Ilmu Kesejahteraan Keluarga

 

Materi: Pendapatan, Konsumsi, dan Menabung (Dari Berbagai Sumber)

Dosen: Shinta Doriza, S.Sos, M.S.E, M.Pd.

                 (Dosen Ilmu Kesejahteraan Keluarga-Fakultas Teknik-Universitas Negeri Jakarta)

 

Pendapatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku permintaan konsumen terhadap barang dan jasa. Hal ini dikarenakan perilaku konsumen ini didasarkan pada Teori Perilaku Konsumen yang menjelaskan bagaimana seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya, dapat membeli berbagai barang dan jasa sehingga tercapai kepuasan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Apakah Anda merasa puas atau merasa cukup dengan PENDAPATAN yang Anda peroleh dari orang tua saat ini? 

Pasti jawabannya…..Belum Puas…..

Jika PENDAPATAN sudah sangat besar, mungkin Anda mengatakan Cukup Puas….. tetapi kalau bisa ya lebih besar lagi

Wajar saja. Manusia memang tidak ada puasnya. Paling tidak, hal semacam itu dialami sebagian besar orang. 

 

Pertanyaannya: 

Apakah benar PENDAPATAN Anda saat ini tidak memuaskan atau tidak mencukupi? Apa ukurannya? 

Coba bandingkan PENDAPATAN Anda saat ini dengan, katakanlah, bulan lalu, apakah ada peningkatan? 

Asumsikan ada peningkatan, lalu kenapa Anda masih tidak puas? 

 

Sesungguhnya Cukup atau tidak cukup, puas atau tidak puas terletak pada persepsi Anda sendiri. Dengan kata lain, lebih berupa “RASA”

dan untuk menjadi menjadi puas, cukup dengan mengubah “rasa” itu, dari semula tidak puas ada baiknya menjadi puas dengan bersyukur. 

 

Tidak percaya? Lihat sekitar Anda, Tidak semuanya mengeluh jika PENDAPATANnya mungkin jauh di bawah Anda.. Bahkan banyak yang kelihatannya hidup sangat bahagia kendati tidak dalam kemewahan. 

 

Semua orang juga tahu…..Baik. Bila memang sudah tahu, bagaimana kita mengimplementasikannya sehingga selalu cukup dan penggunaannya menjadi efektif.

 

PENDAPATAN pada dasarnya merupakan pendapatan yang Anda peroleh dengan peruntukan: 

membiayai konsumsi, 

menabung, plus asuransi, 

dan investasi. 

 

Ini sudah trend di seluruh dunia. Kenapa? sebab kehidupan seseorang pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua fase, yakni: 

  1. fase produktif dan
  2. fase purnaproduktif. 

 

Jika kita berkeinginan hidup mandiri, tentu setiap orang mesti menyiapkan diri agar ketika memasuki masa purnaproduktif tetap bisa membiayai kehidupannya secara memadai. Oleh karena itulah diperlukan tabungan dan investasi masa produktif. 

 

Lalu, bagaimana mengimplementasikan konsep tersebut jika PENDAPATAN Anda terbatas? 

 

Terbatas di sini bukanlah soal cukup atau tidak cukup, tetapi kita asumsikan jumlah PENDAPATAN Anda mungkin tidak terlalu besar. 

Misalnya: PENDAPATAN Anda, berapa pun nilainya, setara dengan 100. Maka, paling sedikit 30 persennya harus dialokasikan untuk tabungan, asuransi, dan investasi. 

 

Barangkali ada di antara Anda yang protes dengan mengatakan bagaimana mau menabung, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dasar saja masih kurang. 

Anda benar bila menggunakan persepsi tersebut. Akan tetapi, bila mau hidup lebih terkelola, persepsi itu mesti diubah dengan menganggap PENDAPATAN Anda hanya 70 persen. Jumlah itulah yang menjadi pegangan Anda untuk konsumsi. Begitu prinsipnya. 

KONSUMSI

Dalam istilah ekonomi, Konsumsiadalah setiap tindakan untuk mengurangi atau menghabiskan guna ekonomi suatu benda. Misal: memakan makanan, memakai baju, mengendarai sepeda motor, menempati rumah.

Tujuan dari konsumsi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia dan memperoleh kepuasan dari pemenuhan tersebut. 

Konsumen merupakan orang, badan usaha, atau organisasi yang memakai, menggunakan, mengurangi atau menghabiskan guna ekonomi suatu benda disebut sebagai konsumen.

Teori  Konsumsi Makin tinggi pendapatan, makin banyak jumlah barang yang dikonsumsi. Sebaliknya, makin sedikit pendapatan, makin berkurang jumlah barang yang dikonsumsi. 

Setiap orang atau keluarga mempunyai skala kebutuhan yang dipengaruhi oleh pendapatan. Kondisi pendapatan seseorang akan mempengaruhi tingkat konsumsinya. 

Bila konsumsi ingin ditingkatkan sedangkan pendapatan tetap, terpaksa tabungan digunakan akibatnya tabungan berkurang. 

Misal: Anda diberikan uang saku oleh orang tuanya sebulan Rp. 100.000 maka Anda harus bisa mengatur keuangan tersebut agar cukup untuk satu bulan, mulai untuk uang transport, untuk jajan, membeli alat-alat tulis dan menyisihkan untuk menabung, diluar dari uang sekolah tentunya. 

Hal-hal yang harus dirumuskan dalam konsumsi adalah menentukan:

  1. mana konsumsi yang utama atau harus dan
  2. mana konsumsi yang sifatnya sekunder, misalnya makan di restoran. 

