersebut. Berikut kelima pola yang dimaksudkan.
    0. Pola pemecahan topik
    Pola ini memecah topik yang masih berada dalam lingkup pembicaraan yang ditemakan menjadi subtopik atau bagian-bagian yang lebih kecil dan sempit kemudian menganalisa masing-masing.
    1. Pola masalah dan pemecahannya
    Pola ini lebih dahulu mengemukakan masalah (bisa lebih dari satu) yang masih berada dalam lingkup pokok bahasan yang ditemakan dengan jelas. Kemudian menganalisa pemecahan masalah yang dikemukakan oleh para ahli di bidang keilmuan yang bersangkutan.
    2. Pola kronologi
    Pola ini menggarap topik menurut urut-urutan peristiwa yang terjadi.
    3. Pola pendapat dan alasan pemikiran
    Pola ini baru dipakai bila penulis yang bersangkutan hendak mengemukakan pendapatnya sendiri tentang topik yang digarapnya, lalu menunjukkan alasan pemikiran yang mendorong ke arah pernyataan pendapat itu.
    4. Pola pembandingan
    Pola ini membandingkan dua aspek atau lebih dari suatu topik dan menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Inilah pola dasar yang paling sering dipakai untuk menyusun tulisan.
    Kelima pola penggarapan artikel di atas dapat dikombinasikan satu dengan yang lain sejauh dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah tulisan yang kaya.

  189. erna eriyana 5525067432 s1 busana ekstensi 2006 said

    PENULISAN ARTIKEL ILMIAH PADA JURNAL EKONOMI PERUSAHAAN (JEP )

    Tema Artikel Tema artikel yang hendak dikirim ke suatu jurnal harus sesuai dengan “misi” atau lingkup bidang ilmu jurnal yang tercermin dalam nama jurnal itu. Sebagai contoh, Jurnal Ekonomi Perusahaan (JEP), sebuah jurnal terakreditasi yang diterbitkan oleh IBII, hanya memuat artikel-artikel hasil kajian di bidang manajeme. Ini berarti bahwa kontributor yang memiliki artikel bertema nonekonomi perusahaan tidak mendapat tempat di dalamnya.
     Syarat Umum Artikel Suatu artikel yang dimuat pada JEP adalah artikel yang belum pernah ada di media cetak lain. Dengan kata lain, artikel yang diterima adalah artikel yang secara khusus ditulis untuk JEP. Istilah khusus dalam hal ini memiliki dua makna. Pertama, artikel itu secara khusus ditulis untuk dipublikasikan di JEP. Kedua, artikel tersebut dikembang-kan dari suatu makalah yang diseminarkan (pernah disiarkan/ disajikan secara lisan oleh penulis tetapi belum pernah dimuat pada media cetak lain).
     Kemutakhiran Artikel Dalam pemuatan artikel hasil penelitian, JEP akan mencantumkan (kapan) waktu dilakukan penelitian. Kemutakhiran hasil penelitian menjadi salah satu tuntutan yang harus dipenuhi oleh penulis artikel hasil penelitian.
     Analisis dan Pendirian Penulis Artikel Mutu artikel hasil penelitian sebagian besar ditentukan oleh bagaimana penulis/ peneliti menganalisis data dan membahas hasilnya dengan menghubungkannya dengan temuan-temuan lain yang sejalan atau tidak sejalan dengan temuannya. Dengan demikian teori baru akan ditemukan atau teori lama akan dikoreksi atau diperkuat.
    Menulis artikel dalam JEP yang membahas mengenai berbagai pendirian, sangat baik jika penulis mengemukakan pendiriannya sendiri, yang dilengkapi dengan argumentasi yang mendukung pendiriannya dan argumentasi-balik terhadap pendapat yang mungkin menyanggahnya. Dengan demikian penulis tidak berhenti pada pemaparan informasi saja seperti isi diktat perkuliahan, tetapi benar-benar menyajikan tulisan yang telah memenuhi proses analisis kritikal.
     Penggunaan Sumber Acuan Terkait dengan pustaka yang menjadi sumber acuan dalam artikel JEP, rambu-rambu artikel jurnal menetapkan agar lebih dari 80% pustaka acuan adalah sumber primer. Selain itu, pustaka acuan hendaknya cukup mutakhir, yakni terbitan 10 tahun terakhir.
    GAYA PENULISAN
     Sistematika dan Proporsi Artikel Artikel yang akan masuk JEP disesuaikan sistematika dan proporsinya berdasarkan standar yang telah ditetapkan oleh JEP, yaitu :
    1. Judul, yaitu menggambarkan masalah yang diteliti, informatif, singkat, dan lengkap.
    2. Nama Penulis, ditulis dengan gelar, namun pada catatan kaki ditulis tanpa gelar disertai nama lembaga dan ditulis sebagai catatan kaki pada halaman pertama.
    3. Abstrak, berisi pernyataan ringkas dan padat tentang masalah dan tujuan penelitian, prosedur penelitian, dan ringkasan hasil penelitian. Artikel yang ditulis dalam bahasa Indonesia, abstrak hendaknya ditulis dalam bahasa inggris (demikian sebaliknya), diketik dalam spasi tunggal dengan menggunakan format yang lebih sempit dari teks utama (marjin kanan dan kiri menjorok masuk 1,5 cm).
    4. Kata kunci, adalah kata pokok yang menggambarkan ranah masalah yang diteliti atau istilah yang menjadi dasar pemikiran gagasan, berupa kata tunggal atau gabungan kata. Kata kunci diperlukan juga untuk komputerasi sistem informasi ilmiah.
    5. Pendahuluan, menyajikan minimal tiga gagasan yakni latar belakang, masalah dan wawasan rencana pemecahan masalah, dan rumusan tujuan penelitian (serta manfaat hasil penelitian). Pendahuluan harus disertai rujukan dengan jumlah yang proporsional.
    6. Metoda, adalah teknis memilah-milah tulisan menjadi beberapa paragraf tanpa sub bagian atau dipilah menjadi beberapa sub bagian yang berisikan tentang populasi dan sampel instrumen pengumpul data, rancangan penelitian, dan teknik analisis data.
    7. Hasil, adalah bagian utama artikel ilmiah yang menyajikan hasil analisis data, proses analisis data, dan hasil pengujian hipotesis. Hasil analisis disajikan dengan tabel atau grafik, berikut pembahasannya.
    8. Pembahasan, bertujuan menjawab masalah penelitian, menafsirkan temuan-temuan, mengintegrasikan temuan-temuan, dan menyusun atau memodifikasi teori baru/ teori yang telah ada.
    9. Simpulan dan Saran. Simpulan menyajikan ringkasan dari uraian pada bagian hasil dan pembahasan, dan disajikan dalam bentuk esai. Saran disusun berdasarkan Simpulan yang mengacu pada tindakan praktis, pengembangan teoritis, dan penelitian lanjutan. Simpulan dan Saran dapat disebut bagian penutup.
    10. Daftar Pustaka (lihat ketentuan pengacuan dan pengutipan).

     Bahasa Artikel Bahasa artikel dalam JEP adalah bahasa baku yang mudah dipahami pembaca, yang berarti harus menghindari bahasa popular atau “ngepop”, dengan pemilihan kosa kata dan istilah yang cermat dan hati-hati.
     Pengacuan dan Pengutipan Tata cara pengacuan dan pengutipan artikel yang akan dimuat JEP adalah mengharuskan pencantuman nomor halaman sumber kutipan jika penulis melakukan kutipan langsung. Dalam ihwal pengacuan, JEP memberlakukan ketentuan pustaka yang diacu dalam teks adalah :
    1. Daftar pustaka tanpa nomor, berdasarkan abjad. Dengan menuliskan nama pengarang, tahun penerbitan, judul, penerbit, kota penerbitan. Atau nama pengarang, judul, penerbit, kota, dan tahun penerbitan. Nama pengarang Indonesia ditulis sesuai dengan urutan namanya, tanpa gelar. Kutipan disebutkan sumber (nama dan tahun). Tanpa catatan kaki (kecuali jika sumbernya dari wawancara).
    2. Pustaka yang tercantum dalam teks harus diacu dalam daftar rujukan, dan pustaka yang tercantum dalam daftar rujukan harus diacu dalam teks.
    3. Rujukan berupa artikel dari jurnal atau karangan dari buku kumpulan karangan harus disertai nomor halaman tempat pemuatan artikel.
    4. Jika pustaka ditulis oleh tim yang beranggotakan lebih dari dua orang, hanya nama penulis utama yang ditulis dalam teks beserta kata dkk, tetapi semua nama penulis harus ditulis lengkap pada daftar rujukan.

     Format Penyajian Artikel jurnal ilmiah dalam JEP disajikan dengan format esai pada proses analisis, atau pengujian hipotesis, analisis tabel, grafik, dan bentuk laporan lainnya.
    KETENTUAN-KETENTUAN KHUSUS
     Imbalan bagi Penulis Kebijakan penentuan imbalan bagi penulis pada JEP berdasarkan pada dana yang tersedia dengan jumlah naskah yang diterbitkan.
     Wujud Artikel Terkirim Wujud artikel yang dikirim ke organisasi pengelola JEP diharuskan dalam bentuk print-out komputer sebanyak 1-2 eksemplar berserta disketnya. Ketentuan ini diambil untuk mengurangi risiko salah ketik serta mempercepat pemerosesan naskah.
    Pemenuhan syarat-syarat teknis kelaikan artikel:
     Menggunakan jenis huruf Times New Roman
     Marjin kiri, kanan, atas dan bawah 3 cm
     Kertas ukuran A4

    http://www.ibii.ac.id/jep pedoman

  190. RINA ANGELINA said

    RINA ANGELINA
    (5525067465)
    SI PENDIDIKAN TATA BUSANA”2006

    METODOLOGI PENELITIAN (ARTIKEL ILMIAH)

    Pengertian Penelitian:
    Penelitian adalah istilah Indonesia yang merupakan terjemahan dari kosakata research (bhs Inggris), yang diindonesiakan dengan riset. Re bermakna kembali, sedangkan search bermakna mencari. Research secara literal berarti mencari kembali
    Menurut Hillway (1956):

    Penelitian adalah suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut; “a method of study by wich through the careful and exhaustive investigation of all acertainable evidence bearing upon a definable problem, we reach a solution to that problem”.

    Whitney (1960) mengutip beberapa definisi:

    *Penelitian adalah pencarian atas sesuatu (inquiry) secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dipecahkan (Parsons, 1946).
    *Penelitian adalah transformasi yang terkendalikan atau terarah dari situasi yang dikenal dalam kenyataan-kenyataan yang ada padanya dan hubungannya (Dewey 1936).
    *Penelitian merupakan sebuah metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan sebuah pemikiran kritis (critical thinking). Penelitian meliputi pemberian definisi dan redefinisi terhadap masalah, memformulasikan hipotesa atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati atas semua kesimpulan untuk menemukan apakah ia cocok dengan hipotesis (Woody, 1927)

    Ciri-ciri penelitian menurut Gee (1957):
    1. adanya suatu pencarian, penelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurangnya sebuah pengaturan baru atau interpretasi (tafsiran) baru dari pengetahuan yang timbul.
    2.pandangan harus kritis dan prosedur harus sempurna
    3.aktifits lebih banyak tertuju pada pencarian (search) daripada suatu pencarian kembali

    Kesimpulan Mohd. Nazir:
    Penelitian adalah sebagai pencarian pengetahuan dan pemberiartian yang terus-menerus terhadap sesuatu.

    Menurut Winarno Surakhmat:
    Penelidikan adalah kegiatan ilmiah mengumpulkan pengetahuan baru dari sumber-sumber primer, dengan tekanan tujuan pada penemuan prinsip-prinsip umum, serta mengadakan ramalan generalisasi di luar sampel yang diselidiki.

    Pengertian Metode:
    Istilah metode, dari methodos (Yunani) berarti cara atau jalan. Menyangkut dengan upaya ilmiah, metode dihubungkan dengan cara kerja, yaitu cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
    Dalam arti yang luas, istilah metodologi menunjuk kepada pross, prinsip, serta prosedur yang digunakan untuk mendekati masalah dan mencari jawab atas masalah tersebut. Dalam ilmu-ilmu sosial, istilah tersebut diartikan sebagai cara seseorang melakukan penelitian.

    SUMBER:http://litagama.org

    .

  191. Himatul Ulya ( 5525067439 ) said

    Artikel Ilmiah
    Persiapan Pembuatan Artikel Ilmiah:
    1. pedoman ke mana artikel akan dikirimkan
    2. ketik pd kertas putih a4 & margin 25 mm
    3. ketik pd 1 bagian hal, jangan bolak-balik
    4. 2 spasi untuk seluruh naskah
    5. hal sendiri: judul, abstrak, kata kunci, narasi, ucapan tk, kepustakaan, tiap tabel, dan legends
    6. tiap hal diberi nomor berurutan pada sudut kanan bawah atau atas
    7. siapkan hard copy & disket

    Hal-Hal Penting U/ Diketahui:
     pilih judul yang singkat, tepat, dan jelas, menggambarkan isi artikel
     abstrak dilihat pertama, karenanya hrs jelas butir-2 penting artikel
     minta tanggapan ttg naskah kpd teman yg kuasai bahasa yg digunakan
     ilustrasi harus dalam slide berwarna 35 mm/foto bw
     kepustakaan yg dirujuk hrs lengkap
     jangan membuat perubahan besar pada proofs

    Halaman Judul
    1. harus menggambarkan isi & sesuai tujuan
    2. meliputi:
    a. judul artikel (singkat, jelas & informatif)
    b. nama tiap penulis (gelar pendidikan)
    c. nama & alamat institusi tempat kerja
    d. nama, alamat, telepon, e-mail penulis untuk tujuan korespondensi & permintaan reprints dlm kaitannya dengan naskah
    e. sumber penyandang dana baik dalam bentuk dana, alat, maupun obat-obatan

    Abstrak:
    1. jelas menyajikan butir-2/hal-2 yg penting di dalam naskah & terdiri dari 200-250 kata
    2. perlu dinyatakan tuj. penulisan
    3. jika mrpkn tulisan mengenai hsl lit hrs ada latar belakang, tujuan, metode & kes
    4. abstrak dlm negeri berbahasa inggris bila artikelnya bahasa indonesia/sebaliknya
    5. perlu diidentifikasi 3-8 kata kunci
    6. kata kunci mengacu pada daftar judul subyek medik (medical subject headings = mesh) dari index medicus
    7. apabila tidak ditemukan istilah mesh yang tepat, bisa digunakan istilah lain

    Narasi:
    1. jelas menyajikan butir-2/hal-2 yg penting di dalam naskah & terdiri dari 200-250 kata
    2. perlu dinyatakan tuj. penulisan
    3. jika mrpkn tulisan mengenai hsl lit hrs ada latar belakang, tujuan, metode & kes
    4. abstrak dlm negeri berbahasa inggris bila artikelnya bahasa indonesia/sebaliknya
    5. perlu diidentifikasi 3-8 kata kunci
    6. kata kunci mengacu pada daftar judul subyek medik (medical subject headings = mesh) dari index medicus
    7. apabila tidak ditemukan istilah mesh yang tepat, bisa digunakan istilah lain

  192. Yunda Mardianti said

    Yunda Mardianti
    5525067466
    Pend. Tata Busana S1 Ekst’06

    #ARTIKEL ILMIAH#

    Pengertian Artikel
    karangan nonfiksi tentang suatu masalah secara lengkap, dengan tujuan menyampaikan gagasan dan fakta guna mendidik, pemecahan suatu masalah, atau menghibur.

    TAHAP-TAHAP MENULIS ARTIKEL:
    1. Menemukan Ide
    2. Mencari bahan-bahan referensi
    3. Outline dalam mengarang
    4. Menulis bebas
    5. Menyunting Naskah

    STRUKTUR TULISAN ARTIKEL:
    1. Judul
    2. Nama Penulis
    3. Pembukaan tulisan
    4. Isi
    5. Penutup, kesimpulan atau ajakan
    6. Keterangan atau identitas penulis

    FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN NILAI ARTIKEL:
    1. Timelyness ( ketepatan waktu )
    2. Proximity ( berdekatan )
    3. Size ( ukuran )
    4. Importance ( kepentingan )

    METODE PENGUMPULAN DATA
    1. Kepustakaan
    2. Lapangan
    a. Observasi
    b. Wawancara

    STANDAR PENULISAN ATAU GAYA ARTIKEL
    Pada dasarnya standar penulisan atau gaya gaya artikel tidak bersifat mutlak. Individu maupun media memiliki karakteristik tersendiri.
    Sehingga RUMUS 5W+1H dapat berubah seiring kebijaksanaan yang diberlakukan oleh pengambil keputusan, misal editor yang mengedit artikel.

    SUMBER: http://www.scribd.com/doc/3088263/Tulisan-Ilmiah-Populer-Artikel-di-Media-Cetak-by-Rinderiyana-LPMP-Lampung

  193. ifa kholipah (5525067454) said

    • JENIS-JENIS ARTIKEL
    Ada beberapa jenis artikel berdasarkan dari siapa yang menulis dan fungsi atau kepentingannya (Tartono 2005: 85-86). Berdasarkan penulisnya, ada artikel redaksi dan artikel umum. Artikel redaksi ialah tulisan yang digarap oleh redaksi di bawah tema tertentu yang menjadi isi penerbitan. Sedangkan artikel umum merupakan tulisan yang ditulis oleh umum (bukan redaksi).
    Sedangkan dari segi fungsi atau kepentingannya, ada artikel khusus dan artikel sponsor. Artikel khusus adalah nama lain dari artikel redaksi. Sedangkan artikel sponsor ialah artikel yang membahas atau memperkenalkan sesuatu.
    1. Pola Penggarapan Artikel
    Ketika hendak menghadirkan artikel, kita tidak hanya diperhadapkan pada satu kemungkinan. Soeseno (1982: 16-17) memaparkan setidaknya lima pola yang bisa kita gunakan untuk menyajikan artikel tersebut. Berikut kelima pola yang dimaksudkan.
    • . Pola pemecahan topik
    Pola ini memecah topik yang masih berada dalam lingkup pembicaraan yang ditemakan menjadi subtopik atau bagian-bagian yang lebih kecil dan sempit kemudian menganalisa masing-masing.
    1. Pola masalah dan pemecahannya
    Pola ini lebih dahulu mengemukakan masalah (bisa lebih dari satu) yang masih berada dalam lingkup pokok bahasan yang ditemakan dengan jelas. Kemudian menganalisa pemecahan masalah yang dikemukakan oleh para ahli di bidang keilmuan yang bersangkutan.
    2. Pola kronologi
    Pola ini menggarap topik menurut urut-urutan peristiwa yang terjadi.
    3. Pola pendapat dan alasan pemikiran
    Pola ini baru dipakai bila penulis yang bersangkutan hendak mengemukakan pendapatnya sendiri tentang topik yang digarapnya, lalu menunjukkan alasan pemikiran yang mendorong ke arah pernyataan pendapat itu.
    4. Pola pembandingan
    Pola ini membandingkan dua aspek atau lebih dari suatu topik dan menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Inilah pola dasar yang paling sering dipakai untuk menyusun tulisan.
    Kelima pola penggarapan artikel di atas dapat dikombinasikan satu dengan yang lain sejauh dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah tulisan yang kaya.

    KETENTUAN-KETENTUAN KHUSUS
    Imbalan bagi Penulis Kebijakan penentuan imbalan bagi penulis pada JEP berdasarkan pada dana yang tersedia dengan jumlah naskah yang diterbitkan.
    Wujud Artikel Terkirim Wujud artikel yang dikirim ke organisasi pengelola JEP diharuskan dalam bentuk print-out komputer sebanyak 1-2 eksemplar berserta disketnya. Ketentuan ini diambil untuk mengurangi risiko salah ketik serta mempercepat pemerosesan naskah.
    Pemenuhan syarat-syarat teknis kelaikan artikel:
    Menggunakan jenis huruf Times New Roman
    Marjin kiri, kanan, atas dan bawah 3 cm
    Kertas ukuran A4
    http://www.ibii.ac.id/jep
    pedoman Pengertian Penelitian:
    Penelitian adalah istilah Indonesia yang merupakan terjemahan dari kosakata research (bhs Inggris), yang diindonesiakan dengan riset. Re bermakna kembali, sedangkan search bermakna mencari. Research secara literal berarti mencari kembali
    Menurut Hillway (1956):
    Penelitian adalah suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut; “a method of study by wich through the careful and exhaustive investigation of all acertainable evidence bearing upon a definable problem, we reach a solution to that problem”.
    Whitney (1960) mengutip beberapa definisi:
    *Penelitian adalah pencarian atas sesuatu (inquiry) secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dipecahkan (Parsons, 1946).
    *Penelitian adalah transformasi yang terkendalikan atau terarah dari situasi yang dikenal dalam kenyataan-kenyataan yang ada padanya dan hubungannya (Dewey 1936).
    *Penelitian merupakan sebuah metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan sebuah pemikiran kritis (critical thinking). Penelitian meliputi pemberian definisi dan redefinisi terhadap masalah, memformulasikan hipotesa atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati atas semua kesimpulan untuk menemukan apakah ia cocok dengan hipotesis (Woody, 1927)
    Ciri-ciri penelitian menurut Gee (1957):
    1. adanya suatu pencarian, penelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurangnya sebuah pengaturan baru atau interpretasi (tafsiran) baru dari pengetahuan yang timbul.
    2.pandangan harus kritis dan prosedur harus sempurna
    3.aktifits lebih banyak tertuju pada pencarian (search) daripada suatu pencarian kembali
    Kesimpulan Mohd. Nazir:
    Penelitian adalah sebagai pencarian pengetahuan dan pemberiartian yang terus-menerus terhadap sesuatu.
    Menurut Winarno Surakhmat:
    Penelidikan adalah kegiatan ilmiah mengumpulkan pengetahuan baru dari sumber-sumber primer, dengan tekanan tujuan pada penemuan prinsip-prinsip umum, serta mengadakan ramalan generalisasi di luar sampel yang diselidiki.
    Pengertian Metode:
    Istilah metode, dari methodos (Yunani) berarti cara atau jalan. Menyangkut dengan upaya ilmiah, metode dihubungkan dengan cara kerja, yaitu cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
    Dalam arti yang luas, istilah metodologi menunjuk kepada pross, prinsip, serta prosedur yang digunakan untuk mendekati masalah dan mencari jawab atas masalah tersebut. Dalam ilmu-ilmu sosial, istilah tersebut diartikan sebagai cara seseorang melakukan penelitian.
    SUMBER:http://litagama.org
    Artikel Ilmiah
    Persiapan Pembuatan Artikel Ilmiah:
    1. pedoman ke mana artikel akan dikirimkan
    2. ketik pd kertas putih a4 & margin 25 mm
    3. ketik pd 1 bagian hal, jangan bolak-balik
    4. 2 spasi untuk seluruh naskah
    5. hal sendiri: judul, abstrak, kata kunci, narasi, ucapan tk, kepustakaan, tiap tabel, dan legends
    6. tiap hal diberi nomor berurutan pada sudut kanan bawah atau atas
    7. siapkan hard copy & disket
    Hal-Hal Penting U/ Diketahui:
    pilih judul yang singkat, tepat, dan jelas, menggambarkan isi artikel
    abstrak dilihat pertama, karenanya hrs jelas butir-2 penting artikel
    minta tanggapan ttg naskah kpd teman yg kuasai bahasa yg digunakan
    ilustrasi harus dalam slide berwarna 35 mm/foto bw
    kepustakaan yg dirujuk hrs lengkap
    jangan membuat perubahan besar pada proofs
    Halaman Judul
    1. harus menggambarkan isi & sesuai tujuan
    2. meliputi:
    a. judul artikel (singkat, jelas & informatif)
    b. nama tiap penulis (gelar pendidikan)
    c. nama & alamat institusi tempat kerja
    d. nama, alamat, telepon, e-mail penulis untuk tujuan korespondensi & permintaan reprints dlm kaitannya dengan naskah
    e. sumber penyandang dana baik dalam bentuk dana, alat, maupun obat-obatan
    Abstrak:
    1. jelas menyajikan butir-2/hal-2 yg penting di dalam naskah & terdiri dari 200-250 kata
    2. perlu dinyatakan tuj. penulisan
    3. jika mrpkn tulisan mengenai hsl lit hrs ada latar belakang, tujuan, metode & kes
    4. abstrak dlm negeri berbahasa inggris bila artikelnya bahasa indonesia/sebaliknya
    5. perlu diidentifikasi 3-8 kata kunci
    6. kata kunci mengacu pada daftar judul subyek medik (medical subject headings = mesh) dari index medicus
    7. apabila tidak ditemukan istilah mesh yang tepat, bisa digunakan istilah lain
    Narasi:
    1. jelas menyajikan butir-2/hal-2 yg penting di dalam naskah & terdiri dari 200-250 kata
    2. perlu dinyatakan tuj. penulisan
    3. jika mrpkn tulisan mengenai hsl lit hrs ada latar belakang, tujuan, metode & kes
    4. abstrak dlm negeri berbahasa inggris bila artikelnya bahasa indonesia/sebaliknya
    5. perlu diidentifikasi 3-8 kata kunci
    6. kata kunci mengacu pada daftar judul subyek medik (medical subject headings = mesh) dari index medicus
    7. apabila tidak ditemukan istilah mesh yang tepat, bisa digunakan istilah lain

  194. Marliana Fatonah said

    Nama : Marliana Fatonah
    No.reg : 5525042305
    Tata Busana S1 Reguler 2004

    Penelitian Survei

    Dalam survai, informasi di kumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner. Umumnya pengertian survei di batasi pada penelitian yang datanya di kumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh polulasi. Ini berbeda dengan sensus yang informasinya dikumpulkan dari seluruh populasi. Dengan demikian penelitian survei adalah ” penelian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok”. Pada umumnya yang merupakan unit analisa dalam penelitian survei adalah individu.

    Penelitian survei dapat digunakan untuk :

    1. Penjajagan/Eksploratif
    2. Deskriptif
    3. Penjelasan/Explanatory
    4. Evaluasi
    5. Prediksi
    6. Penelitian operasional
    7. Pengembangan Indikator-indikator sosial

    Langkah-langkah Penelitian Survai :

    1. Merumuskan masalah penelitian dan menentukan tujuan survai
    2. Menentukan konsep dan hipotesa serta menggali kepustakaan
    3. Pengembilan sampel
    4. Pembuatan kuesioner
    5. Pekerjaan lapangan
    6. Pengelolaan data
    7. Analisa dan pelaporan

    Daftar Pustaka :

    Singarimbun, Masri dan Sofian efendi,1989, Metode Penelitian Survai Edisi Revisi, Jakarta : LP3ES

  195. Risa Rubiyanti said

    Risa Rubiyanti
    5525042301
    Pend. Tata Busana Reg. 04

    Penelitian ilmiah
    Penelitian ilmiah adalah rangkaian pengamatan yang sambung menyambung, berakumulasi dan melahirkan teori-teori yang mampu menjelaskan dan meramalkan fenomena-fenomena [1]. Penelitian ilmiah sering diasosiasikan dengan metode ilmiah sebagai tata cara sistimatis yang digunakan untuk melakukan penelitian.
    Penelitian ilmiah juga menjadi salah satu cara untuk menjelaskan gejala-gejala alam. Adanya penelitian ilmiah membuat ilmu berkembang, karena hipotesis-hipotesis yang dihasilkan oleh penelitian ilmiah seringkali mengalami retroduksi.

    ==Tiga tahap penelitian ilmiah==
    Penelitian ilmiah biasanya melalui tiga tahap yaitu: konseptualisasi, operasionalisasi, dan observasi.

    Jenis-jenis Penelitian Ilmiah
    Penelitian dapat digolongkan / dibagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, antara lain berdasarkan: (1) Tujuan; (2) Pendekatan; (3) Tempat; (4) Pemakaian atau hasil / alasan yang diperoleh; (5) Bidang ilmu yang diteliti; (6) Taraf Penelitian; (7) Teknik yang digunakan; (8) Keilmiahan; (9) Spesialisasi bidang (ilmu) garapan. Berikut ini masing-masing pembagiannya.
    Berdasarkan hasil/alasan yang diperoleh:
    1. Basic Research (Penelitian Dasar), Mempunyai alasan intelektual, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan;
    2. Applied Reseach (Penelitian Terapan), Mempunyai alasan praktis, keinginan untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, efektif, efisien.
    Berdasarkan Bidang yang diteliti:
    1. Penelitian Sosial, secara khusus meneliti bidang sosial: ekonomi, pendidikan, hukum, dsb.
    2. Penelitian Eksakta, secara khusus meneliti bidang eksakta: Kimia, Fisika, Teknik, dsb.
    Berdasarkan Tempat Penelitian :
    1. Field Research (Penelitian Lapangan), langsung di lapangan;
    2. Library Research (Penelitian Kepustakaan), dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya;
    3. Laboratory Research (Penelitian Laboratorium), dilaksanakan pada tempat tertentu / lab, biasanya bersifat eksperimen atau percobaan;

    Berdasarkan Teknik yang digunakan :
    1. Survey Research (Penelitian Survei), tidak melakukan perubahan (tidak ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti.
    2. Experimen Research (Penelitian Percobaan), dilakukan perubahan (ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti.
    Berdasarkan Keilmiahan :
    1. Penelitian Ilmiah
    Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran, menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian ilmiah/meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar/tinggi-rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu:
    1. Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti:
    2. Kemampuan untuk meramalkan: sampai dimana kesimpulan yang sama dapat dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat/waktu lain;
    Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah:
    1. Purposiveness, fokus tujuan yang jelas;
    2. Rigor, teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
    3. Testibility, prosedur pengujian hipotesis jelas
    4. Replicability, Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
    5. Objectivity, Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;
    6. Generalizability, Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
    7. Precision, Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
    8. Parsimony, Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
    2. Penelitian non ilmiah (Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah)
    • Berdasarkan Spesialisasi Bidang (ilmu) garapannya : Bisnis (Akunting, Keuangan, Manajemen, Pemasaran), Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan/PR, Periklanan), Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional), Pertanian (agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman), Teknik, Ekonomi (Mikro, Makro, Pembangunan), dll.
    • Berdasarkan dari hadirnya variabel (ubahan) : variabel adalah hal yang menjadi objek penelitian, yang ditatap, yang menunjukkan variasi baik kuantitatif maupun kualitatif. Variabel : masa lalu, sekarang, akan datang. Penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan / menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi) adalah penelitian deskriptif ( to describe = membeberkan/menggambarkan). Penelitian dilakukan terhadap variabel masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen.

    PENELITIAN SECARA UMUM :
    o Penelitian Survei:
    • Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
    • Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb.
    • Melakukan evaluasi serta perbandingan terhadap hal yang telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
    • Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara sampel;
    • Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
    • Penelitian ini dapat berupa :
    1. Penelitian Exploratif (Penjajagan). Terbuka, mencari-cari, pengetahuan peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda, bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik.
    2. Penelitian Deskriptif. Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti mengembangkan konsep, menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis.
    3. Penelitian Evaluasi. Mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang digariskan sebelumnya. Evaluasi di sini mencakup formatif (melihat dan meneliti pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk mengukur pencapaian tujuan).
    4. Penelitian Eksplanasi (Penjelasan). Menggunakan data yang sama, menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis.
    5. Penelitian Prediksi. Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
    6. Penelitian Pengembangan Sosial. Dikembangkan berdasarkan survei yang dilakukan secara berkala: Misal: Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Kalbar, 1998-2003;
    o Grounded Research
    Mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan; bertujuan mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori, mengembangkan teori; pengumpulan dan analisis data dalam waktu yang bersamaan. Dalam riset ini data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data. Ciri-cirinya : Data merupakan sumber teori dan sumber hipotesis, Teori menerangkan data setelah data diurai.
    TUJUAN PENELITIAN :
    Secara umum ada empat tujuan utama :
    1. Tujuan Exploratif (Penemuan) : menemukan sesuatu yang baru dalam bidang tertentu
    2. Tujuan Verifikatif (Pengujian): menguji kebenaran sesuatu dalam bidang yang telah ada
    3. Tujuan Developmental (Pengembangan) : mengembangkan sesuatu dalam bidang yang telah ada
    4. Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi)
    PERANAN PENELITIAN
    1. Pemecahan Masalah, meningkatkan kemampuan untuk menginterpretasikan fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks dan kait-mengkait;
    2. Memberikan jawaban atas pertanyaan dalam bidang yang diajukan, meningkatkan kemampuan untuk menjelaskan atau menggambarkan fenomena-fenomena dari masalah tersebut;
    3. Mendapatkan pengetahuan / ilmu baru :
    PERSYARATAN PENELITIAN :
    1. Mengikuti konsep ilmiah
    2. Sistematis/Pola tertentu
    3. Terencana
    Penelitian dikatakan baik bila :
    1. Purposiveness, Tujuan yang jelas;
    2. Exactitude, Dilakukan dengan hati-hati, cermat, teliti;
    3. Testability, Dapat diuji atau dikaji;
    4. Replicability, Dapat diulang oleh peneliti lain;
    5. Precision and Confidence, Memiliki ketepatan dan keyakinan jika dihubungkan dengan populasi atau sampel;
    6. Objectivity, Bersifat objektif;
    7. Generalization, Berlaku umum;
    8. Parismony, Hemat, tidak berlebihan;
    9. Consistency, data/ungkapan yang digunakan harus selalu sama bagi kata/ungkapan yang memiliki arti sama;
    10. Coherency, Terdapat hubungan yang saling menjalin antara satu bagian dengan bagian lainnya.

    PROSEDUR / LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN :
    Garis besar :
    1. Pembuatan rancangan;
    2. Pelaksanaan penelitian;
    3. Pembuatan laporan penelitian

    Bagan arus kegiatan penelitian
    1. Memilih Masalah; memerlukan kepekaan
    2. Studi Pendahuluan; studi eksploratoris, mencari informasi;
    3. Merumuskan Masalah; jelas, dari mana harus mulai, ke mana harus pergi dan dengan apa
    4. Merumuskan anggapan dasar; sebagai tempat berpijak, (hipotesis);
    5. Memilih pendekatan; metode atau cara penelitian, jenis / tipe penelitian : sangat menentukan variabel apa, objeknya apa, subjeknya apa, sumber datanya di mana;
    6. Menentukan variabel dan Sumber data; Apa yang akan diteliti? Data diperoleh dari mana?
    7. Menentukan dan menyusun instrumen; apa jenis data, dari mana diperoleh? Observasi, interview, kuesioner?
    8. Mengumpulkan data; dari mana, dengan cara apa?
    9. Analisis data; memerlukan ketekunan dan pengertian terhadap data. Apa jenis data akan menentukan teknis analisisnya
    10. Menarik kesimpulan; memerlukan kejujuran, apakah hipotesis terbukti?
    11. Menyusun laporan; memerlukan penguasaan bahasa yang baik dan benar.

