Ilmu Kesejahteraan Keluarga

 

Materi: Pendapatan, Konsumsi, dan Menabung (Dari Berbagai Sumber)

Dosen: Shinta Doriza, S.Sos, M.S.E, M.Pd.

                 (Dosen Ilmu Kesejahteraan Keluarga-Fakultas Teknik-Universitas Negeri Jakarta)

 

Pendapatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku permintaan konsumen terhadap barang dan jasa. Hal ini dikarenakan perilaku konsumen ini didasarkan pada Teori Perilaku Konsumen yang menjelaskan bagaimana seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya, dapat membeli berbagai barang dan jasa sehingga tercapai kepuasan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Apakah Anda merasa puas atau merasa cukup dengan PENDAPATAN yang Anda peroleh dari orang tua saat ini? 

Pasti jawabannya…..Belum Puas…..

Jika PENDAPATAN sudah sangat besar, mungkin Anda mengatakan Cukup Puas….. tetapi kalau bisa ya lebih besar lagi

Wajar saja. Manusia memang tidak ada puasnya. Paling tidak, hal semacam itu dialami sebagian besar orang. 

 

Pertanyaannya: 

Apakah benar PENDAPATAN Anda saat ini tidak memuaskan atau tidak mencukupi? Apa ukurannya? 

Coba bandingkan PENDAPATAN Anda saat ini dengan, katakanlah, bulan lalu, apakah ada peningkatan? 

Asumsikan ada peningkatan, lalu kenapa Anda masih tidak puas? 

 

Sesungguhnya Cukup atau tidak cukup, puas atau tidak puas terletak pada persepsi Anda sendiri. Dengan kata lain, lebih berupa “RASA”

dan untuk menjadi menjadi puas, cukup dengan mengubah “rasa” itu, dari semula tidak puas ada baiknya menjadi puas dengan bersyukur. 

 

Tidak percaya? Lihat sekitar Anda, Tidak semuanya mengeluh jika PENDAPATANnya mungkin jauh di bawah Anda.. Bahkan banyak yang kelihatannya hidup sangat bahagia kendati tidak dalam kemewahan. 

 

Semua orang juga tahu…..Baik. Bila memang sudah tahu, bagaimana kita mengimplementasikannya sehingga selalu cukup dan penggunaannya menjadi efektif.

 

PENDAPATAN pada dasarnya merupakan pendapatan yang Anda peroleh dengan peruntukan: 

membiayai konsumsi, 

menabung, plus asuransi, 

dan investasi. 

 

Ini sudah trend di seluruh dunia. Kenapa? sebab kehidupan seseorang pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua fase, yakni: 

  1. fase produktif dan
  2. fase purnaproduktif. 

 

Jika kita berkeinginan hidup mandiri, tentu setiap orang mesti menyiapkan diri agar ketika memasuki masa purnaproduktif tetap bisa membiayai kehidupannya secara memadai. Oleh karena itulah diperlukan tabungan dan investasi masa produktif. 

 

Lalu, bagaimana mengimplementasikan konsep tersebut jika PENDAPATAN Anda terbatas? 

 

Terbatas di sini bukanlah soal cukup atau tidak cukup, tetapi kita asumsikan jumlah PENDAPATAN Anda mungkin tidak terlalu besar. 

Misalnya: PENDAPATAN Anda, berapa pun nilainya, setara dengan 100. Maka, paling sedikit 30 persennya harus dialokasikan untuk tabungan, asuransi, dan investasi. 

 

Barangkali ada di antara Anda yang protes dengan mengatakan bagaimana mau menabung, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dasar saja masih kurang. 

Anda benar bila menggunakan persepsi tersebut. Akan tetapi, bila mau hidup lebih terkelola, persepsi itu mesti diubah dengan menganggap PENDAPATAN Anda hanya 70 persen. Jumlah itulah yang menjadi pegangan Anda untuk konsumsi. Begitu prinsipnya. 

KONSUMSI

Dalam istilah ekonomi, Konsumsiadalah setiap tindakan untuk mengurangi atau menghabiskan guna ekonomi suatu benda. Misal: memakan makanan, memakai baju, mengendarai sepeda motor, menempati rumah.

Tujuan dari konsumsi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia dan memperoleh kepuasan dari pemenuhan tersebut. 

Konsumen merupakan orang, badan usaha, atau organisasi yang memakai, menggunakan, mengurangi atau menghabiskan guna ekonomi suatu benda disebut sebagai konsumen.

Teori  Konsumsi Makin tinggi pendapatan, makin banyak jumlah barang yang dikonsumsi. Sebaliknya, makin sedikit pendapatan, makin berkurang jumlah barang yang dikonsumsi. 

Setiap orang atau keluarga mempunyai skala kebutuhan yang dipengaruhi oleh pendapatan. Kondisi pendapatan seseorang akan mempengaruhi tingkat konsumsinya. 

Bila konsumsi ingin ditingkatkan sedangkan pendapatan tetap, terpaksa tabungan digunakan akibatnya tabungan berkurang. 

Misal: Anda diberikan uang saku oleh orang tuanya sebulan Rp. 100.000 maka Anda harus bisa mengatur keuangan tersebut agar cukup untuk satu bulan, mulai untuk uang transport, untuk jajan, membeli alat-alat tulis dan menyisihkan untuk menabung, diluar dari uang sekolah tentunya. 

Hal-hal yang harus dirumuskan dalam konsumsi adalah menentukan:

  1. mana konsumsi yang utama atau harus dan
  2. mana konsumsi yang sifatnya sekunder, misalnya makan di restoran. 

Nah, konsumsi yang sifatnya sekunder itu, suka-tidak suka, untuk sementara mesti dicoret dulu dari daftar pengeluaran. Mungkin ini akan menyakitkan. Akan tetapi, hanya itu yang bisa dilakukan. Dengan kata lain, jangan sekali-kali menggunakan alokasi dana untuk tabungan sebagai sumber membiayai konsumsi sekunder. 

 

SELANJUTNYA, sisa PENDAPATAN yang 30 persen tentu harus dialokasikan untuk tabungan.

 

SAVING

 

 

Dalam Islam sebagian orang mengatakan bahwa menabung sebenarnya tidak dianjurkan dalam Islam, alasannya karena tabungan sejatinya umat muslim adalah tabungan di akhirat, sedangkan tabungan dunia tidak dianjurkan

Akibat adanya tabungan akhirat ini, maka pengeluaran konsumsi menjadi semakin besar dan akibatnya tabungan menjadi kecil bahkan mendekati 0.

Ingat certita tentang NABI YUSUF  mengenai 7 ekor sapi gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi kurus….

Hal ini dapat kita artikan bahwa menabuung itu perlu, kita perlu menabung sebelum masa paceklik dalam kehidupan kita. 

Dalam keluarga ….Jika kita tidak menabung…..so what…. bagaimana dengan masa depan kita? Bagaimana dengan anak kita? 

Dalam sistem ekonomi konvensional (kapitalis) yang kita alami saat ini Masyarakat dianjurkan untuk menabung…..orang memiliki bekal di masa yang akan datang dan ada dana untuk berjaga jaga jika nanti ada pengeluaran yang tidak diduga sebelumnya. 

 

Darimana tabungan berasal …..Tabungan ini berasal dari Pendapatan dikurangi Konsumsi.

 

Hal ini dapat dirumuskan    :        Y = C + S

Dimana, Y: Income; C=Consumption; S=saving (Maaf…dalam hal ini, kita asumsikan hanya Saving)

Pemerintah selama ini selalu menganjurkan untuk meningkatkan pendapatan dengan cara mengurangi konsumsi dengan tujuan untuk meningkatkan saving

Berbagai program tabungan sejak tahun 1970-an dianjurkan. Ada Tabungan Pramuka dan Pelajar, TASKA, TABANAS yang dipelopori Bank Indonesia. ini, misalnya: Tabungan Kesra, Tabungan Tahapan, Mandiri Fiesta, Tabplus, dan ratusan bentuk lainnya termasuk dari industri asuransi.

Sungguh benar apa yang ditegaskan pelopor pemberdayaan keluarga dan masyarakat kita, Prof. Dr. H. Haryono Suyono, yang menyatakan bahwa menabung dapat meningkatkan keberadaan Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Menurutnya, masyarakat harus mulai dilatih untuk menyadari betapa pentingnya menabung. Gerakan sadar menabung merupakan awal dari gerakan masyarakat mandiri dan sejahtera. 