Nah, konsumsi yang sifatnya sekunder itu, suka-tidak suka, untuk sementara mesti dicoret dulu dari daftar pengeluaran. Mungkin ini akan menyakitkan. Akan tetapi, hanya itu yang bisa dilakukan. Dengan kata lain, jangan sekali-kali menggunakan alokasi dana untuk tabungan sebagai sumber membiayai konsumsi sekunder. 

 

SELANJUTNYA, sisa PENDAPATAN yang 30 persen tentu harus dialokasikan untuk tabungan.

 

SAVING

 

 

Dalam Islam sebagian orang mengatakan bahwa menabung sebenarnya tidak dianjurkan dalam Islam, alasannya karena tabungan sejatinya umat muslim adalah tabungan di akhirat, sedangkan tabungan dunia tidak dianjurkan

Akibat adanya tabungan akhirat ini, maka pengeluaran konsumsi menjadi semakin besar dan akibatnya tabungan menjadi kecil bahkan mendekati 0.

Ingat certita tentang NABI YUSUF  mengenai 7 ekor sapi gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi kurus….

Hal ini dapat kita artikan bahwa menabuung itu perlu, kita perlu menabung sebelum masa paceklik dalam kehidupan kita. 

Dalam keluarga ….Jika kita tidak menabung…..so what…. bagaimana dengan masa depan kita? Bagaimana dengan anak kita? 

Dalam sistem ekonomi konvensional (kapitalis) yang kita alami saat ini Masyarakat dianjurkan untuk menabung…..orang memiliki bekal di masa yang akan datang dan ada dana untuk berjaga jaga jika nanti ada pengeluaran yang tidak diduga sebelumnya. 

 

Darimana tabungan berasal …..Tabungan ini berasal dari Pendapatan dikurangi Konsumsi.

 

Hal ini dapat dirumuskan    :        Y = C + S

Dimana, Y: Income; C=Consumption; S=saving (Maaf…dalam hal ini, kita asumsikan hanya Saving)

Pemerintah selama ini selalu menganjurkan untuk meningkatkan pendapatan dengan cara mengurangi konsumsi dengan tujuan untuk meningkatkan saving

Berbagai program tabungan sejak tahun 1970-an dianjurkan. Ada Tabungan Pramuka dan Pelajar, TASKA, TABANAS yang dipelopori Bank Indonesia. ini, misalnya: Tabungan Kesra, Tabungan Tahapan, Mandiri Fiesta, Tabplus, dan ratusan bentuk lainnya termasuk dari industri asuransi.

Sungguh benar apa yang ditegaskan pelopor pemberdayaan keluarga dan masyarakat kita, Prof. Dr. H. Haryono Suyono, yang menyatakan bahwa menabung dapat meningkatkan keberadaan Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Menurutnya, masyarakat harus mulai dilatih untuk menyadari betapa pentingnya menabung. Gerakan sadar menabung merupakan awal dari gerakan masyarakat mandiri dan sejahtera. 

 

Orang yang menabung mencerminkan pelakunya mempunyai perspektif pemikiran jangkauan kehidupan masa depan yang lebih baik, mencerminkan suatu ekspektasi harapan penghidupan yang besar, berpikir antisipatif terhadap kebutuhan atau kejadian dimasa mendatang, menunjukkan pelakunya disiplin pengaturan keuangan keluarga, dan menunjukkan sikap orang berpikir modern dan rasional. 

 

Para konsultan keuangan pribadi akan selalu menganjurkan menabung. Prinsipnya, tentukan dulu berapa besar yang akan disisihkan dari PENDAPATAN buat menabung. Sisanya baru untuk konsumsi. Bukan prinsip sebaliknya, yakni menabung hanya dari sisa konsumsi. 

 

 

Begitu penting menabung, sampai-sampai Gerakan Masyarakat Sentosa (GMS) yang digagas tokoh-tokoh yang care terhadap kondisi bangsa ini, menempatkannya sebagai salah satu norma ekonomi atau norma makmur. Menabung juga sangat relevan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) dalam pengetasan kemiskinan yang harus tuntas tahun 2015.

 

Menabung sejatinya dapat menumbuhkan kemandirian pada seseorang, keluarga, dan negara. Kemandirian dalam modal pembangunan yang salah satunya ditopang oleh dana masyarakat berupa tabungan (saving) akan meningggalkan ketergantungan keluarga kita dan bangsa kita dari pinjaman luar negeri baik dari ADB, CGI, IMF, atau lembaga dunia lainnya. 

 

Kemandirian dalam modal pembangunan tersebut akan meringankan dan mempercepat pembangunan nasional di segala bidang. 

 

Upaya yang dilakukan untuk mewujudkan keluarga Gema Menabung?

  1. Keluarga merupakan kelompok pertama dan utama karena dalam keluarga diharapkan fondasi gemar menabung dapat tertanam pada seluruh anggota keluarga sejak anak-anak. 
  2. Pendidikan formal sejak di TK, SD, SMP/MTs/, SMA/MA/SMK, dan SLB merupakan tempat yang strategis dalam melanjutkan dan memupuk kegemaran menabung yang telah dibina di keluarganya. 
  3. Pemerintah seharusnya gencar menyerukan gemar menabung secara berkesinambungan. 
  4. Peran serta berbagai organisasi sosial kemasyarakatan dan LSM dalam menggerakkan kultur menabung sangat diperlukan akan sangat mempengaruhi perilaku masyarakat kita. 

 

 

 

Advertisements