    Prinsip Metodologi Penelitian Ilmiah

    Mengingatkan saya sewaktu pertama kali mendapat tugas untuk mengerjakan proposal pada mata kuliah Metodologi Penelitian. Karena banyak hal (misal bolos kuliah), akhirnya sewaktu bertemu bagian metodologi, saya hanya bisa bingung, “Apa yang harus saya isi pada bagian ini? Apa bisa ‘mengarang indah’?”
    Akhirnya saya sedikit mengerti tentang metodologi: (mudahnya kurang lebih begini)

    Jika seorang berbicara tentang cara seorang peneliti melakukan percobaan lapangan, dimana dalam menentukan plot di lapangan, ia pertama-tama membagi daerah dalam 4 (empat) buah blok. Kemudian blok-blok tersebut dibagi 4 (empat). Diteruskan dengan memberikan perlakuan pada masing-masing blok tersebut, dan seterusnya. Maka yang dibicarakan di sini adalah Prosedur Penelitian. Jika kita membicarakan bagaimana secara berurut suatu penelitian dilakukan yaitu dengan alat apa dan prosedur bagaimana suatu penelitian dilakukan, maka yang dibicarakan adalah Metode Penelitian.
    Prinsip Metodologi
    Metodologi merupakan bagian epistemologi yang mengkaji perihal urutan langkah-langkah yang ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri Ilmiah. Metodologi juga dapat dipandang sebagai bagian dari logika yang mengkaji kaidah penalaran yang tepat. Jika kita membicarakan metodologi maka hal yang tak kalah pentingnya adalah asumsi-asumsi yang melatarbelakangi berbagai metode yang dipergunakan dalam aktivitas ilmiah. Asumsi-asumsi yang dimaksud adalah pendirian atau sikap yang akan dikembangkan para ilmuwan maupun peneliti di dalam kegiatan ilmiah mereka.
    Beberapa prinsip metodologi oleh beberapa ahli, diantaranya:
    A. Rene Descartes
    Dalam karyanya Discourse On Methoda, dikemukakan 6 (enam ) prinsip metodologi yaitu:
    1. Membicarakan masalah ilmu pengetahuan diawali dengan menyebutkan akal sehat (common sense) yang pada umumnya dimiliki oleh semua orang. Akal sehat menurut Descartes ada yang kurang, adapula yang lebih banyak memilikinya, namun yang terpenting adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah.
    2. Menjelaskan kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan dalam aktivitas ilmiah maupun penelitian. Descartes mengajukan 4 (empat) langkah atau aturan yang dapat mendukung metode yang dimaksud yaitu: (1) Jangan pernah menerima baik apa saja sebagai yang benar, jika anda tidak mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai kebenarannya. Artinya, dengan cermat hindari kesimpulan-kesimpulan dan pra konsepsi yang terburu-buru dan jangan memasukkan apapun ke dalam pertimbangan anda lebih dari pada yang terpapar dengan begitu jelas sehingga tidak perlu diragukan lagi, (2) Pecahkanlah setiap kesulitan anda menjadi sebanyak mungkin bagian dan sebanyak yang dapat dilakukan untuk mempermudah penyelesaiannya secara lebih baik.(3) Arahkan pemikiran anda secara jernih dan tertib, mulai dari objek yang paling sederhana dan paling mudah diketahui, lalu meningkat sedikit demi sedikit, setahap demi setahap ke pengetahuan yang paling kompleks, dan dengan mengandaikan sesuatu urutan bahkan diantara objek yang sebelum itu tidak mempunyai ketertiban baru. (4) Buatlah penomoran untuk seluruh permasalahan selengkap mungkin, dan adakan tinjauan ulang secara menyeluruh sehingga anda dapat merasa pasti tidak suatu pun yang ketinggalan. (5)Langkah yang digambarkan Descartes ini menggambarkan suatu sikap skeptis metodis dalam memperoleh kebenaran yang pasti.
    3. Menyebutkan beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan metode sebagai berikut: (1) Mematuhi undang-undang dan adat istiadat negeri, sambil berpegang pada agama yang diajarkan sejak masa kanak-kanak. (2) Bertindak tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan maupun yang paling meragukan. (3) Berusaha lebih mengubah diri sendiri dari pada merombak tatanan dunia.
    4. Menegaskan pengabdian pada kebenaran yang acap kali terkecoh oleh indera. Kita memang dapat membayangkan diri kita tidak berubah namun kita tidak dapat membayangkan diri kita tidak bereksistensi, karena terbukti kita dapat menyangsikan kebenaran pendapat lain. Oleh karena itu, kita dapat saja meragukan segala sesuatu, namun kita tidak mungkin meragukan kita sendiri yang sedang dalam keadaan ragu-ragu.
    5. Menegaskan perihal dualisme dalam diri manusia yang terdiri atas dua substansi yaitu RESCOGITANS (jiwa bernalar) dan RES-EXTENSA (jasmani yang meluas). Tubuh (Res-Extensa) diibaratkan dengan mesin yang tentunya karena ciptaan Tuhan, maka tertata lebih baik. Atas ketergantungan antara dua kodrat ialah jiwa bernalar dan kodrat jasmani. Jiwa secara kodrat tidak mungkin mati bersama dengan tubuh. Jiwa manusia itu abadi.
    B. Alfred Julesayer
    Dalam karyanya yang berjudul Language, Truth and Logic yang terkait dengan prinsip metodologi adalah prinsip verifikasi. Terdapat dua jenis verifikasi yaitu:
    1. Verifikasi dalam arti yang ketat (strong verifiable) yaitu sejauh mana kebenaran suatu proposisi (duga-dugaan) itu mendukung pengalaman secara meyakinkan.
    2. Verifikasi dalam arti yang lunak, yaitu jika telah membuka kemungkinan untuk menerima pernyataan dalam bidang sejarah (masa lampau) dan ramalan masa depan sebagai pernyataan yang mengandung makna.
    3. Ayer menampik kekuatiran metafisika dalam dunia ilmiah, karena pernyataan-pernyataan metafisika (termasuk etika theologi) merupakan pernyataan yang MEANING LESS (tidak bermakna) lantaran tidak dapat dilakukan verifikasi apapun
    C. Karl Raimund Popper
    K.R. Popper seorang filsuf kontemporer yang melihat kelemahan dalam prinsip verifikasi berupa sifat pembenaran (justification) terhadap teori yang telah ada. K.R. Popper mengajukan prinsip verifikasi sebagai berikut:
    1. Popper menolak anggapan umum bahwa suatu teori dirumuskan dan dapat dibuktikan kebenarannya melalui prinsip verifikasi. Teori-teori ilmiah selalu bersifat hipotetis (dugaan sementara), tak ada kebenaran terakhir.
    Setiap teori selalu terbuka untuk digantikan oleh teori lain yang lebih tepat.
    2. Cara kerja metode induksi yang secara sistematis dimulai dari pengamatan (observasi) secara teliti gejala (simpton) yang sedang diselidiki. Pengamatan yang berulang -ulang itu akan memperlihatkan adanya ciri-ciri umum yang dirumuskan menjadi hipotesa. Selanjutnya hipotesa itu dikukuhkan dengan cara menemukan bukti-bukti empiris yang dapat mendukungnya. Hipotesa yang berhasil dibenarkan (justifikasi) akan berubah menjadi hukum.
    K.R. Popper menolak cara kerja di atas, terutama pada asas verifiabilitas, bahwa sebuah pernyataan itu dapat dibenarkan berdasarkan bukti-bukti verifikasi pengamatan empiris.
    3. K.R Popper menawarkan pemecahan baru dengan mengajukan prinsip FALSIFA BILITAS, yaitu bahwa sebuah pernyataan dapat dibuktikan kesalahannya. Maksudnya sebuah hipotesa, hukum, ataukah teori kebenarannya bersifat sementara, sejauh belum ada ditemukan kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya. Misalnya, jika ada pernyataan bahwa semua angsa berbulu putih melalui prinsip falsifiabilitas itu cukup ditemukan seekor angsa yang bukan berbulu putih (entah hitam, kuning, hijau, dan lain-lain), maka runtuhlah pernyataan tersebut. Namun apabila suatu hipotesa dapat bertahan melawan segala usaha penyangkalan, maka hipotesa tersebut semakin diperkokoh

    DAFTAR PUSTAKA

    Sumber: (abdulhamid.files.wordpress.com)
    (http://supermahasiswa.multiply.com/journal/item/5/Sukses_Membuat_Proposal_Peneliti

    Sumber: http://supermahasiswa.multiply.com/journal/item/5/Sukses_Membuat_Proposal_Penelitianan

  196. Marliana Fatonah said

    Marliana Fatonah
    5525042305
    pend. tata Busana S1 Reguler 2004

    Karangan Ilmiah

    Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. karangan ilmiah selalu di tulis dengan bahasa konkrit (nyata atau benar-benar ada), bergaya bahasa formal, menggunakan istilah teknis dan di dukung oleh fakta umum yang dapat dibuktikam kebenarannya. adapun karangan pengetahuan popular biasanya ditujukan untuk materi umum.

    Daftar Pustaka

    Wirartha, I Made, 2006, Metodelogi PenelitianSosial Ekonomi, Yogyakarta : 2006

  197. [...] Penelitian Pendidikan [...]

  198. Bu,saya sudah masukin tugas penelitian pendidikan koq yang timbul bab 1 dan daftar pustaka doang…truz bab II nya kemana.
    Suci Angieta 5525040332 / Pend. Tata Busana Reguler

  199. camellia sugiarta/5525057083 said

    Camellia sugiarta
    5525057083
    Tata busana
    Ekstensi 2005

    PENELITIAN EKSPERIMEN

    penelitian eksperimen adalah merupakan cara yang digunakan dalam penelitian yang banyak menggunakan aturan dengan persyaratan ketat yang harus diikuti oleh para peneliti.

    ketiga prasyaratan tersebut yaitu:
    1.kegiatan mengontrol.
    2.memanipulasi.
    3.observasi.

    Dalam penelitian eksperimen ada 2 variabel:
    1.variabel bebas/independent variable.
    2.variabel terikat/dependent variable.

    Dibidang pendidikan,penlitian eksperimen dapat dibedakan menjadi 2:
    1.penelitian di dalam laboratorium.
    2.penelitian di dalam laboratorium.

    Beberapa keunggulan penelitian di luar laboratorium:
    1.variabel eksperimen dapat lebih kuat di lapangan di banding penelitian di laboratorium.
    2.lebih mudah dalam memberikan perlakuan.
    3.dapat dilakukan proses eksperimen dengan setting yang mendekati keadaan sebenarnya.
    4.hasil eksperimen lebih aktual dengan permasalahan yang dihadapi oleh para pendidik.

    keunggulan penelitian eksperimen di laboratorium adalah bahwa penelitian ini lebih cocok untuk problem yang berkaiatan dengan misi pengembangan ilmu pengetahuan termasuk ilmu pendidikan.

    Penelitian eksperimen pada umumnya,menurut,mempunyai 3 karakteristik yaitu
    1.variabel bebas yang dimanipulasi.
    yang dimaksud manipulasi adalah tindakan / perlakuan yang dilakukan oleh seorang peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka guna memperoleh perbedaan efek dalam variabel terikat.
    2.variabel lain yang mungkin berpengaruh
    dikontrol agar tetap konstan.
    yang dimaksud mengontrol adalah usaha peneliti untuk memindahkan pengarus variabel lain pada variabel terikat yang mungkin mempengaruhi penampilan variabel tersebut.
    3.efek /pengaruh manipulasi variabel bebas dan variabel terikat diamati secara langsung oleh peneliti.
    yang dimaksud observasi adalah untuk melihat dan mencatat fenomena apa yang muncul yang memungkinkan terjadinya perbedaan di antara kedua kelompok.

    Proses penelitian eksperimen
    Langkah penelitian eksperimen yang secara eksplisit:
    1.melakukan kajian secra induktif yang berkaitan erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
    2.mengidentifikasi permasalahan.
    3.melakukan studi literatur dari beberapa sumber yang relavan ,memformulasikan hipotesis penelitian ,menentukan definisi operasional dan variabel.
    4.membuat rencana penelitian yang di dalam nya mencakup kegiatan:
    a.mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen.
    b.menentukan cara untuk mengontrol mereka.
    c.memilih desain riset yang tepat.
    d.menentukan populasi ,memilih sampel yang mewakili dan memilih sejumlah subjek penelitian
    e.membagi subjek ke dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.
    f.membuat instrumen yang sesuai,memvalidasi instrumen dan melakukan pilot study agar memperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan.
    g.mengidentifikasi prosedur pengumpulan data,dan menentukan hipotesis.
    5.melakukan eksperimen.
    6.mengumpulkan data kasar dari proses eksperimen.
    7.mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang ditentukan
    8.melakukan analisis data dengan teknik statistika yang relevan.
    9.membuat laporan penelitian eksperimen

    langkah – langkah penelitian eksperimen menurut gay,1982 :
    1.adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti.
    2.pemilihan subjek yang cukup untuk dibagikan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
    3.pembuatan /pengembangan instrumen.
    4.pemilihan desain penelitian.
    5.eksekusi prosedur.
    6.melakukan analisis data.
    7.menformulasikan kesimpulan.

    Desain penelitian merupakan penggambaran secara jelas tentang hubungan antarvariabel yang dapat dimanfaatkan dalam menyusun hipotesis penelitian dan tindakan yang perlu di ambil dalam proses eksperimen selanjutnya.

    Dalam proses penelitian ,suatu eksperimen dikatakan valid apabila;
    1.hasil yang dicapai hanya diakibatkan oleh karena variabel bebas yang dimanipulasi secara sistematis.
    2.hasil akhir eksperimen harus dapat digeneralisasi pada kondisi eksperimen yang berbeda.

    Faktor penting sebagai sumber variasi yang dapat menyebabkan terjadinya validitas internal penelitian eksperimen:
    1.faktor sejarah dari subjek yang diteliti.
    2.proses kematangan.
    3.prosedur pretesting.
    4.instrumen pengukur yang digunakan.
    5.adanya kecenderungan terjadinya statistik regresi pada individu.
    6.perbedaan pemilihan subjek.
    7.perbedaan lainnya disebabkan adanya mortalitas dalam proses eksperimen.
    8.terjadinya interaksi di antara faktor- faktor di atas,termasuk kematangan,sejarah,pemilihan dan sebagainya.

    DAFTAR PUSTAKA

    sumber dari :

    Prof.Sukardi,Ph.D.2003.Metodologi Penelitian Pendidikan. D I Yogyakarta : PT Bumi Aksara Jakarta

  200. megalia putri.a/5525057109 said

    Megalia putri a
    5525057109
    Tata busana
    Ekstensi 2005

    PENELITIAN EKSPERIMEN DALAM PENDIDIKAN

    Eksperimen biasanya dianggap sebagai metode penelitian yang paling sophisticated untuk menguji hipotesis.Metode ini di mulai dengan suatu pertanyaan tentang hubungan antara 2 variabel/ lebih.Peneliti dengan sengaja dan secara sistematis memasukan perubahan- perubahan kedalam gejala-gejala alamiah dan kemudian mengamati akibat dari perubahan-perubahan itu.Dalam melaksanakan eksperimen,peneliti memberikan perhatian besar kepada pengubahan dan pengendalian variabel serta kepada pengamatan dan pengukuran hasil eksperimen.Melalui metode penelitian seperti inilah peneliti dapat memperoleh bukti-bukti yang paling menyakinkan tentang pengaruh satu variabel terhadap variabel lain.

    Dalam bentuknya yang paling sederhana ,suatu eksperimen mempunyai 3 ciri:
    1.suatu variabel bebas dimanipulasi.
    2.semua variabel lainnya ,kecuali variabel bebas,dipertahankan tetap.
    3.pengaruh manipulasi variabel bebas terhadap variabel terikat diamati.

    Dalam penelitian eksperimen ada 2 cara meneliti:
    1.penelitian dilakukan didalam laboratorium:penelitian ini digunakan untuk masalah-masalah teoritis

    Ada 2 tipe umum eksperimentasi yang dilakukan didalam kelas:
    a.study mengenai metode ,dimana 2/lebih cara melakukan sesuatu diperbandingkan secara tak biasa.
    b.penelitian fundamental yang bertujuan memperoleh prinsip-prinsip umum yang dapat diterapkan dalam situasi yang lebih luas.
    2.penelitian eksperiemen dilapangan yang digunakan untuk masalah-masalah prakmatis.

    Beberapa kelebihan penelitian eksperimen dilapangan:
    a.variabel eksperimental dalam eksperimen lapangan dapat jauh lebih kuat daripada variabel eksperimental dalam eksperiemen laboratorium.
    b.eksperimen lapangan dilakukan dalam situasi yang lebih realitis,hasilnya mempunyai kemungkinan lebih besar untuk dapat memberikan pemecahan bagi persoalan-persoalan yang dihadapi pendidik secara nyata.

    Ciri -ciri pelaksanaan penelitian eksperimen :
    1.pengendalian
    adalah inti metode eksperimen.
    Pada dasarnya metode eksperimen terletak diatas 2 asumsi tentang variabel:
    a.apabila situasi sama dalam segala hal,kecuali faktor yang ditambahkan ke / dibuang dari salah satu situasi,pernyataan ini disebut hukum variabel tunggal.
    b.apabila situasi tidak sama tetapi dapat ditunjukan bahwa tidak ada 1 variabel yang signifikan yang sedang diselidiki,pernyataan ini disebut hukum satu-satunya variabel yang signifikan.

    tujuan pengendalian dalam eksperimen adalah untuk mengatur situasi sehingga pengaruh variabel dapat diselidiki.

    2.manipulasi
    adalah manipulasi suatu variabel menunjuk pada tindakan yang sengaja dilakukan oleh peneliti.

    3.pengamatan
    adalah dalam eksperimentasi kita tertarik pada pengaruh pemanipulasi variabel bebas terhadap variabel jawaban.Pengamatan dilakukan terhadap ciri-ciri tingkah laku subyek yang diteliti.

    Disain eksperimental adalah kerangka konseptual pelaksanaan eksperimen.

    DAFTAR PUSTAKA
    Sumber:

    Drs.Arief Furchan.1982.Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan.Malang:”Usaha Nasional”surabaya-indonesia.

  201. Pandan Hendri Utami said

    pandan hendri utami
    5525 05 7111
    tata busana ekstensi 2005

    Penelitian eksperimen
    Penelitian eksperimen biasa dilakukan di laboratorium, dalam penelitian eksperimen ada perlakuan ( treatment ).
    Strategi dan langkah-langkah penelitian ekperimen:
    1. calon peneliti mengadakan studi literatur untuk menemukan permasalahan,
    2. mengadakan identifikasi dan merumuskan pemasalahan,
    3. merumuskan batasan istilah, pembatasan variabel, hipotesis, dan dukungan teori
    4. menyusun rencana eksperimen :
    a. Mengidentifikasi semua variabel non eksperimenyang sekiranya akan mengganggu hasil eksperimen dan menentukan bagaimana mengontrol variabel-variabel tersebut
    b. memilih desain atau model eksperimen
    c. memilihsampel yang representatif ( merupakan wakil yang dapat dipercaya) dari subyek yang termasuk dalam populasi
    d. menggolongkan wakil subyek kedalam dua kelompok, disusul dengan penentuan kelompok eksperimen dan kelompok pembanding
    e. memilih atau menyusun instrumen yang tepat untuk menngukur hasil pemberian perlakuan
    f. pembuat garis besar prosedur pengumpulan data dan melakukan ujicoba instrumen dan eksperimen agar apabila sampai pada pelaksanaan, baik eksperimen maupun instrumen pengukur hasil sudah betul-betul sempurna
    g. merumuskan hipotesis nol atau hipotesis statistik
    5. Melaksanakan eksperimen
    6. Memilih data sedemikian rupa sehingga yang terkumpul hanya data yang menggambarkan hasil murni dari kelompok eksperimen maupun kelompok pembanding
    7. Menggunakan tehnik yang tepat untuk menguji signifikasi agar dapat diketahui secara cermat bagaimana hasil dari kegiatan eksperimen.

    Penelitian eksperimen sangat sulit dilakukan terhadap populasi yang sangat besar ukurannya. Oleh karena itu eksperimen kebanyakan dikenakan pada sampel, yang kesimpulannya diharapkan dapat diberlakukan pada populasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian eksperimen kebanyakan dianalisis dengan statistik inferensial.
    Beberapa Bentuk Desain Eksperimen :
    1. Pre-Experimental Designs (nondesigns)
    a. One-shot Case Studi
    b. One Group Pretest-Posttest
    c. Intec – Group Comparison
    2. True Experimental
    a. Posttest Only Control Design
    b. Pretest – Control Group Design
    3. Factorial Experimental
    4. Quasi Experimental
    a. Time- Series Design
    b. Nonequivalent Control Group Design

    Sumber :
    #Prof. Dr. Sugiyono.2007.Metode Penelitian Pendidikan.Bandung:Alfabeta.
    #Dr. Suharsimi Arikunto.1989.Manajemen Penelitian. Jakarta.DEPDIKNAS.
    #Iqbal Hasan.2004.Analisis Data Penelitian dengan Statistik.Jakarta.Bumi Aksara

  202. Dita Lestari H said

    Tugas Pendalaman Metodologi Penelitian
    Nama

  203. EVA SEPTA JUWITA said

    EVA SEPTA JUWITA
    5525057104
    TATA BUSANA
    EKSTENSI 2005

    Pengertian Penelitian Eksperimen
    Penelitian ekperimen dapat diartikan sebagai studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena yang akan di teliti.
    Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental.
    Karakteristik Penelitian Eksperimen
    1. Variabel penelitian dan kondisi ekperimen di atur secara berurut
    2. Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar ubtuk di bandingkan
    dengan kelompok lain
    3. penelitian di titik beratkan pada pengontrolan variansi yang berkaitan dengan hipotesis
    penelitian, variabel namun bukan sebagai tujuan penelitian, Subjek serta kelompok-
    kelompok yang di lakukan secara acak
    4. Adanya validitas ekternal maupun eksternal
    5. Usakan variabel yang ada bersifat konstan

    III. Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen
    1. Melakukan kajian terhadap permasalahan yang akan di pecahkan
    2. Mengidentifikasi masalah
    3. melakukan dtudy literatur dan beberapa sumber yang relevan,menentukan hipotesis, variabel, merumuskan devenisi operasional dan defenisi istilah
    4. adanya rencana penelitian yang mencakup kegiatan yang mencakup:
    a. mengidentifikasi variabel
    b. menentukan cara mengontrol
    c. memilih rancangan penelitian
    d. menentukan populasi, memilih sampel dan sejumlah subjek penelitian
    e. Membagi subjek dan kelompok kontrol dan ekperimen
    f. Membuat instrumen
    g. Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data dan menentukan hipotesis

    5. Melaksanakan ekperimen
    6. mengumpulkan data dan proses
    7. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang
    telah tentukan
    8. Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika
    9. Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan
    pembuatan laporan

    IV. Rancangan Penelitian Eksperimen
    1. pra-eksperimental,
    2. eksperimen murni, dan
    3. eksperimen kuasi.

    A. Pra-Eksperimental
    Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:
    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)
    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)
    B. Rancangan Eksperimen Murni
    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:
    a). Adanya kelompok kontrol.
    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.

    C. Rancangan eksperimental kuasi
    ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:
    1. Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok
    kontrol
    2 . Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan
    kelompok kontrol
    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh

    DAFTAR PUSTAKA
    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

  204. ESTER SITOMPUL said

    ESTER SITOMPUL/
    5525057086
    TATA BUSANA
    EKSTENSI 2005

    A. Pengertian Penelitian
    P
    enelitian adalah suatu penyelidikan atau suatu usaha pengujian yang dilakukan secara teliti, dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan menggunakan langkah-langkah tertentu. Dalam mencari fakta-fakta ini diperlukan usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah. Beberapa pakar lain memberikan definisi penelitian sebagai berikut :
    1. David H Penny
    Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
    2. J. Suprapto
    Penelitian adalah penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati, serta sistematis.
    3. Sutrisno Hadi
    Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.
    4. Mohammad Ali
    Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu melalui penyelidikan atau usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya.
    5. The New Horison Ladder Dictionary
    Pengertian research ialah a careful study to discover correct information, yang artinya, suatu penyelidikan yang dilakukan secara hati-hati untuk memperoleh informasi yang benar.
    Secara etimologi, penelitian berasal dari bahasa Inggris “research” (re berarti kembali, dan search berarti mencari). Dengan demikian research berarti mencari kembali.
    Menurut kamus Webster’s New Internasional, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Hillway dalam bukunya Introduction to research mengemuka-kan bahwa penelitian adalah suatu metode belajar yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut. (Hillway, 1965)
    Tuckman mendefinisikan penelitian (research) : “ a systematic attempt to provide answer to question ” yaitu penelitian merupakan suatu usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah. Sistematis artinya mengikuti prosedur atau langkah-langkah tertentu. Jawaban ilmiah adalah rumusan pengetahuan, generaliasi, baik berupa teori, prinsip baik yang bersifat abstrak maupun konkret yang dirumuskan melalui alat- primernya, yaitu empiris dan analisis. Penelitian itu sendiri bekerja atas dasar asumsi, teknik dan metode.
    Kadang-kadang orang menyamakan pengertian penelitian dengan metode ilmiah. Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dimana usaha-usaha itu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Kegiatan penelitian adalah suatu kegiatan objektif dalam usaha mengembangkan, serta menguji ilmu pengetahuan berdasarkan atas prinsip-prinsip, teori-teori yang disusun secara sistematis melalui proses yang intensif dalam pengembangan generalisasi. Sedangkan metode ilmiah lebih mementingkan aplikasi berpikir deduktif-induktif di dalam memecahkan suatu masalah.
    Fokus perhatian dalam suatu penelitian adalah masalah, masalah yang muncul dalam pikiran peneliti berdasarkan penelaahan situasi yang meragukan (a perplexing situation). Masalah adalah titik sentral dari keseluruhan penelitian.
    B. Cara memperoleh pengetahuan
    1. Commonsense: akal sehat.
    Pengetahuan didasarkan pada pikiran sehat yang secara umum diterima kebenarannya, tapi tidak ditunjang oleh informasi empiris.
    Contoh : matematika adalah pengasah otak.
    1. Otoritas
    Pengetahuan didasarkan pada penghormatan atas kekuasaan seseorang atau sesuatu tanpa kritik.
    Contoh : Dimasa Ptolemaeus berkembang teori geosentri, yang merupakan doktrin dari kaum gereja yang berkuasa saat itu.
    1. Intuitif
    Pengetahuan yang didasarkan atas firasat atau pengalaman.
    Contoh : Doktrin dari Supranatural
    1. Logika
    Pengetahuan yang didasarkan pada kebenaran rasional atau logika.
    Contoh : Mayor premise : Semua manusia mati
    Minor premise : Socrates adalah manusia
    Kesimpulan : Sorates mati.
    1. Empiris
    Pengetahuan diperoleh dari objek pegetahuan itu sendiri, pengetahuan diperoleh dari data-data hasil penelitian.
    C. Ciri – ciri penelitian
    1. Memiliki masalah, terumus jelas dan terperinci.
    2. Memiliki hipotesis, terumus jelas dan terperinci.
    3. Terencana, bertujuan dan bermetode.
    4. Empiris, berdasarkan observasi fenomena.
    5. Berlogika, berdasarkan analisis teoritis.
    6. Berakurasi dan valid, menggunakan instrumen yang tepat dan reliabel.
    7. Memiliki sumber data, primer dan sekunder.
    8. Non-etikal, bersifat objektif.
    9. Siklikal, sistematis.
    10. Berproduk: abstrak (berupa: prinsip, generalisasi, dan teoritik) atau konkret (berupa: model atau alat)
    D. Karakteristik penelitian :
    1. Berfungsi menjawab permasalahan tertentu.
    2. Dilakukan secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu.
    3. Melibatkan kegiatan pengumpulan, pengolahan dan penyimpulan data (fakta dan opini).
    E. Langkah-langkah penelitian :
    1. Identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah.
    2. Penelaahan kepustakaan.
    3. Penyusunan hipotesis.
    4. Identifikasi, klasifikasi, dan pemberian definisi operasional variable-variabel.
    5. Pemilihan atau pengembangan alat pengambil data.
    6. Penyusunan rancangan penelitian.
    7. Penentuan sample.
    8. Pengumpulan data.
    9. Pengolahan dan analisis data.
    10. Interpretasi hasil analisis.
    11. Penyusun laporan/publikasi penelitian.

    I. Pengertian Penelitian Eksperimen
    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2). selanjutnya akan dipaparkan karakteristik Penelitian Eksperimen, yaitu sebagai berikut
    II. Karakteristik Penelitian Eksperimen
    Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
    III. Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen
    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu, (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    (5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah
    ditentukan. (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).
    IV. Rancangan Penelitian Eksperimen
    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.
    (1). Rancangan Pra-Eksperimental
    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:
    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)
    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)
    (2). Rancangan Eksperimen Murni
    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:
    a). Adanya kelompok kontrol.
    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.
    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.
    a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized
    posttest only control group design)
    b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the
    randomized pretest-posttest control group design)
    c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)
    d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan
    kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)
    e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)
    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)
    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:
    a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the
    randomized posttest – only control group design, using matched subject).
    b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok
    kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),
    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter
    balanced, using matched subject) .
    d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)
    e). Rancangan faktorial (factorial design).

    Penelitian eksperimental
    A. Tujuan
    Untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.
    B. Ciri-ciri “Eksperimental Designs”
    • Menuntut pengaturan variabel-variabel dan kondisi-kondisi eksperimental secara tertib-ketat, baik dengan kontrol atau manipulasi langsung maupun randomisasi.
    • Menggunakan kelompok kontrol sebagai “garis dasar” untuk dibandingkan dengan kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental.
    • Memusatkan usaha pada pengontrolan varian :
    a. memaksimalkan varian variabel.
    b. Meminimalkan varian variabel pengganggu atau yang tidak di inginkan yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen namun tidak menjadi tujuan eksperimen.
    c. Meminimalkan varian kekeliruan atau varian rambang.
    • Internal validity adalah sine qua non untuk rancangan ini dan merupakan tujuan pertama metode eksperimental.
    • Tujuan kedua metode eksperimental adalah eksternal validity.
    • Dalam rancangan eksperimental klasik, semua variabel penting diusahakan konstan kecuali variabel perlakuan yang sengaja dimanipulasi.
    C. Langkah-langkah Pokok
    • Lakukan survei kepustakaan yang relevan.
    • Identifikasi dan definisikan masalah.
    • Rumuskan hipotesis.
    • Definisikan pengertian dasar dan variabel utama.
    • Susun rencana eksperimen :
    a. Identifikasi variabel yang relevan.
    b. Identifikasi variabel non eksperimental yang mencemarkan eksperimen dan tentukan cara mengontrol variabel tersebut
    c. Tentukan rancangan eksperimen.
    d. Pilih subyek yang representatif bagi populasi tertentu.
    e. Terapkan perlakuan.
    f. Pilih dan susun alat untuk mengukur hasil eksperimen.
    g. Rancangkan prosedur pengumpulan data.
    h. Rumuskan hipotesis nolnya.

    Penelitian Kausal-Komparatif (Causal-Comparative Research)

    A. Tujuan
    Tujuan dari penelitian kausal-komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan cara berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Hal ini berlainan dengan metode eksperimental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dalam kondisi yang dikontrol.

    B. Contoh-contoh
    • Penelitian mengenai faktor-faktor yang menjadi ciri-ciri pribadi yang gampang dan tidak gampang mendapat kecelakaan dengan menggunakan data yang berwujud catatan-catatan yang ada pada perusahaan asuransi.
    • Mencari pola tingkah laku dan prestasi belajar yang berkaitan dengan perbedaan umur pada waktu masuk sekolah, dengan cara menggunakan data deskriptif mengenai tingkah laku dan skor test prestasi belajar yang terkumpul sampai anak-anak yang bersangkutan berada di kelas VI SD.
    • Penelitian untuk menentukan ciri-ciri guru yang efektif dengan mempergunakan data yang berupa catatan mengenai sejarah pekerjaan selengkap mungkin.

    C. Ciri-ciri pokok
    Penelitian kausal-komparatif bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (telah lalu). Penelitian mengambil satu atau lebih akibat (sebagai “dependent variables”) dan menguji data itu dengan menelusur kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan dan maknanya.

    Keunggulan-keunggulan :
    1. Metode kausal-komparatif adalah baik untuk berbagai keadaan kalau metode yang lebih kuat, yaitu metode eksperimental, tak dapat digunakan ketika: a) Apabila tidak selalu mungkin untuk memilih, mengontrol dan memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat secara langsung.b) Apabila pengontrolan terhadap semua variabel kecuali variabel bebas sangat tidak realistis dan dibuat-buat, yang mencegah interaksi normal dengan lain-lain variabel yang berpengaruh.c) Apabila kontrol di laboratorium untuk berbagai tujuan penelitian adalah tidak praktis, terlalu mahal, atau dipandang dari segi etika diragukan/ dipertanyakan.
    2. Studi kausal-komparatif menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalkan: apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana, dan yang sejenis dengan itu.
    3. Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik, metode statistik, dan rancangan dengan kontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah membuat studi kausal-komparatif itu lebih dapat dipertanggungjawabkan.
    Kelemahan-kelemahan :
    1. Kelemahan utama setiap rancangan ex post facto adalah tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas. Dalam batas-batas pemilihan yang dapat dilakukan, peneliti harus mengambil fakta-fakta yang dijumpainya tanpa kesempatan untuk mengatur kondisi-kondisinya atau memanipulasikan variabel-variabel yang mempengaruhi fakta-fakta yang dijumpainya itu. Untuk dapat mencapai kesimpulan yang sehat, peneliti harus mempertimbangkan segala alasan yang mungkin ada atau hipotesis-hipotesis saingan yang mungkin diajukan yang dimungkinkan mempengaruhi hasil-hasil yang dicapai. Sejauh peneliti dapat dengan sukses membuat justifikasi kesimpulannya terhadap alternatif-alternatif lain itu, dia ada dalam posisi yang secara relatif kuat.
    2. Adalah sulit untuk memperoleh kepastian bahwa faktor-faktor penyebab yang relevan telah benar-benar tercakup dalam kelompok faktor-faktor yang sedang diselidiki.
    3. Kenyataan bahwa faktor penyebab bukanlah faktor tunggal, melainkan kombinasi dan interaksi antara berbagai faktor dalam kondisi tertentu untuk menghasilkan efek yang disaksikan, menyebabkan masalah menjadi sangat kompleks.
    4. Suatu gejala mungkin tidak hanya merupakan akibat dari sebab-sebab ganda, tetapi dapat pula disebabkan oleh sesuatu sebab pada kejadian tertentu dan oleh lain sebab pada kejadian lain.
    5. Apabila saling hubungan antara dua variabel telah diketemukan, mungkin sulit untuk menentukan mana yang sebab dan mana yang akibat.
    6. Kenyataan bahwa dua atau lebih faktor saling berhubungan tidaklah selalu memberi implikasi adanya hubungan sebab-akibat. Kenyataan itu mungkin hanyalah karena faktor-faktor tersebut berkaitan dengan faktor lain yang tidak diketahui atau tidak terobservasi.
    7. Menggolong-golongkan subjek ke dalam kategori dikotomi (misalnya: golongan pandai dan golongan bodoh) untuk tujuan pembandingan, menimbulkan persoalan-persoalan, karena kategori-kategori seperti itu bersifat kabur , bervariasi dan tidak mantap. Seringkali penelitian yang demikian itu tidak menghasilkan penemuan yang berguna.
    8. Studi komparatif dalam situasi alami tidak memungkinkan pemilihan subjek secara terkontrol. Menempatkan kelompok yang telah ada yang mempunyai kesamaan dalam berbagai hal kecuali dalam hal dihadapkannya pada kepada variabel bebas adalah sangat sulit.

    D. Langkah-langkah pokok
    1. Mendefinisikan masalah
    2. Melakukan penelaahan kepustakaan
    3. Merumuskan hipotesis-hipotesis
    4. Merumuskan asumsi-asumsi yang mendasari hipotesis-hipotesis itu serta prosedur-prosedur yang akan digunakan
    5. Merancang cara pendekatannya, antara lain : a) Pilihlah subjek-subjek yang akan digunakan serta sumber-sumber yang relevan, b) Pilihlah atau susunlah teknik yang akan digunakan untuk mengumpulkan data, c) Tentukan kategori-kategori untuk mengklasifikasikan data yang jelas, sesuai dengan tujuan studi, dan dapat menunjukkan kesamaan atau saling hubungan
    6. Memvalidasikan teknik untuk mengumpulkan data itu dan menginterpretasi kan hasilnya dalam cara yang jelas dan cermat.
    7. Mengumpulkan dan menganalisis data
    8. Menyusun laporannya

    Penelitian Eksperimen Sungguhan (True Experimental Research)

    A. Tujuan
    Tujuan penelitian eksperimen sungguhan adalah: untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab-akibat. Dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimantal satu atau lebih kondisi perilakuan yang membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok control yang tidak di kenai kondisi perlakuan.