 

Orang yang menabung mencerminkan pelakunya mempunyai perspektif pemikiran jangkauan kehidupan masa depan yang lebih baik, mencerminkan suatu ekspektasi harapan penghidupan yang besar, berpikir antisipatif terhadap kebutuhan atau kejadian dimasa mendatang, menunjukkan pelakunya disiplin pengaturan keuangan keluarga, dan menunjukkan sikap orang berpikir modern dan rasional. 

 

Para konsultan keuangan pribadi akan selalu menganjurkan menabung. Prinsipnya, tentukan dulu berapa besar yang akan disisihkan dari PENDAPATAN buat menabung. Sisanya baru untuk konsumsi. Bukan prinsip sebaliknya, yakni menabung hanya dari sisa konsumsi. 

 

 

Begitu penting menabung, sampai-sampai Gerakan Masyarakat Sentosa (GMS) yang digagas tokoh-tokoh yang care terhadap kondisi bangsa ini, menempatkannya sebagai salah satu norma ekonomi atau norma makmur. Menabung juga sangat relevan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) dalam pengetasan kemiskinan yang harus tuntas tahun 2015.

 

Menabung sejatinya dapat menumbuhkan kemandirian pada seseorang, keluarga, dan negara. Kemandirian dalam modal pembangunan yang salah satunya ditopang oleh dana masyarakat berupa tabungan (saving) akan meningggalkan ketergantungan keluarga kita dan bangsa kita dari pinjaman luar negeri baik dari ADB, CGI, IMF, atau lembaga dunia lainnya. 

 

Kemandirian dalam modal pembangunan tersebut akan meringankan dan mempercepat pembangunan nasional di segala bidang. 

 

Upaya yang dilakukan untuk mewujudkan keluarga Gema Menabung?

  1. Keluarga merupakan kelompok pertama dan utama karena dalam keluarga diharapkan fondasi gemar menabung dapat tertanam pada seluruh anggota keluarga sejak anak-anak. 
  2. Pendidikan formal sejak di TK, SD, SMP/MTs/, SMA/MA/SMK, dan SLB merupakan tempat yang strategis dalam melanjutkan dan memupuk kegemaran menabung yang telah dibina di keluarganya. 
  3. Pemerintah seharusnya gencar menyerukan gemar menabung secara berkesinambungan. 
  4. Peran serta berbagai organisasi sosial kemasyarakatan dan LSM dalam menggerakkan kultur menabung sangat diperlukan akan sangat mempengaruhi perilaku masyarakat kita. 

 

 

 

13 Comments »

  1. Dinar Ramadani said

    Dinar Ramadani
    Pend. Tata Busana 2007
    5525072524

    HUMAN CAPITAL INVESTMENT
    Investasi sumber daya manusia (Human capital Investment) di negara Indonesia adalah kesehatan. KENYATAAN di lapangan menunjukkan, meski kesehatan sudah lama dipahami sebagai tujuan utama dan sekaligus hasil penting dalam suatu pembangunan, perlunya investasi di bidang kesehatan untuk menurunkan angka kemiskinan dan memicu pertumbuhan ekonomi, kerap terlupakan.
    Pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Pada praksis manajemen pendidikan modern, salah satu dari lima fungsi pendidikan adalah fungsi teknis-ekonomis baik pada tataran individual hingga tataran global. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif. Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang maka tingkat pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan.
    Produktivitas seseorang tersebut dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup. Inilah sebenarnya arah kurikulum berbasis kompetensi, pendidikan life skill dan broad based education yang dikembangkan di Indonesia akhir-akhir ini.

    http://kompas-cetak.com
    http://www.cyberschooldps.net

  2. TIA UTAMI said

    TIA UTAMI
    pend. Tata busana 2007
    5525072544

    Ada faktor banyak orang yang berperan untuk pengembangan manusia dari suatu ahli teori bangsa Several yang terkemuka menyatakan bahwa banjir/penerangan dari investasi, asing melalui/sampai korporasi yang multinasional dan domestik melalui/sampai modal manusia seperti halnya korporasi yang multinasional, adalah penting di analisa dari pengembangan manusia. Karena ini belajari kita akan menyelidiki tiga daerah, Asia, Amerika Latin dan Sub-Saharan Africa untuk lihat mempengaruhi apa [yang] modal manusia dan korporasi multinasional [adalah] pasti mempunyai di daftar biaya pengiriman barang-barang pengembangan manusia.

    Asia, Amerika Latin dan Sub-Saharan Africa di/terpilih sebab pajangan daerah masing-masing perpecahan antar[a] mengembang;kan negara dan macet negara. Masing-Masing daerah mempunyai populasi besar dan suatu sejarah dari underdevelopment dan kedaerahan, tetapi tanggapan mereka ke investasi modal manusia dan korporasi yang multinasional telah (menjadi) berjenis-jenis.. Amerika Latin dan Asia terdiri dari beberapa dari dengan cepat bangsa-bangsa sedang berkembang di dunia; sebagian dari negara-negara ini mempunyai laju pertumbuhan yang menempatkan [mereka/nya] di suatu jalan peluru untuk menjadi negara-negara yang paling kaya di dunia, di dalam abad ini. Di kontras, negara Sub-Saharan African hanya meliputi yang lebih dari separuh-satu dari satu dunia GDP, dan jalan peluru pertumbuhan mereka menunjukkan tak lain hanya lebih banyak yang sama dalam abad yang akan datang. Kita percaya bahwa (di) atas masa lalu 35 tahun banjir/penerangan dari investasi modal manusia dan korporasi multinasional pasti mempunyai barang kepunyaan hal negatif dan hal positif kedua-duanya di pengembangan manusia di Asia, Sub-Saharan Africa dan Amerika Latin. Secara rinci, riset ini akan menyelidiki saling mempengaruhi antar[a] dua faktor, investasi modal manusia dan korporasi yang multinasional dan efek kumulatif dan individu mereka di pengembangan manusia di Asia, Amerika Latin dan Sub-Saharan Africa.

    teori neoklasikal Growth The dan Modal manusia dari pertumbuhan ekonomi mendukung bahwa . ini adalah hasil dari akumulasi dari [modal/ibukota] phisik dan [tentang] pembesaran dari kekuatan pekerjaan yang kombinasikan dengan produktivitas peningkatan kemajuan yang teknologi [modal/ibukota]. Bagaimanapun, mereka tidak kata[kan segalanya tentang bagaimana [itu] dapat mempercepat kemajuan teknologi.

    Pada awal ‘ 90 dekade, Paul Romer ( 1990), dan Robert Lucas ( 1988)

    yang ditekuni suatu teori yang baru tentang pertumbuhan ekonomi yang mencoba untuk menentukan efek dari modal manusia di laju pertumbuhan negara-negara. Mereka mencoba untuk mengkonfirmasikan bahwa kekuatan yang riil yang pindah;gerakkan kemajuan yang ekonomi adalah daya produksi dari individu itu. [Adalah] meningkat/kan di produktivitas tidaklah hanya diberi oleh suatu faktor yang exogenous kalau kiranya tidak faktor endogin yang berbeda terkait dengan perilaku dari agen yang bertanggung jawab untuk akumulasi dari faktor produksi dan nya tingkat pengetahuan. Mereka mempertunjukkan bahwa proses produksi yang utuh bermanfaat bagi dengan hal luar yang positif yang dihasilkan dengan pendidikan. Suatu populasi paling dididik gunakan [modal/ibukota] lebih secara efisien, memperkenalkan inovasi di format produksi dan menghamburkan gagasan. Dengan cara ini pengangkatan/tingginya di tingkatan pendidikan meningkat/kan semua efisiensi faktor produksi. sekunder Keuntungan-Keuntungan pengajaran juga membantu ke arah menjelaskan aspek yang penting dari hubungan antar[a] [modal/ibukota] phisik dan pertumbuhan ekonomi.

    Teori yang sebelumnya tentang pertumbuhan yang didukung hasil [modal/ibukota] yang marginal itu mengurangi dengan akumulasi modal, sebab efisiensi ber/kurang dan [itu] menurunkan tingkat tarip pertumbuhan ekonomi.

    Bagaimanapun banyak negara-negara dengan akumulasi modal sudah mencapai daftar biaya pengiriman barang-barang yang tinggi tentang pertumbuhan dan 6 sudah mendukung itu. Model ini menunjukkan bagaimana hasil penyusutan [modal/ibukota] yang marginal sedang mengganti-rugi di ukuran yang tertentu oleh peningkatan dari menghasilkan efisiensi pendidikan yang diterima di sekolah.

    Negara teori modal manusia yang individu perbedaan di produktivitas dan ketrampilan menjelaskan perbedaan di nafkah ke seberang individu. Periode waktu yang lebih panjang ketrampilan dapat menyediakan suatu hasil, semakin mungkin perorangan pilih untuk menanam modal dalam modal manusia. Menurunkan biaya-biaya dari investasi modal manusia, semakin mungkin perorangan pilih untuk menanam modal dalam modal manusia. Jika individu adalah pasien, kemudian individu akan lebih mungkin terlibat dalam investasi modal manusia. Peluang yang lain yang lebih buruk, semakin mungkin individu akan pilih investasi. Oleh karena itu model modal manusia menyediakan meyakinkan penjelasan mengapa beberapa para pekerja mendapat lebih dari (orang) yang lain. [Sebagai/Ketika/Sebab] para pekerja memperoleh lebih banyak ketrampilan melalui/sampai modal manusia.

    Di konteks ini kita mencoba untuk meneliti hubungan yang empiris antar per kapita tingkatan modal manusia dan laju pertumbuhan ( menggunakan [sebagai/ketika/sebab] variabel wakil: utama, sekunder dan pendaftaran sekolah menengah).

    Mengikuti metodologi dari Barro ( 1995) negara-negara yang terpilih dibandingkan di suatu studi potongan melintang yang internasional. Kita membuat lima kemunduran yang menggunakan GDP per kapita laju pertumbuhan sebagai variabel bergantung dan variabel: tingkat GDP per kapita di 1965, tingkat pendidikan yang diterima di sekolah utama, sekunder dan yang lebih tinggi di tahun 1965, pengharapan hidup, tingkat kesuburan dan variabel imitasi/tiruan [sebagai/ketika] regressors.

    Sebab heterocedasticas bisa jadilah suatu masalah yang umum di analisa panampang-lintang, kemunduran telah selesai menggunakan metoda paling sedikit yang biasa yang bujur sangkar yang disesuaikan untuk Perjanjian heterocedasticas yang putih

    Sumber : https://dspace.widyatama.ac.id

  3. Ipuk Kurnia I. said

    Ipuk Kurnia I.
    Pend. Tata Busana ’07 Reg.
    5525072522

    Pola Konsumsi Yang Islami

    Dengan memperhatikan keterbatasan sumber pembiayaan, sebuah rumah-tangga
    dalam memenuhi kebutuhannya dihadapkan dengan berbagai pilihan. Pilihan-pilihan ini
    dapat berupa kombinasi tingkat konsumsi antara barang pertanian dan industri, atau
    antara konsumsi saat ini dan saat mendatang. Kombinasi dari dua macam barang
    (termasuk jasa) yang memberikan tingkat kepuasan yang sama digambarkan oleh Pareto
    dalam kurva indiferensi (indifference curve), yaitu kurva yang berbentuk garis lengkung
    yang mewakili kombinasi dari dua macam barang. Sedangkan keterbatasan sumber
    pembiayaan diwakili oleh keterbatasan pendapatan digambarkan dalam garis anggaran
    (budget line). Oleh karena itu pencapaian maksimum utility/kepuasan dari sebuah rumahtangga tergantung bagaimana sebuah rumah-tangga menentukan pilihannya dengan
    memperhatikan anggaran yang dimilikinya. Menurut Pareto, kepuasan maksimum akan
    dicapai pada saat garis anggaran (A) bersinggungan dengan kurva indiferensi (I), dalam hal ini pada titik E (Gambar: Kurva Indiferensi dan Garis Anggaran). Area dibawah garis
    anggaran adalah feasible area atau area yang mewakili kombinasi-kombinasi kedua
    barang yang dapat dicapai oleh sebuah rumah-tangga.
    Dengan menggunakan kurva indiferensi yang dikembangkan oleh Pareto sebuah
    rumah-tangga memenuhi kebutuhan akan barang-1 dan barang-2 dengan memperhatikan
    anggaran yang dimilikinya. Berdasarkan Pareto, barang-1 dan barang-2 merupakan barangbarang yang dibutuhkan oleh rumah-tangga saat ini pada waktu mereka hidup di dunia fana tanpa mempertimbangkan kehidupan setelah mati (the hereafter). Sedangkan bagi rumah- tangga Muslim, pencapaian maksimum utility, tidak hanya mempertimbangkan barang-barang yang dikonsumsi saat ini dan langsung dirasakan saat
    ini, namun juga mempertimbangkan konsumsi barang-barang saat ini yang dapat dirasakan manfaatnya saat ini maupun dibelakang hari setelah mati. Oleh karena itu kurva indiferensi dalam rumah-tangga Muslim merupakan kombinasi dari barang-1 (merupakan barang-barang yang dikonsumsi saat ini dan manfaatnya dapat dirasakan sekarang maupun dibelakang hari) dan barang-2 (merupakan barang yang dikonsumsi saat ini dan juga dirasakan manfaatnya saat hidup di dunia ini). Dalam pembahasan ini pengertian konsumsi tidak terbatas pada pengertian bahwa konsumsi sesuatu barang hanya untuk kepentingan jangka pendek atau kenikmatan sesaat, namun konsumsi dalam makalah ini juga dapat berarti investasi, yaitu kegiatan yang dapat membawa nilai tambah pada kehidupan di dunia maupun di alam baqa.
    Dalam melakukan kegiatan konsumsi sebuah rumah-tangga harus menentukan
    skala prioritas berdasarkan jenis barang yang akan dikonsumsi. Al-Ghazali and Al-Shatibi (Zarqa, 1976) berpendapat bahwa berdasarkan Al Qur’an dan Hadist ada tiga hierarkhi kegiatan yang dilakukan umat Islam dalam mencapai utility yang diinginkan, yaitu Necessities (kegiatan-kegiatan yang mengamankan berlangsungnya kegiatan keagamaan, kehidupan, kebebasan berpikir, keturunan dan pencapaian kekayaan) Conveniences (kegiatan-kegiatan yang memudahkan pelaksanaan kegiatan pertama) dan Refinements (kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan asesori hidup). Dengan mengacu pada penggolongan yang diajukan oleh kedua ulama tersebut, maka dalam tulisan ini jenis barang-2 dibagi dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut:
    1. Kebutuhan dasar atau basic needs / necessities yang menentukan kelangsungan hidup
    manusia, seperti makanan, sandang dan perumahan.
    2. Kebutuhan sekunder adalah barang-barang yang memudahkan kehidupan, tanpa
    barang ini manusia masih dapat hidup, seperti pendidikan, mobil, komputer, dan lainlain.

    3. Kebutuhan tertier adalah barang-barang yang merupakan asesori hidup seperti sound
    system, compact disc dan lain-lain serta juga ketenteraman/kebahagiaan di hari tua.

    Tingkat pendapatan awal sebuah rumah-tangga sangat ditentukan oleh alokasi dana untuk investasi sumber daya manusia yang dilakukan oleh orangtuanya. Dalam hal ini sampai seberapa jauh orangtua menanamkan dananya untuk kepentingan pendidikan seorang anak. Sesuai dengan human capital investment theory, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan memberikan tingkat pendapatan yang lebih baik pada bidangnya. Investasi pada sumber-daya manusia tidak hanya dalam bentuk pendidikan, namun juga dalam bentuk pengalaman kerja dan kesehatan. Dengan ketiga bentuk investasi ini, diharapkan sebuah rumah-tangga dapat meningkatkan pendapatannya.