    B. Contoh-Contoh :
    1. Penelitian untuk menyelidiki pengaruh dua meted mengajar sejarah pada murid-murid kelas 3 SMA sebagai fungsi ukuran kelas (besar dan kecil) dan taraf intelegensi murid (tinggi, sedang, rendah).
    2. penelitian untuk menyelidikiefek program pencegahan penyalahgunaan obat terhadap sikap murid-murid SMP, dengan mengunakan kelompok eksperimen (yang dikenalkan dengan program itu) dan dengan mengunakan rancangan pretest-posttest dimana hanya separo dari mrid-murid itu secara random menerima pretest untuk menentukan seberapa besarnya perubahan sikap itu dapat dikatakan disebabkan oleh pretesting atau oleh program pendidikan
    3. penelitian untuk menyelidiki efek pemberian tambahan makanan di sekolah kepada murid-murid SD di suatu daerah dengan memperhatikan keadaan social ekonomi orang tua dan taraf intelegensi

    C. Ciri-ciri Experimantal Designs
    1. Menuntut pengaturan variable-variabel dan kondisi-kondisi experimental secara tertib-ketat, baik dengan control atau manipulasi langsung maupun dengan randomisasi
    2. Secara khas mengunakan kelompok control sebagai garis besar, untuk dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang dikenai perlakuan experimental
    3. Memusatkan usaha pada pengontrolan varians : A. Untuk memaksimalkan varians variable yang berkaitan dengan hipotesis penelitian. B. Untuk meminimalkan varians variable pengganggu atau yang tidak di inginkan yang mungkin mempenggaruhi hasil exsperiment tetapi yang tidak menjadi tujuan penelitian C. Untuk meminimalkan varians kekeliruan atau varians rambang, termasuk apa yang disebut kekeliruan pengukuran. Penyelesaian terbaik : pemilihan subyek secara rambang, penempatan subyek dalam kelompok-kelompok secara rambang, penentuan perlakuan eksperimental kepada kelompok secara rambang
    4. Internal validity adalah sine qua non untuk rancangan ini dan merupakan tujuan pertama metode experimental,
    5. Tujuan kedua metode experimental adalah external validity, yang penelitian ini ada beberapa jauh hasil-hasilnya dapat digenerlisasikan kepada subyek-subyek atau kondisi-kondisi yang semacam.
    6. Dalam Rancangan experimental yang klasik, semua variable penting diusahakan agar konstan kecuali variable perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
    7. Walaupun cara pendekatan eksperimental itu adalah yang paling kuat karena cara itu memungkinkan untuk mengontrol variable-variabel yang relevan, namun cara ini juga paling restriktif dan dibuat-buat. Ciri inilah yang merupakan kelemahan utama kalau metode ini digunakan kepada manusia dalam dunianya , karena manusia sering dibuat lain apabila tingkahlakunya dibatasi secara artificial, dimanipulasikan atau diobserfasi secara sistematis atau di evaluasi
    D. Langkah-langkah pokok
    1. Lakukan survai kepustakaan yang relevan bagi masalah yang akan di garap
    2. Identifikasi dan definisikan masalah
    3. Rumuskan hipotesis, berdasarkan atas penelaahan kepustakaan
    4. Definisikan pengertian-pengertian dasar dan variable-variabel utama
    5. Susun rancangan eksperimen: a) Identifikasi bermacam-macam variable yang relevan. b) Identifikasi variable-variabel non eksperimental yang mungkin mencemarkan eksperimen, dan tentukan bagaimana caranya mengontrol variable-variabel tersebut. c) Tentukan rancangan eksperimennya. d) Pilih subyek yang representative bagi populasi tertentu, tentukan sikap-sikap yang masuk kelompok eksperimen. e) Terapkan perlakuan. f) Pilih atau susun alat untuk mengukur hasil eksperimen dan validasikan alat tersebut. g) Rancangkan prosedur pengumpulan data, dan jika mungkin lakukan pilot atau trial run test untuk menyempurnakan alat pengukur atau rancangan eksperimennya. h) Rumuskan hipotesis nolnya
    6. Lakukan eksperimen
    7. Aturlah data kasar itu dalam cara yang mempermudah analisis selanjutnya; tempatkan dalam rancangan yang memungkinkan memperhitungkan efek yang di perkirakan akan ada
    8. Terapkan test signifikansi untuk menentukan taraf signifikansi hasilnya
    9. Buatlah interpretasi mengenai hasil testing itu, berkan diskusi seperlunya, dan tulislah laporannya

  205. nina wahyuni said

    Penelitian eksperimen adalah penelitian diman ada perlakuan terhadap variabel independen.
    Karakter penelitian eksperimen :
    Ada perlakuan terhadap variabel untuk melihat apa yang terjadi pada variabel dependen.
    Memiliki 3 jenis variabel eksperimen :
    1. Variabel independen yaitu variabel perlakuan. Peneliti memanipulasi variabel independen untuk mengetahui apa yang terjadi pada variabel dependen.
    2. Variabel dependen adalah hasil dari variabel independen yang telah di treatmen atau out put.
    3. Variabel confiuding yaitu variabel yang tidak diharapkan untuk mempengaruhi variabel dependen sehingga harus dikendalikan.

    Penelitian pendidikan merupakan salah satu jenis penelitian kuantitatif yang sangat kuat mengukur hubungan sebab – akibat. dalam penelitian eksperimen dapat dilakukan manipulasi atau intervensi kondisi dengan memberikan tretmen atau pengkondisian atau rangsangan pada subjek yang diteliti. subjek sama dengan responden dan treatmen sama dengan variabel independen paad penelitian survey.

    Penelitian eksperimen pada ilmu pasti dilakukan pada laboratorium sedangkan dalam penelitian sosial peneliti dapat menciptakan suatu laboratorium dengan lingkungan alami sehingga subjek tidak merasa diteliti. Penelitian ini disebut dengan penelitian lapangan ( field reserch ). Penelitian laboratorium dapat dilakukan dengan membuat laboratorium buatan misalnya dengan membuat kelompok dalam kelas.

    Penelitian eksperimen dimulai dengan :
    1. membuat hipotesis kausal yang terdiri dari variabel idependen dan variabel dependen.
    2. Mengukur variabel dependen dengan pengujian awal pre-test
    3. memberikan stimulus ke kelompok yang diteliti.
    4. Mengukur kembali variabel dependen setelah diberikan stimulus ( post-test)

    Sumber :
    1. Kountur Ronny, Metode penelitian eksperimen, PPM, Jakarta 2007
    2. Kerlinger N, Fred, Sumber asa – asa penelitian Behaviour, Gajah Mada University Press, 2004
    3. Bambang Prasetyo dan Miftahul Jannah, metodologi penelitian kuantitatif, teori dan aplikasi PT. Grafindo Persada Jakarta 2005

  206. Okta Cendana Putri said

    OKTA CENDANA PUTRI
    5525057096
    S1. TATA BUSANA EXS’05
    I.pendahuluan.

    Penelitian adalah suatu proses mencari sesuatu secara sistematis dalam waktu yang lama dengan menggunakan metode ilmiah secara aturan – aturan yang berlaku.
    Definisi dari penelitian adalah semua proses yang dipergulakan dalam perencanaan dan peleksanaan penelitian.
    1.Dalam pengertian yang lebih sempit, desain penelitian hanya mengenai pengumpulan dan analisia data saja.
    2. Dalam penertian yang lebih luas, desain penelitian mencakup proses – proses berikut.

    A. Rancangan Penelitian Eksperimen
    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

    (1). Rancangan Pra-Eksperimental
    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:
    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)
    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)
     
    (2). Rancangan Eksperimen Murni
    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:
    a). Adanya kelompok kontrol.
    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.
    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.
    a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized
    posttest only control group design)
    b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the
    randomized pretest-posttest control group design)
    c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)
    d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan
    kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)
    e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)
     
    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)
    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:
    a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the
    randomized posttest – only control group design, using matched subject).
    b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok
    kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),
    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter
    balanced, using matched subject) .
    d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)
    e). Rancangan faktorial (factorial design).
     

     
    DAFTAR PUSTAKA

    *Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    *Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
    *Moh.Nazir. Metode penelitian ,Jakarta: Ghalia Indonesia.

  207. Okta Cendana Putri said

    OKTA CENDANA PUTRI
    5525057096
    S1. TATA BUSANA EXS’05

    I.Pendahuluan.

    Penelitian adalah suatu proses mencari sesuatu secara sistematis dalam waktu yang lama dengan menggunakan metode ilmiah secara aturan – aturan yang berlaku.
    Definisi dari penelitian adalah semua proses yang dipergulakan dalam perencanaan dan peleksanaan penelitian.
    1.Dalam pengertian yang lebih sempit, desain penelitian hanya mengenai pengumpulan dan analisia data saja.
    2. Dalam penertian yang lebih luas, desain penelitian mencakup proses – proses berikut.
    Penelitian eksperimen adalah suatu rancangan percobaan dengan setiap langkah tindakan yang terdefinisikan, sehingga informasi yang berhubungan dengan atau diperlukan untuk persoalan yang akan diteliti dapat dikumpulkan secara faktual.
    A. Rancangan Penelitian Eksperimen
    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

    (1). Rancangan Pra-Eksperimental
    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:
    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)
    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)
     
    (2). Rancangan Eksperimen Murni
    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:
    a). Adanya kelompok kontrol.
    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.
    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.
    a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized
    posttest only control group design)
    b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the
    randomized pretest-posttest control group design)
    c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)
    d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan
    kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)
    e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)
     
    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)
    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:
    a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the
    randomized posttest – only control group design, using matched subject).
    b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok
    kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),
    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter
    balanced, using matched subject) .
    d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)
    e). Rancangan faktorial (factorial design).
     
    DAFTAR PUSTAKA

    1.Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    2.Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
    3.Moh.Nazir. Metode penelitian ,Jakarta: Ghalia Indonesia.
    4.www.scribd.com/doc/6067814/Teknik-Penelitian-Eksperimental 5.www.ktiguru.org/index.php/eksperimen-2 – 45k

  208. siti nurrochmah said

    eksperimen adalah observasi dibawah kondisi buatan (artficcial condition)dimana kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh si peneliti.Dengan demikian penelitian eksperimental adalah penelitian yang silakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian.
    metode eksperimen sering dilakukan dalam penelitian ilmu-ilmu eksakta.penelitian eksperimen adalah sangat sesuai untuk pengujian hipotesatertentu dan dimaksudkan untuk mengetahui hubungan sebab akibat variabelpenelitian.Penelitian eksperimen memerlukan pengukuran yang cermat,penelitian eksperimen mungkin dilakukan dilaboratorium karena alat-alat yang khusus dan lengkap dapat tersedia di laboratorium dan pengaruh luar dapat mudah dicegah selama eksperimen berlangsung.Eksperimen dapat dilakukan tanpa atau dengan kelompok pembanding (control group),dalam penelitian eksperimen yang tidak menggunakan kelompok hasil penelitian tersebut diragukan keabsahannya, karena beberapa variabel yang mengancam atau melemahkan validitas penelitian tidak di kontrol, untuk menghindarkan masalah tersebut berbagai penelitian eksperimen mengunakan kelompok pembanding (control group). Perlu pula diperhatikan apakah ada pengaruh variabel lain selama eksperimen berjalan, yang mempengaruhi atau merusak hasil eksperimen tersebut.Dalam hali ini perlu sekali diperhatikan variabel lain yang mempengaruhi, karena efeknya dapat membatalkan eksperimen itu sama sekali.Suatu eksperimen yang baik, mestilah mengandung tiga elemen dasar :
    1.Merandom subyek atau kelompok yang dikenal eksperimen
    2. Mengontrol peluang pengaruh variabel – variabel imbuhan atau extraneous variabel.
    3. Melakukan manipulasi variabel bebas atas dasar itu suatu penelitian eksperimen mental haruslah mengandung langkah – langkah berikut:
    1. Menyeleksi dan merandom subyek-subyek ke dalam kelompok- kelompok yang dikenal eksperimen, yaiti mencakup yang akan masuk kedalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.
    2. Pengukuran prates atau “observasi” keadaan awal yaitu keadaan yang sebelum diberikan perlakuan atau tritmen eksperimental terhadap variabel.
    3. Pemberian tritmen yang berbeda kepada kelompok yang dikenal eksperimen atau melakukan variabel bebas.
    4. Pengukuran Pascates atau observasi keadaan akhir setelah diberikan tritmen terhadap variabel tergantung dalam desain penelitian.
    Penelitian dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara dan pendekatan yang ditentukan oleh kehendak peneliti san problematika yang muncul.Bermacam-macam pendekatan dalam penelitian dapat dikatakan bermutu asal dilaksanakan dengan benar, mengikuti prosedur yang ditentukan. Ciri- ciri kegiatan ilmiah adalah apabila kegiatan tersebut:
    1. bertujuan
    2. sistematis
    3. dilaksanakan melalui prosedur yang sudah ditentukan, artinya benar secara formal dan material.
    Penelitian eksperrimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari “sesuatu” yang dikenakan pada subjek selidik. Dengan kata lain penelitian eksperimen mencoba meneliti ada tidaknya hibungan sebab akibat caranya adalah, dengan membandingkan satu atau lebih eksperimen yang diberi perlakuan dengan satu atau lebih kelompok pembanding yang tidak menerima perlakuan. Secara umum didalampembiciraan penelitian dikenal adanya dua jenis penelitian eksperimen yaitu : eksperimen betul (true experiment )dan eksperimen tidak betul-betul tetapi hanya mirip eksperimen. Itulah sebabnya maka penelitian yang kedua ini dikenal sebagai “penelitian pura-pura” atau quasi eksperimen.Sebagai ciri-ciriuntuk penelitian eksperimen yang dikatakan sebagai eksperimen betul adakah hal-hal yang disebutkan apabila persyaratan-persyaratan seperti yang dikehendaki dapat terwujud.
    Adapun persyaratan yang dikehendaki adalah sebagai berikut:
    1.Kondisi-kondisi yang ada disekitar atau yang diperkirakan mempengaruhi subjek yang digunakan untuk eksperimen sehingga apabila perlakuan selesai dan ternyata ada perbedaan antara hasil pada kelompok eksperimen dengan kelompok pempanding maka perbedaan hasil ini merupakan akibat dari adanya perlakuan.
    2. terdapat kelompok yang tidak diberi perlakuan yang difungsikan sebagai pembanding bagi kelompok yang diberi perlakuan.
    3. Sebelum dilaksanakan eksperimen dilakukan kondisi kedua kelompok diusahakan sama sehingga, paparan tentang hasil akhir dapat betul- beyul merupakan hasil ada dan tidaknya perlakuan.
    4. Apabila penelitian eksperimen dilakukan terhadap orang, diharapkan bahwa para anggota kelompok eksperimen maupun kelompok pembanding tidak terpengaruh akan status mereka.

  209. siti nurrochmah/5525057081/ekstensi Tata busana'05. said

    maaf bu……… lupa tadi nulis sumbernya…………………..
    1. Metodologi Penelitian Kualitatif, Burhan Bugin PT Raja Grafindo Persada, Jakarta 2003
    2. Metode penelitian survai,Masri Singa rimbun, Sofian efendi, LP3ES 1997
    3.Metode Penelitian, Moh.Nazir,phD.Ghalia Indonesia,jakarta 1988.
    4. Manajemen penelitian,Dr. Suharsimi Arikunto,Rineka cipta jakarta 1995
    Analisis Data Penelitian dengan Statistik, Iqbal hasan ,bumi aksara,Jakarta,2004

  210. ILA NURLAILA. 5525057110 said

    Penelitian eksperimen
    Eksperimen merupakan suatu rancangan penelitian yang mengidentifikasi hubungan kausal. Tujuan dari penelitian eksperimen adalah mengukur pengaruh dari variabel-variabel”explanatory” atau variabel independen terhadap variabel dependen, dengan mengontrol variabel-variabel lain, untuk melakukan inferensi kausal secara lebih jelas.
    Menurut Zikmund, eksperimen merupakan suatu penelitian di mana kondisi-kondisi tertentu dikendalikan, sehingga satu atau beberapa variabel dapat dikontrol untuk menguji hipotesis.
    Eksperimen meliputi eksperimen murni (True Experiment) dan kuasi eksperimen(Quasi Experiment). Eksperimen murni menggunakan rancangan random sedangkan kuasi eksperimen menggunakan rancangan non-random. Dalam suatu eksperimen ilmiah dituntut sedikitnya dua grup, yang satu ditugaskan sebagai grup pembanding (control group), sedang grup yang satu lagi sebagai grup yang dibandingkan (experimental group). Contoh : penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh harga reguler dan harga promosi terhadap pembelian suatu produk.
    Penelitian eksperimen (Experimental Research) kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa ata menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMU atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas pada mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan tetapi juga ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.
    Tujuan penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Di dalam penelitian eksperimen setidaknya dibutuhkan dua kelompok, yaitu kelompok pembanding (control grup) dan kelompok yang dibandingkan (eksperimental group). Oleh karena itu, penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai sebuah penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subyek selidik.
     Penelitian eksperimen memiliki beberapa ciri. Ciri tersebut adalah
    1. setiap variabelnya diatur secara tertib dan ketat,
    2. adanya kelompok kontrol sebagai data dasar,
    3. memusatkan pada pengontrolan variasi,
    4. validitas internal mutlak diperlukan,
    5. dan semua variable konstan perlu diusahakan.

    Bagaimana cara melaksanakan jenis penelitian eksperimen ini ?. Untuk melaksanakan suatu eksperimen yang baik, kita perlu memahami terlebih dahulu segala sesuatu yang berkait dengan komponen-komponen eksperimen. Baik yang berkaitan dengan pola-pola eksperimen (design experimental), maupun penentuan kelompok eksperimen dan kontrol, bagaimana kondisi kedua kelompok sebelum eksperimen dilaksanakan, cara pelaksanaannya, kesesatan-kesesatan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen, cara pengumpulan data, dan teknik analisis statistik yang tepat digunakan.
     Terdapat beberapa langkah dalam menyusun penelitian eksperimen.
    1. Langkah-langkah tersebut adalah mengidentifikasi masalah,
    2. melakukan studi literature,
    3. membuat rencana, melakukan eksperimen,
    4. mengumpulkan data kasar,
    5. mengorganisasi dan mendeskripsi data,
    6. membuat analisis data, dan
    7. membuat laporan penelitian eksperimen.

    Daftar pustaka :
     Dr. Asep Hermawan, M.Sc. “Penelitian Bisnis – Paragidma Kuantitatif”. Grasindo
    http://www.profesiguru.com/pdf/penelitian%20eksperimen-sulipan-pardi-1.pdf
    lubisgrafura.wordpress.com/2009/01/20/penelitian-eksperimen-sebuah-studi/ – 30k -

    ILA NURLAILA
    5525057110
    TATA BUSANA EKS 2005

  211. ILA NURLAILA. 5525057110 said

    Penelitian eksperimen
    Eksperimen merupakan suatu rancangan penelitian yang mengidentifikasi hubungan kausal. Tujuan dari penelitian eksperimen adalah mengukur pengaruh dari variabel-variabel”explanatory” atau variabel independen terhadap variabel dependen, dengan mengontrol variabel-variabel lain, untuk melakukan inferensi kausal secara lebih jelas.
    Menurut Zikmund, eksperimen merupakan suatu penelitian di mana kondisi-kondisi tertentu dikendalikan, sehingga satu atau beberapa variabel dapat dikontrol untuk menguji hipotesis.
    Eksperimen meliputi eksperimen murni (True Experiment) dan kuasi eksperimen(Quasi Experiment). Eksperimen murni menggunakan rancangan random sedangkan kuasi eksperimen menggunakan rancangan non-random. Dalam suatu eksperimen ilmiah dituntut sedikitnya dua grup, yang satu ditugaskan sebagai grup pembanding (control group), sedang grup yang satu lagi sebagai grup yang dibandingkan (experimental group). Contoh : penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh harga reguler dan harga promosi terhadap pembelian suatu produk.
    Penelitian eksperimen (Experimental Research) kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa ata menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMU atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas pada mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan tetapi juga ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.
    Tujuan penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Di dalam penelitian eksperimen setidaknya dibutuhkan dua kelompok, yaitu kelompok pembanding (control grup) dan kelompok yang dibandingkan (eksperimental group). Oleh karena itu, penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai sebuah penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subyek selidik.
     Penelitian eksperimen memiliki beberapa ciri. Ciri tersebut adalah
    1. setiap variabelnya diatur secara tertib dan ketat,
    2. adanya kelompok kontrol sebagai data dasar,
    3. memusatkan pada pengontrolan variasi,
    4. validitas internal mutlak diperlukan,
    5. dan semua variable konstan perlu diusahakan.

    Bagaimana cara melaksanakan jenis penelitian eksperimen ini ?. Untuk melaksanakan suatu eksperimen yang baik, kita perlu memahami terlebih dahulu segala sesuatu yang berkait dengan komponen-komponen eksperimen. Baik yang berkaitan dengan pola-pola eksperimen (design experimental), maupun penentuan kelompok eksperimen dan kontrol, bagaimana kondisi kedua kelompok sebelum eksperimen dilaksanakan, cara pelaksanaannya, kesesatan-kesesatan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen, cara pengumpulan data, dan teknik analisis statistik yang tepat digunakan.
     Terdapat beberapa langkah dalam menyusun penelitian eksperimen.
    1. Langkah-langkah tersebut adalah mengidentifikasi masalah,
    2. melakukan studi literature,
    3. membuat rencana, melakukan eksperimen,
    4. mengumpulkan data kasar,
    5. mengorganisasi dan mendeskripsi data,
    6. membuat analisis data, dan
    7. membuat laporan penelitian eksperimen.

    Daftar pustaka :
     Dr. Asep Hermawan, M.Sc. “Penelitian Bisnis – Paragidma Kuantitatif”. Grasindo
    http://www.profesiguru.com/pdf/penelitian%20eksperimen-sulipan-pardi-1.pdf
     lubisgrafura.wordpress.com/2009/01/20/penelitian-eksperimen-sebuah-studi/ – 30k -

    ILA NURLAILA
    5525057110
    TATA BUSANA EKS 2005

  212. PUTRI AMBARWATI / 5525057101 / S1 TATA BUSANA EXT.'05 said

    PENELITIAN EKSPERIMEN
    Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas adalah mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan sekaligus ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.
    Penelitian Eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode yang dijalankan dengan menggunakan suatu perlakuan (treatment) tertentu pada sekelompok orang atau kelompok, kemudian hasil perlakuan tersebut dievaluasi.
    Manfaat sekaligus kelebihan metode eksperimen (dibandingkan penelitian korelasi) adalah (1) menguji hipotesis dengan melakukan kontrol terhadap kondisi penelitian; (2) mengembangkan teori, kemudian melakukan pengujian di lapangan; (3) memperbaiki teori-teori serta temuan-temuan penelitian; (4) meneliti melalui jalan pintas; dan (5) memudahkan replikasi karena kondisi yang dipelajari benar-benar spesifik.
    Dibandingkan penelitian korelasi, eksperimen berbeda menyangkut hal-hal berikut. (1) Variabel independen (x) dan dependent (y) ditetapkan terlebih dahulu sebelum penelitian berlangsung. (2) Ada perlakuan eksperimen tertentu terhadap kelompok yang diteliti. (3) Menghasilkan angka indeks keterpengaruhan sebagai hasil atau temuan penelitian. (4) Hasil dan kondisi penelitian dapat direplikasi pada tempat dan waktu lain.

    Ketentuan Umum tentang Metode Penelitian Eksperimental
    Setidaknya ada delapan ketentuan umum tentang penelitian eksperimen.
    1.Definisi, yaitu batasan atau definisi penelitian dan variabel harus jelas dan tegas atau definitif, dan tidak boleh terjadi kebimbangan (confuse) di dalamnya.
    2.Sampling, yaitu jumlah dan anggota kelompok sampel yang diambil perlu random, dan sesuai antara jumlah subjek dan prosedur pengukuran yang ditetapkan.
    3.Tipe eksperimen. Dalam hal ini perlu dibedakan tipe eksperimen yang lazim digunakan, yaitu 2 kelompok eksperimen dengan meneliti 1 atau 2 variabel, 3 kelompok eksperimen dengan meneliti 1 atau 2 variabel, dan banyak kelompok dengan manipulasi pada beberapa variabelnya.
    4.Rancangan eksperimen, yaitu harus sesuai jumlah kelompok dan urutan prosedur pelaksanaan eksperimen.
    5.Pengukuran. Pengukuran harus jelas skalanya, misalnya menggunakan skala sikap Likert. Ini menyangkut alat dan metode yang digunakan.
    6.Statistik, yaitu meliputi informasi yang dikumpulkan, teknik mengolah dan teknik menyimpulkan data-data perlu sesuai dengan kaidah statistika yang logis dan representatif.
    7.Generalisasi. Tidak semua hasil penelitian eksperimen dapat digeneralisasi karena hasil amat tergantung pada jenis, metode, prosedur, sampling serta instrumen yang digunakan.
    8.Metode eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode yang dijalankan dengan menggunakan suatu perlakuan tertentu pada sekelompok orang atau beberapa kelompok, kemudian hasil perlakuan tersebut dievaluasi.

    Bentuk-bentuk Penelitian Eksperimen
    Penelitian eksperimen, berbeda dengan penelitian non-eksperimen, memiliki ciri khusus berupa kontrol terhadap variabel bebas (x) yang dapat dilakukan oleh peneliti sehingga menghasilkan hasil atau pengaruh (y), seperti yang diinginkan.
    Dibedakan ada 2 jenis penelitian eksperimen, yaitu eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan. Eksperimen laboratorium adalah kajian penelitian di mana varian dari hampir semua variabel bebas yang berpengaruh yang mungkin ada, namun tidak relevan dengan masalah yang sedang diselidiki, diminimumkan. Dilakukan dengan mengasingkan penelitian itu dalam suatu situasi fisik yang terpisah dari rutinitas kehidupan harian.
    Kekuatan penelitian eksperimen laboratorium adalah (1) kemungkinan untuk pelaksanaan kontrol yang relatif sempurna, (2) dapat menggunakan pembagian acak dan dapat pula memanipulasi satu atau beberapa variabel bebas, (3) tingkat ketelitian (presisi) hasil penelitian yang umumnya tinggi (asalkan prosedurnya tepat).
    Kelemahan penelitian eksperimen laboratorium adalah (1) kurangnya kekuatan variabel bebas menyebabkan efek dari manipulasi eksperimental biasanya lemah, (2) kesemuan (keartifisialan) situasi penelitian eksperimen.
    Penelitian eksperimen lapangan adalah kajian penelitian dalam suatu situasi nyata (riel) dengan memanipulasikan satu atau lebih variabel bebas dalam kondisi yang dikontrol dengan cermat oleh pembuat eksperimen sejauh memungkinkan.
    9.Kekuatan Penelitian eksperimen lapangan adalah (1) bersifat realistik dan variabelnya mempunyai efek yang lebih besar daripada efek variabel dalam penelitian eksperimen laboratorium, (2) sesuai untuk mengkaji pengaruh, proses, dan perubahan sosial serta psikologis(termasuk komunikasi) yang kompleks, dalam situasi yang mirip kenyataan kehidupan, (3) sesuai untuk menguji teori maupun untuk mendapatkan jawab terhadap pertanyaan-pertanyaan praktis.
    10.Kelemahan penelitian eksperimen laboratorium adalah (1) lingkungan yang sulit atau tidak terkontrol, (2) desain yang kurang ideal, (3) kurang (atau rendahnya) presisi atau ketepatan hasil penelitian.

    KARAKTERISTIK PENELITIAN EKSPERIMEN ( Ary, 1985 )
    1.variabel bebas yang dimanipulasi
    2.variabel lain yang mungkin berpengaruhdikontrol agar tetap konstan
    3.efek/pengaruh manipulasi variabel bebas dan variabel terikat diamati secara langsung oleh peneliti.

    LANGKAH – LANGKAH PENELITIAN ( Gay, 1982 : 201 )
    1.Adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti.
    2.Pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
    3.Pembuatan / pengembangan instrumen.
    4.Pemilihan desain penelitian.
    5.Eksekusi produser.
    6.Melakukan analisis data.
    7.Memformulasikan kesimpulan.

    Sumber Buku
    1.Metode Penelitian Komunikasi Karya Bambang Setiawan
    2.Wahana Pengembangan Pendidikan, Lembaga Pelatihan dan Penelitian QUALITA
    3.Prof. Sukardi, Ph.D., Metodologi Penelitian Pendidikan

  213. PUTRI AMBARWATI / 5525057101 / S1 TATA BUSANA EXT.'05 said

    PENELITIAN EKSPERIMEN
    Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas adalah mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan sekaligus ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.
    Penelitian Eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode yang dijalankan dengan menggunakan suatu perlakuan (treatment) tertentu pada sekelompok orang atau kelompok, kemudian hasil perlakuan tersebut dievaluasi.
    Manfaat sekaligus kelebihan metode eksperimen (dibandingkan penelitian korelasi) adalah (1) menguji hipotesis dengan melakukan kontrol terhadap kondisi penelitian; (2) mengembangkan teori, kemudian melakukan pengujian di lapangan; (3) memperbaiki teori-teori serta temuan-temuan penelitian; (4) meneliti melalui jalan pintas; dan (5) memudahkan replikasi karena kondisi yang dipelajari benar-benar spesifik.
    Dibandingkan penelitian korelasi, eksperimen berbeda menyangkut hal-hal berikut. (1) Variabel independen (x) dan dependent (y) ditetapkan terlebih dahulu sebelum penelitian berlangsung. (2) Ada perlakuan eksperimen tertentu terhadap kelompok yang diteliti. (3) Menghasilkan angka indeks keterpengaruhan sebagai hasil atau temuan penelitian. (4) Hasil dan kondisi penelitian dapat direplikasi pada tempat dan waktu lain.

    Ketentuan Umum tentang Metode Penelitian Eksperimental
    Setidaknya ada delapan ketentuan umum tentang penelitian eksperimen.
    1.Definisi, yaitu batasan atau definisi penelitian dan variabel harus jelas dan tegas atau definitif, dan tidak boleh terjadi kebimbangan (confuse) di dalamnya.
    2.Sampling, yaitu jumlah dan anggota kelompok sampel yang diambil perlu random, dan sesuai antara jumlah subjek dan prosedur pengukuran yang ditetapkan.
    3.Tipe eksperimen. Dalam hal ini perlu dibedakan tipe eksperimen yang lazim digunakan, yaitu 2 kelompok eksperimen dengan meneliti 1 atau 2 variabel, 3 kelompok eksperimen dengan meneliti 1 atau 2 variabel, dan banyak kelompok dengan manipulasi pada beberapa variabelnya.
    4.Rancangan eksperimen, yaitu harus sesuai jumlah kelompok dan urutan prosedur pelaksanaan eksperimen.
    5.Pengukuran. Pengukuran harus jelas skalanya, misalnya menggunakan skala sikap Likert. Ini menyangkut alat dan metode yang digunakan.
    6.Statistik, yaitu meliputi informasi yang dikumpulkan, teknik mengolah dan teknik menyimpulkan data-data perlu sesuai dengan kaidah statistika yang logis dan representatif.
    7.Generalisasi. Tidak semua hasil penelitian eksperimen dapat digeneralisasi karena hasil amat tergantung pada jenis, metode, prosedur, sampling serta instrumen yang digunakan.
    8.Metode eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode yang dijalankan dengan menggunakan suatu perlakuan tertentu pada sekelompok orang atau beberapa kelompok, kemudian hasil perlakuan tersebut dievaluasi.

    Bentuk-bentuk Penelitian Eksperimen
    Penelitian eksperimen, berbeda dengan penelitian non-eksperimen, memiliki ciri khusus berupa kontrol terhadap variabel bebas (x) yang dapat dilakukan oleh peneliti sehingga menghasilkan hasil atau pengaruh (y), seperti yang diinginkan.
    Dibedakan ada 2 jenis penelitian eksperimen, yaitu eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan. Eksperimen laboratorium adalah kajian penelitian di mana varian dari hampir semua variabel bebas yang berpengaruh yang mungkin ada, namun tidak relevan dengan masalah yang sedang diselidiki, diminimumkan. Dilakukan dengan mengasingkan penelitian itu dalam suatu situasi fisik yang terpisah dari rutinitas kehidupan harian.
    Kekuatan penelitian eksperimen laboratorium adalah (1) kemungkinan untuk pelaksanaan kontrol yang relatif sempurna, (2) dapat menggunakan pembagian acak dan dapat pula memanipulasi satu atau beberapa variabel bebas, (3) tingkat ketelitian (presisi) hasil penelitian yang umumnya tinggi (asalkan prosedurnya tepat).
    Kelemahan penelitian eksperimen laboratorium adalah (1) kurangnya kekuatan variabel bebas menyebabkan efek dari manipulasi eksperimental biasanya lemah, (2) kesemuan (keartifisialan) situasi penelitian eksperimen.
    Penelitian eksperimen lapangan adalah kajian penelitian dalam suatu situasi nyata (riel) dengan memanipulasikan satu atau lebih variabel bebas dalam kondisi yang dikontrol dengan cermat oleh pembuat eksperimen sejauh memungkinkan.
    9.Kekuatan Penelitian eksperimen lapangan adalah (1) bersifat realistik dan variabelnya mempunyai efek yang lebih besar daripada efek variabel dalam penelitian eksperimen laboratorium, (2) sesuai untuk mengkaji pengaruh, proses, dan perubahan sosial serta psikologis(termasuk komunikasi) yang kompleks, dalam situasi yang mirip kenyataan kehidupan, (3) sesuai untuk menguji teori maupun untuk mendapatkan jawab terhadap pertanyaan-pertanyaan praktis.
    10.Kelemahan penelitian eksperimen laboratorium adalah (1) lingkungan yang sulit atau tidak terkontrol, (2) desain yang kurang ideal, (3) kurang (atau rendahnya) presisi atau ketepatan hasil penelitian.

    KARAKTERISTIK PENELITIAN EKSPERIMEN ( Ary, 1985 )
    1.variabel bebas yang dimanipulasi
    2.variabel lain yang mungkin berpengaruhdikontrol agar tetap konstan
    3.efek/pengaruh manipulasi variabel bebas dan variabel terikat diamati secara langsung oleh peneliti.

    LANGKAH – LANGKAH PENELITIAN ( Gay, 1982 : 201 )
    1.Adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti.
    2.Pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
    3.Pembuatan / pengembangan instrumen.
    4.Pemilihan desain penelitian.
    5.Eksekusi produser.
    6.Melakukan analisis data.
    7.Memformulasikan kesimpulan.

    Sumber Buku
    1.Metode Penelitian Komunikasi Karya Bambang Setiawan
    2.Wahana Pengembangan Pendidikan, Lembaga Pelatihan dan Penelitian QUALITA
    3.Prof. Sukardi, Ph.D., Metodologi Penelitian Pendidikan

    PUTRI AMBARWATI
    5525057101
    S1 TATA BUSANA EXT.’05

  214. Hikmah Fitriani said

    Hikmah Fitriani
    5525057091

    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2).

    II. Karakteristik Penelitian Eksperimen

    Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

    III. Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen

    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu, (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

    (5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.

    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah

    ditentukan. (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya. (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

    IV. Rancangan Penelitian Eksperimen

    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

    (1). Rancangan Pra-Eksperimental

    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:

    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)

    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)

    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

    (2). Rancangan Eksperimen Murni

    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:

    a). Adanya kelompok kontrol.

    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.

    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.

    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.

    a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized

    posttest only control group design)

    b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the

    randomized pretest-posttest control group design)

    c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)

    d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan

    kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)

    e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)

    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:

    a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the

    randomized posttest – only control group design, using matched subject).

    b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok

    kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),

    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter

    balanced, using matched subject) .

    d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)

    e). Rancangan faktorial (factorial design).

    Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian
    yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/treatment
    pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya
    pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal
    tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh
    dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding
    dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu
    eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan
    pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi
    belajar matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang
    ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode
    pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan
    diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan
    dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak
    terbatas adalah mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang
    dicobakan sekaligus ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya
    (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan
    kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.
    Apakah perlu kelompok pembanding? Marilah kita renungkan jawaban ini. Di dalam
    proses yang disebabkan oleh satu macam tindakan/ perlakuan, kita tidak pernah
    dapat menyatakan bahwa tindakan dan proses itu menghasilkan sesuatu yang lebih
    baik, kurang baik, dan kita baru dapat menyatakan kalau sudah dibandingkan
    4
    dengan yang lain. Dari suatu tindakan kita hanya dapat menyatakan bahwa proses
    ini begini dan begitu itu akan menimbulkan gejala yang begini atau begitu. Gejala
    itu baru dapat dikatakan lebih baik jika gejala lain menjadi ukuran sebagai
    pembanding. Oleh karena itu dalam suatu eksperimen ilmiah dituntut sedikitnya dua
    kelompok, yang satu ditugaskan sebagai kelompok pembanding (control group),
    sedang kelompok yang satu lagi sebagai kelompok yang dibandingkan
    (experimental group).
    Bagaimana cara melaksanakan jenis penelitian eksperimen ini ? Untuk melaksanakan
    suatu eksperimen yang baik, kita perlu memahami terlebih dahulu segala sesuatu
    yang berkaitan dengan komponen-komponen eksperimen. Baik yang berkaitan
    dengan pola-pola eksperimen (design experimental), maupun penentuan kelompok
    eksperimen dan kontrol, bagaimana kondisi kedua kelompok sebelum eksperimen
    dilaksanakan, cara pelaksanaannya, kesesatan-kesesatan yang dapat
    mempengaruhi hasil eksperimen, cara pengumpulan data, dan teknik analisis
    statistik yang tepat digunakan. Hal itu semua, para guru dapat mempelajari,
    mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan penelitian itu, tanpa meninggalkan
    tugas sehari-hari di kelas.
    B. MEMPERSIAPKAN EKSPERIMEN
    Marilah kita mempersiapkan penelitian eksperimen secara baik. Sebelum peneliti
    melaksanakan treatment/perlakuan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
    Sebagai ilustrasi seorang guru akan mengadakan percobaan tentang keampuhan dua
    metode mengajar dalam bidang Matematika, Mana di antara dua macam metode
    yang dapat memberikan prestasi belajar yang lebih baik (metode pemahaman
    konsep atau metode pemecahan soal). Hal ini disebabkan karena selama ini
    ditemukan oleh guru bahwa penggunaan metode pemahaman konsep yang dilakukan
    menyebabkan prestasi belajar siswanya belum menggembirakan.
    1. Langkah awal dijumpai ada problem terhadap prestasi belajar matematika
    yang selama ini diajarkan melalui metode pemahaman konsep (Metode B).
    Seorang guru matematika sewaktu mengikuti diklat mendapatkan metode
    5
    baru yaitu metode pemecahan soal“ (Metode A), kemudian muncul
    pertanyaan: manakah di antara dua metode pembelajaran Matematika
    yang dapat menumbuhkan prestasi belajar lebih baik?
    2. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah metode pemecahan soal
    (metode A) lebih baik dalam mengembangkan kecakapan matematika
    dibandingkan dengan pemahaman konsep (metode B) atau untuk mengetahui
    pengaruh metode pemecahan soal (metode A) terhadap prestasi belajar
    matematika). Guru juga dapat mengetahui sikap siswa terhadap metode
    pembelajaran tersebut.
    3. Langkah berikutnya, mencari dasar teori yang berkaitan dengan variabel
    penelitian (metode pembelajaran pemecahan soal dan pemahaman konsep,
    serta prestasi belajar). Diupayakan adanya kerangka pemikiran yang
    mengarah pada simpulan bahwa metode pemecahan soal lebih baik dalam
    menanamkan pemahaman matematika dibandingkan dengan metode
    pemahaman konsep.
    4. Selanjutnya, perlu dikemukakan hipotesisnya: “Metode pemecahan soal lebih
    baik dibandingkan dengan metode pemahaman konsep dalam meningkatkan
    prestasi belajar matematika”. Hipotesis ini diperlukan untuk pedoman
    peneliti dalam merancang lebih lanjut.
    5. Langkah awal bagian metode penelitian adalah melakukan pengukuran
    kepada dua kelompok yang siswanya mempunyai kesamaan kemampuan/
    karakteristik dalam matematika. Untuk mengukur hal ini dapat dilakukan
    dengan Uji Homogenitas. Apabila dari uji homogenitas terbukti bahwa kedua
    kelompok adalah Homogen maka dilanjutkan dengan persiapan eksperimen
    selanjutnya.
    6. Dari dua kelompok yang sudah mempunyai kesamaan itu dipilih secara acak
    atau random untuk menentukan mana kelompok kontrol dan mana yang akan
    ditugaskan sebagai kelompok eksperimen.
    7. Menentukan siapa guru yang akan ditugasi untuk mengajar pada
    masing-masing kelompok tersebut. Bilamana telah mendapatkan guru yang
    memiliki kualitas yang sama, kemudian dipilih secara acak/random untuk
    6
    ditugaskan ke kelompok eksperimen/kontrol. Kalau gurunya sama/satu
    orang, wajib menjaga obyektivitas dalam menerapkan kedua metode
    tersebut. Jadi dalam hal ini eksperimen dilakukan dengan menggunakan
    metode berbeda oelh guru yang sama, dalam waktu yang berbeda pula.
    8. Persiapkan materi ajar dan rincian tindakan yang akan dilakukan pada
    metode yang telah ditetapkan untuk kedua kelompok tersebut.
    9. Sesudah memahami langkah-langkah tersebut, kita perlu melihat kembali hal
    hal mendasar yang perlu diperhatikan sebelum eksperimen dilakukan.
    10. Kalau semua komponen tersebut sudah dipersiapkan dengan baik dan lengkap
    barulah mencoba menyusun rancangan/desain eksperimennya. Sebagai
    contoh rancangan eksperimen menggunakan Pre Test Post Test Design
    dengan Kelompok Kontrol, yang dapat digambarkan sebagai berikut :
    C. FAKTOR YANG PERLU DIKONTROL
    Sebelum eksperimen dilaksanakan ada berbagai faktor, variabel, serta kondisi
    apa saja yang berkaitan dengan kegiatan eksperimen yang perlu diperhatikan.
    Hal ini untuk mengantisipasi adanya perbedaan sesudah eksperimen itu
    benar-benar disebabkan oleh metode bukan karena faktor lain. Faktor-faktor
    yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut.
    1. Latar belakang kebudayaan. Pelajar yang mempunyai kebudayaan yang
    berbeda besar kemungkinan mempunyai sifat dan kebiasaan yang berbeda
    pula. Untuk itu perlu diperhatikan agar adanya perbedaan bukan karena
    faktor ini tetapi faktor metode mengajarnya. Ada siswa yang setiap hari
    selalu belajar bersama dengan kakak-kakaknya, mengikuti pelajaran
    tambahan setiap sore, dan sebagainya.
    2. Dasar matematika; Sebelum eksperimen dimulai siswa masing-masing
    kelas/kelompok perlu diseimbangkan agar tidak terjadi salah satu kelas
    terdiri atas siswa yang pandai-pandai, sedang kelas lainnya terdiri atas siswa
    yang sedang dan kurang pandai. Sehingga adanya perbedaan hasil akhir
    eksperimen bukan disebabkan oleh metode mengajar tetapi oleh kondisi
    siswa yang berbeda.
    7
    3. Ruangan kelas. Ruangan kelas kedua calon kelompok eksperimen dan kontrol
    itu harus dibuat sedemikian sehingga tidak ada perbedaan kebisingan,
    kepengapan karena ventilasi yang kurang, tata ruang, dan tata cahaya.
    4. Waktu belajar: Perlu diperhatikan waktu berlangsungnya jam pelajaran,
    tidak diperkenankan kelompok eksperimen (E) masuk pagi kelompok control
    (K) masuk sore atau sebaliknya.Jika kelas E masuk pagi, kelas K harus masuk
    pagi, kalau kelas E masuk jam 8.00 kelas K tidak boleh masuk jam 12.00,
    sehingga hasil eksperimen dikotori oleh faktor masuk sekolah. Selain itu,
    jumlah jam kedua kelas/kelompok harus sama
    5. Cara mengajar : Metode-metode yang akan dicobakan harus ditetapkan dan
    dirancang lebih dahulu serta dijalankan secara tertib dan benar. Cara guru
    mengajar harus sesuai dengan pola yang ditetapkan dalam desain eksperimen
    yang dipersiapkan.
    6. Guru/pengajar : Latar belakang pendidikan, serta pengalaman mengajar
    diupayakan mempunyai tingkat, level, atau derajat yang seimbang. Demikian
    tingkat kedisiplinan maupun kemampuannya.
    7. Lain-lain : walaupun peneliti sudah berupaya mengendalikan variabel non
    eksperimen agar tidak memengaruhi hasil eksperimen, namun sering dijumpai
    adanya kejadian yang sulit dikontrol dan diprediksi, misalnya: tiba-tiba
    dijumpai adanya siswa yang suka mengganggu jalannya pelajaran, sehingga
    mempengaruhi temannya untuk tidak disiplin, atau terganggu konsentrasinya
    akibat ulah satu atau beberapa temannya. Dapat terjadi pula adanya
    pemberian bimbingan belajar di luar jam pelajaran, baik oleh anggota
    keluarga atau yang lain.
    Perlu disadari bahwa sebenarnya banyak sekali faktor yang mungkin dapat
    berpengaruh terhadap eksperimen. Oleh karena itu, peneliti eksperimen perlu
    hati-hati pada setiap langkah agar selalu memperhatikan adanya kemungkinan
    timbulnya kesesatan, dan ada upaya untuk mengendalikan.
    D. KESESATAN DALAM EKSPERIMEN
    8
    Segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi, keadaan, faktor, perlakuan, atau
    tindakan yang diperkirakan dapat memengaruhi hasil eksperimen disebut
    variabel. Dalam eksperimen selalu dibedakan adanya variabel-variabel yang
    berkaitan secara langsung diberlakukan untuk mengetahui suatu keadaan
    tertentu dan diharapkan mendapatkan dampak/akibat dari eksperimen sering
    disebut variabel eksperimental atau treatment variable, dan variabel yang
    tidak dengan sengaja dilakukan tetapi dapat memengaruhi hasil eksperimen
    disebut variabel noneksperimental. Variabel eksperimental adalah kondisi yang
    hendak diteliti bagaimana pengaruhnya terhadap suatu gejala. Untuk mengetahui
    pengaruh varibel itu, kedua kelompok, yaitu kelompok eksperimental dan kontrol
    dikenakan variabel eksperimen yang berbeda (misalnya metode pemecahan soal
    untuk kelompok eksperimen dan metode pemahaman konsep untuk kelompok
    control) atau yang bervariasi.
    Variabel noneksperimental sebagian dapat dikontrol, baik untuk kelompok
    eksperimen maupun kelompok kontrol. Ini disebut variabel yang dikontrol atau
    controlled variable. Akan tetapi sebagian lagi dari variabel non-eksperimen ada
    di luar kekuasaan eksperimen untuk dikontrol atau dikendalikan. Ini disebut
    variabel ekstrane atau extraneous variable. Dalam setiap eksperimen, hasil
    yang berbeda pada kelompok eksperimen dan kontrol sebagian disebabkan oleh
    variabel eksperimental dan sebagian lagi karena pengaruh variabel ekstrane.
    Oleh karena itu, setiap guru yang akan melakukan eksperimen harus memprediksi
    akan munculnya variabel pengganggu ini.
    Adanya perbedaan hasil eksperimen yang dilakukan oleh peneliti/guru/ pengawas
    dari kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, bukan secara mutlak
    disebabkan tindakan yang diberikan, tetapi sebagian lagi karena adanya variabel
    luar/ekstrane yang ikut mempengaruhinya. Besar kecilnya pengaruh variabel
    ekstrane yang dapat menyebabkan terjadinya perbedaan dengan yang diobservasi
    dalam hasil eksperimen disebut kesesatan atau errors. Dalam eksperimen
    dapat dijumpai adanya dua jenis kesesatan yaitu : (1) Kesesatan konstan, dan
    (2) Kesesatan tidak konstan (kesesatan kompensatoris). Kesesatan konstan
    merupakan pengaruh akibat variabel ekstrane, yang selalu ada dalam setiap
    9
    eksperimen. Variabel ini tidak dapat diketahui, tidak dapat diukur dan sulit untuk
    dikendalikan, serta tidak mudah untuk diperhitungkan dan dipisahkan dengan
    perbedaan hasil yang ditimbulkan oleh variabel eksperimen. Sebagai contoh dari
    kesesatan konstan adalah sebagai berikut.
    Suatu penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetahui pengaruh suatu metode
    (pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika. Prosedur eksperimen
    telah dilaksanakan sesuai dengan metodologi yang benar, maka peneliti
    berkeyakinan bahwa adanya perbedaan hasil belajar siswa nanti secara mutlak
    dipengaruhi oleh baiknya metode yang dilakukan. Ia tidak menyadari adanya
    berbagai variabel yang mungkin dapat mengganggu proses dan hasil eksperimen.
    Variabel pengganggu kesesatan konstan; misalnya pada kelompok kontrol
    terdapat siswa yang pada sore hari ikut pelajaran tambahan/privat. Di samping
    itu, banyak orang tua/keluarga yang peduli sekali terhadap waktu dan
    kedisiplinan belajar anaknya, sehingga anak itu selalu dibimbing atau diawasi
    orang tuanya. Ditinjau dari segi guru yang mengajar di kelompok kontrol
    mempunyai karakteristik kecakapan mengajar, penguasaan bahan ajar,
    kepribadian, dan pendekatan kepada siswa sangat bagus. Alat untuk mengukur
    kemampuan siswa baru mampu mengukur sebagian dari kecakapan dan materi
    yang diajarkan. Variabel-variabel tersebut merupakan variabel luar/ekstrane
    yang sulit diperhitungkan, sulit dikendalikan, sehingga disinilah muncul adanya
    kesesatan konstan.
    Dengan adanya kesesatan itu, berakibat setelah data akhir eksperimen diperoleh
    dan dianalisis terjadi tidak adanya perbedaan antara hasil belajar
    matematika bagi siswa kelompok eksperimen yang diberi perlakukan metode A
    (pemecahan soal) dengan kelompok kontrol yang menggunakan metode B
    (pemahaman konsep). Mengapa hal ini terjadi ? Padahal secara teori jelas bahwa
    metode pemecahan soal lebih baik dibandingkan dengan metode pemahaman
    konsep. Apa jawabannya? Hal ini terjadi karena banyaknya variabel luar/ekstrane
    yang muncul pada suatu kelompok tertentu pada saat waktu pelaksanaan
    eksperimen. Jadi, hasil belajar pada siswa kelompok kontrol telah dicemar oleh
    varibel ekstrane yang peneliti tidak mampu memperhitungkannya. Padahal kalau
    10
    eksperimen berjalan dengan mulus tanpa banyak dipengaruhi variabel yang
    menyesatkan, besar kemungkinan metode yang dicobakan pada kelompok
    eksperimen akan mampu memberikan hasil belajar yang lebih baik.
    Kemudian, tindakan apa yang sebaiknya dilakukan guru yang akan melakukan
    eksperimen? Perlu mempersiapkan secara maksimal berbagai komponen yang
    berkaitan dengan metode yang akan dieksperimenkan pada bidang materi
    pelajaran tertentu, baik yang berkaitan dengan metode pembelajaran yang akan
    diperlakukan, materi pelajaran, guru pelaksana tindakan, siswa yang dikenai
    tindakan, kondisi/situasi kelas, lingkungan belajar, maupun komponen lain yang
    mungkin dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Selama proses kegiatan
    ekperimen berlangsung, peneliti perlu memperhatikan adanya variabel lain yang
    dimungkinkan akan dapat mengganggu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi
    munculnya variabel luar yang dapat menyesatkan hasil eksperimen.
    Kemudian, apa yang dimaksud dengan kesesatan tidak konstan itu? Kesesatan
    tidak konstan adalah kesesatan yang terjadi pada satu atau beberapa kelompok
    dalam suatu eksperimen, tetapi tidak terjadi pada satu kelompok lain. Kesesatan
    pada jenis ini ada kemungkinan untuk dapat diperhatikan atau dikendalikan pada
    waktu mempersiapkan eksperimen, atau menentukan pola eksperimen. Kesesatan
    tipe ini dapat dibedakan ke dalam tiga jenis, yaitu:
    1). Kesesatan tipe S (Subyek).
    2). Kesesatan tipe G (Group), dan
    3). Kesesatan tipe R (Replikasi).

    DAFTAR PUSTAKA

    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional

    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

  215. wulandari 5525 05 7112 said

    metode penelitian eksperimen merupakan suatu metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat (causal – effect relationship).

    karakteristik penelitian eksperimen :
    menurut Ary, 1985 mempunyai 3 karakteristik penting, yaitu :
    a. variabel bebas yang dimanipulasi
    b. variabel lain yang mungkin berpengaruh dikontrol agar tetap konstan
    c. efek atau pengaruh manipulasi variabel terikat diamati secara langsung oleh peneliti

    proses penelitian eksperimen :
    langkah penelitian eksperimen pada prinsipnya sama dengan jenis penelitian lainnya yang secar eksplisit adalah :
    1. melakukan kajian secara induktif yang berkaitan erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.

    2. mengidentifikasi permasalahan.

    3. melakukan studi literatur dari beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan definisi operasional dan variabel.

    4. membuat rencana penelitian yang di dalamnya mencakup kegiatan :
    a. mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses elsperimen.
    b. menentukan cara untuk mengontrol mereka.
    c. memilih desain riset yang tepat.
    d. menentukan populasi, sampel, yang terwakili dan memilih sejumlah subjek penelitian.
    e. membagi subjek ke dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.
    f. membuat instrumen yang sesuai, memvalidasi instrumen dan melakukan pilot study agar memperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mangambil data yang diperlukan.
    g. mengidentifikasi prosedur pengumpulan data dan menetukan hipotesis.

    5. melukan eksperimen.

    6. mengumpulkan data kasar dari proses eksperimen.

    7. mengorganisasi dan mendeskripsikan data sesuia dengan variabel yang telah ditentukan.

    8. melakukan analisis data dengan tehnik statistika yang relevan.

    9. membuat laporan penelitian eksperimen.

    pada kondisi yang sama, (Gay, 1982: 201) dalam penelitian eksperimen menekankan perlu adanya langkah-langkah penting seperti berikut :
    a. adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti.
    b. pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
    c. pembuatan atau pengembangan instrumen.
    d. pemilihan desain penelitian
    e. eksekusi prosedur.
    f. melakukan analisis data.
    g. memformulasikan kesimpulan.

    DAFTAR PUSTAKA
    Prof. Sukardi, Ph.D. Metodologi Penelitian Pendidikan kompetensi dan praktiknya. Jakrta. Bumi Aksara

  216. NURHASANA/5525057097/S1 Tata Busana Ext'2005 said

    PENELITIAN EKSPERIMEN

    B. Tujuan dan manfaat penelitian
    Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi empiris mengenai manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tujuan pembelajaran khusus secara semestinya terhadap efektifitas proses belajar-mengajar. Dengan diperolehnya pengetahuan tentang hal itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu masukan bagi uasaha-usaha meningkatkan kualitas pembelajaran.

    C. Anggapan dasar
    Penelitian ini bertolak dari anggapan dasar sebagai berikut:
    1. Tujuan pembelajaran khusus merupakan komponen penting dari program satuan pelajaran;
    2.. Tujuan pembelajaran khusus dapat membimbing siswa memusatkan perhatian dan mengarahkan pikiran dan tenaganya dalam belajar di kelas.
    3. Siswa giat mempelajari sesuatu karena mengetahui akan diujikan.

    D. Hipotesis
    Meningkat tidaknya efektifitas proses belajar-mengajar dapat dilihat dari prestasi belajar yang dicapai siswa dengan memberikan perlakuan tertentu. Mengingat dampak perlakuan itu mungkin juga disebabkan karena pengaruh faktor lainnya, maka pada penelitian ini pemeriksaan akan dilakukan melalui perbandingan antara dua perlakuan yang berbeda. Karenanya hipotesis dalam penelitian ini adalah: “Terdapat perbedaan prestasi belajar siswa secara signifikan antara pembelajaran yang menggunakan tujuan pembelajaran khusus dengan yang tidak menggunakan tujuan pembelajaran khusus.”

    E. Metodologi Penelitian
    1. Metode Penelitian
    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen.
    Eksperimen dilakukan dengan memberikan perlakuan tertentu pada sebuah kelas eksperimen, yaitu pembelajaran dengan menggunakan tujuan pembelajaran khusus dan pembelajaran tanpa menggunakan tujuan pembelajaran khusus pada sebuah kelas lainnya sebagai kelas kontrol. Pada setiap akhir proses belajar-mengajar diadakan post test. Eksperimen dilakukan pada mata pelajaran Sejarah selama satu bulan sebanyak 4 kali pertemuan kelas masing-masing 2 kali @ 45 menit. Eksperimen dilaksanakan pada bulan April 1998.
    2. Populasi dan sampel
    Penelitian ini merupakan sebuah studi kasus di sebuah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama swasta yaitu SLTP KORPRI Unit UPI, pada sebuah mata pelajaran yaitu mata pelajaran Sejarah. Yang dijadikan subjek penelitian adalah para siswa kelas 2, dengan mengambil sampel secara acak sebanyak 2 kelas yang homogin berdasarkan rata-rata NEM ketika mereka masuk dan rata-rata prestasi belajar hari-hari di kelas 2, yaitu Kelas II E sebagai Kelas Eksperimen (KE) dan Kelas C sebagai Kelas Kontrol (KK).
    3. Kerangka berpikir dan desain penelitian
    Penggunaan instructional objectives dalam proses belajar-mengajar dipelopori oleh R. F. Mager pada tahun enampuluhan yang ketika itu di Amerika Serikat sedang giat-giatnya dilakukan gerakan pembaharuan kurikulum. Publikasi R.F. Mager yang pertama terbit pada tahun 1962 dengan judul Preparing Instructional Objectives. Mager mendefinisikan instructional objective sebagai berikut: “Tujuan pembelajaran khusus adalah maksud yang dikomunikasikan melalui pernyataan yang menjelaskan perubahan tingkah laku yang diharapkan (guru) terjadi pada diri siswa -suatu pernyataan mengenai seperti apa keadaan diri siswa setelah siswa menyelesaikan suatu pengalaman belajar dengan sukses. Saran penggunaan instructional objective dalam pengajaran itu mendapat sambutan yang luas, terbukti dengan banyak dilakukannya seminar dan workshop serta pelatihan beribu-ribu guru mengenai pengembangan tujuan pembelajaran khusus untuk menjamin akontabilitas pengajaran (W. Dick, 1989). Setelah beberapa lama gagasan ini diimplementasikan di sekolah-sekolah, para pakar pendidikan melakukan kajian-kajian dan penelitian-penelitian mengenai berbagai aspek dari tujuan pembelajaran khusus itu. Di luar sebutan instructional objective, muncul sebutan-sebutan lain, misalnya behavioral objective, terminal behavior, dan peformance objective. Demikian juga dengan pendefinisiannya, terdapat perbedaan-perbedaan. R.J. Kibler, misalnya, mendefisikan tujuan pembelajaran khusus sebagai “pernyataan yang menjelaskan apa yang dapat dilakukan siswa setelah siswa menyelesaikan pelajaran yang diprogramkan (1981). Lain lagi definisi yang dikemukakan Dick Walter: performance objective adalah deskripsi terperinci mengenai apa yang dapat dilakukan siswa setelah menyelesaikan suatu unit pembelajaran (1985). Sejumlah penelitian menghasilkan berbagai kesimpulan yang mengindikasikan inkonsistensi. Beberapa riset menghasilkan temuan bahwa penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar ternyata meningkatkan prestasi belajar siswa; sementara riset lain tidak menemukan perbedaan hasil belajar antara pembelajaran dengan menggunakan dengan yang tidak menggunakan tujuan pembelajaran khusus. Hal itu mengakibatkan adanya segolongan ahli yang skeptis di samping mereka yang tetap merasa yakin akan kegunaan tujuan pembelajaran khusus dalam pengajaran.

    Mengenai rasional perlu digunakannya tujuan pembelajaran khusus dapat diikuti pendapat R.W. Tyler (1964), R.M. Gagne (1965), dan De Cecco (1977) sebagai berikut:
    (1) Tujuan pembelajaran khusus membimbing guru dalam perencanaan pengajaran, yang memungkinkan guru dapat merancang langkah-langkah kegiatan apa yang perlu dilakukan siswa dalam mencapai tujuan; (2) tujuan pembelajaran khusus menjadi acuan dan memudahkan guru didalam menilai performans siswa; (3) tujuan pembelajaran khusus membimbing siswa dalam mengarahkan perhatiannya dan usaha belajarnya, dan untuk itu siswa harus mengetahui apa yang hendak dicapai sebelum menjalani kegiatan belajar.

    Dari tiga sudut pandang R.J. Kibler dkk. menjelaskan rasional perlu digunakannya tujuan pembelajaran khusus sebagai berikut:
    (1) Dari sudut rational and intuitive perspective, digunakannya tujuan pembelajaran khusus dalam pembelajaran berkenaan dengan meluasnya penerimaan gagasan akontabilitas pendidikan. Artinya dengan tersedianya tujuan-tujuan pembelajaran khusus dalam program pengajaran yang disusun guru, maka para orang tua, supervisor, dan dewan sekolah dapat mengetahui apa yang dilakukan guru dan apa yang dipelajari siswa; (2) Dari sisi empirical perspective ternyata banyak riset menemukan bahwa penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar dapat meningkatkan prestasi belajar. Adanya inkonsistensi hasil-hasil penelitian tidak lain disebabkan karena kelemahan-kelemahan metodologis dalam penelitiannya itu sendiri; (3) Dari sudut functional perspective, penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam pengajaran bermanfaat bagi banyak pihak: (a) Bagi siswa, dengan mengetahui dan memahami tujuan pembelajaran khusus siswa tidak akan menduga-duga apa yang mereka harus pelajari dan apa yang seharusnya mereka demonstrasikan setelah mengikuti pelajaran; (b) Bagi guru, tujuan pembelajaran khusus yang jelas akan memudahkan dalam menentukan pilihan materi pelajaran, metode, kegiatan belajar, dan alat evaluasi; (c) Bagi administrator, tersedianya tujuan pembelajaran khusus memungkinkan mereka dapat mengontrol ketepatan implementasi kurikulum; (d) Bagi Dewan Pendidikan, tujuan pembelajaran khusus merupakan salah satu bahan kongkrit dalam menilai program; (e) Bagi orang tua, tujuan pembelajaran khusus menjadi bermanfaat jika guru secara teratur mengirimkan laporan mengenai ketercapaiannya oleh anak-anak mereka.
    Penelitian ini dirancang dalam desain penelitian sebagai di bawah ini.
    Guru Sejarah di kelas IIA sampai kelas II E ditunjuk sebagai pelaksana eksperimen. Guru yang bersangkutan ditugaskan untuk melaksanakan beberapa tugas dengan bimbingan dan petunjuk dari peneliti, sebagai berikut:
    a. Menyusun Program Satuan Pelajaran untuk 4 kali pertemuan (4 minggu @ 2 x 45 menit);
    b. Menyusun Rencana Pelajaran untuk setiap kali pertemuan;
    c. Melaksanakan proses belajar-mengajar sebagaimana lazimnya ia mengajar dengan ketentuan pada Kelas Eksperimen guru menginformasikan secara jelas mengenai tujuan pembelajaran khusus kepada siswa pada fase pembukaan, sedangkan pada Kelas Kontrol guru tidak menginformasikan tujuan pembelajaran khusus;
    d. Pada akhir setiap kali proses belajar-mengajar guru diminta mengadakan tes akhir (post test) pada kedua kelas dengan soal yang sama;
    e. Hasil tes diadministrasikan kedalam 2 daftar skor.
    4. Pengolahan dan analisis data Skor yang dicapai oleh semua siswa dimasukkan kedalam daftar skor pada masing-masing kelas. Skor tidak diubah menjadi nilai, melainkan dibiarkan seperti apa adanya. Untuk membandingkan prestasi siswa di antara kedua kelas tersebut dilakukan pengolahan statistik dengan langkah-langkah sebagai berikut:
    a. Menggabungkan keempat skor yang diperoleh siswa pada empat kali post test dan kemudian dirata-ratakan;
    b. Menguji normalitas dengan uji chi kuadrat
    c. Memeriksa homoginitas dengan uji homoginitas variansi;
    d. Memeriksa perbedaan dua rata-rata;
    e. Menguji signifikansi perbedaan dengan uji t

    F. Hasil penelitian
    Rata-rata skor dari skor yang dicapai pada 4 kali pertemuan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada Kelas Eksperimen lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa pada Kelas Kontrol, yaitu 7,51 pada Kelas Eksperimen dan 6,76 pada Kelas Kontrol..
    Untuk mengetahui apakah perbedaan itu signifikan atau tidak, maka dilakukan pengujian statistik. Hasil pengolahan statistik ternyata skor pada kedua kelas tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu maka pengujian statistik dilakukan dengan menggunakan statistik non parametrik, yaitu Tes Wilcoxon dengan langkah-langkah sebagai berikut.
    Menyamakan jumlah anggota kelas II C dan kelas E. Anggota kelas C yang berjumlah 42 orang dikurangi secara acak sebanyak 5 orang sehingga anggota kedua kelas itu sama-sama berjumlah 37 orang;
    Menentukan nilai W, yaitu = 180,76
    Pengolahan statistik menunjukkan W hitung < W 0,01 (37), yaitu W tabel adalah 180,76, sedangkan W hitung pada signifikansi 1 % (0,01) adalah 33,5. Dengan demikian maka dapat disimpulkan, prestasi siswa Kelas Eksperimen yang ditunjukkan oleh skor yang dicapainya berbeda dengan prestasi siswa Kelas Kontrol secara signifikan pada taraf kepercayaa 99 %. Ini berarti bahwa perlakuan yang berupa pemberian informasi secara jelas mengenai tujuan pembelajaran khusus kepada siswa pada awal kegiatan proses belajar-mengajar, ternyata dapat meningkatkan efektifitas belajar siswa. Dengan demikian hipotesis penelitian ini diterima. Lebih jauh dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran khusus besar gunanya dalam meningkatkan efektifitas belajar siswa jika penggunaan tujuan pembelajaran khusus itu dilakukan secara semestinya seperti disarankan oleh para pakar.

    G. Rekomendasi
    Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, patut direkomendasikan hal-hal sebagai berikut:
    1. Bagi para tenaga pengajar
    a. Perlakukan tujuan pembelajaran khusus yang dengan telah susah payah dirumuskan sebagai salah satu komponen pertama dan utama dari program satuan pelajaran dan rencana pelajaran secara fungsional dengan cara menginformasikan secara jelas kepada peserta didik baik dengan cara lisan maupun tertulis pada fase pembukaan proses belajar-mengajar;
    b. Periksa apakah TPK demi TPK telah dikuasai peserta pada waktu berlangsungnya proses belajar-mengajar tahap demi tahap;
    c. Gunakan tujuan pembelajaran khusus sebagai acuan dalam memilih prosedur penilaian maupun menyusun alat evaluasi;
    d. Tingkatkan pengetahuan teori dan keterampilan teknis yang diperlukan dalam mengembangkan tujuan pembelajaran khusus;
    e. Review berulangkali rumusan-rumusan tujuan pembelajaran khusus setelah digunakan dengan menggunakan umpan balik dari hasil analisis terhadap hasil tes maupun ujian.
    2. Bagi Kepala Sekolah dan Pimpinan Institusi Pendidikan Lainnya
    Melakukan supervisi terhadap performans pengajar secara teratur mengenai kemampuan teknis pengembangan tujuan pembelajaran khusus dan penggunaannya didalam kelas belajar akan sangat besar manfaatnya bagi upaya peningkatan kualitas pengajaran.

    DAFTAR BACAAN
    Arends, R.I., Learning To Teach, McGraw-Hill, Education Series, Singepore, 1989
    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum 1975, 1984, 1994, Jakarta
    De Cecco, J.P.. The Psychology of Learning and Instruction, Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, 1974
    Dick, W., Systematic Design of Instruction, Scott, Foresman Co., New York, 1989
    Gagne, R.M. etal., Principles of Instructional Design, Holt, Rinehart & Wisnton, NY, 79
    Kibler, R.J., Objectives for Instruction and Evaluation, Allyn and Bacon, Boston, 1981
    Mager, R.F., Preparing Instructional Objectives, Fearon Publisher, Palo Ato, 1962
    Romiszowski, A,J., Designing Instructional System, Nichols Publishing, N.Y, 1988
    Sujana, Metode Statistik, Penerbit Tarsito, Bandung, 1982
    Tyler, R.W., Basic Principles of Curriculum and Instruction, UCP, Chicago, 1949
    Sumber
    Jurnal Perpustakaan Sekolah, Tahun 1-Nomor 1- April 2007, Issn 1978-9548, Perpustakaan Universitas Negeri Malang
     

  217. AMALIA RIZKIAH. M/5525057108/S1 Tata Busana Ext'2005 said

    PENELITIAN EKSPERIMEN

    I. Pengertian Eksperimen
    Dalam metode ilmiah, percobaan atau disebut juga eksperimen (dari Bahasa Latin: ex-periri yang berarti menguji coba) adalah suatu set tindakan dan pengamatan, yang dilakukan untuk mengecek atau menyalahkan hipotesis atau mengenali hubungan sebab akibat antara gejala.
    Eksperimen adalah landasan dalam pendekatan empiris untuk memperoleh pengetahuan, baik dalam ilmu sosial maupun ilmu alam. Dalam kajian keilmuan, eksperimen didefinisikan sebagai metode untuk menyelidiki suatu bidang, memecahkan masalah praktis, dan membuktikan asumsi teoretis.
    Eksperimen adalah proses pengujian hipotesis. Sesuatu yang mempengaruhi eksperimen disebut variabel. Ada tiga jenis untuk mengidentifikasi eksperimen: variabel bebas, variabel tidak bebas dan variabel pengontrol.
    Variabel bebas adalah variabel yang bisa diubah. Variabel tak bebas adalah variabel setelah pengamatan, bisa berubah karena dipengaruhi variabel bebas. Variabel-variabel yang tidak berubah disebut variabel variabel pengontrol.
    Untuk mendapatkan hasil yang terbaik lakukan eksperimen lebih dari sekali. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah : Hanya ada satu variabel bebas selama melakukan eksperimen; Ulangi eksperimen lebih dari satu kali untuk menegaskan hasil eksperimen

    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2).  
    II. Karakteristik Penelitian Eksperimen
    Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu,
    1.Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang).
    2.Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental.
    3.Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
    4.Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
    5.Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama.
    6.Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
    III. Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen
    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu,
    1.Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
    2.Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
    3.Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
    4.Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    5.Melaksanakan eksperimen.
    6.Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    7.Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telahditentukan.
    8.Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
    9.Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).
    IV. Rancangan Penelitian Eksperimen
    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.
    (1). Rancangan Pra-Eksperimental
    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:
    1.Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
    2.Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)
    3.Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)
     
    (2). Rancangan Eksperimen Murni
    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu
    1.Adanya kelompok kontrol.
    2.Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
    3.Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.
    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.
    1.Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomizedposttest only control group design)
    2.Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (therandomized pretest-posttest control group design)
    3.Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)
    4.Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dankelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)
    5.Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)
    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)
    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:
    1.Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (therandomized posttest – only control group design, using matched subject).
    2.Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompokkontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),
    3.Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counterbalanced, using matched subject) .
    4.Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)
    5.Rancangan faktorial (factorial design).

    DAFTAR PUSTAKA
    http://id.wikipedia.org/wiki/Eksperimen_celah_ganda
    Federer, WT, 1974, Experiment Design,: Theory and Applications, Oford & LBH
    Publishing Co., New Delhi
    Hadi, Sutrisno. 2004. Metodologi Research,: untuk Menulis Laporan, Skripsi Thesis
    dan Disertasi, Penerbit Andi Yogyakarta.