    Sumber :http://www.vibiznews.com/

  4. investasi modal manusia (human capital investment)
    Di negara-negara maju, pendidikan selain sebagai aspek konsumtif juga
    diyakini sebagai investasi modal manusia (human capital investment) dan menjadi
    “leading sector” atau salah satu sektor utama. Seperti yang dikemukakan oleh
    Todaro dan Smith (2003) bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan tujuan
    pembangunan yang mendasar yang keduanya merupakan bentuk dari modal
    manusia (human capital) yang menjadi fundamental untuk membentuk kapabilitas
    manusia yang lebih luas yang berada pada inti makna pembangunan. Kesehatan
    merupakan inti dari kesejahteraan dan pendidikan adalah hal yang pokok untuk
    menggapai kehidupan yang memuaskan dan berharga. Menurut Suharto (2005)berkembangnya kemampuan intelektual, emosional dan spiritual manusia yang
    memungkinkan mereka mampu menjalankan peran-peran sosial secara memadai
    dalam kehidupannya merupakan kata kunci dari peningkatan modal manusia
    (human capital). Oleh karena perhatian pemerintah terhadap pembangunan sektor
    pendidikan dan kesehatan harus dilakukan sungguh-sungguh, misalnya ada
    komitmen politik yang tinggi untuk menyediakan anggaran sektor pendidikan dan
    kesehatan tidak kalah dengan sektor lainnya, sehingga keberhasilan investasi
    pendidikan berkorelasi dengan kemajuan pembangunan makronya.
    Dalam teori pembangunan konvensional, memang masalah SDM belum
    mendapat perhatian secara proporsional. Teori pembangunan konvensional masih
    meyakini bahwa sumber pertumbuhan ekonomi itu terletak pada konsentrasi
    modal fisik (physical capital) yang diinvestasikan dalam suatu proses produksi
    seperti pabrik dan alat-alat produksi. Modal fisik termasuk pula pembangunan
    infrastruktur seperti transportasi, komunikasi, dan irigasi untuk mempermudah
    proses transaksi ekonomi. Namun, belakangan terjadi pergeseran teori pembangunan,
    bahwa yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi justru faktor modal
    manusia (human capital) yang bertumpu pada pendidikan. Pergeseran teori ini
    terjadi bersamaan dengan pergeseran paradigma pembangunan, yang semula
    bertumpu pada kekuatan sumber daya alam (natural resource based), kemudian
    berubah menjadi bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia (human resource
    based) atau lazim pula disebut knowledge based economy. Pergeseran paradigma
    ini makin menegaskan bahwa aspek SDM bernilai sangat strategis dalam
    pembangunan (Alhumami, 2005)
    Pada era globalisasi seperti sekarang ini perhatian terhadap modal manusia
    semakin tinggi terkait dengan perkembangan dalam ilmu ekonomi pembangunan
    dan sosiologi. Para ahli kedua bidang tersebut umumnya sepakat pada satu hal,
    yakni modal manusia berperan secara signifikan, bahkan lebih penting daripada
    faktor teknologi, dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Modal manusia (human
    capital) tersebut tidak hanya menyangkut kuantitas tetapi juga kualitas.

  5. investasi modal manusia (human capital investment)
    Di negara-negara maju, pendidikan selain sebagai aspek konsumtif juga
    diyakini sebagai investasi modal manusia (human capital investment) dan menjadi
    “leading sector” atau salah satu sektor utama. Seperti yang dikemukakan oleh
    Todaro dan Smith (2003) bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan tujuan
    pembangunan yang mendasar yang keduanya merupakan bentuk dari modal
    manusia (human capital) yang menjadi fundamental untuk membentuk kapabilitas
    manusia yang lebih luas yang berada pada inti makna pembangunan. Kesehatan
    merupakan inti dari kesejahteraan dan pendidikan adalah hal yang pokok untuk
    menggapai kehidupan yang memuaskan dan berharga. Menurut Suharto (2005)berkembangnya kemampuan intelektual, emosional dan spiritual manusia yang
    memungkinkan mereka mampu menjalankan peran-peran sosial secara memadai
    dalam kehidupannya merupakan kata kunci dari peningkatan modal manusia
    (human capital). Oleh karena perhatian pemerintah terhadap pembangunan sektor
    pendidikan dan kesehatan harus dilakukan sungguh-sungguh, misalnya ada
    komitmen politik yang tinggi untuk menyediakan anggaran sektor pendidikan dan
    kesehatan tidak kalah dengan sektor lainnya, sehingga keberhasilan investasi
    pendidikan berkorelasi dengan kemajuan pembangunan makronya.
    Dalam teori pembangunan konvensional, memang masalah SDM belum
    mendapat perhatian secara proporsional. Teori pembangunan konvensional masih
    meyakini bahwa sumber pertumbuhan ekonomi itu terletak pada konsentrasi
    modal fisik (physical capital) yang diinvestasikan dalam suatu proses produksi
    seperti pabrik dan alat-alat produksi. Modal fisik termasuk pula pembangunan
    infrastruktur seperti transportasi, komunikasi, dan irigasi untuk mempermudah
    proses transaksi ekonomi. Namun, belakangan terjadi pergeseran teori pembangunan,
    bahwa yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi justru faktor modal
    manusia (human capital) yang bertumpu pada pendidikan. Pergeseran teori ini
    terjadi bersamaan dengan pergeseran paradigma pembangunan, yang semula
    bertumpu pada kekuatan sumber daya alam (natural resource based), kemudian
    berubah menjadi bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia (human resource
    based) atau lazim pula disebut knowledge based economy. Pergeseran paradigma
    ini makin menegaskan bahwa aspek SDM bernilai sangat strategis dalam
    pembangunan (Alhumami, 2005)
    Pada era globalisasi seperti sekarang ini perhatian terhadap modal manusia
    semakin tinggi terkait dengan perkembangan dalam ilmu ekonomi pembangunan
    dan sosiologi. Para ahli kedua bidang tersebut umumnya sepakat pada satu hal,
    yakni modal manusia berperan secara signifikan, bahkan lebih penting daripada
    faktor teknologi, dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Modal manusia (human
    capital) tersebut tidak hanya menyangkut kuantitas tetapi juga kualitas.

    sumber :www.damandiri.or.id

  6. Lutfi Mutiah
    Pend. Tata Busana S1 Reg 2007
    5525072532

    investasi modal manusia (human capital investment)
    Di negara-negara maju, pendidikan selain sebagai aspek konsumtif juga
    diyakini sebagai investasi modal manusia (human capital investment) dan menjadi
    “leading sector” atau salah satu sektor utama. Seperti yang dikemukakan oleh
    Todaro dan Smith (2003) bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan tujuan
    pembangunan yang mendasar yang keduanya merupakan bentuk dari modal
    manusia (human capital) yang menjadi fundamental untuk membentuk kapabilitas
    manusia yang lebih luas yang berada pada inti makna pembangunan. Kesehatan
    merupakan inti dari kesejahteraan dan pendidikan adalah hal yang pokok untuk
    menggapai kehidupan yang memuaskan dan berharga. Menurut Suharto (2005)berkembangnya kemampuan intelektual, emosional dan spiritual manusia yang
    memungkinkan mereka mampu menjalankan peran-peran sosial secara memadai
    dalam kehidupannya merupakan kata kunci dari peningkatan modal manusia
    (human capital). Oleh karena perhatian pemerintah terhadap pembangunan sektor
    pendidikan dan kesehatan harus dilakukan sungguh-sungguh, misalnya ada
    komitmen politik yang tinggi untuk menyediakan anggaran sektor pendidikan dan
    kesehatan tidak kalah dengan sektor lainnya, sehingga keberhasilan investasi
    pendidikan berkorelasi dengan kemajuan pembangunan makronya.
    Dalam teori pembangunan konvensional, memang masalah SDM belum
    mendapat perhatian secara proporsional. Teori pembangunan konvensional masih
    meyakini bahwa sumber pertumbuhan ekonomi itu terletak pada konsentrasi
    modal fisik (physical capital) yang diinvestasikan dalam suatu proses produksi
    seperti pabrik dan alat-alat produksi. Modal fisik termasuk pula pembangunan
    infrastruktur seperti transportasi, komunikasi, dan irigasi untuk mempermudah
    proses transaksi ekonomi. Namun, belakangan terjadi pergeseran teori pembangunan,
    bahwa yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi justru faktor modal
    manusia (human capital) yang bertumpu pada pendidikan. Pergeseran teori ini
    terjadi bersamaan dengan pergeseran paradigma pembangunan, yang semula
    bertumpu pada kekuatan sumber daya alam (natural resource based), kemudian
    berubah menjadi bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia (human resource
    based) atau lazim pula disebut knowledge based economy. Pergeseran paradigma
    ini makin menegaskan bahwa aspek SDM bernilai sangat strategis dalam
    pembangunan (Alhumami, 2005)
    Pada era globalisasi seperti sekarang ini perhatian terhadap modal manusia
    semakin tinggi terkait dengan perkembangan dalam ilmu ekonomi pembangunan
    dan sosiologi. Para ahli kedua bidang tersebut umumnya sepakat pada satu hal,
    yakni modal manusia berperan secara signifikan, bahkan lebih penting daripada
    faktor teknologi, dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Modal manusia (human
    capital) tersebut tidak hanya menyangkut kuantitas tetapi juga kualitas.

    sumber :www.damandiri.or.id

  7. MARIA HARAHAP said

    MARIA HARAHAP
    PEND. TATA BUSANA ’07
    5525072520

    Human Capital investmen

    A. Kiat Menjadi Pemimpin Efektif
    Menjadi pemimpin yang efektif tidaklah mudah. Perlu upaya dan pendekatan agar bawahan dapat dengan suka rela mendukung efektivitas Anda. Bagaimana caranya?
    Para pakar manajemen sumber daya manusia sering mengungkapkan bahwa pemimpin efektif adalah pemimpin yang dapat mempengaruhi bawahannya secara positif sehingga bawahan dengan senang hati mau dan mampu bekerja sama untuk pencapaian tujuan bersama. Meski pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, sejatinya masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi efektifitas seorang pemimpin, yakni sikap bawahannya.
    Bawahan yang efektif adalah bawahan yang dapat memahami pemimpinnya secara positif sehingga pemimpin dengan senang hati mau dan mampu bekerja sama untuk pencapaian tujuan bersama. Setidaknya ada empat faktor yang mempengaruhi seseorang untuk menjadi bawahan yang efektif. Pertama adalah sikap proaktif. Bawahan yang proaktif adalah bawahan yang bertanggungjawab, tidak hanya menunggu perintah dari pemimpin dan mampu melakukan prioritas kerja. Intinya, bawahan proaktif adalah bawahan yang mampu bekerja secara mandiri.
    Kedua, berpikir kritis. Bawahan yang baik tidak berarti ‘nurut’ saja apa kemauan dari pimpinan. Berpikir kritis sangat dibutuhkan untuk memahami secara jelas apa kemauan pemimpin. Tujuan yang telah disepakati pemimpin dan bawahan akan mempermudah bawahan dalam mengimplementasikan tindakan-tindakannya.
    Ketiga, asertif yakni keberanian untuk berkata ‘tidak’. Hal ini memang sulit dilakukan oleh bawahan. Tapi keberanian untuk berkata ‘tidak’ dengan disertai alasan jelas memang harus dilakukan bila keasertifan tersebut mendukung nilai-nilai yang dianut oleh organisasi. Sedangkan faktor keempat adalah menghargai perbedaan. Seperti pemimpin, bawahan juga perlu menghargai perbedaan yang timbul dari hubungannya dengan pemimpin. Bila pendapat mereka dianggap tidak relevan, kemukakan alasan yang masuk akal.
    Adapun bagi pemimpin, ada beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitasnya, yaitu:
    Komitmen
    Salah satu ukuran efektif tidaknya seorang pemimpin ditunjukkan oleh komitmennya terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi. Tujuan organisasi biasanya ditunjukkan dengan visi yang ingin dicapai perusahaan baik dalam jangka pendek (2-5 tahun) maupun jangka panjang (5-10 tahun). Sedangkan nilai-nilai organisasi ditunjukkan dengan perilaku/ tindakan yang perlu dilakukan dalam mencapai tujuan organisasi tersebut.
    Integritas
    Integritas merupakan kesesuaian tindakan pemimpin dengan prinsip atau paham yang dianut perusahaan. Konsistensi integritas ini penting mengingat organisasi adalah kumpulan karyawan yang memilih karakteristik beda tapi memiliki tujuan dan nilai yang sama.
    Motivasi
    Selain memotivasi diri sendiri, pemimpin juga perlu memotivasi bawahan dalam melakukan pekerjaannya. Seorang pemimpin, tanpa dukungan bawahan tidak akan pernah mencapai tujuan perusahaan. Disini peran pemimpin adalah menunjukkan dukungan dan respek terhadap apa yang telah dilakukan bawahan.
    Menghargai Perbedaan
    Menghargai perbedaan adalah salah satu tindakan yang paling sulit dilakukan oleh seorang pemimpin. Hal yang perlu disadari adalah bahwa tidak semua ‘kemauan’ pemimpin benar. Oleh karena itu, pendapat dari bawahan adalah penting untuk didengarkan. Bila pendapat mereka dianggap tidak relevan, kemukakan alasan yang masuk akal. Namun bila pendapat mereka benar, harus pula diakui kebenarannya.
    Pakar psikologi sumber daya manusia, Zainun Mu’tadin, Spsi., Msi., dalam sebuah ulasan di e-psikologi.com menyatakan bahwa permasalahan yang seringkali dialami para supervisor / manager atau atasan, bukanlah terletak pada kemampuan teknis dalam mengerjakan tugas di lapangan tetapi lebih pada kemampuan managerial untuk membangun semangat kerja para bawahannya. Artinya para supervisor / manager baru tersebut banyak yang tidak siap ketika diberikan tanggung jawab membimbing, melatih, memotivasi dan menilai kinerja para bawahannya.
    Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, Zainun memberikan beberapa tips sebagai berikut:
    Jadilah Pendengar yang Baik
    Carl Rogers, seorang pakar di bidang psikologi, pernah berkata bahwa penghalang yang terbesar untuk melakukan komunikasi pribadi adalah ketidaksanggupan seseorang untuk mendengarkan dengan baik, dengan penuh pengertian dan perhatian kepada orang lain. Jika anda diberi tugas untuk membimbing dan melatih seseorang maka hal ini merupakan salah satu hal terpenting yang harus diingat.
    Ketika anda sedang berbicara dengan bawahan anda jagalah agar anda tidak terlalu banyak bicara, melainkan lebih banyak mendengarkan keluhan dan masukan dari bawahan anda. Kesediaan untuk mendengar akan memberi kesempatan kepada bawahan untuk mengutarakan keinginan dan pendapatnya.
    Dengan mendengar berarti anda memperhatikannya, anda mempunyai suatu perhatian yang konstruktif mengenai masalah yang dihadapi olehnya, di mana mungkin anda selaku atasan mempunyai alternatif solusi yang dibutuhkan orang tersebut.
    Dengan demikian akan tercipta rasa aman dan nyaman sehingga bawahan anda lebih mau terbuka terhadap saran-saran yang diberikan. Selain itu mendengarkan seseorang yang secara bebas berbicara tentang dirinya sendiri merupakan jalan terbaik untuk mengenal lebih jauh siapa lawan bicara kita tersebut. Meskipun demikian mendengarkan tidaklah selalu berarti bahwa anda percaya terhadap segala yang anda dengar. Tentu saja untuk dapat menjadi pendengar yang baik dibutuhkan kesabaran dan kerendahan hati.
    Kita sering melakukan kesalahan dalam menginterpretasi dan menilai hasil kerja seseorang sebagai akibat dari suatu pandangan dan pengetahuan yang dangkal sekali tentang pekerjaan orang tersebut. Seringkali kita menjumpai seorang atasan yang mengharapkan bawahannya melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan kapasitasnya. Jika mengambil perumpamaan hal tersebut adalah ibarat mengharapkan pohon mangga menghasilkan buah durian. Mustahil bukan? Akibatnya tidak sedikit bawahan yang menjadi frustrasi dan bahkan tidak “respect” terhadap atasan karena atasan demikian dinilai tidak tahu apa pekerjaan bawahannya sebenarnya (padahal ia seharusnya tahu).
    Jika anda adalah seorang atasan maka sudah seharusnya anda mengetahui apa yang wajib dan baik untuk dikerjakan atau diselesaikan bawahan anda. Anda juga harus dapat mengetahui secara pasti apakah bawahan anda mengerjakan tugas dengan suatu cara atau jalan yang aman yang dapat diterima oleh perusahaan. Jika ternyata bawahan anda dapat menyelesaikan tugas-tugas dengan cara-cara yang dapat diterima tetapi tidak sesuai dengan cara anda, maka sedapat mungkin biarlah ia menggunakan cara tersebut.
    Jangan cepat-cepat mengkritik atau pun memaksanya untuk melakukan menurut cara anda. Sebaliknya jika ia temyata tidak dapat menyelesaikan tugasnya, maka anda perlu melakukan suatu perubahan. Langkah awal dalam melakukan perubahan tersebut adalah dengan membuat suatu persetujuan antara anda dan bawahan mengenai hal-hal yang mendasar dari pekerjaan tersebut.