  218. Evi Sulistya Ningsih /5525057085 / Pend.S1 Ext Tata Busana'05 said

    Penelitian Experimen
    Banyak orang berpendapat bahwa penelitian dapat dikatakan bermutu jika dilaksanakan melalui experimen. Apabila tidak melalui experimen maka penelitian tersebut hanya merupakan laporan kejadian saja. Benarkah demikian? Tidak ! penelitian ada bermacam – macam cara dan pendekatan yang ditentukan oleh kehendak peneliti dan problematika yang muncul.
    Penelitian Experimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari “sesuatu” yang dikenakan pada subjek selidik. Dengan kata lain penelitian experimen mencoba menelitia ada tidaknya hubugan sebab akibat, caranya adalah dengan membandingkan satu atau lebih kelompok experimen yang diberi perlakuan dengan satu atau lebih kelompok pembading yang tidak menerima perlakuan. Secara umum didalam pembicaraan penelitian dikenal ada dua jenis penelitian ekperimen yaitu :
    1. Experimen betul ( true experiment )
    2. Experimen pura -pura ( quasi experiment )

    Penelitian experimental dapat mengubah teori – teori yang telah usang. Percobaan – percobaan dilakukan untuk menuji hipotesa serta untuk menemukan hubungan kausal yang baru. Tetapi walaupun hipotesa telah dapat diuji dengan metode percobaan, tetapi penerima atau penolakan hipotesa bukanlah merupakan penemuan sesuatu kebenaran yang mutlak. Experimentasi atau percobaan bukanlah merupakan titik akhir atau tujuan yang diinginkan dalam penelitian. Percobaan merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan.

    Jika kita bandingkan dengan metode deskritif, maka ada dua hal yang mencakup membedakan metode experimen dengan metode deskrptif. Perbedaan pokok tersebut adalah :
    a. Pada metode experimen terdapet kontrol, sedangkan pada metode deskriptif, kontol tidak ada. Kontrol ini, dapat saja merupakan fisik, seprti penggunaancara atau alat, ataupun kontrol dengan cara mengadakan seleksi terhadap materi maupun terhadap objek penelitian.
    b. Pada metode experimen, si peneliti mengadakan manipulasi terhadapvariabel, sedangkan pada metode deskriptif, variabel yang diteliti berada dalam keadaan sebagaimana adanya. Pada metode experimen, objek diatur lebih dahulu untuk diadakan perlakuan – perlakuan, sedangkan penelitian deskriptif sifatnya adalah ex post facto.

    Strategi / langkah – langkah penelitian experimen pada dasarnya sama dengan strategi dan langkah -langkah penelitian pada umumnya, yaitu :
    1. Calon peneliti mengadakan studi literatur untuk menemukan permasalahan.
    2. Mengadakan identifikasi dan merumuskan permasalahan.
    3. Mmerumuskan batasan istilah, pembatasan vaeiabel, hipotasis, dan dukungan teori.
    4. Menyusun rencana experimen.
    5. Melaksanakan experimen.
    6. Memilih data sedemikian rupa sehingga yang terkumpul hanya data yang menggambarkan hasil murni dari kelompok experimen maupun kelompok pembanding.
    7. Menggunakan teknik yang tepat untuk menguji signifikansi agar dapat diketahui secara cermat bagaimana hasil dari kegiatan experimen.

    Ahli penelitian yang banyak berbicara tentang model – model atau desain experiman adalah Campbell dan Stanley. Didalam bukunya ” Experimental dan Quasi-experimental Designs for Research” kedua ahli tersebut mengelompokkan penelitian experimen menjadi dua, yaitu : experimen murni dan experimen pura – pura.

    Disamping penelitian eksperimen murni ( true experiment ) dan eksperimen pura – pura ( quasi experimeny ) masih ada jenis penelitian lain yaitu penelitian model ” pengukuran Sesudah Kejadian” ( Ex post facto design ). Dalam model ini peeliti tidak memberikan perlakuan tetapi memperkirakan bahwa satu atau lebih variabel telah menjadi penyebab timbulnya variabel lain. peneliti melihat hubungan sebab akibat terhadap variabel yang dipandang sebagai faktor penyebab dengan variabel akibat.

    Daftar Pustaka
    - Dr. Arikunto, Suharsimi. 1995. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta
    - Nazir, Moh Phd. 1999. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. jakarta

  219. Dita Lestari said

    tugas

  220. Dita Lestari said

    Nama Dita Lestari H
    No Reg 5525057103
    Tata Busana Non Reguler 2005

    Dalam metode ilmiah, percobaan atau disebut juga eksperimen (dari Bahasa Latin: ex-periri yang berarti menguji coba) adalah suatu set tindakan dan pengamatan, yang dilakukan untuk mengecek atau menyalahkan hipotesis atau mengenali hubungan sebab akibat antara gejala.
    Eksperimen adalah landasan dalam pendekatan empiris untuk memperoleh pengetahuan, baik dalam ilmu sosial maupun ilmu alam. Dalam kajian keilmuan, eksperimen didefinisikan sebagai metode untuk menyelidiki suatu bidang, memecahkan masalah praktis, dan membuktikan asumsi teoretis.

    Penelitian Eksperimen Sungguhan (True Experimental Research)

    A. Tujuan
    Tujuan penelitian eksperimen sungguhan adalah: untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab-akibat. Dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimantal satu atau lebih kondisi perilakuan yang membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok control yang tidak di kenai kondisi perlakuan.

    B. Contoh-Contoh :
    1. Penelitian untuk menyelidiki pengaruh dua meted mengajar sejarah pada murid-murid kelas 3 SMA sebagai fungsi ukuran kelas (besar dan kecil) dan taraf intelegensi murid (tinggi, sedang, rendah).
    2. penelitian untuk menyelidikiefek program pencegahan penyalahgunaan obat terhadap sikap murid-murid SMP, dengan mengunakan kelompok eksperimen (yang dikenalkan dengan program itu) dan dengan mengunakan rancangan pretest-posttest dimana hanya separo dari mrid-murid itu secara random menerima pretest untuk menentukan seberapa besarnya perubahan sikap itu dapat dikatakan disebabkan oleh pretesting atau oleh program pendidikan
    3. penelitian untuk menyelidiki efek pemberian tambahan makanan di sekolah kepada murid-murid SD di suatu daerah dengan memperhatikan keadaan social ekonomi orang tua dan taraf intelegensi

    Daftar Pustaka

    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

  221. Dita Lestari said

    Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian
    yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/treatment
    pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya
    pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal
    tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh
    dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding
    dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu
    eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan
    pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi
    belajar matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang
    ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode
    pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan
    diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan
    dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak
    terbatas adalah mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang
    dicobakan sekaligus ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya
    (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan
    kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.
    Apakah perlu kelompok pembanding? Marilah kita renungkan jawaban ini. Di dalam
    proses yang disebabkan oleh satu macam tindakan/ perlakuan, kita tidak pernah
    dapat menyatakan bahwa tindakan dan proses itu menghasilkan sesuatu yang lebih
    baik, kurang baik, dan kita baru dapat menyatakan kalau sudah dibandingkan
    ini begini dan begitu itu akan menimbulkan gejala yang begini atau begitu. Gejala
    itu baru dapat dikatakan lebih baik jika gejala lain menjadi ukuran sebagai
    pembanding. Oleh karena itu dalam suatu eksperimen ilmiah dituntut sedikitnya dua
    kelompok, yang satu ditugaskan sebagai kelompok pembanding (control group),
    sedang kelompok yang satu lagi sebagai kelompok yang dibandingkan
    (experimental group).
    Bagaimana cara melaksanakan jenis penelitian eksperimen ini ? Untuk melaksanakan
    suatu eksperimen yang baik, kita perlu memahami terlebih dahulu segala sesuatu
    yang berkaitan dengan komponen-komponen eksperimen. Baik yang berkaitan
    dengan pola-pola eksperimen (design experimental), maupun penentuan kelompok
    eksperimen dan kontrol, bagaimana kondisi kedua kelompok sebelum eksperimen
    dilaksanakan, cara pelaksanaannya, kesesatan-kesesatan yang dapat
    mempengaruhi hasil eksperimen, cara pengumpulan data, dan teknik analisis
    statistik yang tepat digunakan. Hal itu semua, para guru dapat mempelajari,
    mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan penelitian itu, tanpa meninggalkan
    tugas sehari-hari di kelas.

    Daftar Pustaka
    http://www.google.co.id/search?hl=id&q=penelitian+eksperimen&meta=&btnG=Telusuri+dengan+Google

  222. Inggar Larasanti said

    Inggar larasanti
    5525057090
    Ekstensi tata busana 2005

    Penelitian Eksperimen
    Paling tinggi validitasnya
    Mengukur
    Bisa melihat hubungan sebab akibat  apabila ingin melihat pengaruh / dampak dari suatu treatment sebaiknya gunakan penelitian eksperimen
    Karakteristik Penelitian Eksperimen
    Mengkaji hubungan sebab akibat
    Hubungan kausal antara variabel dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
    Semua variabel dikontrol sehingga bisa di random
    Membandingkan kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol

    Ragam Penelitian Eksperimen

    Weak Experimental
    One-shot Case Studies
    One-group pretest-posttest
    Static-group Comparison
    Static-group pretest-posttest
    True Experimental
    Randomized Posttest-only Control
    Randomized Pretest-Posttest Control Group
    Randomized Solomon-Four-Group
    Random Assignment with Matching
    Quasi Experimental
    Matching-only
    Counterbalanced
    Time-series
    Factorial

    Daftar pustaka
    http://hanckey.pbwiki.com/METODE+PENELITIAN

  223. Putri Juliet Mahupale tata Busana Ext' 05(5525057106) said

    PENELITIAN EKSPERIMEN
    DI BIDANG PENDIDIKAN
    Oleh :
    Prof. Supardi
    (Guru Besar Universitas Negeri Semarang)
    A. PENDAHULUAN
    Setiap guru yang telah senior merasakan bahwa kenaikan pangkat dari IIIa ke Pembina/IVa sangat mudah, cepat dan lancar tanpa dituntut persyaratan yang dapat
    memberatkan guru, akibatnya sangat banyak guru yang menduduki pangkat/jabatan
    tersebut. Sedangkan untuk menduduki Pembina Tk.I/gol. IVb harus memunyai nilai
    kredit pengembangan profesi. Mengapa banyak guru Pembina/gol. IVa usulan
    kenaikan pangkatnya banyak yang belum berhasil? Hal ini disebabkan karena karya
    ilmiah (KTI) yang diusulkan belum memenuhi syarat, antara lain: (a) banyak KTI
    yang tidak asli, jiplakan/plagiat, bukan buatan sendiri, (b) KTI-nya berisi uraian
    yang terlalu umum, tidak berkaitan dengan permasalahan atau kegiatan nyata yang
    dilakukan guru dalam mengembangkan profesinya, (c) sistematika tulisannya tidak
    mengikuti sistematika karya ilmiah.
    Apakah untuk naik ke Pembina Tk I/IVb melalui pengembangan profesi sangat
    berat? Sebenarnya tidak asalkan mau berusaha, belajar, dan menulis sesuai dengan
    profesinya sebagai guru. Apakah KTI merupakan satu-satunya kegiatan
    pengembangan profesi? Tidak, KTI bukan merupakan satu-satunya kegiatan
    pengembangan profesi guru. Namun, karena berbagai alasan yang antara lain belum
    jelasnya petunjuk operasional pelaksanaan dan penilaian dari kegiatan selain
    KTI, maka kegiatan pengembangan profesi sebagian terbesar dilakukan melalui KTI.
    Apa saja jenis KTI itu? KTI itu ada 7 jenis, yaitu penelitian, kajian ilmiah hasil
    gagasan sendiri, ilmiah populer, makalah seminar, buku pelajaran/ modul, diktat
    pelajaran, dan hasil terjemahan. Dari ketujuh jenis KTI itu, hasil penelitian yang
    mempunyai nilai kredit tertinggi, maka guru cenderung memilih jenis ini untuk
    kenaikan pangkatnya walaupun banyak yang belum menguasai cara/metode
    penelitiannya.
    Sebagai contoh; ada seorang guru menghadapi masalah proses pembelajaran di
    kelas: siswa sulit memahami kompetensi dasar pada pelajaran tertentu, sebagian
    besar siswa prestasi belajarnya rendah, tidak berani mengeluarkan pendapat, dan
    motivasi/minat belajar kurang. Timbul pertanyaan pernahkah guru mencari upaya
    untuk mengatasinya? Apa yang harus dilakukan guru? Apa tidak perlu dicari akar
    masalahnya? Apa guru tetap mengajar seperti biasanya dan masalah itu diabaikan?
    Tentunya tidak, dan ternyata umumnya guru sudah berupaya untuk mengatasinya
    dengan berbagai cara/metode/ pendekatan melalui perubahan cara mengajar
    seperti metode/ pendekatan CTL (Contextual Teaching Learning), quantum
    learning, cooperative learning, tutor sebaya, local material learning, dan lain-lain.
    Hasilnya menunjukkan ada perubahan ke arah perbaikan. Hal ini memberi
    gambaran bahwa guru tersebut sudah melakukan kegiatan pengembangan profesi,
    namun belum ditulis secara sistematis sehingga tidak punya bukti untuk diusulkan
    kenaikan pangkat melalui pengembangan profesi. Ada pula guru yang sepulang
    mengikuti Diklat, langsung mencoba metode mengajar yang baru saja diperolehnya,
    dan hasilnya memberikan kepuasan baik prestasi belajar, suasana belajar maupun
    keberanian bertanya, dan menambah percaya diri guru. Guru tersebut sudah
    melakukan kegiatan ilmiah, sudah melaksanakan pengembangan profesinya, namun
    lagi-lagi tidak ada bukti tertulis yang terdokumensi yang harus disampaikan sewaktu
    akan mengusulkan kenaikan pangkat.
    Pada waktu melihat prestasi siswanya rendah seorang guru sudah berpikir
    bagaimana cara mengatasinya. Untuk itu, berdasarkan hasil diklat yang diikutinya,
    mereka ingin mencoba menerapkan melalui penelitian. Apakah hasil belajar siswa
    yang diajar dengan metode belajar yang selama ini dilakukan lebih jelek
    dibandingkan dengan metode baru yang diperoleh waktu diklat. Untuk mencoba
    guru tersebut tidak memahami jenis penelitian apa yang tepat digunakan untuk
    mengatasi masalah itu? Belum semua guru menguasai berbagai jenis penelitian.
    Jenis penelitian yang sering digunakan guru dalam mengatasi masalah pembelajaran
    adalah penelitian tindakan kelas, penelitian deskriptif, penelitian korelasional, dan
    penelitian eksperimen. Jenis pendekatan penelitian yang paling tepat untuk
    merealisasi kegiatan guru dalam membandingkan dua metode pembelajaran
    terhadap hasil belajar adalah melalui penelitian eksperimen.
    Apakah penelitian eksperimen itu? Apa tujuannya? Bagaimana cara melakukan yang
    benar? Bagaimana menulis laporan hasil penelitiannya agar memenuhi syarat dan
    dapat nilai kreditnya? Marilah kita belajar bersama untuk memahami dan kemudian
    melaksanakan secara hati-hati dan terarah.
    Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian
    yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/treatment
    pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya
    pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal
    tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh
    dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding
    dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu
    eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan
    pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi
    belajar matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang
    ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode
    pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan
    diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan
    dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak
    terbatas adalah mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang
    dicobakan sekaligus ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya
    (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan
    kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.
    Apakah perlu kelompok pembanding? Marilah kita renungkan jawaban ini. Di dalam
    proses yang disebabkan oleh satu macam tindakan/ perlakuan, kita tidak pernah
    dapat menyatakan bahwa tindakan dan proses itu menghasilkan sesuatu yang lebih
    baik, kurang baik, dan kita baru dapat menyatakan kalau sudah dibandingkan
    dengan yang lain. Dari suatu tindakan kita hanya dapat menyatakan bahwa proses
    ini begini dan begitu itu akan menimbulkan gejala yang begini atau begitu. Gejala
    itu baru dapat dikatakan lebih baik jika gejala lain menjadi ukuran sebagai
    pembanding. Oleh karena itu dalam suatu eksperimen ilmiah dituntut sedikitnya dua
    kelompok, yang satu ditugaskan sebagai kelompok pembanding (control group),
    sedang kelompok yang satu lagi sebagai kelompok yang dibandingkan
    (experimental group).
    Bagaimana cara melaksanakan jenis penelitian eksperimen ini ? Untuk melaksanakan
    suatu eksperimen yang baik, kita perlu memahami terlebih dahulu segala sesuatu
    yang berkaitan dengan komponen-komponen eksperimen. Baik yang berkaitan
    dengan pola-pola eksperimen (design experimental), maupun penentuan kelompok
    eksperimen dan kontrol, bagaimana kondisi kedua kelompok sebelum eksperimen
    dilaksanakan, cara pelaksanaannya, kesesatan-kesesatan yang dapat
    mempengaruhi hasil eksperimen, cara pengumpulan data, dan teknik analisis
    statistik yang tepat digunakan. Hal itu semua, para guru dapat mempelajari,
    mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan penelitian itu, tanpa meninggalkan
    tugas sehari-hari di kelas.
    B. MEMPERSIAPKAN EKSPERIMEN
    Marilah kita mempersiapkan penelitian eksperimen secara baik. Sebelum peneliti
    melaksanakan treatment/perlakuan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
    Sebagai ilustrasi seorang guru akan mengadakan percobaan tentang keampuhan dua
    metode mengajar dalam bidang Matematika, Mana di antara dua macam metode
    yang dapat memberikan prestasi belajar yang lebih baik (metode pemahaman
    konsep atau metode pemecahan soal). Hal ini disebabkan karena selama ini
    ditemukan oleh guru bahwa penggunaan metode pemahaman konsep yang dilakukan
    menyebabkan prestasi belajar siswanya belum menggembirakan.
    1. Langkah awal dijumpai ada problem terhadap prestasi belajar matematika
    yang selama ini diajarkan melalui metode pemahaman konsep (Metode B).
    Seorang guru matematika sewaktu mengikuti diklat mendapatkan metode
    baru yaitu metode pemecahan soal“ (Metode A), kemudian muncul
    pertanyaan: manakah di antara dua metode pembelajaran Matematika
    yang dapat menumbuhkan prestasi belajar lebih baik?
    2. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah metode pemecahan soal
    (metode A) lebih baik dalam mengembangkan kecakapan matematika
    dibandingkan dengan pemahaman konsep (metode B) atau untuk mengetahui
    pengaruh metode pemecahan soal (metode A) terhadap prestasi belajar
    matematika). Guru juga dapat mengetahui sikap siswa terhadap metode
    pembelajaran tersebut.
    3. Langkah berikutnya, mencari dasar teori yang berkaitan dengan variabel
    penelitian (metode pembelajaran pemecahan soal dan pemahaman konsep,
    serta prestasi belajar). Diupayakan adanya kerangka pemikiran yang
    mengarah pada simpulan bahwa metode pemecahan soal lebih baik dalam
    menanamkan pemahaman matematika dibandingkan dengan metode
    pemahaman konsep.
    4. Selanjutnya, perlu dikemukakan hipotesisnya: “Metode pemecahan soal lebih
    baik dibandingkan dengan metode pemahaman konsep dalam meningkatkan
    prestasi belajar matematika”. Hipotesis ini diperlukan untuk pedoman
    peneliti dalam merancang lebih lanjut.
    5. Langkah awal bagian metode penelitian adalah melakukan pengukuran
    kepada dua kelompok yang siswanya mempunyai kesamaan kemampuan/
    karakteristik dalam matematika. Untuk mengukur hal ini dapat dilakukan
    dengan Uji Homogenitas. Apabila dari uji homogenitas terbukti bahwa kedua
    kelompok adalah Homogen maka dilanjutkan dengan persiapan eksperimen
    selanjutnya.
    6. Dari dua kelompok yang sudah mempunyai kesamaan itu dipilih secara acak
    atau random untuk menentukan mana kelompok kontrol dan mana yang akan
    ditugaskan sebagai kelompok eksperimen.
    7. Menentukan siapa guru yang akan ditugasi untuk mengajar pada
    masing-masing kelompok tersebut. Bilamana telah mendapatkan guru yang
    memiliki kualitas yang sama, kemudian dipilih secara acak/random untuk
    ditugaskan ke kelompok eksperimen/kontrol. Kalau gurunya sama/satu
    orang, wajib menjaga obyektivitas dalam menerapkan kedua metode
    tersebut. Jadi dalam hal ini eksperimen dilakukan dengan menggunakan
    metode berbeda oelh guru yang sama, dalam waktu yang berbeda pula.
    8. Persiapkan materi ajar dan rincian tindakan yang akan dilakukan pada
    metode yang telah ditetapkan untuk kedua kelompok tersebut.
    9. Sesudah memahami langkah-langkah tersebut, kita perlu melihat kembali hal
    hal mendasar yang perlu diperhatikan sebelum eksperimen dilakukan.
    10. Kalau semua komponen tersebut sudah dipersiapkan dengan baik dan lengkap
    barulah mencoba menyusun rancangan/desain eksperimennya. Sebagai
    contoh rancangan eksperimen menggunakan Pre Test Post Test Design
    dengan Kelompok Kontrol, yang dapat digambarkan sebagai berikut :

    C. FAKTOR YANG PERLU DIKONTROL
    Sebelum eksperimen dilaksanakan ada berbagai faktor, variabel, serta kondisi
    apa saja yang berkaitan dengan kegiatan eksperimen yang perlu diperhatikan.
    Hal ini untuk mengantisipasi adanya perbedaan sesudah eksperimen itu
    benar-benar disebabkan oleh metode bukan karena faktor lain. Faktor-faktor
    yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut.
    1. Latar belakang kebudayaan. Pelajar yang mempunyai kebudayaan yang
    berbeda besar kemungkinan mempunyai sifat dan kebiasaan yang berbeda
    pula. Untuk itu perlu diperhatikan agar adanya perbedaan bukan karena
    faktor ini tetapi faktor metode mengajarnya. Ada siswa yang setiap hari
    selalu belajar bersama dengan kakak-kakaknya, mengikuti pelajaran
    tambahan setiap sore, dan sebagainya.
    2. Dasar matematika; Sebelum eksperimen dimulai siswa masing-masing
    kelas/kelompok perlu diseimbangkan agar tidak terjadi salah satu kelas
    terdiri atas siswa yang pandai-pandai, sedang kelas lainnya terdiri atas siswa
    yang sedang dan kurang pandai. Sehingga adanya perbedaan hasil akhir
    eksperimen bukan disebabkan oleh metode mengajar tetapi oleh kondisi
    siswa yang berbeda.
    3. Ruangan kelas. Ruangan kelas kedua calon kelompok eksperimen dan kontrol
    itu harus dibuat sedemikian sehingga tidak ada perbedaan kebisingan,
    kepengapan karena ventilasi yang kurang, tata ruang, dan tata cahaya.
    4. Waktu belajar: Perlu diperhatikan waktu berlangsungnya jam pelajaran,
    tidak diperkenankan kelompok eksperimen (E) masuk pagi kelompok control
    (K) masuk sore atau sebaliknya.Jika kelas E masuk pagi, kelas K harus masuk
    pagi, kalau kelas E masuk jam 8.00 kelas K tidak boleh masuk jam 12.00,
    sehingga hasil eksperimen dikotori oleh faktor masuk sekolah. Selain itu,
    jumlah jam kedua kelas/kelompok harus sama
    5. Cara mengajar : Metode-metode yang akan dicobakan harus ditetapkan dan
    dirancang lebih dahulu serta dijalankan secara tertib dan benar. Cara guru
    mengajar harus sesuai dengan pola yang ditetapkan dalam desain eksperimen
    yang dipersiapkan.
    6. Guru/pengajar : Latar belakang pendidikan, serta pengalaman mengajar
    diupayakan mempunyai tingkat, level, atau derajat yang seimbang. Demikian
    tingkat kedisiplinan maupun kemampuannya.
    7. Lain-lain : walaupun peneliti sudah berupaya mengendalikan variabel non
    eksperimen agar tidak memengaruhi hasil eksperimen, namun sering dijumpai
    adanya kejadian yang sulit dikontrol dan diprediksi, misalnya: tiba-tiba
    dijumpai adanya siswa yang suka mengganggu jalannya pelajaran, sehingga
    mempengaruhi temannya untuk tidak disiplin, atau terganggu konsentrasinya
    akibat ulah satu atau beberapa temannya. Dapat terjadi pula adanya
    pemberian bimbingan belajar di luar jam pelajaran, baik oleh anggota
    keluarga atau yang lain.
    Perlu disadari bahwa sebenarnya banyak sekali faktor yang mungkin dapat
    berpengaruh terhadap eksperimen. Oleh karena itu, peneliti eksperimen perlu
    hati-hati pada setiap langkah agar selalu memperhatikan adanya kemungkinan
    timbulnya kesesatan, dan ada upaya untuk mengendalikan.
    D. KESESATAN DALAM EKSPERIMEN
    Segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi, keadaan, faktor, perlakuan, atau
    tindakan yang diperkirakan dapat memengaruhi hasil eksperimen disebut
    variabel. Dalam eksperimen selalu dibedakan adanya variabel-variabel yang
    berkaitan secara langsung diberlakukan untuk mengetahui suatu keadaan
    tertentu dan diharapkan mendapatkan dampak/akibat dari eksperimen sering
    disebut variabel eksperimental atau treatment variable, dan variabel yang
    tidak dengan sengaja dilakukan tetapi dapat memengaruhi hasil eksperimen
    disebut variabel noneksperimental. Variabel eksperimental adalah kondisi yang
    hendak diteliti bagaimana pengaruhnya terhadap suatu gejala. Untuk mengetahui
    pengaruh varibel itu, kedua kelompok, yaitu kelompok eksperimental dan kontrol
    dikenakan variabel eksperimen yang berbeda (misalnya metode pemecahan soal
    untuk kelompok eksperimen dan metode pemahaman konsep untuk kelompok
    control) atau yang bervariasi.
    Variabel noneksperimental sebagian dapat dikontrol, baik untuk kelompok
    eksperimen maupun kelompok kontrol. Ini disebut variabel yang dikontrol atau
    controlled variable. Akan tetapi sebagian lagi dari variabel non-eksperimen ada
    di luar kekuasaan eksperimen untuk dikontrol atau dikendalikan. Ini disebut
    variabel ekstrane atau extraneous variable. Dalam setiap eksperimen, hasil
    yang berbeda pada kelompok eksperimen dan kontrol sebagian disebabkan oleh
    variabel eksperimental dan sebagian lagi karena pengaruh variabel ekstrane.
    Oleh karena itu, setiap guru yang akan melakukan eksperimen harus memprediksi
    akan munculnya variabel pengganggu ini.
    Adanya perbedaan hasil eksperimen yang dilakukan oleh peneliti/guru/ pengawas
    dari kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, bukan secara mutlak
    disebabkan tindakan yang diberikan, tetapi sebagian lagi karena adanya variabel
    luar/ekstrane yang ikut mempengaruhinya. Besar kecilnya pengaruh variabel
    ekstrane yang dapat menyebabkan terjadinya perbedaan dengan yang diobservasi
    dalam hasil eksperimen disebut kesesatan atau errors. Dalam eksperimen
    dapat dijumpai adanya dua jenis kesesatan yaitu : (1) Kesesatan konstan, dan
    (2) Kesesatan tidak konstan (kesesatan kompensatoris). Kesesatan konstan
    merupakan pengaruh akibat variabel ekstrane, yang selalu ada dalam setiap
    eksperimen. Variabel ini tidak dapat diketahui, tidak dapat diukur dan sulit untuk
    dikendalikan, serta tidak mudah untuk diperhitungkan dan dipisahkan dengan
    perbedaan hasil yang ditimbulkan oleh variabel eksperimen. Sebagai contoh dari
    kesesatan konstan adalah sebagai berikut.
    Suatu penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetahui pengaruh suatu metode
    (pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika. Prosedur eksperimen
    telah dilaksanakan sesuai dengan metodologi yang benar, maka peneliti
    berkeyakinan bahwa adanya perbedaan hasil belajar siswa nanti secara mutlak
    dipengaruhi oleh baiknya metode yang dilakukan. Ia tidak menyadari adanya
    berbagai variabel yang mungkin dapat mengganggu proses dan hasil eksperimen.
    Variabel pengganggu kesesatan konstan; misalnya pada kelompok kontrol
    terdapat siswa yang pada sore hari ikut pelajaran tambahan/privat. Di samping
    itu, banyak orang tua/keluarga yang peduli sekali terhadap waktu dan
    kedisiplinan belajar anaknya, sehingga anak itu selalu dibimbing atau diawasi
    orang tuanya. Ditinjau dari segi guru yang mengajar di kelompok kontrol
    mempunyai karakteristik kecakapan mengajar, penguasaan bahan ajar,
    kepribadian, dan pendekatan kepada siswa sangat bagus. Alat untuk mengukur
    kemampuan siswa baru mampu mengukur sebagian dari kecakapan dan materi
    yang diajarkan. Variabel-variabel tersebut merupakan variabel luar/ekstrane
    yang sulit diperhitungkan, sulit dikendalikan, sehingga disinilah muncul adanya
    kesesatan konstan.
    Dengan adanya kesesatan itu, berakibat setelah data akhir eksperimen diperoleh
    dan dianalisis terjadi tidak adanya perbedaan antara hasil belajar
    matematika bagi siswa kelompok eksperimen yang diberi perlakukan metode A
    (pemecahan soal) dengan kelompok kontrol yang menggunakan metode B
    (pemahaman konsep). Mengapa hal ini terjadi ? Padahal secara teori jelas bahwa
    metode pemecahan soal lebih baik dibandingkan dengan metode pemahaman
    konsep. Apa jawabannya? Hal ini terjadi karena banyaknya variabel luar/ekstrane
    yang muncul pada suatu kelompok tertentu pada saat waktu pelaksanaan
    eksperimen. Jadi, hasil belajar pada siswa kelompok kontrol telah dicemar oleh
    varibel ekstrane yang peneliti tidak mampu memperhitungkannya. Padahal kalau
    eksperimen berjalan dengan mulus tanpa banyak dipengaruhi variabel yang
    menyesatkan, besar kemungkinan metode yang dicobakan pada kelompok
    eksperimen akan mampu memberikan hasil belajar yang lebih baik.
    Kemudian, tindakan apa yang sebaiknya dilakukan guru yang akan melakukan
    eksperimen? Perlu mempersiapkan secara maksimal berbagai komponen yang
    berkaitan dengan metode yang akan dieksperimenkan pada bidang materi
    pelajaran tertentu, baik yang berkaitan dengan metode pembelajaran yang akan
    diperlakukan, materi pelajaran, guru pelaksana tindakan, siswa yang dikenai
    tindakan, kondisi/situasi kelas, lingkungan belajar, maupun komponen lain yang
    mungkin dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Selama proses kegiatan
    ekperimen berlangsung, peneliti perlu memperhatikan adanya variabel lain yang
    dimungkinkan akan dapat mengganggu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi
    munculnya variabel luar yang dapat menyesatkan hasil eksperimen.
    Kemudian, apa yang dimaksud dengan kesesatan tidak konstan itu? Kesesatan
    tidak konstan adalah kesesatan yang terjadi pada satu atau beberapa kelompok
    dalam suatu eksperimen, tetapi tidak terjadi pada satu kelompok lain. Kesesatan
    pada jenis ini ada kemungkinan untuk dapat diperhatikan atau dikendalikan pada
    waktu mempersiapkan eksperimen, atau menentukan pola eksperimen. Kesesatan
    tipe ini dapat dibedakan ke dalam tiga jenis, yaitu:
    1). Kesesatan tipe S (Subyek).
    2). Kesesatan tipe G (Group), dan
    3). Kesesatan tipe R (Replikasi).
    Untuk mendapatkan pemahaman tentang beberpa tipe kesesatan tersebut di atas
    berikut ini disampaikan penjelasan singkatnya.
    1) Kesesaatan Tipe S
    Ciri khusus dari kesesatan adalah adanya fluktuasi subyek sampling pada
    suatu penugasan subjek ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok
    pembanding/kontrol pada suatu eksperimen. Kejadian ini kemungkinan
    muncul karena dalam salah satu atau kedua kelompok itu terhimpun
    beberapa orang dalam segi perimbangan menguntungkan salah satu dari
    kelompok. Misalnya, dalam suatu eksperimen yang ingin diketahui pengaruh
    metode terhadap hasil belajar matematika pada suatu kelas di sekolah dasar,
    mungkin sekali secara kebetulan pada kelas pembanding terhimpun siswa
    yang memiliki IQ yang lebih tinggi dan rajin belajar. Setelah proses
    eksperimen berakhir, diadakan tes kepada kedua kedua kelompok secara
    bersamaan. Setelah diadakan analisis statistik dengan menggunakan uji t
    diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh antara metode A
    dan metode B terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas tertentu
    pada SD tersebut. Mengapa demikian? Hal ini dapat disebabkan hasil belajar
    dari kedua kelompok eksperimen (kontrol dan eksperimen) bukan disebabkan
    oleh pengaruh metode, tetapi karena adanya perbedaan subyek (S) yang
    ditugasi pada kedua kelompok tersebut. Maka dalam pelaksanaan
    eksperimen, distribusi subyek yang akan ditugasi pada kelompok-kelompok
    eksperimen harus diseimbangkan, hal ini agar mendapatkan perhatian bagi
    para peneliti eksperimen pembelajaran.
    2) Kesesatan Tipe G
    Pada suatu eksperimen dapat terjadi adanya variabel-variabel luar yang
    mempengaruhi satu atau beberapa kelompok siswa dalam suatu kegiatan
    eksperimen, tetapi tidak menyangkut seluruh kelompok yang digunakan.
    Dalam suatu eksperimen bidang pembelajaran seorang guru yang ditugasi
    untuk mengajar dengan metode CTL (eksperimen) sedemikian baiknya
    sehingga memberikan pengaruh yang sangat sistematis terhadap prestasi
    belajar siswa, dan sebaliknya di kelas lain, diajar oleh guru yang kurang
    mempunyai motivasi mengajar, kurang menguasai bahan ajar, dan bahkan
    kurang disiplin. Demikian pula kalau dalam suatu kelompok eksperimen
    terdapat siswa yang nakal, dan sering mengganggu temannya waktu
    pelajaran sedang berlangsung, akan mempengaruhi hasil eksperimen pada
    kelas tersebut. Kalau hal ini terjadi maka kesesatan tipe G telah
    mempengaruhi eksperimen, dan hasil eksperimen tersebut akan tercemari.
    3) Kesesatan Tipe R
    Ada pola eksperimen yang dilakukan terhadap beberapa eksperimen yang
    dilakukan secara serentak dengan menggunakan sampel dari
    bermacam-macam sub-populasi. Pada eksperimen tersebut disebut Replikasi.
    Berdasarkan pada istilah inilah kesesatan tipe R ini muncul.
    Pada eksperimen-eksperimen yang menggunakan metode mengajar yang
    dilakukan beberapa kali umumnya dikerjakan oleh seorang guru. Akan tetapi,
    guru lain juga dapat mereplika (mengulangi dalam keadaan yang sama)
    setelah memahami apa yang dilakukan oleh guru sebelumnya. Kesesatan tipe
    R ini terjadi bilamana variabel luar memberikan pengaruh secara sistematis
    terhadap satu replikasi, tetapi tidak memberikan pengaruh pada replikasi
    yang lain. Metode mengajar yang pernah diberikan sebelumnya mungkin
    memberikan landasan yang sangat menguntungkan bagi metode yang sedang
    dicobakan, dan tidak demikian halnya yang ada pada kondisi sebaliknya.
    Metode yang akan dicobakan ternyata sudah biasa diberikan, sehingga siswa
    pada sekolah itu akan mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik daripada
    sekiranya mereka diajarkan dengan metode lain. Kalau eksperimen ini
    dilaksanakan pada suatu sekolah, maka perbedaan pengaruh variabel yang
    diobservasi dapat dianggap bebas dari kesesatan R itu. Akan tetapi kalau
    ditinjau dari segi banyaknya replikasi pada suatu eksperimen yang diadakan di
    beberapa sekolah, mungkin terjadi kesesatan tipe ini dan berpengaruh
    terhadap rerata dari variabel yang dieksperimenkan.
    E. PELAKSANAAN EKSPERIMEN
    Sesudah mempersiapkan desain/rancangan eksperimen serta berusaha
    mengantisipasi berbagai kesesatan yang mungkin dapat mengganggu pelaksanaan
    dan hasil eksperimen, maka apa yang harus dilakukan agar eksperimen tersebut
    dapat berjalan dengan baik? Namun, sebelum ke pelaksanaannya perlu dikaji
    ulang, apakah materi yang akan diajarkan sudah disiapkan dengan baik? Apakah
    kedua kelompok eksperimen sudah dipersiapkan sesuai prosedur penelitian
    eksperimen? Dan, guru yang akan melaksanakan sudah dipersiapkan secara
    memadai dan memiliki kualitas yang seimbang? Kalau semuanya sudah dikaji
    barulah kita memperhatikan langkah berikut ini.
    1. Selama 4 bulan (kalau ini rencana eksperimennya) kelompok A sebagai
    kelompok eksperimen diberikan materi yang sama dengan kelompok kontrol.
    Sedangkan metode pembelajaran yang digunakan berbeda. Kelompok A
    dengan metode pemecahan soal, sedangkan kelompok B dengan metode
    pemahaman konsep (umpama ini yang direncanakan).
    2. Selama pelaksanaan eksperimen diupayakan semaksimal mungkin agar
    kesesatan tidak timbul terutama kesesatan yang tidak konstan, baik siswa
    maupun guru pelaksana, agar tidak mengganggu hasil eksperimen.
    3. Selama eksperimen perlu diamati semua perubahan yang terjadi berdasarkan
    pedoman observasi yang telah dipersiapkan, misalnya aspek perhatian siswa,
    keberanian siswa berpendapat, kondisi kelas, kedisiplinan siswa, dan
    lain-lain.
    4. Sesudah waktu eksperimen selesai (sesudah 4 bulan), diadakan tes akhir
    eksperimen. Jenis tes, materi tes serta waktu pelaksanaan tes yang diberikan
    pada kelompok eksperimen dan kontrol harus sama.
    5. Sesudah data dikoreksi dan dianggap lengkap, ditabulasi dan dideskripsikan
    sesuai dengan tujuan penelitian. Data yang sudah disusun dari kedua
    kelompok tersebut dianalisis dengan statistik uji t. Kalau kesimpulan
    menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan, maka perlu dilihat mana
    Meannya yang lebih besar itulah yang lebih efektif/baik. Kalau Mean pada
    kelompok eksperimen lebih baik, maka dapat disimpulkan bahwa metode
    pemecahan soal lebih efektif dalam upaya meningkatkan prestasi belajar
    matematika yang berarti hipotesis kerjanya diterima.
    Bagaimana kalau hasil eksperimen ternyata menolak hipotesis kerja? Apakah
    penelitian itu kemudian tidak berarti dan tidak dapat diajukan untuk
    mendapatkan kredit pengembangan profesi? Kalau diajukan apakah tidak dapat
    dinilai sehingga hasil penelitian itu tidak bermanfaat? Kita tidak bisa langsung
    menjawab ya atau tidak. Perlu dikaji secara hati-hati dengan menggunakan
    dasar berpikir ilmiah/logika. Coba marilah kita diperhatikan beberapa asumsi
    berikut untuk direnungkan:
    1) Dasar penyusunan hipotesis apakah sudah menggunakan dasar teori serta
    temuan ilmiah yang relevan? Jawabannya sudah, kalau sudah kita ke alur
    berikutnya.
    2) Bilamana penelitian itu merupakan penelitian eksperimen, apakah persiapan
    eksperimen sudah dilakukan secara ilmiah menurut dasar-dasar penelitian
    eksperimen? Jawabannya sudah; baik yang menyangkut penetapan kedua
    kelompok kontrol dan eksperimen), maupun penetapan pelaksana
    eksperimen. Kalau sudah, marilah ke pertanyaan berikutnya.
    3) Kalau demikian, apakah kondisi-kondisi pada kedua kelompok eksperimen
    tersebut sudah diperhatikan dengan baik dan seimbang? Jawabannya sudah,
    waktu masuk sekolah, lingkungan kelas, peralatan/ alat peraga serta bahan
    ajar yang akan diberikan dan komponen lain yang terkait. Kalau demikian
    perlu kita lanjut ke pertanyaan selanjutnya.
    4) Penyebabnya ada kemungkinan peneliti kurang memperhatikan adanya
    kesesatan tidak konstan yang ditimbulkan dari berbagai aspek, misalnya
    adanya siswa yang sering mengganggu salah satu kelompok eksperimen, atau
    adanya tindakan guru pelaksana eksperimen/kontrol yang kurang serius dalam
    bertugas, atau di suatu kelas terhimpun siswa yang memiliki potensi dan
    motivasi belajar yang kuat yang berkaitan dengan materi pelajaran yang
    dieksperimenkan. Misalnya pelajaran matematika, di suatu kelas terhimpun
    siswa yang IQ-nya bagus-bagus dan tidak demikian pada kelas yang lain. Kalau
    hal ini jawabannya tidak dan masalah itu sudah diperhatikan serta sudah
    dilaksanakan guru pelaku eksperimen/peneliti, maka peneliti perlu
    mengajukan pertanyaan berikutnya.
    5) Kemungkinan peneliti waktu menyusun alat evaluasi belajar hasil eksperimen
    tidak memperhatikan tingkat validitas dan reliabilitasnya. Artinya ketepatan
    dan ketelitian alat evaluasinya tidak terpenuhi, atau tingkat keterandalannya
    belum diperhatikan, atau belum mencakup seluruh materi pelajaran. Atau,
    waktu pelaksanaan evaluasi/tes akhir tidak dilakukan bersamaan, sehingga
    siswa pada salah satu kelas mendapatkan bocoran dari kelas lain. Kalau
    jawabannya juga tidak, maka lanjutkan ke pertanyaan yang ke-6.
    6) Jika demikian ada kemungkinan cara analisis datanya tidak tepat, tidak
    mengikuti teknik analisis statistik eksperimen sesuai dengan pola yang
    digunakan. Dimulai dari koreksi hasil post test/evaluasi akhir, tabulasi sampai
    penggunaan pada analisis dengan teknik statistiknya harus benar, kesalahan
    tanda koma saja dapat mengakibatkan dari ada perbedaan menjadi tidak ada
    atau sebaliknya. Bilamana hal ini juga sudah dilaksanakan dengan statistik
    dan prosedur analisis yang tepat dan hati-hati oleh peneliti. maka tinggal
    kemungkinan/ alternatif atau asumsi terakhir.
    7) Kalau keenam hal di atas sudah dilaksanakan dengan baik, hati-hati dan juga
    tidak melakukan penyimpangan, maka kemungkinan terakhir yaitu adanya
    kesesatan konstan yang tidak mungkin peneliti mampu untuk
    mengatasi/menghilangkan, tetapi peneliti juga tidak mencoba mengurangi
    kesesatan ini. Kondisi itu misalnya, pada salah satu kelompok sebagian besar
    siswa pada sore hari mengikuti pelajaran tambahan, banyak dibimbing
    saudara/orang tuanya pada malam hari, budaya disiplin belajar telah
    tertanam pada sebagian siswa, alat/sarana/media belajar siswa lengkap atau
    sebaliknya pada kelompok lain banyak anak yang malas belajar dan faktor
    lain yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajar.
    Untuk itu, bilamana hasil penelitiannya menolak hipotesis dan peneliti mampu
    memberi alasan/bahasan yang logis dan argumentasi yang jelas, dan kuat maka
    hasil penelitian tersebut tetap dapat diajukan dan bahkan mungkin mempunyai
    nilai/kredit atau dapat diusulkan/diajukan untuk kenaikan jabatan/ pangkat
    pengembangan profesi. Justru kalau hasil penelitian menolak, hipotesisnya
    dibangun dengan mempunyai dasar kuat dan data lapangan yang dihasilkan
    secara faktual memang mendukung adanya, maka akan dapat menumbuhkan
    pemikiran baru, konsep baru yang dapat mengarah ke pembentukan teori baru
    kalau penelitian lanjutan untuk memperkuat hasil penelitian tersebut dilakukan.
    Akibatnya, diperolehnya konsep baru, preposisi baru akan dapat mengembangkan
    teori baru dan meninggalkan teori lama. Memang jarang dijumpai adanya
    peneliti yang demikian atau peneliti tidak berani menyampaikan hasil
    penelitiannya bilamana hasil analisis tidak menerima hipotesis kerjanya, karena
    peneliti belum mampu memberikan alasan yang mendasar atas ditolaknya
    hipotesis tersebut.
    Sesudah dipahami bagaimana mempersiapkan/menyusun rancangan eksperimen,
    melaksanakan serta faktor apa yang harus dikendalikan agar tidak mengganggu
    hasil eksperimen, perlu dipelajari beberapa jenis eksperimen mana yang
    paling sesuai bagi guru yang akan mencoba metode pembelajaran dalam upaya
    memperbaiki hasil belajar siswa. Dipersilahkan Anda membaca bagian berikut ini.
    F. DESAIN EKSPERIMEN
    Apakah desain eksperimen itu? Desain eksperimen adalah suatu rancangan
    percobaan dengan setiap langkah tindakan yang terdefinisikan, sehingga
    informasi yang berhubungan dengan atau diperlukan untuk persoalan yang akan
    diteliti dapat dikumpulkan secara faktual. Dengan kata lain, desain sebuah
    eksperimen merupakan langkah-langkah lengkap yang perlu diambil jauh sebelum
    eksperimen dilakukan agar data yang semestinya diperlukan dapat diperoleh
    sehingga akan membawa ke analisis obyektif dan kesimpulan yang berlaku dan
    tepat menjawab persoalan yang dibahas.
    Sebagai contoh, untuk meneliti pengaruh metode pemecahan soal terhadap
    prestasi belajar matematika, perlu dipersiapkan rancangan/proposal penelitian.
    Untuk itu, perlu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut:
    a. Persoalan apa yang menjadi pusat perhatian peneliti sehingga harus
    melakukan penelitian dengan penelitian eksperimen?
    b. Bagaimana mempersiapkan kelompok eksperimen dan kontrol?
    c. Karakteristik metode pembelajaran apa yang akan dibandingkan?
    d. Variabel tergantung (dependent) apa yang menjadi pusat perhatian peneliti
    dan apa instrumen pengukurnya?
    e. Apa teori dasar yang harus dipersiapkan?
    f. Berapa lama eksperimen akan dilakukan?
    g. Metode analisis apa yang tepat digunakan?
    h. Bagaimana mengurangi kesesatan pada kedua kelompok?
    Pertanyaan di atas memberi gambaran bahwa suatu desain untuk mengerjakan
    suatu eksperimen perlu dipikirkan selengkap dan serinci mungkin, agar dapat
    dipakai pegangan dalam pelaksanaannya.
    Dalam penelitian eksperimen kita tidak terkonsentrasi pada satu jenis desain/
    pola eksperimen saja. Ada tiga desain yang disajikan, guru dapat memilih
    alternatif mana yang paling tepat untuk mencoba suatu tindakan tertentu
    bilamana kondisi siawa/kelas/sekolah mengalami masalah. Setiap pola/desain
    eksperimen mempunyai kelemahan dan kebaikannya, namun peneliti harus
    mampu memilih desain eksperimen yang dapat dilaksanakan dan paling minim
    mengandung resiko kelemahan.
    Sebenarnya lebih dari 8 (delapan) desain eksperimen yang dapat kita pelajari,
    namun berikut ini hanya disampaikan beberapa desain eksperimen yang sering
    digunakan guru dalam memperbaiki hasil belajar siswa, yaitu:
    1) Treatments by Levels Designs,
    2) Treatment by Matched Groups Designs, dan
    3) Matched Subjects Designs.
    Untuk mendapatkan gambaran yang agak jelas berikut ini diuraikan secara
    singkat ketiga desain eksperimen tersebut.
    1. Treatment by Levels Designs.
    Desain ini memberikan dasar-dasar pengamatan stratifikasi yang lebih baik.
    Kita sadari bahwa pada setiap kelompok/kelas selalu dijumpai adanya siswa
    yang masuk kelompok tinggi dan rendah, ada siswa-siswa yang pandai dan
    kurang pandai, maka melalui desain ini stratifikasi itu perlu mendapat
    perhatian dalam menentukan kelompok kontrol dan eksperimen. Kondisi
    semacam ini dalam pelaksanaan suatu eksperimen perlu diperhatikan agar
    tidak banyak mengganggu hasil akhir eksperimen.
    Untuk itu, dalam persiapan eksperimen, peneliti harus menentukan dua
    kelompok yang di dalamnya terdistribusi siswa yang berkemampuan yang
    seimbang. Walupun demikian bukan berarti bahwa desain ini sudah terbebas
    dari kesesatan, masih juga dapat terjadi bilamana tidak memperhatikan
    pelaksana/guru pelaku tindakan baik di kelompok eksperimen atau di
    kelompok kontrol. Pengulangan juga terjadi kalau tidak diperhatikan
    kemungkinan pengulangan metode pada kedua kelompok itu. Di samping itu,
    juga perlu diperhatikan variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap hasil
    eksperimen, maka persiapan perlu dilakukan sebaik-baiknya.
    2. Treatment by Matched Group Designs
    Desain eksperimen ini merupakan desain yang paling banyak digunakan para
    guru dalam menguji keampuhan suatu metode pembelajaran dibandingkan
    metode lain. Data untuk persiapan dengan desain eksperimen ini dapat
    diperoleh dari dokumen atau memberikan pretest kepada siswa yang akan
    dijadikan subyek penelitian. Persoalan pokok yang perlu dipikirkan lebih awal
    pada matching group adalah faktor-faktor yang harus diseimbangkan agar
    kelompok-kelompok yang mengikuti eksperimen dapat berjalan pada kondisi
    eksperimental tanpa dipengaruhi faktor ekstrane. Prinsipnya semua faktor
    yang dipandang dapat mempengaruhi/mengotori pengaruh tindakan/
    treatment harus di-matched/ dijodohkan sebelum tindakan atau eksperimen
    dilakukan. Misalnya prestasi belajar dan kecerdasan /inteligensi dipandang
    akan berpengaruh pada hasil eksperimen, maka kedua faktor itu harus
    di-matched.
    Cara melakukan matching dapat dilakukan dengan menguji perbedaan
    kelompok-kelompok yang dicoba akan menjadi kelompok eksperimen dan
    kelompok kontrol dengan analisis t-test. Bilamana ada perbedaan antara
    kedua kelompok itu eksperimen tidak dapat diteruskan, berarti kedua
    kelompok itu harus menunjukkan adanya kesamaan.
    3. Matched Subjects Designs
    Desain ini berlandaskan pada adanya matched subjects pada dua kelompok
    yang dipersiapkan untuk eksperimen. Pada matched groups, yang dipakai
    dasar adalah menjodohkan kedua kelompok itu dengan perhitungan seluruh
    subyek yang ada pada tiap kelompok, sedang matched subjects yang
    dijodohkan tiap-tiap subyek pada kelompok yang satu dengan subyek pada
    kelompok yang lain. Pada matched subjects dapat dijodohkan dengan sistem:
    a) nominal pairing, b) ordinal pairing, atau c) combined pairing. Pada
    Nominal pairing yang dipasang-pasangkan seperti jenis kelamin, jenis
    pekerjaan orang tua, sedang ordinal pairing yang dipasang-pasangkan adalah
    intelegensi, prestasi belajar, atau tingkat pendidikan. Sedangkan pada
    combined pairing, yang dipasang-pasangkan adalah kombinasi antara nominal
    dan ordinal pairing. Pada pelaksanaannya sangat tergantung pada pelaku
    eksperimen, sistem apa yang akan dipakai.
    Desain ini mempunyai kepekaan (sensitivitas) yang lebih tinggi dibandingkan
    dengan desain lainnya dalam mendeteksi perbedaan pengaruh
    tindakan/treatment, apalagi kalau mampu memperhatikan faktor-faktor lain
    yang dapat mencemari hasil eksperimen.

    G. LAPORAN PENELITIAN
    Kegiatan paling akhir dan sering tertunda-tunda serta menjemukan adalah
    menyusun laporan hasil penelitian. Agar tidak tertunda dan tetap segar untuk
    menyusun laporan dapat dimulai sejak peneliti melaksanakan kegiatan
    eksperimennya. Apa yang harus ditulis awal, penelitiannya saja baru dimulai?
    Kalau kita memperhatikan materi yang akan ditulis pada laporan hasil penelitian
    itu, harus diingat rancangan/proposal penelitian yang sudah disusun sejak awal.
    Rancangan penelitian yang sudah lengkap dan terstruktur secara sistematis, akan
    memberikan bahan dasar laporan yang sangat berharga dan mengurangi beban
    waktu penyusunan laporan. Tiga bab dari lima bab pada laporan sudah ada di
    dalam rancangan/proposal penelitian, walaupun masih perlu dipertajam,
    disempurnakan dan dilengkapi sesuai dengan apa yang akan dilaksanakan
    peneliti. Oleh karena itu, sambil melaksanakan eksperimen guru/peneliti dapat
    mengawali menyusun laporan pada bab pendahuluan, kajian teori dan pustaka,
    serta bab metode penelitiannya.
    Bab atau bagian baru dan lebih membutuhkan pemikiran peneliti dan belum ada
    di proposal adalah Bab IV yang menyajikan hasil penelitian dan pembahasan. Bab
    ini baru dapat ditulis kalau kegiatan pengumpulan data dan kegiatan
    eksperimennya sudah selesai. Semua data dari proses sampai hasil akhir
    eksperimen harus disajikan pada bagian ini. Cara menyajikan dapat dalam bentuk
    tabel, grafik, skema atau bagan, dan bertujuan untuk mempermudah pembaca
    memahmi makna yang disampaikan peneliti. Hasil analisis data didasarkan pada
    hasil yang diperoleh dari tes materi pelajaran serta angket pada akhir
    pelajaran/eksperimen.
    Untuk menyusun laporan penelitian, guru diharapkan memahami sistematika
    penulisan yang sudah ditetapkan, seperti yang terlampir pada bagian akhir
    dari hand-out ini. Pada prinsipnya sistematika pembahasan mengandung tiga
    bagian pokok yaitu, bagian awal, bagian inti dan bagian pendukung. Agar karya
    ilmiah jenis penelitian ini memenuhi syarat untuk dinilai angka kreditnya,
    diwajibkan ada pengesahan dari kepala sekolah dan guru pengusul/peneliti.

    H. PENUTUP
    Penelitian eksperimen merupakan jenis penelitian yang dapat dilaksanakan oleh
    guru di samping penelitian tindakan kelas. Kalau dilakukan dengan hati-hati dan
    cermat besar kemungkinan akan mendapatkan kepuasan tersendiri, baik dalam
    bidang akademik maupun ilmu pengetahuan yang diperoleh. Guru sering sekali
    memperoleh ilmu baru, mendapat metode baru yang dapat dicobakan untuk
    mendapatkan gambaran secara jelas perbedaan yang diakibatkan, terlebih kalau
    mampu mengendalikan variabel pengganggu pelaksanaan eksperimen. Untuk itu
    mempelajari berbagai jenis penelitian sangat penting dalam mengantarkan guru
    dalam meningkatkan/ mengembangkan profesinya secara nyata dalam
    menghayati berbagai masalah yang dihadapi sehari-hari di kelas. Dengan
    penguasaan penelitian eksperimen akan dapat melengkapi tugas guru dalam
    upaya mengantarkan para siswanya untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik.
    Selamat mencoba untuk melakukan penelitian eksperimen yang sesuai dengan
    disiplin ilmu yang sedang ditekuni dan dikembangkan.
    DAFTAR PUSTAKA
    Federer, WT, 1974, Experiment Design,: Theory and Applications, Oford & LBH
    Publishing Co., New Delhi
    Hadi, Sutrisno. 2004. Metodologi Research,: untuk Menulis Laporan, Skripsi Thesis
    dan Disertasi, Penerbit Andi Yogyakarta.
    Kempthorne, O., 1984, The Design andAnalysis of Experiments, Wiley Eastern Private
    Ltd. New Delhi.
    Linquit, EP, 1986, Design and Analysis of Experiments in Psychologi and Educa-
    Tion, Boston: Houghton Mifflin Company.
    Montgomery, D C., 1976., Design and Analysis of Experiment, John Wiley & Sons, New
    York.
    Sudjana, 1994, Desain dan Analisis Eksperimen, Penerbit Tarsito Bandung.
    Sukardi, 2004, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta.
    ———————————————————–

  224. Putri Juliet Mahupale/5525057106/Tata Busana ekst'05 said

    PENELITIAN EKSPERIMEN

    “Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian
    yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/treatment
    pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya
    pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain.”

    tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh
    dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding
    dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu
    eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan
    pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi
    belajar matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang
    ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode
    pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan
    diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan
    dinilai/diketahui pengaruhnya.
    Dalam suatu eksperimen ilmiah dituntut sedikitnya dua
    kelompok, yang satu ditugaskan sebagai kelompok pembanding (control group),
    sedang kelompok yang satu lagi sebagai kelompok yang dibandingkan
    (experimental group).
    Penelitian eksperimen merupakan jenis penelitian yang dapat dilaksanakan oleh
    guru di samping penelitian tindakan kelas. Kalau dilakukan dengan hati-hati dan
    cermat besar kemungkinan akan mendapatkan kepuasan tersendiri, baik dalam
    bidang akademik maupun ilmu pengetahuan yang diperoleh. Guru sering sekali
    memperoleh ilmu baru, mendapat metode baru yang dapat dicobakan untuk
    mendapatkan gambaran secara jelas perbedaan yang diakibatkan, terlebih kalau
    mampu mengendalikan variabel pengganggu pelaksanaan eksperimen. Untuk itu
    mempelajari berbagai jenis penelitian sangat penting dalam mengantarkan guru
    dalam meningkatkan/ mengembangkan profesinya secara nyata dalam
    menghayati berbagai masalah yang dihadapi sehari-hari di kelas. Dengan
    penguasaan penelitian eksperimen akan dapat melengkapi tugas guru dalam
    upaya mengantarkan para siswanya untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik.

    Karakteristik Penelitian Eksperimen

    (1) Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang).
    (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental.
    (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
    (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
    (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama.
    (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

    Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen

    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu:
    a) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
    b) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
    c) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
    d) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    e) Melaksanakan eksperimen.
    f) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    g) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
    h) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
    i) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan

    Rancangan Penelitian Eksperimen

    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

    Daftar Pustaka :

    Federer, WT, 1974, Experiment Design,: Theory and Applications, Oford & LBH
    Publishing Co., New Delhi
    Hadi, Sutrisno. 2004. Metodologi Research,: untuk Menulis Laporan, Skripsi Thesis
    dan Disertasi, Penerbit Andi Yogyakarta.
    Kempthorne, O., 1984, The Design andAnalysis of Experiments, Wiley Eastern Private
    Ltd. New Delhi.
    Linquit, EP, 1986, Design and Analysis of Experiments in Psychologi and Educa-
    Tion, Boston: Houghton Mifflin Company.
    Montgomery, D C., 1976., Design and Analysis of Experiment, John Wiley & Sons, New
    York.
    Sudjana, 1994, Desain dan Analisis Eksperimen, Penerbit Tarsito Bandung.
    Sukardi, 2004, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta.

  225. Devi R J Panggabean/5525057098/Tata Busana ekst'05 said

    Tugas Penelitian Eksperimen

    “Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian
    yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/treatment
    pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya
    pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain.”

    tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh
    dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding
    dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu
    eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan
    pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi
    belajar matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang
    ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode
    pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan
    diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan
    dinilai/diketahui pengaruhnya.
    Dalam suatu eksperimen ilmiah dituntut sedikitnya dua
    kelompok, yang satu ditugaskan sebagai kelompok pembanding (control group),
    sedang kelompok yang satu lagi sebagai kelompok yang dibandingkan
    (experimental group).
    Penelitian eksperimen merupakan jenis penelitian yang dapat dilaksanakan oleh
    guru di samping penelitian tindakan kelas. Kalau dilakukan dengan hati-hati dan
    cermat besar kemungkinan akan mendapatkan kepuasan tersendiri, baik dalam
    bidang akademik maupun ilmu pengetahuan yang diperoleh. Guru sering sekali
    memperoleh ilmu baru, mendapat metode baru yang dapat dicobakan untuk
    mendapatkan gambaran secara jelas perbedaan yang diakibatkan, terlebih kalau
    mampu mengendalikan variabel pengganggu pelaksanaan eksperimen. Untuk itu
    mempelajari berbagai jenis penelitian sangat penting dalam mengantarkan guru
    dalam meningkatkan/ mengembangkan profesinya secara nyata dalam
    menghayati berbagai masalah yang dihadapi sehari-hari di kelas. Dengan
    penguasaan penelitian eksperimen akan dapat melengkapi tugas guru dalam
    upaya mengantarkan para siswanya untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik.

    Karakteristik Penelitian Eksperimen

    (1) Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang).
    (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental.
    (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
    (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
    (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama.
    (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

    Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen

    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu:
    a) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
    b) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
    c) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
    d) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    e) Melaksanakan eksperimen.
    f) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    g) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
    h) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
    i) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan

    Rancangan Penelitian Eksperimen

    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

    DAFTAR PUSTAKA :
    Federer, WT, 1974, Experiment Design,: Theory and Applications, Oford & LBH
    Publishing Co., New Delhi
    Hadi, Sutrisno. 2004. Metodologi Research,: untuk Menulis Laporan, Skripsi Thesis
    dan Disertasi, Penerbit Andi Yogyakarta.
    Kempthorne, O., 1984, The Design andAnalysis of Experiments, Wiley Eastern Private
    Ltd. New Delhi.
    Linquit, EP, 1986, Design and Analysis of Experiments in Psychologi and Educa-
    Tion, Boston: Houghton Mifflin Company.
    Montgomery, D C., 1976., Design and Analysis of Experiment, John Wiley & Sons, New
    York.
    Sudjana, 1994, Desain dan Analisis Eksperimen, Penerbit Tarsito Bandung.
    Sukardi, 2004, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta.Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

  226. MULYAWATI IHSAN said

    MULYAWATI IHSAN
    5525057087
    Pendidikan TAta busana ekstensi 2005

    Penelitian Eksperimen
    A. Tujuan
    Tujuan penelitian eksperimen sungguhan adalah: untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab-akibat. Dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimantal satu atau lebih kondisi perilakuan yang membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok control yang tidak di kenai kondisi perlakuan.

    B. Contoh-Contoh :
    Penelitian untuk menyelidiki pengaruh dua meted mengajar sejarah pada murid-murid kelas 3 SMA sebagai fungsi ukuran kelas (besar dan kecil) dan taraf intelegensi murid (tinggi, sedang, rendah).
    penelitian untuk menyelidikiefek program pencegahan penyalahgunaan obat terhadap sikap murid-murid SMP, dengan mengunakan kelompok eksperimen (yang dikenalkan dengan program itu) dan dengan mengunakan rancangan pretest-posttest dimana hanya separo dari mrid-murid itu secara random menerima pretest untuk menentukan seberapa besarnya perubahan sikap itu dapat dikatakan disebabkan oleh pretesting atau oleh program pendidikan
    penelitian untuk menyelidiki efek pemberian tambahan makanan di sekolah kepada murid-murid SD di suatu daerah dengan memperhatikan keadaan social ekonomi orang tua dan taraf intelegensi

    C. Ciri-ciri Experimantal Designs
    Menuntut pengaturan variable-variabel dan kondisi-kondisi experimental secara tertib-ketat, baik dengan control atau manipulasi langsung maupun dengan randomisasi
    Secara khas mengunakan kelompok control sebagai garis besar, untuk dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang dikenai perlakuan experimental
    Memusatkan usaha pada pengontrolan varians : A. Untuk memaksimalkan varians variable yang berkaitan dengan hipotesis penelitian. B. Untuk meminimalkan varians variable pengganggu atau yang tidak di inginkan yang mungkin mempenggaruhi hasil exsperiment tetapi yang tidak menjadi tujuan penelitian C. Untuk meminimalkan varians kekeliruan atau varians rambang, termasuk apa yang disebut kekeliruan pengukuran. Penyelesaian terbaik : pemilihan subyek secara rambang, penempatan subyek dalam kelompok-kelompok secara rambang, penentuan perlakuan eksperimental kepada kelompok secara rambang
    Internal validity adalah sine qua non untuk rancangan ini dan merupakan tujuan pertama metode experimental,
    Tujuan kedua metode experimental adalah external validity, yang penelitian ini ada beberapa jauh hasil-hasilnya dapat digenerlisasikan kepada subyek-subyek atau kondisi-kondisi yang semacam.
    Dalam Rancangan experimental yang klasik, semua variable penting diusahakan agar konstan kecuali variable perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
    Walaupun cara pendekatan eksperimental itu adalah yang paling kuat karena cara itu memungkinkan untuk mengontrol variable-variabel yang relevan, namun cara ini juga paling restriktif dan dibuat-buat. Ciri inilah yang merupakan kelemahan utama kalau metode ini digunakan kepada manusia dalam dunianya , karena manusia sering dibuat lain apabila tingkahlakunya dibatasi secara artificial, dimanipulasikan atau diobserfasi secara sistematis atau di evaluasi
    D. Langkah-langkah pokok
    Lakukan survai kepustakaan yang relevan bagi masalah yang akan di garap
    Identifikasi dan definisikan masalah
    Rumuskan hipotesis, berdasarkan atas penelaahan kepustakaan
    Definisikan pengertian-pengertian dasar dan variable-variabel utama
    Susun rancangan eksperimen:
    a) Identifikasi bermacam-macam variable yang relevan.
    b) Identifikasi variable-variabel non eksperimental yang mungkin mencemarkan eksperimen, dan tentukan bagaimana caranya mengontrol variable-variabel tersebut.
    c) Tentukan rancangan eksperimennya.
    d) Pilih subyek yang representative bagi populasi tertentu, tentukan sikap-sikap yang masuk kelompok eksperimen.
    e) Terapkan perlakuan.
    f) Pilih atau susun alat untuk mengukur hasil eksperimen dan validasikan alat tersebut. g) Rancangkan prosedur pengumpulan data, dan jika mungkin lakukan pilot atau trial run test untuk menyempurnakan alat pengukur atau rancangan eksperimennya.
    h) Rumuskan hipotesis nolnya

    DAFTAR PUSTAKA
    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

  227. ERNI MARIA SITIO said

    Erni Maria Sitio
    5525057099
    Tata Busana
    Eks’ 05

    Pengertian Penelitian Eksperimen
    Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2). selanjutnya akan dipaparkan karakteristik Penelitian Eksperimen, yaitu sebagai berikut
    II. Karakteristik Penelitian Eksperimen
    Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu,
    (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang).
    (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental.
    (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
    (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
    (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama.
    (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
    III. Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen
    Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu,
    (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
    (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
    (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
    (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:
    a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen;
    b) menentukan cara mengontrol;
    c) memilih rancangan penelitian yang tepat;
    d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian;
    e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen;
    f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan;
    g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
    (5) Melaksanakan eksperimen.
    (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
    (7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah
    ditentukan.
    (8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
    (9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).
    IV. Rancangan Penelitian Eksperimen
    Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.
    (1). Rancangan Pra-Eksperimental
    Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:
    a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)
    b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)
    c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)
    (2). Rancangan Eksperimen Murni
    Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:
    a). Adanya kelompok kontrol.
    b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
    c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.
    Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.
    a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized
    posttest only control group design)
    b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the
    randomized pretest-posttest control group design)
    c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)
    d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan
    kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)
    e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)
    (3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)
    Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:
    a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the
    randomized posttest – only control group design, using matched subject).
    b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok
    kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),
    c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter
    balanced, using matched subject) .
    d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)
    e). Rancangan faktorial (factorial design).
    DAFTAR PUSTAKA
    Faisal, S. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan.Surabaya: Usaha Nasional
    Fuchan, A. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
    http://ardhana12.wordpress.com/2008/02/27/penelitian-eksperimen/

  228. nurhasana 5525057097 s1 tabus ext'05 bab1 said

    nur hasana 5525057097
    tugas bab 1 PMP

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah
    Sejalan dengan pertumbuhan sektor industri merangkak mengalami pertumbuhan dan peningkatan, seperti pada industri baja, industri semen, industri tekstil, dan jasa. Dan dampaknya industri tekstil akan tetap menjadi primadona dan akan tetap mengalami peningkatan yang signifikan. Salah satu komponen dari industri tekstil di Indonesia adalah bidang menghias kain yakni seni sulam atau bordir.
    Menghias kain adalah seni untuk membuat suatu bahan kain agar menjadi lebih indah, menghias kian ini dapat dilakukan dengan memberi motif dan warna. Cara menghias kain dengan jahitan biasa disebut menyulam atau membordir.
    Sejak awal perkembangan di Negara-negara timur, seni sulam berkembang dengan subur dan menghasilkan beraneka ragam barang bersulam yang sangat indah.
    Menurut prof. A. G. Pringgodigdo, S.H., seni bordir disamakan dengan menyulam. Istilah bordir identik dengan menyulam karena kata “bordir” diambil dari istilah inggris embroidery (im-broide) yang artinya sulaman.

    Pengerjaan karajinan hiasan ini sangat sederhana, berawal hanya dengan bantuan alat berupa jarum dan benang. Dengan menggunakan jari-jemari tangan, kedua alat ini ditusuk-tusukkan pada kain, lalu muncullah berbagai jenis tusuk.
    Dengan berkembanyya teknologi, pengerjaan bordir ini meningkat dengan memakai alat Bantu berupa mesin jahit (mesin bordir), sehingga hasil pekerjaan lebih baik. Bahkan kini sudah banyak produksi mesin jahit bordir pengembangan dari komputer (bordir komputer). Sejak saat itu orang Indonesia mulai menggunakan istilah yang populer dengan istila bordir. Tetapi sampai sekarang masyarakat Indonesia ada juga yang masih membedakan antara sulam dan bordir, meski istilah ini sama.
    Terdapat beberapa perbedaan mendasar mengenai tehnik menjhit yang dapat dilakukan pada penyulaman dan pembordiran kain. dalam beberapa hal, penyulaman yang dikerjakan manual lebih fleksibel dan mampu mengakomodasi beberapa tehnik yang tidak dapat dikerjakan dengan mesin jahit seperti dalam pembordiran.
    Selain memerlukan peralatan bordir yang telah disebutkan, seni bordir juga memerlukan bahan – bahan yang secra umum sama dengan bahan – bahan kegiatan jahit menjahit biasa.
    Sesuai dengan tujuannya seni bordir untuk menghias kain, kain polos merupakan media yang sering dipakai karena memang memerlukan hiasan pemanis.kain yang sudah bermotif biasanya tidak perlu dihias lagi, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk menjadikan kain bermotif lebih indah dan atraktif diberi hiasan sulaman. Kain bermotif kotak, garis, atau polcadotdapat dijadikan media yang menarik asalkan pemilihan gambar dan warnanya sesuai dan serasi.
    Pada umumnya seni bordir dapat menggunakan jenis kain apapun dari mulai yang halus, seperti sutera, sampai yang lebih kasar, seperti beludru, katun, dan jins, dapat dijadikan media seni bordir tanpa perbedaan dan kesulitan yang berarti. Bahan brokat, organdi, bahkan bahan kaos pun dapat juga dibordir. Disini peneliti ingin mengetahui sampai mana kekuatan daya tarik bahan kaos ketika di bordir. Karna sifat dari bahan kaos yang sangat elastis, peneliti ingin melihat sampai sejauh mana kekuatan daya tarik bahan kaos setelah di bordir yang menggunakan kain keras dan tidak menggunakan kain pelapis.
    Mengingat kegunaan seni bordir maka peneliti yakin bahwa banyak pihak yang akan tertarik pada bidang ini. Pemilihan jenis bahan tekstil, kecocokan sifat dan warna benang dikombinasikan dengan kreatifitas si pembuat pada pembuatan membutuhkan bimbingan dan control dari seseorang yang lebih berpengalaman dan ahli. Berdasarkan kebutuyhan tersebut, peneliti merasa bahwa seni bordir ini perlu untuk dipelajari lebih dalam dan dapat dijadikan suatu bahasan dalam mata kuliah apresiasi menghias busana.

    B. Identifikasi Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:
    1. apakah bahan kaos yang dibordir dengan menggunakan kain pelapis kekuatan daya tariknya lebih sedikit ?
    2. manakah yang lebih baik hasil bordir pada bahan kaos yang menggunakan kain pelapis atau tanpa kain pelapis ?
    3. apakah bahan kaos yang di bordir akan menjadi berkerut ?

    C. Pembatasan Masalah
    untuk lebih mendapatkan hasil penelitian yang baik maka perlu adanya pembatasan masalah, oleh sebab itu masalah yang diambil oleh peneliti adalah “ apakah bahan kaos yang dibordir dengan menggunakan kain pelapis kekuatan daya tariknya akan lebih sedikit ?”
    Bahan yang digunakan adalah bahan kaos, karena selain murah dan mudan diperoleh di toko. Adapun teknik yang digunakan adalah teknik bordir.
    Penilaian hasil kekuatan daya tarik kain yang di bordir dilakukan oleh staf ahli dari Balai Tekstil . penilaian difokuskan seberapa besar daya tarik bordir pada bahan kaos.

    D. Perumusan Masalah
    Berdasarkan identifikasi masalah maka dirumuskan masalah sebagai berikut : “apakah bahan kaos yang dibordir dengan menggunakan kain pelapis kekuatan daya tariknya akan lebih sedikit ?”

    E. Tujuan Umum Penelitian
    Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar daya tarik bahan kaos setelah di bordir.

    F. Kegunaan Penelitian
    1. memberikan informasi untuk Tata Busana dan masyarakat umum dalam menggunakan kain pelapis dapat memperkecil daya tarik bahan kaos.
    2. memberi masukan pada Program Studi Tata Busana – IKK, khususnya mata kuliah apresiasi menghias busana, pada materi mengenai bordir.

  229. PENELITIAN GROUNDED THEORY
    oleh M ihsan Dacholfany M.Ed (Dosen STAI Bina Madani Tangerang)

    Pendahuluan
    Penelitian Grounded Theory (GT) adalah metode penelitian kualitatif yang menggunakan sejumlah prosedur sistematis yang diarahkan untuk mengembangkan teori berorientasi tindakan, interaksi, atau proses dengan berlandaskan data yang diperoleh dari kancah penelitian. Metode penelitian ini masih tergolong baru dan pada awalnya digunakan dalam sosiologi. Namun metode ini berkembang pesat dan telah digunakan dalam berbagai disiplin ilmu. Makalah ini membahas konsep-konsep pokok tentang Penelitian GT, yang diawali dengan mengemukakan latar belakang, perkembangan dan pengertian tentang penelitian GT sebagai pengantar. Setelah itu, pembahasan dilanjutkan dengan pemaparan tentang ciri-ciri pokok metode GT dan prosedur pelaksanaan sebuah penelitian GT. Pembahasan ditutup dengan menarik beberapa kesimpulan yang didasarkan pada pemaparan pada bagian-bagian sebelumnya.

    Latar Belakang GT

    Penelitian GT dikembangkan pertama kali pada tahun 1960s oleh dua sosiologis, Barney Glaser and Anselm Strauss berdasarkan penelitian yang mereka lakukan pada pasien-pasien berpenyakit akut di Rumah Sakit Universitas California, San francisco. Catatan-catatan dan metode penelitian yang digunakan dipublikasikan dan menarik minat banyak orang untuk mempelajarinya. Sebagai respon, Glaser dan Strauss menerbitkan The Discovery of Grounded Theory (1967), buku yang menjelaskan prosedur metode GT secara terperinci. Hingga saat ini, buku ini diterima sebagai peletetak konsep-konsep mendasar GT. Dalam buku ini, Glaser dan Strauss mengkritisi pendekatan-pendekatan penelitian sosiologi yang menekankan verifikasi dan pengujian teori-teori. Menurut mereka, penelitian seharusnya memunculkan konsep-konsep (variabel) dan hipotesis berdasarkan data-data nyata yang ada di lapangan: “de-emphasis on the prior step of discovering what concepts and hypotheses are relevant for the area one wished to research. …In social research generating theory goes hand in hand with verifying it; but many sociologists have diverted from this truism in their zeal to test either existing theories or a theory that they have barely started to generate” (Glaser & Strauss, 1967: 1-2). Sebuah teori yang ditemukan selama penjaringan data akan sangat sesuai dengan kumpulan data tadi. Jadi, teori yang dibangun oleh GT sangat kontras dengan teori yang diturunkan secara deduktif dari grand theory, tanpa bantuan data dan sering kali tidak pas dengan data manapun.

    Ide-ide yang terkandung dalam The Discovery of Grounded Theory merefleksikan latar belakang keahlian kedua pengarang yang cukup berbeda. Glaser merupakan lulusan Columbia University yang berafiliasi pada penelitian quantitatif, khususnya pengembangan teori secara induktif berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif. Pengaruh perspektif induktif terlihat pada penekanan perumusan teori berdasarkan perspektif parisipan yang diteliti. Strauss merupakan lulusan Universitas Chicago yang terkenal dengan tradisi penelitian lapangan kualitaif. Latar belakang ini terungkap pada penekanan Strauss terhadap peneltian lapangan yang dilakukan dengan cara menemui dan secara seksama mendegarkan penuturan individu-individu yang diteliti.
    Setelah penerbitan The Discovery of Grounded Theory, baik Glaser maupun Strauss menulis berbagai buku masing-masing untuk mengembangkan metode GT. Bekerjasama dengan Juliet Corbin, pada tahun 1990 dan 1998 Strauss mengembangkan prosedur dan teknik GT yang kemudian dikenal dengan desain sistematik, dengan bentuk yang lebih preskriptif, dengan kategori-kategori yang telah ditentukan dan penekanan pada validitas dan reliabilitas data. Desain sistematik ini menekankan penggunaan tiga fase analisis data yang dimulai dengan pengodean terbuka (open coding), pengodean poros (axial coding), dan pengodean selektif (selective coding) dan pengembangan suatu paradigma logis atau gambaran visual dari teori yang diturunkan.

    Meskipun desain sistematik diadopsi oleh para peneliti kualitatif, beberapa poin dalam pendekatan ini mendapat kritikan. Glaser menyoroti penekanan yang berlebihan terhadap aturan dan prosedur, kerangka kerja yang kaku, dan kecenderungan verifikasi teori (bukan penyusunan teori) yang terdapat dalam desain tersebut. Menurut Glaser, tujuan utama peneliti GT adalah untuk menjelaskan “proses sosial dasar” dengan cara memunculkan teori dari data, bukan hanya sekedar menggunakan kategori-kategori yang telah ditentukan seperti tergambar pada desain sistematik, terutama pada langkah pengodean poros. Sebagai alternatif, Glaser mengajukan desain emerging yang menekankan penggunaan teknik pembandingan berkesinambungan (constant comparative) antara kejadian dengan kejadian, kejadian dengan kategori, dan kategori dengan kategori sebagai inti analisis data. Bagi Glaser, fokus utama GT adalah menghubungkan kategori-kategori dan memunculkan teori, bukan hanya sekedar menggambarkan teori.pada tahap akhir, peneliti membangun dan mendiskusikan hubungan antar seluruh kategori tanpa menghubungkannya dengan diagram atau gambar (Creswel, 2008: 438)

    Pengembang metode GT yang lain, Charmaz (dalam Creswel, 2008: 439), menyatakan bahwa desain yang disusun Straus dan Glaser terlalu kaku dengan prosedur pengumpulan fakta dan penjelasan tindakan sehingga makna yang dinyatakan oleh partisipan dalam penelitian bisa terabaikan. Menurut Charmaz, peneliti GT perlu menggunakan strategi-strategi yang lebih fleksibel dalam rangka ‘menangkap’ dan menjelaskan pandangan, nilai-nilai, kepercayaan, perasaan, asumsi, dan ideologi individu sewaktu mereka menjalani sebuah fenomena atau proses. Berdasarkan pandangan-pandangannya itu, Charmaz menyusun desain konstruktivis yang memberi penekanan pada makna yang diungkapkan oleh partisipan dalam penelitian. Desain ini dilakukan dengan cara menjelaskan perasaan-perasaan masing-masing partisipan sewaktu mereka menjalani sebuah fenomena. Desain ini juga menjelaskan keyakian dan nilai-nilai peneliti tapi mencegah kategori-kategorinyang telah ditentukan, sebagaimana halnya terjadi dalam desain sistematik. Laporan penelitian ditulis terutama dalam bentuk penjelasan yang logis serta, secara mendalam, mengupas asumsi-asumsi dan makna yang diungkapkan masing-masing partisipan yang diteliti.

    Pengertian GT

    GT merupakan metodologi penelitian kualitatif yang berakar pada kontruktivisme, atau paradigma keilmuan yang mencoba mengkontruksi atau merekontruksi teori atas suatu fakta yang terjadi di lapangan berdasarkan pada data empirik. Kontruksi atau rekontruksi teori itu diperoleh melalui analisis induktif atas seperangkat data emik berbentuk korpus yang diperoleh berdasarkan pengamatan lapangan. Hal ini didukung Borgatti (1990) dengan menjelaskan bahwa frasa “grounded theory”, nama yang diberikan kepada GT, merujuk pada “theory that is developed inductively from a corpus of data”. Data-data yang dianalisis merupakan emik karena data-data itu diperoleh berdasarkan penuturan, tindakan, dan pengalaman para partisipan. Data-data itu kemudian diidentifikasi, diberi kode, dikategorikan, dan secara konstan dibandingkan satu dengan yang lain. Jika analisis dilakukan dengan baik, teori yang diperoleh akan sangat sesuai dengan fenomena yang diteliti (atau dijadikan sebagai sumber data). Dengan kata lain, ide pokok pendekatan GT adalah analisis kualitatif data lapangan yang dilakukan dengan membaca seperangkat teks (catatan lapangan, transkrip wawancara, atau dokumen-dokumen yang relevan) secara seksama (bila perlu berulang-ulang) untuk menemukan konsep-konsep atau kategori-kategori dan hubungan antar konsep maupun kategori tersebut.
    Teori yang dihasilkan melalui GT merupakan teori substantif, bukan teori formal. Teori substansi adalah teori yang dibangun dari data berdasarkan wilayah substansi penelitian. Sedangkan teori formal menjangkau berbagai subtansi penelitian. Meskipun demikian, penelitian GT bisa saja menghasilkan teori formal, tapi prosesnya dilakukan bertahap dan membutuhkan analisis yang cermat. Jika suatu teori telah berlaku secara valid pada suatu substansi, teori itu bisa dikembangkan pada substansi yang lebih luas atau substansi lain, sampai menghasilkan teori formal.

    Tujuan penelitian GT adalah merekonstruksi teori-teori yang digunakan untuk memahami fenomena. Elliott dan Lazenbatt (2005) mengatakan: “With its origins in sociology, grounded theory emphasises the importance of developing an understanding of human behaviour through a process of discovery and induction rather than from the more traditional quantitative research process of hypothesi testing and deduction.” Oleh karena itu, GT sesuai digunakan dalam rangka menjelaskan fenomena, proses atau merumuskan teori yang umum tentang sebuah fenomena yang tidak bisa dijelaskan dengan teori yang ada. Haig (1995) mengatakan bahwa meskipun GT pada awalnya diterapkan dan dikembangkan di bidang sosiologi, metode ini dapat dan telah digunakan dengan baik di berbagai disiplin ilmu, seperti pendidikan, keperawatan, ilmu politik, dan psikologi. Khusus di bidang pendidikan, Creswell (2008: 432) mengatakan bahwa GT sangat sesuai digunakan untuk meneliti proses pengembangan kemampuan menulis di kalangan siswa atau proses pengembangan karir di kalangan wanita Amerika-Afrika dan Kaukasia yang berprestatsi tinggi. GT juga sesuai digunakan untuk meneliti tindakan manusia, seperti proses keikutsertaan para peserta yang mengikuti kelas-kelas pendidikan orang dewasa, atau untuk meneliti interaksi antar individu, seperti dukungan yang diberikan para pejabat sebuah jurusan kepada para peneliti fakultas.

    Ciri-Ciri Utama Penelitian Grounded Theory

    Seperti terungkap dari paparan latar belakang di atas, penggunaan dan pengembangan di berbagai disiplin ilmu membuat GT terbagi dalam tiga pendekatan. Meskipun demikian, ketiga pendekatan itu, dan juga desain-desain yang diterapkan secara khusus dalam berbagai bidang ilmu, tetap menggunakan konsep dasar dalam The Discovery of Grounded Theory sebagai titik tolak (Goulding, 1999). Oleh sebab itu, untuk memahami GT secara lebih komprehensif, elemen-elemen yang terkandung dalam setiap pendekatan perlu dikaji secara seksama. Menurut Creswell (2008: 440), enam karakteristik berikut merupakan elemen-elemen yang terdapat dalam berbagai pendekatan GT, termasuk desain sistematik, ‘emerging’ dan ‘kostruktivis’.

    1. Pendekatan Proses

    Meskipun para peneliti GT dapat mengarahkan studi mereka pada sebuah ide, seperti keahlian menerjemahkan novel atau kemahiran berpidato, mereka lebih mengarahkan penelitian terhadap proses yang berhubungan dengan sebuah topik substantif. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa setiap fenomena sosial merupakan hasil proses tindakan atau interaksi antar individu. Dalam penelitian GT, proses merujuk pada urutan tindakan-tindakan dan interaksi antar manusia dan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan sebuah topik, seperti pengalihbahsaan novel Animal Farm ke dalam bahasa Indonesia. Dalam topik seperti ini, berdasarkan transkrip wawancara atau catatan pengamatan yang dilakukan pada partisipan, peneliti GT dapat mengidentifikasi dan mengisolasi tindakan-tindakan dan interaksi antar manusia, seperti interaksi antara penerbit dan penterjemah pada saat negoisasi, tindakan-tindakan yang dilakukan penterjemah selama proses pengalihbahasaan, dan sebagainya. Aspek-paspek yang diisolasi ini disebut kategori-kategori, yang digunakan sebagai tema-tema informasi dasar dalam rangka memahami suatu proses. Borgatti (1990) menekankan pemusatan perhatian GT terhadap dengan mengatakan “…process is vital….” karena GT berhubungan dengan penggambaran dan pengodean hal-hal yang dinamis—sedang berubah, sedang bergerak, dan sedang berlangsung di kancah penelitian.

    Dalam penelitian GT, kategori-kategori atau tema-tema diberi label dalam bentuk kode in vivo, yaitu label dari kategori-kategori yang diungkapkan dengan menggunakan kata-kata asli partisipan bukan dalam bentuk ungkapan peneliti atau terminologi ilmiah yang baku. Kata-kata itu diidentifikasi peneliti dengan mengkaji transkrip-transkrip wawancara atau catatan lapangan dalam rangka melokalisir ungkapan partisipan yang berhubungan dengan kategori yang dimaksud. Sebagai contoh, untuk menungkapkan bahwa buku hasil terjemahannya sangat laris, partisipan mungkin menggunakan istilah ‘meledak di pasaran’. Dengan menggunakan kode in vivo, peneliti akan menggunakan label “meledak di pasaran” untuk kategori tersebut.

    2. Penyampelan Teoritik

    Sebagaimana lazimnya dalam penelitian kualitatif, instrumen pengumpul data penelitian GT adalah peneliti sendiri. Data-data yang dikumpulkan dapat berbentuk transkrip wawancara, percakapan, catatan wawancara, dokumen-dokumen publik, buku harian dan jurnal responden, dan catatan reflektif peneliti (Charmaz, dalam Creswell, 2008: 442) . Proses pengumpulan data itu dilaksaakan dengan mengunakan ada dua metode secara simultan, yaitu observasi dan wawancara mendalam (depth interview). Bentuk data yang paling sering digunakan berbagai peneliti adalah hasil wawancara karena data seperti ini lebih mampumengungkapkan pengalaman responden dalam kata-kata mereka sendiri. Hal inilah yang mendorong Borgatti (1990) menyimpulkan bahwa GT sangat dipengaruhi dan menekankan pemahaman dunia secara emik. Dia menyatakan: ”… grounded theorists are concerned with or largely influenced by emic understandings of the world: they use categories drawn from respondents themselves and tend to focus on making implicit belief systems explicit.”

    Hal yang spesifik yang membedakan pengumpulan data pada penelitian GT dari pendekatan kualitatif lainnya adalah pada pemilihan fenomena yang dikumpulkan. Paling tidak, pada GT sangat ditekankan untuk menggali data perilaku yang sedang berlangsung (life history) untuk melihat prosesnya serta ditujukan untuk menangkap hal-hal yang bersifat kausalitas. Seorang peneliti Grounded Theory selalu mempertanyakan “Mengapa suatu kondisi terjadi?”, “Apa konsekwensi yang timbul dari suatu tindakan/reaksi?”, dan “Seperti apa tahap-tahap kondisi, tindakan/reaksi, dan konsekwensi itu berlangsung?”
    Dalam GT, masalah sampel penelitian tidak didasarkan pada jumlah populasi, melainkan pada keterwakilan konsep dalam beragam bentuknya. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara penyampelan teoritik, yaitu penyampelan yang dilakukan “… in order to discover categories and their properties, and to suggest their interrelationship into a theory” (Glaser and Strauss, 1980: 62). Dengan kata lain, penyampelan teoritik merupakan pengambilan sampel yang dilakukan peneliti dengan cara memilih data-data atau konsep-konsep yang terbukti berhubungan dengan dan mendukung secara teoritik teori yang sedang disusun. Tujuannya adalah mengambil sampel peristiwa/fenomena yang menunjukkan kategori, sifat, dan ukuran yang secara langsung menjawab masalah penelitian. Sebagai contoh, jika peneliti sedang meneliti “tingginya kecenderungan penerbitan novel-novel horror terjemahan”, penikmat (pembaca) novel-novel horor merupakan kandidat yang paling sesuai untuk diwawancarai. Penterjemah, penerbit, dan kritisi sastra memang dapat dijadikan sumber informasi yang relevan, namun peran mereka tidakbegitu sentral karena penerbitan bahan bacaan sangat ditentukanoleh konsumen (pembaca).

    Paparan ini mengungkapkan bahwa pada dasarnya yang di sampel dalampenelitian GT bukan obyek formal penelitian (orang atau benda-benda), melainkan obyek material yang berupa fenomena-fenomena yang sudah dikonsepkan. Akan tetapi, karena fenomena itu melekat dengan subyek (orang atau benda), maka dengan sendirinya obyek formal juga ikut disampel dalam peroses pengumpulan atau penggalian fenomena.
    Berkenaan dengan proposisi terakhir, pada hakikatnya fenomena yang telah terpilih itulah yang dicari atau digali oleh peneliti selama mengumpulkan data. Karena fenomena itu melekat dengan subyek yang diteliti, maka jumlah subyek pun terus bertambah sampai tidak ditemukan lagi informasi baru yang diungkap oleh beberapa subyek yang terakhir. Itulah sebabnya, penentuan sampel subyek dalam penelitian GT, seperti halnya penelitian kualitatif pada umumnya, tidak dapat direncanakan dari awal. Subyek-subyek yang diteliti secara berproses ditentukan di lapangan, kaetika pengumpulan data berlangsung. Cara penyampelan inilah yang disebut dalam penelitian kualitatif sebagai snow bowl sampling.

    Sesuai dengan tahap pengkodean dan analisis data, penyampelan dalam GT diarahkan dengan logika dan tujuan dari tiga jenis dasar prosedur pengkodean. Ada tiga pola penyampelan teoritik, yang sekaligus menandai tiga tahapan kegiatan pengumpulan data; (a) penyampelan terbuka, (b) penyampelan relasional dan variasional, serta (c) penyampelan pembeda. Penyampelan ini bersifat kumulatif (penyampelan terdahulu menjadi dasar bagi penyampelan berikutnya) dan semakin mengerucut sejalan dengan tingkat kedalaman fokus penelitian. Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang ketiga penyampelan tersebut.

    (a) Penyampelan terbuka bertujuan untuk menemukan data sebanyak mungkin sepanjang berkenaan dengan rumusan masalah yang dibuat pada awal penelitian. Karena pada tahap awal itu peneliti belum yakin tentang konsep mana yang relevan secara teoritik, maka obyek pengamatan dan orang-orang yang diwawncarai juga masih belum dibatasi. Data yang terkumpul dari kegiatan pengumpulan data awal inilah kemudian dianalisis dengan pengkodean terbuka.

    (b) Penyampelan relasional dan variasional berfokus pada pengungkapan dan pembuktian hubungan-hubungan antara kategori dengan kategori dan kategori dengan sub-subkategorinya. Pada kedua penyampelan ini diupayakan untuk menemukan sebanyak mungkin perbedaan tingkat ukuran di dalam data. Hal pokok yang perlu pada penemuan perbedaan tingkat ukuran tersebut adalah proses dan variasi. Jadi, inti utama penyampelan di sini adalah memilih subyek, lokasi, atau dokumen yang memaksimalkan peluang untuk memperoleh data yang berkaitan dengan variasi ukuran kategori dan data yang bertalian dengan perubahan.

    (c) Penyampelan pembeda berkaitan dengan kegiatan pengkodean terpilih. Oleh karena itu tujuan penyampelan pembeda adalah menetapkan subyek yang diduga dapat memberi peluang bagi peneliti untuk membuktikan atau menguji hubungan antarkategori.

    Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian GT berlangsung secara bertahap dan dalam rentang waktu yang relatif lama. Proses pengambilan sampel juga berlangsung secara terus menerus ketika kegiatan pengumpulan data. Jumlah sampel bisa terus bertambah sejalan dengan pertambahan jumlah data yang dibutuhkan. Ketentuan umum dalam GT adalah melakukan penyampelan hingga pemenuhan teoritik bagi setiap kategori tercapai. Maksudnya, penyampelan dihentikan apabila; (a) tidak ada lagi data baru yang relevan, (b) penyusunan kategorinya telah terpenuhi; dan (c) hubungan antarkategori sudah ditetapkan dan dibuktikan.

    Berdasarkan paparan tentang prinsip penyampelan di atas, jelaslah bahwa pengambilan kesimpulan dalam penelitian GT tidak didasarkan pada generalisasi, melainkan pada spesifikasi. Bertolak dari pola penalaran ini, penelitian GT bermaksud untuk membuat spesifikasi-spesifikasi terhadap (a) kondisi yang menjadi sebab munculnya fenomena, (b) tindakan/interaksi yang merupakan respon terhadap kondisi itu, (c) serta konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari tindakan/i nteraksi itu. Jadi, rumusan teoritik sebagai hasil akhir yang ditemukan dari jenis penelitian ini tidak menjustfikasi keberlakuannya untuk semua populasi, seperti dalam penelitian kuantitatif, melainkan hanya untuk situasi atau kondisi tersebut.

    3. Analisis Data Perbandingan Konstan

    Dalam penelitian GT, peneliti terlibat dalam roses pengumpulan data, pengelompokan data ke dalam kategori-kategori, pengumpulan data tambahan, dan pembandingan informasi yang baru itu dengan kategori-kategori yang muncul. Proses pengembangan kategori-kategori informasi yang berlangsung secara perlahan-lahan ini dinamai prosedur perbandingan konstan (constant comparative procedure). Perbandingan konstan ini merupakan prosedur analisis data induktif yang digunakan untuk memunculkan dan menghubungkan kategori-kategori dengan cara membandingkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, satu peristiwa dengan satu kategori, dan satu kategori dengan kategori lainnya.

    Dalam tahap pelaksanaan (Dick, 2005) menggambarkan analisis data perbandingan konstan, dalam langkah-langkah berikut. Pada wawancara pertama, peneliti hanya bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sedang berlangsung?”, “Situasi apakah ini?”, “Bagaimana partisipan ini menangani situasi tersebut? “, “Lalu, kategori-kategori apa yang terungkap melalui pernyataan-pernyataan ini?” Setelah itu, peneliti mengodekan hasil-hasil wawancara pertama dan kedua ke dalam kategori-kategori, seluruh kategori (termasuk yang diperoleh dari sumber data lainnya) dibandingkan satu dengan yang lain. Setelah itu, seluruh kategori dihubungkan dengan teori yang muncul dipikiran penulis selama melakukan perbandingan. Secara singkat, analisis data perbandingan konstan adalah ”… initially comparing data set to data set; later comparing data set to theory.” Ilustrasi prosedur analisis data perbandingan konstan dapat dilihat pada gambar berikut.

    4. Kategori Inti

    Dari seluruh kategori utama yang diperoleh dari data, peneliti memilih satu kategori sebagai inti fenomena dalam rangka merumuskan teori. Setelah mengidentifikasi beberapa kategori (misalnya, 8 hingga 10—tergantung pada besarnya database), peneliti memilih satu kategori inti sebagai basis penulisan teori (lihat gambar 2 sebagai visualisasi proses ini). Berikut ini adalah enam kriteria untuk menentukan kategori inti (Strauss and Corbin, dalam Creswell, 2008: 444).

    (a) Kategori tersebut harus merupakan sentral, dalam artian kategori-kategori utama lainnya dapat dihbungkan padanya.

    (b) Kategori tersebut sering muncul dalam data, dengan pengertian bahwa dalam semua kasus terdapat indikator-indikator yang merujuk pada kategori inti tersebut.
    (c) Penjelasan-penjelasan yang menghubungkan kategori-kategori berfifat logis, konsisten dan tidak dipaksakan.

    (d) Istilah atau frasa yang digunakan untuk menjelaskan kategori inti harus abstrak.
    (e) Seiring dengan penyempurnaan konsep, teori berkembang dalam aspek kedalaman dan kemampuan menjelaskan

    (f) Meskipun kondisi bervariasi, kategori inti masih mampu menjelaskan seara akurat.

    Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa memilih kategori inti terlalu awal adalah sangat riskan. Akan tetapi, bila terlihat bahwa salah satu kategori mucul dengan frekuensi tinggi dan terhubung dengan jelas pada kategori-kategori lain, kategori itu dapat dipilih sebagai kategori inti.

    5. Perumusan Teori

    Dalam penelitian GT, yang dimaksud dengan teori adalah penjelasan atau pemahaman yang abstrak tentang suatu proses mengenai sebuah topik substantif yang didasarkan pada data. Teori ini disusun oleh peneliti sewaktu mengidentifikasi kategori inti dan kategori-kategori proses yang menjelaskannya. Karena teori ini dilandaskan pada fenomena yang spesifik, teori ini tidak dapat diaplikasikan digeneralisasikan secara meluas pada fenomena lain. Oleh karena itu, Charmaz (dalam Creswell, 2008: 446) mengatakan teori ini berfifat “middle range”, ditarik dari beberapa individual atau sumber data dan memberi penjelasan yang akurat hanya pada sebuah topik yang substantif.

    6. Penulisan Memo

    Dalam penelitian GT, memo merupakan catatan-catatan yang dibuat peneliti untuk mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan kategori-kategori yang dikodekan. Dengan kata lain, memo merupakan catatan yang dibuat peneliti bagi dirinya sendiri dalam rangka menyusun hipotesis tentang sebuah kategori, kususnya tentang hubungan-hubungan antara kategori-kategori yang ditemukan. Menurut Dick (2005), penulisan memo harus harus diberikan prioritas utama karena ide tentang hubungan-hubungan antara kategori-kategori bisa muncul kapan saja dan peneliti harus segera mencatatnya. Dalam penelitiannya, Dick biasa menggunakan memo dengan sistem kartu-kartu berukuran 125 mm x 75 mm yang tersedia dikantongnya kapan saja dia perlu membuat memo. Kartu-kartu memo itu dibuat dengan format seperti pada gambar 2.

    Gambar 2: Memo Grounded Theory

    Tahapan Pelaksanaan Penelitan GT

    Penelitian GT diawali dengan pemusatan perhatian pada suatu wilayah kajian dan diikuti oleh pengumpulan data dari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai teknik, khususnya wawancara dan obserrvasi lapangan (field observation). Setelah terhimpun, data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan teknik ‘coding’ dan prosedur penyampelan teoritis. Tahap berikutnya adalah menyusun teori (yang menjelaskan fenomena yang diteliti) dengan menggunakan teknik interpretasi. Pada tahap akhir, hasil penelitian disusun secara sistematis. Selaras dengan itu, Creswell (2008: 432) menjelaskan GT dilakukan melalui sebuah prosedur penjaringan data yang sistematis, pengidentifikasian kategori-kategori (tema-tema), penghubungan kategori-kategori tersebut, dan pembentukan teori yang menjelaskan proses tersebut. Dengan demikian teori-teori yang dihasilkan merupakan teori ‘proses’ yang menjelaskan fenomena (tahapan-tahapan proses, tindakan, atau interaksi yang terjadi di kancah penelitian selama penelitian terjadi).
    Gambaran di atas hanyalah gambaran prosedur secara umum, sedangkan prosedur yang spesifik sulit digambarkan mengingat bahwa penelitian GT diaplikasikan dalam berbagai disiplin ilmu. Selain itu, terdapat paling tidak tiga desain yang lazim digunakan cukup beragam, dengan disain yang teratur (sistematik dan emerging) maupun fleksibel (konstruktivis). Prosedur yang diuraikan di bawah ini merupakan tahapan desain sistematis, mengingat langkah-langkahnya yang mudah diidentifikasi.

    1. Perumusan Masalah Penelitian

    Sebagai penelitian berparadigma kualitatif, GT mengasumsikan bahwa di dalam kehidupan sosial selalu ditemukan regulasi-regulasi yang relatif sudah terpola. Pola-pola regulasi yang ditemukan melalui penelitian itulah yang dirumuskan menjadi teori. Asumsi ini dipertegas dalam GT, dengan menyatakan bahwa; (a) semua konsep yang berhubungan dengan fenomena belum dapat diidentifikasi; dan (b) hubungan antarkonsep belum terpahami atau belum tersusun secara konseptual. Oleh sebab itu, tidak mungkin bagi seorang peneliti untuk mengajukan masalah yang sangat spesifik–seperti yang dituntut dalam metode kuantitatif, baik variabel maupun tipe hubungan antarvariabelnya. Substansi rumusan masalah dalam pendekatan GT masih bersifat umum, yaitu dalam bentuk pertanyaan yang masih memberi kelonggaran dan kebebasan untuk menggali fenomena secara luas, dan belum sampai menegaskan mana saja variabel yang berhubungan dengan ruang lingkup masalah dan mana yang tidak. Demikian pula tipe hubungan antarvariabelnya belum perlu dieksplisitkan dalam rumusan masalah yang dibuat.

    Bertolak dari dasar asumsi dan kemungkinan yang diutarakan di atas, rumusan masalah dalam GT disusun secara bertahap. Pada tahap awal–sebelum pengumpulan data, dikemukan rumusan masalah yang bersifat luas (tetapi tidak terlalu terbuka), yang kemudian nanti–setelah data yang bersifat umum dikumpulkan—rumusan masalahnya semakin dipersempit dan lebih difokuskan sesuai dengan sifat data yang dikumpulkan. Intinya adalah, bahwa rumusan masalah dalam GT disusun lebih dari satu kali. Rumusan masalah yang diajukan pada tahap pertama dimaksudkan sebagai panduan dalam mengumpul data, sedangkan rumusan masalah yang diajukan pada tahap berikutnya dimaksudkan sebagai panduan untuk menyusun teori. Perumusan masalah yang disebut terakhir ini inheren dengan perumusan hipotesis penelitian.

    Seperti lazimnya pada setiap penelitian, rumusan masalah yang disusun pada tahap awal adalah yang memiliki substansi yang jelas serta diformulasikan dalam bentuk pertanyaan. Ciri rumusan masalah yang disarankan dalam GT adalah; (a) berorientasi pada pengidentifikasian fenomena yang diteliti; (b) mengungkap secara tegas tentang obyek (formal dan material) yang akan diteliti, serta (c) berorientasi pada proses dan tindakan. Contoh rumusan masalah awal pada GT; “Bagaimanakah novel detektif Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia?” Pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah ini bermaksud untuk; (a) mengenali secara tepat dan mendalam proses penerjemahan sebuah novel detektif Inggris ke dalam bahasa Indonesia, (b) obyek formal penelitian adalah penterjemah yang sedang menerjemahkan sebuah novel detektif Inggris ke dalam bahasa Indonesia; sedangkan obyek materialnya adalah metode yang dilakukan oleh penterjemah itu dalam menyelesaikan penerjemahan novel dimaksud, dan (c) orientasi utama yang disoroti adalah tahapan dan teknik-teknik penterjemahan yang dipilih.
    Sebagai sebuah penelitian kualitatif, penelitian GT tidak bermaksud untuk menguji teori, dan bahkan tidak bertolak dari variabel-variabel yang direduksi dari suatu teori. Sungguh tidak relevan jika penelitian dengan GT dimulai dengan teori atau variabel yang telah ada, karena akan menghambat pengembangan rumusan teori baru. Oleh sebab itu, penelitian GT tidak perlu terlalu terpangaruh oleh literatur karena akan menutupi kreativitas dalam mengumpul, memahami dan menganalisis data. Inilah yang dimaksudkan dalam pendekatan GT, bahwa sesungguhnya peneliti belum memiliki pengetahuan tentang obyek yang diteliti, termasuk jenis data dan kategori-kategori yang mungkin ditemukan.

    Dalam pendekatan GT, teori yang sudah ada harus diletakkan sesuai dengan maksud penelitian yang dikerjakan, yaitu untuk menemukan teori dari dasar. Namun, jika peneliti menghadapi kesulitan dalam hal konsep ketika merumuskan masalah, membangun kerangka berpikir, dan menyusun bahan wawancara, maka konsep-konsep yang digunakan oleh teori terdahulu dapat dipinjam untuk sementara sampai ditemukan konsep yang sebenarnya dari kancah.

    Terdapat lima kemungkinan perlakuan peneliti terhadap teori yang sudah ada. Pertama, jika penelitian dengan GT menemukan teori yang memiliki hubungan dengan teori yang sudah dikenal, maka temuan baru itu merupakan sumbangan baru untuk memperluas teori yang sudah ada. Demikian pula, jika ternyata teori yang ditemukan identik dengan teori yang sudah ada, maka teori yang ada dapat dijadikan sebagai pengabsahan dari temuan baru itu. Kedua, jika peneliti sudah menemukan kategori-kategori dari data yang dikumpulkan, maka ia perlu memeriksa apakah sistem kategori serupa telah ada sebelumnya. Jika ya, maka peneliti perlu memahami tentang apa saja yang dikatakan oleh peneliti lain tentang kategori tersebut, tetapi bukan untuk mengikutinya. Penelitian yang bermaksud memperluas teori. Ketiga, jika penelitian bermaksud untuk memperluas teori yang telah ada, maka penelitian dapat dimulai dari teori tersebut dengan merujuk kerangka umum teori itu. Dengan kata lain, kerangka teoritik yang sudah ada bisa digunakan untuk menginterpretasi dan mendekati data. Namun demikian, penelitian yang sekarang harus dikembangkan secara tersendiri dan terlepas dari teori sebelumnya. Dengan demikian, penelitian dapat dengan bebas memilih data yang dikumpulkan, sehingga memungkinkan teori awalnya dapat diubah, ditambah, atau dimodifikasi. Keempat, jika penelitian sekarang bertolak dari teori yang sudah ada, maka teori tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun sejumlah pertanyaan atau menjadi pedoman dalam pengamatan /wawancara untuk mengumpul data awal. Kelima, jika temuan penelitian sekarang berbeda dari teori yang sudah ada, maka peneliti dapat menjelaskan bagaimana dan mengapa temuannya berbeda dengan teori yang ada.