    Sebuah pelatihan merupakan suatu investasi, oleh karena itu sudah sewajarnya jika ROI dari suatu pelatihan harus dapat diukur. Untuk menghitung ROI maka pertama-tama harus dievaluasi seberapa besar biaya dan keuntungan yang akan diperoleh dari suatu pelatihan.

    b. Menghitung Biaya
    Langkah pertama yang harus dilakukan dalam rangka mengukur ROI suatu pelatihan adalah dengan menghitung biaya pelatihan, yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
    1. Desain dan Pengembangan
    Untuk dapat menghasilkan suatu program pelatihan yang baik maka harus melewati tahapan-tahapan tertentu. Salah satu tahapan tersebut adalah perancangan dan pengembangan yang matang, termasuk mengukur kebutuhan pelatihan. Pada tahapan ini tidak jarang penyelenggara (baca: training coordinator/manager) membutuhkan bantuan atau konsultasi dengan pihak lain (cth: konsultan) sehingga membutuhkan biaya dan waktu. Selain itu untuk mengembangkan materi pelatihan mungkin dibutuhkan serangkaian penelitian atau observasi dan analisis. Semua hal ini tentu membutuhkan biaya.
    2. Promosi
    Dalam banyak kasus, suatu pelatihan membutuhkan waktu untuk diterima oleh karyawan atau pihak manajemen. Dengan perkataan lain, sebelum dilaksanakan maka pelatihan tersebut terlebih dahulu harus diperkenalkan atau disosialisasi kepada seluruh karyawan yang ada dalam perusahaan. Untuk melaksanakan hal tersebut seringkali pihak penyelenggara pelatihan (divisi pelatihan & pengembangan/HRD) harus mengadakan pertemuan dengan manager dari divisi lain atau bahkan harus melakukan perjalanan ke luar kota/luar negeri. Tentu saja biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan tersebut harus dihitung dengan seksama.
    3. Administrasi
    Termasuk dalam biaya administrasi adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan administrasi, misalnya surat menyurat, telepon, pembuatan formulir, buku absen, dan biaya administrasi atau pendaftaran yang dibebankan kepada peserta (jika diperlukan).
    4. Material
    Pada umumnya dalam setiap pelatihan materi telah disusun sedemikian rupa dalam satu buku atau bundel sehingga lebih memudahkan peserta dalam mengikuti pelatihan. Materi tersebut bisa berupa buku panduan (manual) atau buku kerja (worksheet)
    5. Fasilitas
    Fasilitas yang digunakan dalam pelatihan dapat berupa sewa ruangan, media pelatihan (alat peraga, peralatan audio-video, OHP/ LCD proyektor, dll), atau pun fasilitas-fasilitas lain yang secara khusus disediakan demi kelancaran pelatihan.
    6. Fakultatif
    Termasuk dalam kategori biaya ini adalah semua biaya yang berhubungan dengan pelaksanaan pelatihan, baik yang dilaksanakan dengan bantuan instruktur / pelatih / fasilitator langsung maupun pelatihan yang dilaksanakan oleh si peserta sendiri (pelatihan secara online, workbook, dan sebagainya).
    7. Peserta
    Ketika karyawan harus mengikuti pelatihan pada jam-jam kerja, maka hal itu harus dikalkulasikan dengan seksama sebab ketika mengikuti pelatihan maka si karyawan berhenti dari kegiatannya. Dengan kata lain selama pelatihan maka karyawan kehilangan peluang untuk memberikan kontribusi pada perusahaan (cth: salesman tidak akan menemukan klien baru) sementara di lain pihak perusahaan tetap harus membayar gajinya secara penuh. Selain itu, jika pelatihan dilaksanakan di tempat lain (bukan dalam perusahaan) maka biaya-biaya yang dikeluarkan oleh peserta seperti transportasi, akomodasi dan lain-lain juga harus tetap dihitung.
    8. Evaluasi
    Untuk melakukan evaluasi pelatihan mungkin digunakan berbagai cara sehingga mau tidak mau pasti akan membutuhkan sejumlah dana. Dana ini harus dapat dihitung secara jelas mulai dari persiapan evaluasi sampai pada pembuatan laporan.
    Menghitung Keuntungan
    Meskipun termasuk sulit namun jika ingin program pelatihan disetujui oleh pihak manajemen maka seorang training manager harus mampu membuat estimasi keuntungan finansial dari program pelatihan. Sebagai dasar dalam menghitung keuntungan finansial dari suatu pelatihan, seorang training manager dapat menggunakan salah satu indikator di bawah ini:
    Peningkatan Produktivitas
    Untuk dapat mengetahui adanya suatu peningkatan produktivitas maka perusahaan harus terlebih dahulu memiliki alat untuk mengevaluasi kinerja (Performance Appraisal). Dalam hal ini maka output (hasil) yang diharapkan untuk dimiliki oleh peserta training harus sudah tersusun secara rinci sehingga akan lebih mudah untuk dilakukan evaluasi. Beberapa hal yang menjadi indikator adanya peningkatan produktivitas karyawan, misalnya: perbaikan metode atau prosedur kerja sehingga menjadi lebih efisien, peningkatan ketrampilan sehingga membuat pekerjaan diselesaikan dengan cepat dan tepat, peningkatan motivasi kerja sehingga mau melakukan berbagai upaya untuk mencapai keberhasilan.
    Penghematan biaya
    Penghematan biaya yang merupakan hasil dari suatu pelatihan bisa dihitung dari beberapa hal seperti: berkurangnya alat-alat kerja / mesin yang rusak sehingga bisa menghemat biaya pemeliharaan, berkurangnya biaya kerja (Cth: pengurangan jumlah karyawan karena satu karyawan dapat mengerjakan tugas secara efisien bahkan mungkin bisa multitasking, akses informasi menjadi lebih mudah dan cepat sehingga usaha yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan suatu tugas relatif sedikit) sehingga dana yang harus dikeluarkan menjadi lebih kecil, serta menurunnya jumlah turnover sehingga biaya rekrutmen dan pelatihan dapat dikurangi.
    Pendapatan
    Untuk beberapa jabatan mungkin akan dapat dengan mudah mengukur pendapatan finansial yang diperolehnya sebagai hasil dari pelatihan yang diikutinya. Seringkali pendapatan tersebut merupakan bagian dari penilaian yang mengukur peningkatan produktivitas. Namun jika ingin dirinci lebih lanjut maka peningkatan pendapatan dapat dilihat dari keberhasilan memenangkan tender sehingga berpengaruh pada peningkatan penjualan Peningkatan jumlah penjualan yang merupakan hasil referal dari karyawan non-sales dan gagasan-gagasan baru yang akhirnya melahirkan produk baru yang dapat membawa kesuksesan pada perusahaan.
    Return on investment (pengembalian keuntungan investasi) biasanya.dinyatakan dalam bentuk prosentase. Prosentase tersebut menunjukkan pengembalian investasi yang mungkin diperoleh dalam jangka waktu tertentu sebagai hasil dari pelatihan. Dari informasi tentang biaya dan keuntungan yang mungkin diperoleh dari suatu pelatihan, maka diperoleh rumus penghitungan prosentase ROI sebagai berikut: ROI (%) = (Keuntungan Bersih Program/Biaya Program) x 100.
    Cara lain untuk mengukur ROI adalah dengan menghitung berapa lama (bulan) jangka waktu yang dibutuhkan agar biaya yang telah diinvestasikan untuk pelatihan menjadi impas. Artinya biaya tersebut telah berhasil ditutup (diimbangi) dengan keuntungan yang diperoleh. Cara ini biasanya disebut dengan istilah jangka waktu pengembalian biaya (payback period). Dengan cara ini, pihak manajemen akan lebih mudah melihat berapa lama dana yang diinvestasikan untuk pelatihan akan kembali dan menghasilkan keuntungan sehingga kemungkinan untuk menerima usulan pengadaan program pelatihan menjadi semakin besar.
    Contoh Pengukuran ROI:
    PT. XYZ yang bergerak di bidang jasa perbankan akan mengadakan suatu pelatihan bagi para customer service dengan durasi pelatihan selama 48 jam, jumlah peserta 50 orang dan jangka waktu penghitungan keuntungan adalah 12 bulan.
    ROI (%) = (Rp 90.000.000/Rp 58.000.000) x 100 = 155%
    Rp 90.000.000 / 12 = Rp 7.500.000 (keuntungan bulanan), maka jangka waktu pengembalian adalah:Rp 58.000.000 / 7.500.000 = 7,73 bulan (dibulatkan menjadi 7 bulan).
    Dengan melihat perhitungan diatas, tentu saja akan sulit dilakukan jika sang training manager/training coordinator tidak bekerjasama dengan divisi atau departemen lain. Oleh karena itu seorang training manager hendaknya juga memiliki kemampuan interpersonal lrelationship yang baik, selain memahami tentang masalah-masalah finansial.
    Dengan memandang bahwa pelatihan merupakan suatu investasi dan bukan lagi sekedar pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh perusahaan secara rutin (dalam kondisi ekstrim bahkan hanya sebagai sarana untuk menghabiskan dana yang telah dianggarkan), maka diharapkan pihak manajemen dan rekan kerja dari divisi lain akan lebih mudah memahami hubungan antara pelatihan dengan keuntungan yang akan diperoleh.
    Dengan penggunaan teknik pengukuran ROI diharapkan pandangan-pandangan negatif dari sebagian orang (BOD atau Manager) bahwa pelatihan merupakan suatu kegiatan yang tidak signifikan (lebih sebagai pelengkap dalam perencanaan anggaran/budget) lambat laun akan berubah.
    Dengan kondisi demikian maka semboyan bahwa “SDM merupakan aset terbesar dari perusahaan” (ini seringkali dinyatakan oleh para senior manager / BOD) bukan lagi hanya sebagai “lip service” semata, tetapi benar-benar dapat dibuktikan dengan memberikan pelatihan dan pengembangan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Semoga.
    Sumber: Majalah Human Capital No. 22 | Januari 2006
    C. Mengenali Penyebab Kegagalan
    No. 13 – April 2005
    Banyak orang yang dihantui oleh takut gagal dalam mengerjakan sesuatu. Sering pula orang trauma dengan kegagalan sehingga membuat mereka gagal betulan. Menurut Napoleon Hills dalam bukunya Think and Grow Rich, sikap takut gagal itu sangat keliru. “Tidak orang yang sukses tanpa mengalami kegagalan terlebih dulu,” ucapnya. Contohnya, Thomas Alfa Edison, penemu terbesar dalam sejarah dengan 1.000 penemuannya. Ia gagal 10.000 kali membuat bola lampu sebelum akhirnya menemukan formula yang tepat.
    Einstein pun pernah tinggal kelas dan tidak lulus ujian sekolah sebelum menjadi ahli fisika ternama. Begitu pula Abraham Lincoln, yang sering disebut-sebut sebagai “jawara gagal”. la gagal berbisnis dalam usia 21 tahun. Kegagalannya berlanjut saat pemilihan anggota legislatif, US Congress, dan kematian tunangannya. Terus ia kalah dalam pemilihan wakil presiden dan Senat. Toh akhirnya Lincoln terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat dalam usia 52 tahun. Ia termasuk Presiden Amerika yang paling dihormati karena jasa-jasanya.
    Kesimpulannya, kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda. Oleh sebab itu, jangan pernah takut dengan kegagalan atau kekalahan. Semuanya itu harus menjadi cambuk bagi Anda untuk bekerja dan berusaha lebih baik lagi. Napoleon Hills berpendapat, risiko kegagalan bisa ditekan jika kita bisa mengenali penyebab kegagalan tersebut.
    1.Tujuan hidup yang tidak jelas. Setiap manusia hidup harus memiliki tujuan. Jika tujuan hidup Anda ke satu arah tertentu, maka persiapkan diri untuk berjalan menuju ke arah itu. Kalau tujuan hidup Anda tidak jelas, Anda semakin dekat dengan kegagalan. Bagaimana mungkin Anda bisa mencapai satu tujuan kalau alamatnya saja Anda tidak tahu, dan Anda tidak berusaha mencari tahu?
    2. Kurang berambisi. Ambisi penting untuk menambah semangat Anda mencapai tujuan hidup. Apabila Anda kurang berambisi, jalan Anda mencapai tujuan tersendat-sendat. Karena Anda tidak punya motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan. Jika berjalan terlalu lambat, Anda pasti menemukan kegagalan.
    3. Pendidikan tidak memadai. Di era teknologi saat ini, Anda sulit meraih sukses tanpa bekal pendidikan yang memadai. Pendidikan dapat mengasah intelegensia dan intelektual Anda, dan ia bisa mencegah Anda untuk gagal dan membantu Anda menggenggam sukses.
    4. Sikap mental negatif. Selama Anda selalu curiga dan iri hati dengan kesuksesan orang lain, jangan harap Anda bisa meraih kesuksesan yang Anda idam-idamkan. Sikap negatif akan merusak mental Anda dan menggiring Anda kepada kegagalan. Jadi, Anda harus berpikir positif tentang diri Anda dan orang lain.
    5. Kurang percaya diri. Rasa percaya diri membantu Anda menggapai tujuan. Jika Anda tidak percaya diri, Anda akan selalu ragu dalam melakukan apa saja, kendatipun sesungguhnya Anda mampu. Sehingga Anda akrab dengan kegagalan. Rasa percaya diri yang pas akan membantu Anda menghilangkan segala hambatan untuk meraih keberhasilan.
    6. Terlalu berhati-hati. Banyak keberhasilan bisa diraih karena modal nekad. Kadang, terlalu banyak pertimbangan dan hati-hati, malah membuat seseorang tertinggal dan gagal. Orang sudah sampai di garis finish, Anda baru berancang-ancang. Akibatnya Anda tertinggal jauh.

  8. ELVIRA ASMILDA said

    ELVIRA ASMILDA
    5525070364
    PENDIDIKAN TATA BUSANA(REGULER)

    human capital investman adalah investasi sumber daya manusia
    . Konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital investment) yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth), sebenarnya telah mulai dipikirkan sejak jaman Adam Smith (1776), Heinrich Von Thunen (1875) dan para teoritisi klasik lainya sebelum abad ke 19 yang menekankan pentingnya investasi keterampilan manusia.
    Theodore Schultz pada tahun 1960 yang berjudul “Investement in human capital” dihadapan The American Economic Association merupakan letak dasar teori human capital modern, dimana bahwa proses perolehan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, akan tetapi juga merupakan suatu investasi. Schultz (1960) kemudian memperhatikan bahwa pembangunan sektor pendidikan dengan manusia sebagai fokus intinya telah memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, melalui peningkatan keterampilan dan kemampuan produksi dari tenaga kerja.
    SUMBERhttp://www.google.co.id/search?hl=id&cr=countryID&client=firefox-a&channel=s&rls=org.mozilla:en-US:official&sa=X&oi=spell&resnum=0&ct=result&cd=1&q=investasi+sumber+daya+manusia(human+capital+investment)&sp

  9. Sabita Vidya W. said

    Sabita Vidya Wistara
    5525072533
    Pend. tata busana reguler

    Proses pendidikan dapat dipandang sebagai suatu kegiatan investasi modal manusia/ human capital investment, seperti kegiatan bentuk investasi yang lainnya, maka investasi pendidikan tinggi teknik mesin antara jenjang S-l Unibraw dan D-III Politeknik Negeri Malang, pada waktunya akan memiliki tingkat pengembalian investasi / internal rate of return (IRR) dan periode pengembalian investasi atau payback periods yang dapat diperhitungkan. Data yang diperlukan adalah tentang besarnya biaya pendidikan tinggi dan tingkat pendapatan alumni, diperoleh dengan menggunakan kuesioner, yang ditujukan kepada: Institusi penyelenggara pendidikan tinggi, mahasiswa dari institusi perguruan tinggi tersebut, dan alumninya yang telah bekerja. Untuk menghitung nilai periode waktu pengembalian investasi adalah dengan cara melakukan perhitungan jumlah komulatif disisi pendapatan sampai pada batas biaya pendidikan tanpa mengalikan dengan faktor pemajemukan, dengan memperhatikan tahun ke berapa jumlah komulatif tersebut dapat dipenuhi. Untuk menghitung nilai tingkat pengembalian investasi adalah dengan mengalikan dengan faktor pemajemukan sehingga mendapatkan nilai sekarang (presenth value) dari aliran kas masuk dan keluar, kemudian selisihnya adalah sama dengan not, maka dapat dicari nilai tingkat pengembalian investasi atau ERR. Sedangkan besarnya suku bunga adalah diperoleh dengan menghitung rata-rata suku bunga deposito antara tahun 1979 sampai tahun 2000 yang besarnya 15,364%. Hasil perhitungan diperoleh bahwa rata-rata kecepatan periode waktu pengembalian investasi pendidikan tinggi Teknik Mesin jenjang S-l Unibraw adalah 2,99 artinya 2 tahun 11 bulan 26 hari dan jenjang D-III Politeknik Negeri Malang adalah sebesar 2,53 artinya 2 tahun 6 bulan 11 hari. Alumni Politeknik memiliki periode waktu pengembalian investasi yang relatif lebih cepat, tetapi menurut pengujian statistik tidak dijumpai perbedaan yang nyata dari selisih ini. Sedangkan dari hasil perhitungan rata-rata besarnya tingkat pengembalian investasi (IRR), untuk jenjang S-l sebesar 9,95% dan alumni Politeknik D-III adalah sebesar 12,23%. Sehingga pendidikan tinggi jenjang Politeknik D-III, memiliki nilai tingkat pengembalian investasi (IRR), yang lebih tinggi dari alumni S-l dan hal ini dibuktikan dengan pengujian statistik. Ada satu hal yang menarik dari jenjang pendidikan S-l, walaupun secara periode waktu dan tingkat pengembalian investasi lebih kecil dari D-III, tetapi dari data diperoleh bahwa gaji awai dan gaji akhir jenjang S-l adalah lebih baik, serta stuktur jenjang karir adalah lebih baik.