    2. Penjaringan Data

    Seperti telah dijelaskan sebelumnya, data utama dalam penelitian GT digali dari fenomena atau perilaku yang sedang berlangsung (life history) untuk melihat prosesnya serta ditujukan untuk menangkap hal-hal yang bersifat kausalitas. Sampel penelitian tidak didasarkan pada jumlah populasi, melainkan pada keterwakilan konsep dalam beragam bentuknya. Teknik yang digunakan adalah penyampelan teoritik, atau penyampelan yang dilakukan dengan cara memilih data-data atau konsep-konsep yang terbukti berhubungan dengan dan mendukung secara teoritik teori yang sedang disusun. Tujuannya adalah mengambil sampel peristiwa/fenomena yang menunjukkan kategori, sifat, dan ukuran yang secara langsung menjawab masalah penelitian.

    3. Analisis Data

    Pada dasarnya, kegiatan penjaringan dan analisis data dalam GT adalah proses yang saling berkaitan erat, dan harus dilakukan secara bergantian (siklus), bahkan simultan. Karena itu kegiatan analisis telah dikerjakan pada saat pengumpulan data sedang berlangsung.
    Kegiatan analisis dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk pengodean (coding), yakni proses penguraian data, pengonsepan, dan penyusunan kembali dengan cara baru. Tujuan pengkodean dalam penelitian GT adalah untuk; (a) menyusun teori, (b) memberikan ketepatan proses penelitian, (c) membantu peneliti mengatasi bias dan asumsi yang keliru, dan (d) memberikan landasan, memberikan kepadatan makna, dan mengembangkan kepekaan untuk menghasilkan teori.

    Terdapat dua prosedur analisis dasar dalam proses pengodean, yaitu; (a) pembuatan perbandingan secara terus-menerus (the constant comparative methode of analysis); dan (b) pengajuan pertanyaan. Dalam konteks penelitian GT, hal-hal yang diperbandingkan itu cukup beragam, yang intinya berada pada sekitar; (i) relevansi fenomena atau data yang ditemukan dengan permasalahan pokok penelitian, dan (ii) posisi dari setiap fenomena dilihat dari sifat-sifat atau ukurannya dalam suatu tingkatan garis kontinum. Analisis data itu sendiri, seperti telah dijelaskan sebelumnya, dilaksaakan dalam tiga langkah: pengodean terbuka (open coding), pengodean poros (axial coding), dan pengodean selektif (selective coding). Setelah menganalisis data, peneliti menyusun suatu paradigma logis atau gambaran visual dari teori yang diturunkan.

    Tiga Tahap Analisis Data

    (a) Pada tahap pertama, pengodean terbuka (open coding), peneliti membentuk kategori-kategori awal informasi tentang fenomena yang diteliti dengan memilah-milah data (diperoleh dari wawancara, observasi, maupun catatan-catatan dan memo) ke dalam jenis-jenis yang relevan. Jika fenomena yang diteliti adalah proses penterjemahan novel-novel klasik di sebuah penerbitan, misalnya, informasi yang diperoleh melalui pengamatan tentang proses pemberian ‘job’ oleh penerbit kepada sekelompok penterjemah dapat dikelompokkan kepada tahapan-tahapan pemberian kerja, pembuatan perjanjian kerja, sistem pembayaran upah, dan hal lain yang berhubungan dengan proses tersebut. Sedangkan iformasi yang diperoleh melalui wawancara terhadap para penterjemah dapat dipilah-pilah ke dalam kelompok pengalaman, keahlian, latar-belakang pendidikan, usia, dan lain-lain. Kategori-kategori yang telah ada bisa saja berkembang sesuai dengan penambahan data yang diperoleh, dan pada saat yang sama, sebagian atau seluruh kategori akan diperkaya dengan properties (sub-subkategori), yaitu data yang berfungsi sebagai detil pendukung kategori yang ada.
    (b) Di tahap kedua, pengodean poros (axial coding), peneliti memilih salah satu dari kategori yang ada dan memposisikannya sebagai inti fenomena yang sedang diteliti. Seluruh kategori lainnya dihubungkan pada inti fenomena ini berdasarkan korelasi apa adanya, seperti faktor-faktor penyebab (faktor-faktor yang memengaruhi inti), strategi (tindakan yang diambil sebagai respon terhadap inti), kondisi yang memengaruhi dan kontekstual (faktor-faktor situasional umum atau khusus yang memengaruhi strategi, dan konsekuensi (dampak dari penggunaan strategi). Tahapan ini melibatkan pembuatan sebuah diagram yang disebut pengkodean paradigma (coding paradigm), yang menggambarkan kesalingterkaitan antara penyebab, strategi, kondisi yang memengaruhi dan kontekstual, dan konsekuensi. Sebagai ilustrasi untuk proses ini, lihat gambar 1 berikut.

    (c) Di tahap ketiga, pengodean selektif (selective coding), peneliti menulis sebuah teori dari kesalingterkaitan seluruh kategori dalam tahap axial coding. Pada aras dasar, teori ini merupakan penjelasan abstrak atas proses yang diteliti Jadi, pengodean selektif merupakan proses penyatuan dan penyempurnaan teori melalui tahapan penulisan alur cerita yang membuat seluruh kategori saling terkait dan memilih melaui memo pribadi tentang ide-ide teoritis. Di sepanjang alur cerita, peneliti bisa saja mengamati bagaimana faktor tertentu memengaruhi fenomena yang membuat digunakannya strategi tertentu dengan dampak tertentu.

    Dilihat dari jumlah aktivitas pengodean yang dilakukan, terlihat adanya pengurangan dari tahap pengodean terbuka ke tahap penggolongan kategori-kategori, dan demikian halnya dari tahap penggolongan kategori-kategori ke tahap pengodean poros. Aktivitas paling minimal terdapat pada tahap penyusunan teori dari kategori-kategori yang sudah dijenuhkan.

    4. Penyusunan Teori

    Seperti dijelaskan di atas, teori dalam GT disusun pada saat melaksanakan pengodean selektif (selective coding). Proses ini mencakup analisis atas kesalingterkaitan seluruh kategori yang ditemukan. Perumusan teori juga bisa mencakup penyempurnaan paradigma yang terdapat pada axial coding dan menyajikannya sebagai sebuah modelatau teori bagi proses yang diteliti. Teori bisa disajikan sebagai proposisi-proposisi atau sub-sub proposisi yang dapat digunakan sebagai ide-ide yang dapat diuji pada penelitian lanjutan. Teori juga bisa dituliskan dalambentuk narasi yang menggambarkan kesalingterkaitan seluruh kategori (Creswell, 2008: 450).

    5. Validasi Teori

    Dalam GT, validasi teori merupakan bagian aktif dari proses penelitian. Sebagai contoh, sewaktu melakukan perbandingan konstan dalam tahap pengodean terbuka, peneliti melakukan pemeriksaan silang keabsahan hubungan antara data dan kategori-kategori yang muncul melalui proses triangulasi. Proses pemeriksaan data seperti itu juga dilakukan pada tahapan pengodean poros. Setelah teori dirumuskan, peneliti memvalidasi proses penyusunannya dengan membandingkannya dengan proses–proses sejenis yang ada di dalamkepustakaan. Bahkan penilai luar, seperti partisipan, juga bisa diminta untuk memeriksa keabsahan teori maupun validitas dan kredibilitas data (Creswell, 2008: 450).

    6. Penulisan Laporan Penelitian

    Sturuktur laporan penelitian GT sangat tergantung pada desain yang digunakan. Jika desain yang digunakan adalah pendekatan sistematik, laporan penelitian relatif mirip dengan struktur laporan penelitian kuantitatif, yang mencakup bagian-bagian perumusan masalah, metode penelitian, analisis dan diskusi, dan hasil penelitian. Jika desain yang digunakan adalah pendekatan ’emerging’ atau ’konstruktivis’, struktur laporan penelitian bersifat fleksibel (Creswell, 2008: 450).

    Kesimpulan
    Desain penelitian GT merupakan seperangkat prosedur yang digunakan untuk menyusun sebuah teori yang menjelaskan sebuah proses mengenai sebuah topik substantif. Penelitian GT cocok digunakan dalam rangka menjelaskan fenomena, proses atau merumuskan teori yang umum tentang sebuah fenomena yang tidak bisa dijelaskan dengan teori yang ada. Pada awalnya, penelitian GT diterapkan dan dikembangkan di bidang sosiologi. Namun saat ini GT juga banyak digunakan di berbagai disiplin ilmu, seperti pendidikan, keperawatan, ilmu politik, dan psikologi.

    Meskipun penelitian GT terdiri dari tiga bentuk desain—sistematik, ’emerging’ dan ’konstruktivis’—secara umum, metode ini memiliki enam karakteristik kunci. Pertama, fokus penelitian diarahkan pada proses yang berhubungan dengan sebuah topik substantif. Kedua, penjaringan data (yang dilakukan secara simultan denagn analisis data) dilakukan dengan menggunakan penyampelan teoritis. Ketiga, analisis data dilakukan dalam tiga tahap—pengodean terbuka, pengodean poros, dan pengodean selektif—sambil melaksanakan perbandingan konstan dan membuat pertanyaan tentang data-data yang diperoleh. Keempat, sewaktu menganalisis data untuk memunculkan kategori-kategori, sebuah kategori inti diidentifikasi. Keenam, kategori inti yang diidentifikasi kemudian dikembangkan dan dirumuskan menjadi teori. Selama melakukan penelitian, peneliti membuat catatan-catatan (memo) untuk mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan kategori-kategori yang dikodekan.

    Prosedur pelaksanaan penelitian GT yang komprehensif sulit dilakukan mengingat desain GT yang cukup beragam. Meskipun demikian, sebagai gambaran, langkah-langkah penelitian desain sistematis, dapat diurutkan dalam enam langkah: perumusan masalah, penjaringan data, analisis data, penyusunan teori, validasi teori, dan penulisan laporan.

    Daftar Pustaka

    Borgatti, Steve. “Introduction to Grounded Theory”. Diunduh pada tanggal 18 Oktober 2008 http://www.analytictech.com/mb870/introtoGT.htm

    Creswell, John W. 2008. Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qulitative Research. New Jersey: Prentice Hall.
    Dick, Bob. 2005. “Grounded theory: a thumbnail sketch”. Diunduh pada tanggal 10 September 2008 dari http://www.scu.edu.au/schools/gcm/ar/arp/grounded.html
    Elliott, Naomi and Lazenbatt, Anne. 2005. “How to Recognise a ‘Quality’ Grounded Theory Research Study” A scholarly paper, published in Australian Journal of Advanced Nursing Volume 22 Number 3, 2005

    Emzir. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa.

    Glaser, B. & Straus A. 1980. The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Chicago: Aldine.

    Goulding, Christina. 1999. “Grounded Theory: Some Reflections on Paradigm, Procedures, and Misconceptions” A Working Paper Series at Wolverhampton Business School.

    Haig, Brian D. 1995. “GT as Scientific Method” in Philosophy of Education Society. Diunduh pada tanggal 12 November 2008 dari http://www.GT as Scientific Method.htm
    Introduction to coding terminology qrtips.com/faq/Coding%20Level%20Pyramid.jp
    Tambahan :
    Grounded theory (Glaser dan Strauss)
    Bependapat suatu teori muncul dari data atau sebuah pendekatan metode penelitian kualitatif yang menggunakan seperangkat prosedur sistematik untuk mengembangkan teori dari dasar uyang dieproleh secara induktif tentang suatu fenomenon. Ada bebrapa strategi analisis kunci antara lain :
    • Koding adalah proses untuk membuat kategorisasi data kualitatif dan juga untuk menguraikan implikasi dan rincian dari kategorinya.
    • Memoing adalah proses mencatat pemikiran-pemikiran dan gagasan dari peneliti sewaktu hal-hal itu muncul selama studi.
    • Diagram terpadu dan sesi digunakan untuk menarik seluruh rincaian menajdi satu, untuk membantu agar data itu menjadi berarti dengan mengarahkan diri kepada teori yang muncul.

    • Teori dari Dasar (Grounded Theory); Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusuna teori substantif yang berasal dari data. Pertama, tidak ada teori apriori yang dapat mencakupi kenyataan-kenyataan jamak yang mungkin akan dihadapi. Kedua, penelitian ini mempercayai apa yang dilihat sehingga ia berusaha untuk sejauh mungkin menjadi netral. Ketiga, teori dari dasar-dasar lebih dapat responsif terhadap nilai-nilai konstektual. Menggunakan analisis secara induktif berarti bahwa upaya pencarian data bukan dimaksudkan untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan sebelum penelitian diadakan. Analisis ini lebih merupakan pembentukan abstraksi berdasarkan bagian-bagian yang telah dikumpulkan, kemudian dikelompok-kelompokkan. Jadi, penyusunan teori di sini berasal dari bawah ke atas (grounded theory), yaitu dari sejumlah data yang banyak dikumpulkan dan yang saling berhubungan.

    Teknik Penelitian Grounded Theory
    Keberhasilan penelitian kualitatif banyak ditentukan pada pemilihan teknik atau metode yang representatif dengan kondisi lapangan melalui data yang berhasil dikumpulkan. Pada bagian ini akan diuraikan tentang teknik penelitian dengan menggunakan metode grounded theory. Menurut Agus Salim (2001) yang secara sederhana teknik penelitian dapat diuraikan oleh fase-fase berikut:
    I. Fase Desain Penelitian
    a. Tinjauan ulang literatur teknis
    Pada fase ini dilakukan aktifitas definisi research question dan definisi dari konstruk apriori. Secara rasional diadakan upaya memfokuskan masalah serta membatasi variasi yang tidak relevan serta mempertajam validitas eksternal.
    b. Pemilihan kasus
    Kasus yang dipilih untuk contoh bersifat teoritis, bukan acak. Dimana hal ini dilakukan sebagai upaya memfokuskan pada kasus yang bermanfaat secara teoritis.
    II. Fase Pengumpulan Data
    Seperti halnya penelitian kualitatif yang lain, penelitian ini menggunakan sampel bertujuan atau menggunakan teknik purposive sampling. Dimana sampel tersebut ditetapkan dengan karakteristik tertentu dengan tujuan untuk merinci kekhususan yang ada dengan ramuan konteks yang unik. Maksud lain dari sampel ini adalah menggali informasi yang menjadi dasar dari rancangan dan teori yang muncul di lapangan. Untuk itu dilakukan:
    a. Membuat protokol pengumpulan data yang akurat.
    Adapun aktifitas yang dilakukan adalah membuat basis data kasus dengan menggunakan berbagai metode pengumpulan data, baik data kualitatif maupun data kuantitatif. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan untuk meningkatkan realibilitas dan validitas konstruk, memperkuat keberalasan teori dan validitas internal srta memperkuat berbagai sinergi bukti yang ditemukan.
    Untuk sumber dan jenis data yang diperlukan adalah data primer dan sekunder:
    1. Data Primer
     Kata-kata, ekspresi dan Tindakan
    Sumber dan jenis kata primer penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan subjek serta gambaran ekspresi, sikap dan pemahaman dari subjek yang diteliti sebagai dasar utama melakukan interpretasi data. Sedangkan untuk pengambilan data dilakukan dengan bantuan catatan lapangan, bantuan foto atau bila memungkinkan dengan bantuan rekaman suara tape recorder dan observasi mendalam oleh peneliti.
    2. Data Sekunder
     Sumber Tertulis
    Berbagai sumber tertulis yang memungkinkan dapat dimanfaatkan dalam penelitian ini akan digunakan semaksimal mungkin demi mendorong keberhasilan penelitian ini. Diantaranya buku-buku literatur, internet, majalah atau jurnal ilmiah, arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi lembaga-lembaga yang terkait dengan penelitian ini. Pada fungsi yang optimal dapat memberikan pemahaman teoritik dan metodologi yang melandasi dalam melakukan penelitian yang benar.
     Data statistik
    Data statistik digunakan untuk memperkaya informasi baik yang berlaku umum maupun yang berlaku spesifik. Dengan data statistik ini kita juga bisa membuat pemahaman atau kecenderungan-kecenderungan yang nantinya bisa membandingkan dengan keadaan yang berada pada kenyaataan (grass roots) pada saat penelitian.
    b. Masuk ke Lapangan
    Di lapangan akan dialami tumpang- tindih antara pengumpulan data dan analisis data karena keduanya di laksanakan secara terus menerus dan secara bersamaan. Di sini metode pengumpulan data menggunakan metode yang fleksibel dan oportunistik. Semua ini dilaksanakan agar proses analisis bisa cepat dan mempermudah peneliti memanfaatkan tema dan keistimewaan kasus yang muncul.
    Data diperoleh dari:
    1. Observasi
    Observasi dilakukan sebelum dan selama penelitian ini diberlangsung yang meliputi gambaran umum, suasana kehidupan sosial, kondisi fisik, kondisi ekonomi dan kondisi sosial yang terjadi.
    2. Studi Dokumentasi
    Informasi, data yang diperlukan dalam penelitian ini juga kami peroleh dari studi dokumentasi. Sebelum penelitian lapangan, peneliti telah melakukan telaah terhadap buku literatur, majalah, jurnal, hasil seminar, artikel baik yang tersedia dalam media on-line (internet) maupun yang ada dalam perpustakaan.
    3. Wawancara Mendalam
    Untuk wawancara mendalam di lakukan secara langsung dengan informan secara terpisah di lingkungannya masing-masing. Wawancara akan dilakukan dengan informan yang dianggap berkompeten dan mewakili.
    III. Fase Penyusunan Data
    Pada fase penyusunan data ini dilakukan penyusunan event secara kronologis atau berurutan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memudahkan analisis data dan evaluasi proses.
    IV. Fase Analisis Data
    Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan kepada orang lain. Adapun untuk meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna (meaning) (Muhadjir, 2002 :142).
    Dalam metode grounded theory terdapat beberapa tahap dalam melaksanakan analisa data, yaitu:
    1. Tahap pengolahan awal, meliputi: Open coding yaitu membuat konsep, kategori dan properti; Axial coding yaitu mengembangkan hubungan antara kategori dan sub kategori, Selective Coding yaitu mengintegrasikan kategori untuk membangun kerangka kerja teoritis.
    2. Tahap Percontohan teoritis yaitu melakukan replikasi teoritis, terus diulang lagi dari langkah kedua hingga teori matang/jenuh. Pada tahap dilakukan konfirmasi, perluasan dan pertajaman kerangka kerja teoritis.
    3. Tahap akhir dari analisis, disini diadakan pematangan teori lagi kalau mungkin. Dimana menghentikan proses apabila peningkatan atau pertambahan yang diperoleh tidak berarti.
    V. Fase Perbandingan Literatur
    Dalam fase ini diadakan perbandingan teori yang muncul dari hasil penelitian dengan teori yang ada dalam literatur. Di sini dilakukan kegiatan membandingkan dengan kerangka kerja yang bertentangan dan kerangka kerja yang selaras. Perbandingan ini dimaksudkan untuk menyempurnakan definisi konstruk dan meningkatkan validitas internal serta meningkatkan validitas eksternal.
    Kesimpulan
    Dari berbagai fase tahapan di atas, kesan pertama memang terasa rumit, namun kalau kita sudah mendalaminya sebagai bagian dari kegiatan penelitian, maka akan terasa mudah. Hal ini dikarenakan setiap tahapan merupakan rangkaian logika keilmuan yang mengalir berdasarkan penalaran rasional. Secara tidak langsung setiap tahapan akan menggiring kita pada logika penelitian yang sistematis. Menurut pengalaman saya, metode ini sangat menarik dan menantang, bagaimana dengan anda?
    Tanbah
    Mengenal Metode Grounded theory
    Sebelum tahu banyak tentang grounded theory, maka langkah awal untuk mengenalnya adalah melihat dari mana metode ini lahir. Grounded theory lahir dari Paradigma Kontruktivisme. Paradigma kontruktivisme merupakan suatu cara pandang dalam keilmuan dimana yang mencoba mengkontruksi atau merekontruksi suatu fakta yang terjadi dilapangan berdasarkan pada data empirik dan bekal pengetahuan yang membangun pola pikir si peneliti. Teori muncul berdasarkan data yang ada bukan dibuat sebelumnya sebagaimana dalam penelitian kuantitatif dalam bentuk hipotesis, melainkan metode pengumpulan data dilakukan melalui proses hermeneutik dan dialektik yang difokuskan pada kontruksi, rekontruksi dan elaborasi suatu proses sosial.
    Pada awal perkembangannya, paradigma kontruktivisme mengembangkan sejumlah indikator sebagai pikiran dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan ilmu. Beberapa indikator tersebut antara lain: (1) penggunaan metode kualitatif dalam proses penelitian ; (2) mencari relevansi indikator kualitas untuk lebih memahami data-data lapangan; (3) teori-teori yang dikembangkan harus bersifat membumi (grounded theory); (4) kegiatan ilmu harus bersifat natural (apa adanya) dalam pengamatan; (5) pola-pola yang diteliti dan berisi kategori-kategori jawaban menjadi unit analisis dari variabel-variabel penelitian yang kaku dan steril; (6) penelitian bersifat partisipatif daripada mengontrol sumber informasi.1
    Sedangkan untuk komponen keilmuan paradigma kontruktivisme adalah sebagai berikut:
    1. Secara Ontologi, paradigma ini menyatakan bahwa realitas bersifat sosial dan karena itu akan menumbuhkan bangunan teori atas realitas majemuk dari masyarakatnya. Dengan demikian, tidak ada suatu realitas yang dapat dijelaskan secara tuntasoleh suatu ilmu pengetahuan. Realitas ada sebagai perangkat bangunan yang menyeluruh dan bermakna yang bersifat konfliktual dan dialektis. Karena itu, paham ini menganut prinsip relatifitas dalam memandang suatu fenomena alam atau sosial. Kalau tujuan penemuan ilmu dalam positivisme adalah untuk membuat generalisasi terhadap fenomena alam lainnya, maka kontruktivisme lebih cenderung menciptakan ilmu yang diekpresikan dalam bentuk pola-pola teori, jaringan atau hubungan timbal balik sebagai hipotesis kerja, bersifat sementara, lokal dan spesifik.
    2. Secara Epistimologi, hubungan antara peneliti dan objek penelitiannya bersifat interaktif, sehingga fenomena dan pola-pola keilmuan dapat dirumuskan dengan memperhatikan gejala hubungan yang terjadi antara keduanya. Oleh karena itu, hasil rumusan ilmu yang dikembangkan sangat bersifat subjekif.
    3. Secara Metodologi, paham ini secara jelas menyatakan bahwa penelitian harus dilakukan diluar laboratorium, yaitu di alam bebas sejawarnya (natural) untuk menangkap fenmena alam apa adanya dan secara menyeluruh tanpa campur tangan dan manipulasi pengamat atau pihak peneliti. Dengan setting natural ini, maka metode yang banyak digunakan adalah metode kualitatif dan metode pengumpulan data dilakukan melalui proses hermeneutik dan dialektik yang difokuskan pada kontruksi, rekontruksi dan elaborasi suatu proses sosial.2
    Menurut penggagasnya yaitu Barney Glaser dan Anselm Strauss, grounded theory tertulis sebagai… the discovery of teory from data-which we call grounded theory… Memang betul, ajaran utama pendekatan ini adalah, bahwa teori harus muncul dari data atau dengan kata lain, teori harus berasal (grounded) dalam data (Chamberlain,1995). Ungkapan grounded theory merujuk pada teori yang dibangun secara induktif dari satu kumpulan data. Bila dilakukan dengan baik, maka teori yag dihasilkan akan sangat sesuai dengan kumpulan data tadi. Dengan demikian hal ini sangat kontras dengan teori yang diturunkan secara deduktif dari grand theory, tanpa bantuan data dan sering kali terjadi akhirnya tidak pas dengan data manapun.
    Menurut Glasser dan Strauss, kekhasan dari metode ini dengan metode-metode penelitian kualitatif yang lain adalah dari penghasilan teori yang beralas data. Tetapi dalam tulisan Stren (1994) lebih jelas terungkap perbedaan grounded theory dengan metode-metode penelitian kualitatif yang lain. (a) Kerangka kerja konseptualnya dihasilkan dari data, bukan dari kajian terdahulu, walaupun demikian kajian terdahulu juga selalu mempengaruhi hasil akhir penelitian. (b) Peneliti yang menggunakan metode grounded theory selalu berusaha menemukan proses-proses dominan di suatu situasi sosial, bukannya menguraikan unit sosial yang diteliti. (c)setiap bagian dari data dibandingkan dengan bagian data yang lain guna menemukan model kategori jawaban yang sesuai dengan tujuan penelitian. (d) pengumpulan data dilapangan dapat dimodifikasi sejalan dengan pengemangan model kategorisasi, proporsi dan dalil yang ditemukan di lapangan guna mengembangkan teori baru, dan (e) Peneliti tidak mengikuti penggunaan langkah-langkah yang bersifat linier, melainkan kerja dengan matriks, dimana beberapa proses penelitian dilakukan secara simultan.3
    Perubahan yang terjadi di kalangan peneliti sosial, menjadikan perubahan pula pada aspek pemanfaatan metode grounded theory, seperti; (1) Kombinasi metode grounded theory dengan metode lai, kegiatan ini akan menghasilkan ragam-ragam model grounded theory dalam berbagai pokok masalah dan disiplin ilmu pengetahuan. (2) Prosedur yang digunakan dalam metode mungkin akan lebih dielaborasi, prosedur ini disesuaikan dengan “subtansi” kajian yang terus-menerus akan dikembangkan. (3) Berbagai teori atau interpretasi akan terus dikembangkan oleh ilmuwan yang berbeda dari disiplin yang berbeda pula. Sebagai konsekuensi logis grounded theory akan menjadi metode universal, memiliki kekuatan untuk membahas berbagai masalah yang lebih luas, kompleks dan memiliki keunikan. (4) Aplikasi komputer akan lebih banyak digunakan , terutama untuk membuat matriks, pembobotan masalah dan kategorisasi yang diperoleh di lapangan.4
    Sebuah pertanyaan dapat muncul secara wajar, ketika peneliti ingin melakukan kegiatan penelitian dengan grounded theory. Kapan persisnya dan pada kondisi yang bagaimana grounded theory pas untuk digunakan? Bagaimana langkah-langkah yang harus dipenuhi untuk menggunakan pendekatan tersebut?
    Menurut Galser dan Strauss, metode ini baik digunakan bila peneliti ingin membangun teori, baik teori subtantif maupun teori formal dalam seperangkat kode-kode properti maupun dalam diskusi teoritis. Sedangkan menurut Stren (1994), metode grounded theory paling baik diterapkan pada investigasi hal-hal yang masih belum jelas, atau untuk memperoleh persepsi baru dari hal-hal yang dianggap sudah lumrah.5
    Menurut Schlegel (1984) dan Stren (1994) ada tiga elemen dasar dari grounded theory, yang masing-masing tidak terpisahkan satu sama lainnya. (1) Konsep, dimana konsep ini dihasilkan dari konseptualisasi atas data. (2) Kategorisasi, merupakan level atau tingkatan yang lebih tinggi dan lebih abstrak dari konsep. Kategori juga merupakan “corner stone” dari pengembangan teori, dimana disini ada proses pengelompokan konsep melalui perbandingan yang sama atau berbeda pada kelompoknya masing-masing. (3) Proposisi, adalah suatu pernyataan yang menunjukkan pada adanya hubungan yang konseptual.6
    Cara untuk menghasilkan teori dengan metode grounded theory terdiri dari lima fase yang harus diikuti, yaitu: desain penelitian, pengumpulan data, penyusunan data, analisis data, dan pembandingan dengan literatur. Fase-fase ini masih diturunkan menjadi sembilan langkah, yaitu: tinjauan ulang literatur teknis, memilih kasus, membuat protokol pengumpulan data yang akurat, masuk ke lapangan, penyusunan data, menganalisis data yang berhubungan dengan kasus awal, percontohan teoritis, mencapai akhir penelitian, dan pembandingan teori yang muncul dengan literatur yang telah ada.7

    Kesimpulan
    Metode Grounded theory di Indonesia masih sangat jarang digunakan, sehingga peluang untuk menggunakan metode ini sebenarnya masih sangat terbuka lebar. Namun, perlu disadari penggunaan metode yang belum popular seperti ini, bagi mahasiswa (atau Peneliti pemula) harus siap menerima pertanyaan ini-itu dari dosen yang notabennya belum mempelajarinya. Pengalaman pribadi saya dalam penggunaan metode ini, saya harus mempertahankannya, menerangkannya dan memahamkannya berkali-kali ke dosen bahwa metode ini layak digunakan untuk konteks penelitian yang sedang saya lakukan. Saya juga harus menunggu sampai dosen juga mempelajarinya (masih untung dosen mau belajar).
    Metode ini menurut saya adalah sebuah metode yang akan membawa pada perkembangan ilmu yang lebih maju, kontekstual dan spesifik. Kekuatan analisisnya yang terstruktur dan memenuhi kaidah sebuah ilmu dan metodologi merupakan modal dari pengembangan keilmuan (pengembangan dari grand theory atau middle theory). Langkah konseptualisasi, kategorisasi dan penarikan proposisi serta mencari jalinan proposisi dari rimba data merupakan inti dari metode ini. Penggunaan metode ini memerlukan kesiapan yang matang dari seorang Peneliti. Kesiapan yang menjadi syarat utama adalah sebuah idealitas dari Peneliti untuk membongkar, mengkaji, merekontruksi sebuah teory yang ada. Kesiapan lain adalah perlunya pemahaman yang lebih terhadap metodologi penelitian secara umum. Dan persiapan yang paling pokok adalah kesiapan mental Peneliti, karena proses penelitian akan menguras banyak energi, tentangan dari orang lain (dosen atau peneliti lain), serta pandangan yang luas. Dan saya selalu salud pada para Peneliti (baik muda atau senior) yang telah memilih metode ini.

    Pengertian lain
    Metode Penelitian Kualitatif: Grounded Theory Approach

    PENDAHULUAN

    Pendekatan grounded teori (Grounded Theory Approach) adalah metode penelitian kualitatif yang menggunakan sejumlah prosedur sistematis guna mengembangkan teori dari kancah. Pendekatan ini pertama kali disusun oleh dua orang sosiolog; Barney Glaser dan Anselm Strauss. Untuk maksud ini keduanya telah menulis 4 (empat) buah buku, yaitu; “The Discovery of Grounded Theory” (1967), Theoritical Sensitivity (1978), Qualitative Analysis for Social Scientists (1987), dan Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and Techniques (1990). Menurut kedua ilmuwan ini, pendekatan Grounded Theory merupakan metode ilmiah, karena prosedur kerjanya yang dirancang secara cermat sehingga memenuhi keriteria metode ilmiah. Keriteria dimaksud adalah adanya signikansi, kesesuaian antara teori dan observasi, dapat digeneralisasikan, dapat diteliti ulang, adanya ketepatan dan ketelitian, serta bisa dibuktikan.
    Sesuai dengan nama yang disandangnya, tujuan dari Grounded Theory Approach adalah teoritisasi data. Teoritisasi adalah sebuah metode penyusunan teori yang berorientasi tindakan/interaksi, karena itu cocok digunakan untuk penelitian terhadap perilaku. Penelitian ini tidak bertolak dari suatu teori atau untuk menguji teori (seperti paradigma penelitian kuantitatif), melainkan bertolak dari data menuju suatu teori. Untuk maksud itu, yang diperlukan dalam proses menuju teori itu adalah prosedur yang terencana dan teratur (sistematis). Selanjutnya, metode analisis yang ditawarkan Grounded Theory Approach adalah teoritisasi data (Grounded Theory).
    Pada dasarnya Grounded Theory dapat diterapkan pada berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial, namun demikian seorang peneliti tidak perlu ahli dalam bidang ilmu yang sedang ditelitinya. Hal yang lebih penting adalah bahwa dari awal peneliti telah memiliki pengetahuan dasar dalam bidang ilmu yang ditelitinya, supaya ia paham jenis dan format data yang dikumpulkannya.

    PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN
    Seperti diketahui, paradigma kualitatif mengasumsikan bahwa di dalam kehidupan sosial selalu ditemukan regulasi-regulasi yang relatif sudah terpola. Pola-pola regulasi yang ditemukan melalui penelitian itulah yang dirumuskan menjadi teori. Asumsi ini dipertegas dalam Grounded Theory, dengan menyatakan bahwa; (a) semua konsep yang berhubungan dengan fenomena belum dapat diidentifikasi; dan (b) hubungan antarkonsep belum terpahami atau belum tersusun secara konseptual. Oleh sebab itu, tidak mungkin bagi seorang peneliti untuk mengajukan masalah yang sangat spesifik –seperti yang dituntut dalam metode kuantitatif, baik variabel maupun tipe hubungan antarvariabelnya. Substansi rumusan masalah dalam pendekatan Grounded Theory masih bersifat umum, yaitu dalam bentuk pertanyaan yang masih memberi kelonggaran dan kebebasan untuk menggali fenomena secara luas, dan belum sampai menegaskan mana saja variabel yang berhubungan dengan ruang lingkup masalah dan mana yang tidak. Demikian pula tipe hubungan antarvariabelnya belum perlu dieksplisitkan dalam rumusan masalah yang dibuat.
    Bertolak dari dasar asumsi dan kemungkinan yang diutarakan di atas, rumusan masalah dalam Grounded Theory disusun secara bertahap. Pada tahap awal –sebelum pengumpulan data, dikemukan rumusan masalah yang bersifat luas (tetapi tidak terlalu terbuka), yang kemudian nanti –setelah data yang bersifat umum dikumpulkan—rumusan masalahnya semakin dipersempit dan lebih difokuskan sesuai dengan sifat data yang dikumpulkan. Intinya adalah, bahwa rumusan masalah dalam Grounded Theory disusun lebih dari satu kali. Rumusan masalah yang diajukan pada tahap pertama dimaksudkan sebagai panduan dalam mengumpul data, sedangkan rumusan masalah yang diajukan pada tahap berikutnya dimaksudkan sebagai panduan untuk menyusun teori. Perumusan masalah yang disebut terakhir ini inheren dengan perumusan hipotesis penelitian.
    Seperti lazimnya pada setiap penelitian, rumusan masalah yang disusun pada tahap awal adalah yang memiliki substansi yang jelas serta diformulasikan dalam bentuk pertanyaan. Ciri rumusan masalah yang disarankan dalam Grounded Theory adalah; (a) berorientasi pada pengidentifikasian fenomena yang diteliti; (b) mengungkap secara tegas tentang obyek (formal dan material) yang akan diteliti, serta (c) berorientasi pada proses dan tindakan. Contoh rumusan masalah awal pada Grounded Theory; “Bagaimanakah wanita yang berpenyakit kronis mengatasi kehamilan?” Pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah ini bermaksud untuk; (a) mengenali secara tepat dan mendalam perilaku wanita yang sedang berpenyakit kronis dalam mengatasi kehamilannya, (b) obyek formal penelitian adalah wanita yang berpenyakit kronis yang sedang hamil; sedangkan obyek materialnya adalah cara-cara yang dilakukan oleh wanita itu dalam mengatasi persoalan kehamilan dalam kondisi sakit, dan (c) orientasi utama yang disoroti adalah tahapan tindakan si wanita dan jenis-jenis atau bentuk-bentuk tindakan yang dipilih.

    PENGGUNAAN TEORI TERDAHULU
    Sebagaimana penelitian kualitatif pada umumnya, pendekatan Grounded Theory sama sekali tidak bermaksud untuk menguji teori, dan bahkan tidak bertolak dari variabel-variabel yang direduksi dari suatu teori. Sungguh tidak relevan jika penelitian dengan Grounded Theory dimulai dengan teori atau variabel yang telah ada, karena ak

    • sdoriza said

      Salam kenal, bagus sekali tulisannya dan sangat menbantu, kalau boleh tulisan Bapak saya masukkan ke web ini, terima kasih.

  230. Hikmah said

    thanks… saya sangat terbantu…

    • sdoriza said

      Sama2….salam kenal

  231. Bnda brmuatan (-) akan ntral jka dhubungkn ke bumi.Hal ini dsebbkan oleh….
    “Bant aQ donk..siapa aja yg bsa..please.!!”

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s