    Sumber : http://www.digilib.itb.ac.id

    Kompas, August 21, 2004
    Besarkah manfaat pendidikan tinggi terhadap pembangunan ekonomi?

    Sebagian besar ekonom sepakat, sumber daya manusia dari suatu bangsa-bukan modal fisik atau sumber daya material-merupakan faktor paling menentukan karakter dan kecepatan pembangunan sosial dan ekonomi suatu bangsa bersangkutan (Todaro, 1997).

    Amich Alhumami mengungkapkan secara gamblang betapa kuatnya hubungan antara pendidikan dan pembangunan ekonomi (Kompas, 6/8/2004). Pendidikan sebagai medium bagi proses transmisi teknologi dianggap sebagai pendorong pembangunan ekonomi. Kesimpulan akhir artikel ini, secara implisit, menekankan pada pembenahan pendidikan tinggi dan meminta peran pemerintah yang lebih besar dalam alokasi pembiayaan pendidikan tinggi.

    Sebetulnya ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan saat kita berbicara tentang hubungan antara pendidikan dan pembangunan ekonomi. Pertama, kita harus melihat pendidikan sebagai suatu investasi pada modal manusia (human capital investment). Ketika kita berbicara tentang investasi, pertanyaan berikutnya adalah apakah investasi efektif dan berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.

    Biaya investasi dan hasilnya

    Studi ekonomi yang membahas hubungan pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi pada awal dasawarsa 1960-an memengaruhi banyak pembuat keputusan di negara-negara berkembang (NSB) untuk mengalokasikan lebih banyak anggaran ke bidang pendidikan. Tetapi studi-studi ini juga telah menciptakan “mitos” di tengah masyarakat kita tentang pendidikan formal.

    Percepatan dan pemerataan penyediaan pendidikan formal secara kuantitatif kerap diartikan sebagai kunci kesuksesan pembangunan ekonomi, mitos seperti inilah yang berkembang selama ini. Kecenderungan lain yang muncul di NSB, termasuk di Indonesia, antara lain pendidikan lebih dinilai sebagai status sosial ketimbang produktivitas. Masyarakat, termasuk pasar tenaga kerja, cenderung mengharapkan ijazah pendidikan lebih tinggi. Kecenderungan ini yang mendorong meningkatnya permintaan akan jenjang pendidikan tinggi (Todaro, 1997).

    Studi Psacharopoulus (1972) mengenai pembiayaan pendidikan memaparkan hal yang amat mengagetkan, di mana di NSB rata-rata biaya seorang mahasiswa setara dengan 88 kali biaya seorang siswa SD. Kenyataan ini berbeda dengan di negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Selandia Baru yang perbandingannya mencapai 17,6. Sayang, tingginya biaya pendidikan tinggi di NSB tidak diikuti secara proporsional pendapatan yang diperoleh dari seseorang lulusan perguruan tinggi (PT).

    Dengan studi yang sama ditemukan, seorang pekerja lulusan sarjana menerima pendapatan sekitar 6,4 kali pekerja lulusan SD. Meski biaya pendidikan tinggi di NSB terlihat amat mahal, hal ini tidak serta-merta dapat diartikan pemerintah perlu memberi subsidi kepada pendidikan tinggi. Sebaliknya kesenjangan yang lebar antara biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh menunjukkan adanya misalokasi sumber daya (investasi).

    Kondisi Indonesia tahun 2003 tidak sekontras itu. Dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2003 ditemukan, seorang pekerja lulusan PT memiliki pendapatan tiga kali lipat dibanding lulusan SD. Sementara itu biaya bagi seorang mahasiswa mencapai 11 kali dibanding biaya yang dikeluarkan seorang siswa SD.

    Sumber : http://www.csis.or.id

  10. novita sukma no reg : 5525078642 pend.tata busana non reguler said

    Keseimbangan dalam rumah tangga

    Pada hakikatnya, belajar ekonomi berarti belajar menyiasati keterbatasan sumber daya yang ada. Jadi, sebenarnya bukan alasan bila penghasilan seseorang terbatas kemudian mengabaikan aspek-aspek perencanaan yang baik.

    Konsumsi rumah tangga merupakan variabel yang sangat memengaruhi keseimbangan sistem ekonomi secara makro. Untuk itu, sebaiknya memperhatikan pola konsumsi yang baik dengan melakukan:

    1. Preferensi konsumsi yang baik. Setiap rumah tangga (keluarga -red) harus cermat dalam menentukan prioritas belanja mereka. Hindari belanja kagetan, apakah karena terpicu oleh rumor harga akan naik atau belanja sesuatu yang belum saatnya dibeli namun disegerakan, dengan dalih “aji mumpung”.

    2. Buatlah selalu catatan, sehingga belanja sesuai dengan apa yang dibutuhkan, bukan hanya keinginan emosional. Biasakan membuat anggaran belanja keluarga, minimal per bulan dalam 1 tahun.

    3. Ekspektasi jangka panjang terhadap keuangan.

    4. Untuk meningkatkan utilitas atau kepuasaan dalam mengonsumsi sebaiknya menekankan pada variasi atau kombinasinya, bukan menambah jumlah kuantitasnya atau item yang dibeli bertambah.

    Idealnya, setiap keluarga tanpa terhalang status dan kelas sosial memiliki budaya konsumsi dan cara pengelolaan keuangan yang baik. Kata Munandar, tidak perlu pesimis dulu bila lingkungan masyarakat pada umumnya tidak mendukung, sehingga terjadi benturan. Nilai-nilai yang tertanam pada pola asuh di keluarga masih menjadi benteng pertama dan yang paling kuat bila proses pendidikannya dilakukan dengan cara yang baik dan benar.

    http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg03248.html

  11. devianty said

    siipp trims infonya akan di coba trim

  12. “Penelitian Ekperimen”
    penelitian eksperimental merupakan penelitian untuk mengukur pengaruh suatu atau beberapa variabel terhadap variabel lain.

    tujuan:
    – konsep penelitian eksperimental
    – macam-macam variabel
    – macam-macam eksperimen

    – konsep penelitian eksperimental :
    penelitian ekperimen merupakan pendekatan penelitian kuantitatif yang paling penuh dalam arti memenuhi semua persyaratan untuk menguji hubungan sebab akibat.

    – macam-macam variabel :
    variabel bebas,variabel penyela, variabel ekstranus

    macam-macam eksperimen :
    * eksperimen murni : dalam eksperimen murni pengujian variabel bebas dan variabel terikat terhadap sampel kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
    * eksperimen kuasi : eksperimen ini disebut kuasi, karena bukan merupakan eksperimen murni tetapi murni, seolah-olah murni. eksperimen ini disebut eksperimen semu.
    * eksperimen lemah atau pra eksperimen :
    model disain eksperimen ini adalah yang paling lemah ( weak experimental ), kadang” disebut juga pra eksperimen(pre experiment ), karena sepintas modelnya seperti eksperimen tetapi bukan.
    * eksperimen subjek-tunggal :
    dalam eksperimen subjek-tunggal, subjek atau partisipannya bersifat tunggal, bisa satu orang, dua atau lebih.

    DAFTAR PUSTAKA
    Prof.Dr. Nana Syaodih Sukmadinata ” METODE PENELITIAN PENDIDIKAN “

  13. While you choose from the wide variety of auto mechanic apprenticeship
    programss in Fort Collins CO that has a family, with bills
    to pay, and therefore the sliding. Menurut tim Shine
    auto mechanic apprenticeship programs – salon mobil panggilan jakarta sebisa
    mungkin untuk mencuci mobil dan jangan pernah menggunakan air asin air laut.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: